Selasa, 04 Desember 2012


HAKIKAT MANUSIA
MENURUT 'IBN AL-QAYYIM

Oleh
Achmad Zuhdi Dh
0817581229

            Menurut 'Ibn al-Qayyim, manusia itu terdiri dari badan dan roh. Bagian pertama merupakan ungkapan tentang badan bangunan yang khusus yang dapat diraba ini, bagian kedua berupa roh atau jiwa yang merupakan ungkapan tentang fisik yang lembut selain badan ini. Fisik yang berbeda dalam hakikatnya dengan badan yang dapat diraba ini, merupakan fisik yang bersifat cahaya, tinggi, ringan, hidup, bergerak, menyebar di setiap sel anggota badan, berjalan di dalamnya seperti aliran air dalam saluran dan seperti aliran minyak zaitun dari api dalam bara[1].
            Selagi anggota badan ini masih bisa menerima pengaruh yang muncul dari fisik yang lembut itu, maka fisik itu tetap ada pada anggota badan ini, sehingga ia merasakan pegaruhnya yang berupa rasa, gerakan dan kehendak. Jika anggota-anggota ini rusak karena didominasi komponen yang menekannya dan tidak dapat menerima pengaruh itu, maka roh berpisah dengan badan dan beralih ke alam roh (فارق الروح البدن وانفصل الى عالم الارواح).[2]
            Pendapat 'Ibn al-Qayyim ini didukung beberapa dalil berikut ini:
Pertama, firman Allah surat al-Zumar ayat 42:
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ [3]
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.
Menurut 'Ibn al-Qayyim, dalam ayat tersebut terkandung tiga petunjuk, yaitu (1) berita tentang dipegangnya jiwa; (2) berita tentang ditahannya jiwa; dan (3) berita tentang dilepaskannya jiwa.[4]
Kedua, firman Allah surat al-'An‘a>m ayat 60-61:
وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَى أَجَلٌ مُسَمًّى ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ [5]
Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur (mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.
Menurut 'Ibn al-Qayyim, dalam ayat tersebut terkandung tiga petunjuk, yaitu (1) informasi tentang ditidurkannya jiwa pada malam hari; (2) jiwa itu dikembalikan ke badannya pada siang hari; (3) para malaikat mewafatkannya jika sudah tiba saat kematiannya.[6]
 Ketiga, hadis riwayat Ah}mad dari 'Abu> Hurayrah ra:
عَن النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ الْمَيِّتَ تَحْضُرُهُ الْمَلَائِكَةُ فَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ الصَّالِحُ قَالُوا اخْرُجِي أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الطَّيِّبِ اخْرُجِي حَمِيدَةً وَأَبْشِرِي بِرَوْحٍ وَرَيْحَانٍ وَرَبٍّ غَيْرِ غَضْبَانَ قَالَ فَلَا يَزَالُ يُقَالُ ذَلِكَ حَتَّى تَخْرُجَ ثُمَّ يُعْرَجَ بِهَا إِلَى السَّمَاءِ فَيُسْتَفْتَحُ لَهَا فَيُقَالُ مَنْ هَذَا فَيُقَالُ فُلَانٌ فَيَقُولُونَ مَرْحَبًا بِالنَّفْسِ الطَّيِّبَةِ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الطَّيِّبِ ادْخُلِي حَمِيدَةً وَأَبْشِرِي بِرَوْحٍ وَرَيْحَانٍ وَرَبٍّ غَيْرِ غَضْبَانَ قَالَ فَلَا يَزَالُ يُقَالُ لَهَا حَتَّى يُنْتَهَى بِهَا إِلَى السَّمَاءِ الَّتِي فِيهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ السَّوْءُ قَالُوا اخْرُجِي أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الْخَبِيثِ اخْرُجِي ذَمِيمَةً وَأَبْشِرِي بِحَمِيمٍ وَغَسَّاقٍ وَآخَرَ مِنْ شَكْلِهِ أَزْوَاجٍ فَلَا يَزَالُ حَتَّى تَخْرُجَ ثُمَّ يُعْرَجَ بِهَا إِلَى السَّمَاءِ فَيُسْتَفْتَحُ لَهَا فَيُقَالُ مَنْ هَذَا فَيُقَالُ فُلَانٌ فَيُقَالُ لَا مَرْحَبًا بِالنَّفْسِ الْخَبِيثَةِ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الْخَبِيثِ ارْجِعِي ذَمِيمَةً فَإِنَّهُ لَا يُفْتَحُ لَكِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ فَتُرْسَلُ مِنْ السَّمَاءِ ثُمَّ تَصِيرُ إِلَى الْقَبْرِ [7]

            Dari Nabi Saw, ia bersabda: Sesungguhnya orang yang mati itu ditemui para malaikat. Jika ia orang salih, maka para malaikat berkata: "keluarlah wahai jiwa yang baik yang sebelumnya berada di jasad yang baik. Keluarlah dalam keadaan terpuji, dan terimalah kabar gembira berupa ketenangan dan kenikmatan serta Tuhan yang tidak murka. Hal itu senantiasa dikatakan kepadanya hingga roh itu keluar, lalu dibawa naik hingga tiba di langit. Langit diminta membukakan untuk kedatangannya, lalu ada yang bertanya: "Siapakah itu?". Dijawab: "Fulan bin Fulan".
            Dikatakan: "Selamat datang kepada jiwa yang baik yang sebelumnya berada di dalam badan yang baik pula. Masuklah dalam keadaan terpuji dan terimalah kabar gembira berupa ketenangan dan kenikmatan serta Tuhan yang tidak murka. Hal itu senantiasa dikatakan kepadanya hingga ia tiba di langit yang di sana ada Allah. Jika orang buruk, maka dikatakan kepadanya: "kembalilah wahai jiwa yang buruk yang sebelumnya berada di badan yang buruk pula. Keluarlah dalam keadaan hina dan terimalah kabar berupa air yang mendidih dan nanah serta hukuman-hukuman lainnya". Hal itu senantiasa dikatakan kepadanya hingga ia keluar dan tiba di hadapan Allah. Ditanyakan: "Siapa itu?". Dijawab: "Fulan bin Fulan".
            Dikatakan: "Tidak ada ucapan selamat datang kepada jiwa yang buruk yang sebelumnya berada di badan yang buruk pula. Keluarlah dalam keadaan hina, karena pintu-pintu langit tidak dibukakan bagimu". Lalu ia dikirim ke bumi kemudian kembali ke kubur".  
Menurut 'Ibn al-Qayyim, hadis tersebut sahih, yang di dalamnya terkandung sepuluh petunjuk, yaitu: (1) Roh itu sebelumnya ada yang berada di badan yang baik dan ada yang di badan yang buruk. Berarti di sini ada keadaan dan ada tempat.  (2) Keluar dalam keadaan terpuji. (3) Sabda beliau: "terimalah kabar gembira berupa ketenangan dan kenikmatan". Ini merupakan kabar gembira yang disampaikan kepadanya setelah roh itu keluar. (4) Sabda beliau: "hal itu senantiasa dikatakan kepadanya hingga ia tiba di langit".  (5) Sabda beliau: "langit diminta membukakan untuk kedatangannya ". (6) Perkataan: "masukklah dalam keadaan terpuji". (7) Sabda beliau: "hingga ia tiba di langit yang di sana ada Allah". (8) Perkataan yang disampaikan kepada jiwa yang buruk: "kembalilah dalam keadaan hina". (9) Pintu-pintu langit tidak dibukakan bagi jiwa yang buruk. (10)Sabda beliau: "lalu ia dikirim ke bumi kemudian kembali ke kubur.[8]
Menurut 'Ibn al-Qayyim, semua orang yang berakal sepakat bahwa yang disebut manusia itu adalah yang hidup ini, yang berpikir, makan, tidur, merasakan, bergerak berdasarkan kehendak. Sifat-sifat ini ada dua macam, yaitu sifat-sifat yang dimiliki badan dan sifat-sifat yang dimiliki roh dan jiwanya yang dapat memikirkan. Sekiranya roh memiliki substansi yang kosong, tidak berada di dalam alam ini maupun di di luarnya, tidak berhubungan dengannya namun tidak pula berpisah darinya, tentunya manusia tidak berada di dalam alam ini dan tidak pula di luarnya. Manusia secara keseluruhannya ada di dalam alam ini, badannya dan juga rohnya.[9]
Lebih lanjut 'Ibn al-Qayyim mengatakan bahwa yang dimaksud dengan manusia itu adalah wujud yang ada ini dan yang ada padanya. Wujud manusia yang tampak ini dan yang ada padanya inilah yang menerima seruan dari Allah Swt. Begitu pula jika ada pujian, celaan, pahala, siksa, anjuran dan larangan, maka yang menerima adalah wujud yang ada ini dan yang ada padanya.[10]   
'Ibn al-Qayyim lebih lanjut mengatakan bahwa roh itu adalah sesuatu yang mengetahui apa-apa yang diketahui indera-indera ini lewat alat-alatnya. Jiwa adalah indera yang bisa mengetahui meskipun tidak bisa diraba. Hal-hal yang berupa fisik dan yang tampak ini yang dapat diraba. Jiwa dapat merasakan karenanya, dapat menerima keutamaan dan hinaan yang menghampirinya. Jiwa adalah penggerak menurut pilihannya untuk menggerakkan badan, dengan cara paksaan dan penundukan. Jiwalah yang mempengaruhi badan dengan suatu pengaruh sehingga ia merasa sakit, nikmat, senang, sedih, rida, marah, putus asa, benci, mengingat, lalai, tahu, mengingkari dan lain sebagainya. Pengaruh jiwa ini merupakan bukti paling nyata tentang keberadaannya, sebagaimana pengaruh Khalik yang menunjukkan keberadaan dan kesempurnaan-Nya.[11]
Menurut 'Ibn al-Qayyim, roh dan jiwa itu satu. Perbedaan antara roh dan jiwa itu merupakan perbedaan dalam sifat bukan dalam zat. Dikatakan roh karena dengan roh itu ada kehidupan badan, seperti halnya ri>h} (angin) yang mendatangkan kehidupan. Disebut al-nafs (jiwa), boleh jadi karena ia termasuk al-nafi>s (sesuatu yang berharga), karena nilai dan kemuliaannya, atau boleh jadi karena termasuk tanaffus (hembusan napas), sesuatu jika napas itu terhembus keluar karena dan banayaknya hembusan yang keluar-masuk di dalam badan, sehingga disebut nafs. Begitu pula jiwa memiliki gerakan. Jika seorang hamba sedang tidur, maka jiwa itu keluar dari dirinya, dan jika terbangun, maka ia kembali lagi kepadanya.[12]
Menurut 'Ibn al-Qayyim, beberapa ayat al-Qur'an yang menyebutkan  kata al-nafs (jiwa) yang berarti roh, di antaranya adalah surat al-Fajr ayat 27:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي (30)[13]
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.
Kemudian surat al-'An‘a>m ayat 93:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ [14]
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", Padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah." Alangkah dahsyatnya Sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang Para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.

Adapun jiwa, apakah ia satu atau tiga, Ibn al-Qayyim[15] berpendapat bahwa jiwa itu sebenarnya satu, namun ia memiliki tiga sifat, yaitu al-nafs al-mut}ma'innah, al-nafs al-lawwa>mah dan al-nafs al-'amma>rah. Disebut dengan al-mut}ma'innah karena pertimbangan ketenangan yang sedang menuju kepada-Nya berkat ibadah, kecintaan, tawakkal, kepasrahan dan rida kepada-Nya. Sedangkan disebut al-lawwa>mah karena senantiasa mencela diri sendiri akibat keterbatasannya dalam mentaati Allah, meskipun sebenarnya ia telah mengerahkan usaha dan kemampuannya. Adapun disebut al-'amma>rah karena sifatnya yang selalu menyuruh kepada setiap keburukan, yang memang merupakan tabiat jiwa, kecuali yang mendapatkan taufik Allah dan pertolongan-Nya. Di dunia ini tak seorang pun yang terbebas dari kejahatan jiwanya melainkan berkat taufik dan pertolongan Allah, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ          رَحِيمٌ       [16]  
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.



[1] Shams al-Di>n 'Abi>. ‘Abdilla>h 'Ibn Qayyim al-Jawzi>yah, al-Ru>h} Fi> al-Ka>lam ‘ala> 'arwa>h} al-'amwa>t wa al-'ahya>' Bi al-dala>'il Min al-Kita>b wa al-Sunnah wa al-'a>tha>r wa 'aqwa>l al-‘ulama>' (Bayru>t: Da>r al-Fikr, 1992), 177-178.
[2] Ibid.
[3] Al-Qur'an, 39: 42.
[4] 'Ibn al-Qayyim, al-Ru>h}, 178.
[5] Al-Qur'an, 6: 60-61.
[6]  'Ibn al-Qayyim, al-Ru>h}, 179.
[7] 'Ah}mad bin H{anbal, Musnad al-'Ima>m 'Ah}mad bin H{anbal, Vol. XIV, (t.tp: Mu'assasah al-Risa>lah, 1999), 377.
[8]  'Ibn al-Qayyim, al-Ru>h}, 185.
[9] Ibid., 193.
[10] 'Ibn al-Fad}l al-Taymi> al-'As}baha>ni> (w.535 H) dalam al-H{ujjah meriwayatkan 'athar dari 'Ibn ‘Abba>s ra, ia berkata: "Senantiasa ada permusuhan di antara manusia pada hari kiamat, hingga roh memusuhi badan. Roh berkata: "wahai Tuhan aku dulu hanyalah roh yang datang dari-Mu. Engkau menjadikan aku di dalam badan ini dan aku tidak mempunyai dosa apa pun". Sementara badan berkata: "wahai Tuhan, dulu aku hanyalah badan. Engkau menciptakan aku dan roh ini masuk kepadaku seperti api. Karenanya aku berdiri, dengannya aku duduk, pergi dan datang. Aku tidak mempunyai dosa apa pun. Tuhan berkata: "Akulah yang akan memutuskan perkara di antara kalian berdua. Beritahukan kepada-Ku tentang orang buta dan orang yang tidak bisa berjalan, yang keduanya masuk ke sebuah kebun. Orang yang tidak bisa berjalan berkata kepada orang buta: "aku melihat buah. Sekiranya aku mempunyai dua kaki, tentu aku akan mengambilnya". Orang buta berkata: "aku akan memanggulmu di atas pundakku". Orang buta itu kemudian memanggul orang yang tidak bisa berjalan, hingga dia bisa mengambil buah itu, lalu keduanya bisa memakannya. Siapakah yang berdosa? Roh dan badan menjawab: "mereka berdua semuanya". Allah berfirman: "Aku memutuskan seperti keputusan terhadap orang buta dan orang yang tidak bisa berjalan. 'Abu> al-Qa>sim 'Isma>‘i>l bin Muh}ammad bin al-Fad}l al-Taymi> al-'As}baha>ni, al-H{ujjah Fi> Baya>n al-Mah}ajjah Wa Sharh} ‘Aqi>dah 'Ahl al-Sunnah, Vol. I (al-Riya>d}: Da>r al-Ra>yah, 1999), 507.  Baca juga  'Ibn al-Qayyim, al-Ru>h}, 184.  
[11] Ibid., 209.
[12] Ibid., 213.
[13] Al-Qur'an, 89: 27-30.
[14] Al-Qur'an, 6: 93.
[15]  'Ibn al-Qayyim, al-Ru>h}, 216-221.
[16] Al-Qur'an, 12: 53.

Jumat, 09 November 2012


PERANAN ORANGTUA MENGANTAR
KESUKSESAN ANAK

Oleh:

Achmad Zuhdi Dh
0817581229

1.    Mempersiapkan calon Ibu-Bapak yang berkualitas;
Ibarat orang yang ingin sukses dalam berkebun, agar mendapatkan hasil yang maksimal, maka benih yang hendak disemaikan pun harus berkualitas, tidak boleh sembarangan. Begitu pula jika menginginkan anak yang berkualitas, maka calon bapak-ibunya pun harus dipersiapkan dengan baik, serasi, sevisi, seiman, dan berkualitas lahir maupun batin. (QS.al-Baqarah, 221, al-Nur, 26, al-Rum, 21).

2.    Menanam benih di tempat yang baik dan dengan cara yang baik dan benar ;

Benih tanaman yang berkualitas untuk menjadi tanaman berkualitas haruslah disemaikan di lahan yang kondusif. Lahan yang kondusif itu adalah keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah (QS. al-Rum, 21). Yaitu suatu keluarga yang ditegakkan sebagai suatu organisasi yang solid. Organisasi yang solid dibentuk untuk mencapai tujuan bersama dengan cara kerja sama bukan sama-sama kerja. Apapun peran laki-laki dan perempuan di sektor publik, di rumah tetap memiliki kedudukan yang tidak boleh diotak-atik, laki-laki sebagai suami dan bapak, wanita sebagai istri dan ibu dengan segala hak dan kewajibannya masing-masing. Kunci utama dalam memperkokoh dan mengharmoniskan bangunan kelarga adalah dengan cara "masing-masing berbuat yang terbaik buat keluarga". Nabi Saw bersabda:

خِيَارُكُمْ خِياَرُكُمْ لاَِهْلِهِ
"Sebaik-baik kamu adalah yang terbaik dalam bersikap terhadap keluarganya". (HR. al-Tabrani, al-Albani: Sahih).

Selain menciptakan suasana keluarga yang kondusif, agar kelak menghasilkan keturunan (anak) yang unggul, maka sebelum meletakkan benih (berhubungan suami-isteri), dianjurkan membaca doa sebagai berikut:

بِاسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

"Dengan nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari setan  dan jauhkanlah setan dari rizki (anak) yang kauberikan pada kami". (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Setelah selesai berhubungan, dianjurkan berwudu. Hal ini sesuai dengan petunjuk Rasulullah Saw:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا كَانَ جُنُبًا فَأَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ أَوْ يَنَامَ تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ.
     
"Dari 'Aisyah ra, ia berkata: Rasulullah Saw itu apabila junub, kemudian mau makan atau tidur, maka beliau melakukan wudu seperti wudu untuk shalat". (HR. Muslim).

3.    Menyambut gembira dan rasa syukur atas lahirnya anak.

Terlepas dari pertimbangan ekonomi, politik dan budaya yang bisa berubah-ubah, pada dasarnya anak adalah anugrah, ni’mat bahkan dalam do’a saat hendak berhubungan suami-istri, anak diistilahkan dengan “rizki”. Kenikmatan itu pada dasarnya adalah hal yang positif tetapi dalam kenyataannya bisa positif bisa negatif tergantung bagaimana kita menyikapinya termasuk hadirnya seorang anak. Bersyukur adalah menyikapi kenikmatan secara positif dan kufur adalah menyikapi kenikmatan dengan negatif.

Untuk menunjukkan rasa syukur atas lahirnya anak, maka para kerabatnya dianjurkan membaca ucapan selamat dengan iringa doa sbb:

بُوْرِكَ لَكَ فِي الْمَوْهُوْبِ وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ وَرُزِقْتَ بِرَّهُ وَبَلَغَ أَشُدَّهُ

"Semoga (anak) yang diberikan Allah ini membawa berkah untukmu, Engkau patut bersyukur kepada sang Pemberi (Allah), semoga engkau mendapatkan kebaikannya, dan semoga ia tumbuh hingga dewasa" (Al-Suyuti, al-Hawi, I/80)
4.    Mengadzani dan mengqamati setelah kelahirannya.
Nabi Saw bersabda:
عَنِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى، وَأَقَامَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى رُفِعَتْ عَنْهُ أُمُّ الصَّبِيَّاتِ "

"Dari al-Husain bin Ali, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: barangsiapa anaknya lahir, kemudian mengadzaninya di telinga kanan lalu mengqamatinya pada telinga kiri, maka ia akan terbebas dari gangguan um al-sibyan (jin, setan) (HR. al-Tirmidzi dan al-Baihaqi). Al-Tirmidzi menilai hadis ini hasan, tetapi sebagian ulama men-daif-kannya.

Hikmah adzan di sini, menurut Ibn al-Qayyim adalah agar pertama yang sampai pada pendengaran si bayi ini berupa suara kalimat yang mengangungkan Allah. Wallahu a'lam! (Ibn al-Qayyim, Tuhfat al-Maulud, VI/2)
5.    Melakukan tahnik (mengolesi bayi dengan kurma)

Hadis Nabi Saw riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Asma ra: bahwasanya pada saat seorang bayi dihadapkan kepada Rasulullah saw, maka beliau memangkunya lalu meminta kurma lalu dikunyahnya; setelah itu beliau meniupkan ke mulut bayi itu, selanjutnya mengoles-olesi bibir si bayi itu dengan kurma yang sudah dilembutkan dan berdoa serta meminta kepada Allah untuk keberkahannya. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

6.    Memberi nama anak yang baik.

Sebagai pribadi yang unik, maka sudah menjadi kebiasaan setiap anak setelah kelahirannya pasti diberi nama. Rasululloh SAW bersabda:

فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمْ

"Karena itu pilihlah nama yang baik bagi kalian” (H.R. Ahmad dan Abu Dawud dan lain-lain).

 Bahkan beliau sering mengganti nama orang apabila nama aslinya dianggap jelek. Pemberian nama yang baik, mengandung tiga hal yaitu:

1. Nama sebagai identitas, merk atau brand sebagai panggilan yang baik.
 2. Nama sebagai assesori, perhiasan, mahkota yang dengannya anak merasa percaya diri, bangga, minimal tidak malu atau minder.
3. Nama sebagai doa atau harapan yang memiliki makna sesuai dengan potensi yang dibawa. Setelah diberi nama yang baik pada saatnya anak harus dijelaskan tentang apa makna nama yang dimilikinya agar memiliki dorongan untuk memiliki kepribadian sesuai dengan namanya.

7.    Selain memberi nama, juga memotong rambut si bayi dan menyembelih aqiqah (seekor kambing untuk anak perempuan dan dua ekor kambing untuk anak laki-laki) pada hari ketujuh dari kelahirannya.

Nabi Saw bersabda:

عَنْ سَمُرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ ، وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ ، وَيُسَمَّى.

"Dari Samurah, Rasulullah Saw bersabda: setiap anak yang lahir tergadai dengan aqiqahnya, aqiqahnya itu disembelihkan pada hari ketujuh dari kelahirannya, kemudian rambut bayi itu dicukur dan diberi nama". (HR. Ashhab al-Sunan). Al-Albani: Sahih.

8.    Kenalkan Masa Depan Yang Sempurna

Perbedaan orang yang kafir dan yang beriman di antaranya adalah konsep tentang “masa depan”. Masa depan orang kafir sekedar sebelum mati sedangkan masa depan mu’min meliputi sebelum dan sesudah mati (Q.S. 2:200-201). Masa depan sebelum mati sifatnya mungkin sedangkan masa depan sesudah mati sifatnya pasti. Masa depan sesudah mati harus diseriusi sedangkan masa depan sebelum mati jangan dilupakan (Q.S. 28:77). Siapa yang sungguh-sungguh mencari akhirat akan mendapat kemungkinan duniawi namun siapa yang hanya sibuk mencari dunia jangankan mendapat kepastian masuk surga, bagian di duniapun belum tentu mendapatkannya. Bisa jadi mati mendadak atau hidup menderita komplikasi.


9.    Bekali Ilmu Yang Memadai

Pada dasarnya setiap anak dilahirkan tanpa memiliki ilmu (Q.S. 16:78) dan setiap manusia harus hidup berdasarkan ilmu (Q.S. 17:36). Maka kewajiban orang tua di samping memenuhi kebutuhan pertumbuhan maka harus dipenuhi pula kebutuhan perkembangannya. Paling tidak setiap anak berhak untuk dibekali dengan tiga disiplin ilmu yaitu ilmu syar’i atau agama untuk menghidupkan hatinya, ilmu profesi untuk menghidupkan otaknya, dan ilmu beladiri untuk menghidupkan ototnya. Setiap anak berhak untuk diantar menjadi takwa, cerdas, dan terampil sehingga mampu menghadapi tiga masalah hidup yang tidak bisa dihindari oleh setiap manusia yaitu: moralitas, relativitas, dan kriminalitas. Oleh karena itu idealnya anak kita berhak untuk dididik menjadi Ulil Albab yaitu sosok pribadi yang memiliki kemampuan sebagai ahli dzikir, ahli fikir, dan ahli ikhtiar (Q.S. 3:190-191). Siap untuk menjadi aktivis masjid, sekolah, dan lapangan. Terpadunya aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik. Untuk itu kita bersyukur sudah banyak lembaga-lembaga pendidikan islam terpadu yang siap membantu kita, tinggal kita saja yang harus banyak duitnya sebab pendidikan ini belum mendapat perhatian dari pemerintah. Mungkin dibutuhkan kemampuan kita untuk berjuang di dalam politik pendidikan.

10. Ajari Hidup Dari Realitas Dan Kendalikan Fasilitas

Hidup adalah perjuangan, setiap manusia diciptakan untuk menghadapi kesulitan sekaligus diberi naluri untuk menemukan kemudahan. Antara kesulitan dan kemudahan ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan (Q.S. 94:5-6). Oleh karena itu agar anak kita bisa mudah menghadapi kesulitan-kesulitan hidup mereka harus kita ajari hidup realistis. Setiap yang dia dapatkan hendaknya sebagai hasil dari ikhtiarnya. Kita perlu menghidupkan lagi pepatahyang mengajarkan berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Ajari mereka menjadi perintis bukan menjadi pewaris, ajari mereka sebagai pengais bukan sebagai pengemis, ajari mereka sebagai pelopor bukan sebagai pengekor, ajari mereka sebagai penggerak bukan sebagai penggertak, ajari mereka sebagai pemain bukan sebagai mainan. Jangan mentang-mentang kita sukses secara ekonomi dan mampu memanjakan mereka lantas kita perlakukan mereka sebagai ayam sayur yang besar dari fasilitas bukan dari realitas, sehingga mereka menjadi sosok yang steril tetapi tidak imun, ada kesulitan sedikit seakan-akan dunia sudah kiamat. Mungkin kita perlu mengambil ibrah dari bagaimana ayam kampung mengantar anak-anak mereka untuk menjadi penakluk yang tahan banting.

11. Ajari Mereka Memahami Tahapan Kehidupan (Manajemen Umur)

Hidup sebagai proses haruslah dilewati tahap demi tahap (Q.S. 84:19). Bila sudah menyelesaikan suatu tahapan cepat bersiap untuk memasuki tahapan berikutnya (Q.S. 94:7-8). Secara sederhana tahapan itu bisa dikaitkan dengan ukuran umur. Umur manusia sekarang memiliki harapan hidup antara 60-70 tahun. Paling tidak agar anak kita dapat melewati tahapan-tahapan yang benar kita beri pengarahan melewati tahapan hidup per 20 tahunan. Tahapan pertama usia 0-20 tahun titik tekannya adalah untuk penguasaan teori-teori kehidupan atau mencari ilmu yang meliputi ilmu syar’i, profesi, dan beladiri (Q.S. 16:78, Q.S. 17:36). Tahapan kedua usia 20-40 titik tekannya untuk menguasai materi sebagai citra dunia atau perhiasan dunia sehingga usia 40 sudah memiliki status al amin atau yang dapat dipercaya di masyarakatnya (Q.S. 3:14). Tahapan yang ketiga usia 40-60 titik tekannya pada penguasaan nilai-nilai kehidupan agar hidup terhormat, mulia, bahagia, dan berwibawa (Q.S. 46:15-16). Tahapan yang keempat usia 60 sampai akhir hayat, titik tekannya untuk persiapan masa transisi belajar meninggalkan dunia bersiap ke akhirat dengan berusaha memiliki prasasti dan presasti (Q.S. 36:12) paling tidak ketika mati memiliki peninggalan berupa shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan (H.R. Muslim)

12. Bekali Dengan Tiga Prinsip Hidup Muslim

Agar mereka menjadi orang yang sukses dunia akhirat bekalilah dengan tiga prinsip hidup muslim untuk meraih kemuliaan dan kemenangan, yaitu iman, hijrah, dan jihad atau keyakinan, perubahan, perjuangan atau cinta, proses, dan pengorbanan (Q.S. 9:20, Q.S. 2:218)


Referensi:

Al-Qur'an;
Al-Hadis;
Ibn al-Qayyim, Tuhfat al-Maulud, VI/2.
Al-Suyuti, al-Hawi, I/80
Al-Albani, al-Silslah al-Sahihah, IV/334





Jumat, 19 Oktober 2012


Amalan Sunnah Seputar Idul Adha

Oleh:
Achmad Zuhdi Dh
0817581229

1.      Banyak beramal Shaleh pada 10 hari awal Dzul Hijjah

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ
“Tidak ada hari di mana suatu amal shaleh lebih dicintai Allah melebihi amal shaleh yang dilakukan di sepuluh hari ini (tgl 1-10  Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi Saw bersabda: “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dgn jiwa & hartanya (ke medan jihad), & tak ada satupun yang kembali (mati & hartanya diambil musuh, pen).” (HR. Al Bukhari, Ahmad, & At Turmudzi)

2.      Berpuasa sunnah Arafah ( 9 Dzul Hijjah)

Dari Abu Qatadah ra. Nabi Saw bersabda:

  صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ
“…Puasa hari ‘arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai kaffarah satu tahun sebelumnya & satu tahun setelahnya..” (HR. Ahmad & Muslim).

3.      Banyak bertakbir dan dzikr-dzikr lainnya

Allah berfirman:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

“…supaya mereka berdzikir (menyebut) nama Allah pada hari yang telah ditentukan…” (QS. Al Hajj: 28)

Dari Ibn Abbas ra
أَنَّهُ كَانَ يُكَبِّرُ مِنْ صَلاَةِ الْفَجْرِ يَوْمَ عَرَفَةَ إِلَى آخِرِ أَياَّمِ التَّشْرِيْقِ، لاَ يُكَبِّرُ فِي الْمَغْرِبِ
Bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau tak bertakbir setelah maghrib (malam tanggal 14 Dzluhijjah).
(HR Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi. Al Albani mengatakan: Sanadnya shahih)

4.      Merayakan Idul Adha

Dari Anas bin Malik ra, beliau mengatakan:
قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ ». قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ ».
Bahwa ketika Nabi Saw tiba di Madinah, masyarakat Madinah memiliki dua hari yang mereka rayakan dgn bermain. Kemudian nabi Saw bertanya: “Dua hari apakah ini?” mereka menjawab: kami merayakannya dgn bermain di dua hari ini ketika zaman jahiliyah. Kemudian Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah telah memberikan ganti kepada kalian dgn dua hari yang lebih baik: Idul Fitri & Idul Adha.”
(HR. An Nasa’i, Abu Daud, Ahmad & dinilai shahih oleh Al albani)

5.         Berqurban

Allah berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Laksanakanlah shalat utk Tuhanmu dan sembelihlah qurban.”
(QS. Al Kautsar: 2)

Dari Abu Hurairah ra Nabi Saw bersabda:

 مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
“Siapa yang memililki kelapangan namun dia tak berqurban maka jangan mendekat ke masjid kami.” (HR. Ahmad & Ibn Majah & dihasankan Al Albani)

Bagi orang yang hendak berqurban, hendaknya tidak memotong kuku atau rambut dirinya (bukan hewannya) ketika sudah masuk tanggal 1 Dzulhijjah sampai dia memotong hewan qurbannya. (Al-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, VI/472)

Dari Umu salamah ra dari Nabi Saw bersabda:

مَن كانَ لَهُ ذِبحٌ يَذبَـحُه فَإِذَا أَهَلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ
“Barangsiapa yang memiliki hewan yang hendak dia sembelih (di hari raya Idul Adha), jika sudah masuk tanggal 1 Dzulhijjah maka janganlah dia memotong rambutnya & kukunya sedikitpun, sampai dia menyembelih qurbannya.”
(HR. Muslim)

Yahya bin Ya`mur pernah memberi fatwa di Khurasan:

أَنَّ الرَّجُلَ إِذَا اشْتَرَى الْأُضْحِيَّةَ وَأَسْمَاهَا وَدَخَلَ الْعَشْرُ أَنْ يَكُفَّ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ حَتَّى يُضَحِّيَ

Bahwasanya orang yang telah membeli hewan kurban dan memberinya nama, dan sudah  masuk sepuluh hari (tgl 1-10 Dzul Hijjah) hendaknya ia menahan rambut dan kukunya (tidak memotongnya) hingga ia menyembelihnya
Ibn Hajar, al-Mathalib al-’Aliyah, X/445. 


Amalan Bid’ah di Bulan Dzulhijjah

(1)
Mengkhususkan puasa di hari tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah)
dengan keyakinan bhw hari tsb memiliki keutamaan tertentu. Karena tak ditemukan dalil yang menganjurkan puasa secara khusus pada tanggal 8 Dzulhijjah, selain hadis palsu yang menyatakan:

صَوْمُ يَوْمِ التَّرْوِيةِ كَفَّارَةُ سَنَةً
“berpuasa pada hari tarwiyah dapat menghaapus dosa selama satu tahun.”

Imam Ibnul Jauzi al-Qurasyi menegaskan bahwa hadis ini tidak shahih,
karena di antara perawinya ada yang bernama al-Tibbi yang dikenal sebagai pendusta. (Al Maudhu’at, 2/198), dan Al-Albani men-da’ifkannya dalam Irwa al-Ghalil, IV/112).

Namun jika seseorang berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijjah karena hadis shahih yang menyebutkan keuatamaan 10 hari pertama Dzulhijjah, maka diperbolehkan.

(2)
Ta’rif di hari Arafah

Ta’rif adalah kegiatan di mana orang-orang yang tak sedang melaksanakan haji berkumpul bersama di masjid-masjid pada siang-sore hari, utk berdzikir  dan berdo’a sebagaimana yang dilakukan orang yang sedang wukuf di Arafah. Sebagian ulama menegaskan bahwa kegiatan ini termasuk perbuatan bid’ah. Berikut beberapa nukilan riwayat para ulama yang melarang ta’rif:

Muhammad bin Wadldlah al-Qurtubi dalam   al-Bida‘ Wa al-Nahy ‘Anha, I/53-54  menerangkan:
Dari Abu Hafs Al Madini, beliau menceritakan, bahwa masyarakat Madinah berkumpul setelah asar di masjid Nabawi pada hari arafah. Mereka memperbanyak berdo’a. Kemudian datanglah Nafi, bekas budak & murid Ibnu Umar, sambil mengatakan:

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ الَّذِيْ أَنْتُمْ عَلَيْهِ بِدْعَةٌ وَلَيْسَتْ بِسُنَّةٍ، إِنَّا أَدْرَكْنَا النَّاسَ وَلاَ يَصْنَعُوْنَ مِثْلَ هَذَا
Wahai manusia, sesungguhnya perbuatan yang sedang kalian lakukan adalah bid’ah dan bukan sunnah (tidak ada ajarannya). Sesungguhnya kami pernah menjumpai para sahabat, tak pernah melakukan hal ini..”

قال ابن عون شَهِدْتُ إِبْرَاهِيْمَ النَّخَعِيْ سُئِلَ عَنْ اجْتِمَاعِ النَّاسِ عَشِيَّةً عَرَفَةَ فَكَرِهَهُ وَقَالَ مُحْدَثٌ
Ibn Aun berkata: “Aku melihat Ibrahim An-Nakha’i ditanya tentang praktik beberapa orang yang berkumpul di masjid pada hari arafah. Beliau membencinya  dan mengatakan: Itu bid’ah”.

Diriwayatkan dari Sufyan bahwa beliau mengatakan:

لَيْسَتْ عَرَفَةُ إِلاَّ بِمَكَّةَ ، لَيْسَ فِيْ هَذِهِ الأَمْصَارِ عَرَفَة
Arafah hanya ada di Mekah, sementara di daerah lain tak ada Arafah.
(Ibn Wadldlah al-Qurtubi, Al Bida ‘  Wa al-Nahy ‘anha, I, 53-54 )

Imam Malik menanggapi kegiatan ta’rif ini dgn mengatakan:

لَيْسَ هَذَا مِنْ أَمْرِ النَّاسِ ، وَإِنَّمَا مَفَاتِيْحُ هَذِهِ الأَشْيَاءِ مِنَ الْبِدَعِ
Ini bukan termasuk kebiasaan para sahabat. Kunci pintu perbuatan semacam ini bersumber dari bid’ah.
(Abu Syamah, al-Ba’ith ‘Ala Inkar  al Bida`, I/32 )

والله اعلم بالصّواب
Wallahu A’lam Bi al-Shawab
شُكْراً كَثِيْراً