Senin, 06 Januari 2020

EMPAT KUNCI PEMBUKA PINTU RIZKI


EMPAT KUNCI PEMBUKA PINTU RIZKI

Oleh


DR.H. Achmad Zuhdi Dh, M.Fil I

Dari ‘Ali ra., Nabi Saw.  pernah mengajarkan doa sebagai berikut:
اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
Ya Allah, cukupilah aku dengan rezeki halal-Mu agar terhindar dari yang Kau haramkan. Jadikanlah aku kaya karena karunia-Mu, bukan karena karunia        selain-Mu. (HR. al-Tirmidzi No. 3563)
Status Hadis
Doa tersebut terhimpun dalam Kitab Sunan al-Tirmidzi No. 3563. al-Tirmidzi mengatakan bahwa hadis tersebut hasan sahih gharib. Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad No. 1319 dan Al-Hakim dalam al-Mustadrak No. 1973. Menurut al-Hakim hadis tersebut sanadnya sahih, dan Imam al-Dhahabi menyepakatinya. Sedangkan al-Albani berpendapat hadis tersebut hasan (al-Albani, Silsilat al-Ahadis al-Sahihah, I/265).
Pembahasan
            Hadis riwayat al-Tirmidzi dan juga riwayat Ahmad dan al-Hakim tersebut berisi doa permohonan untuk mendapatkan kecukupan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Secara lengkap hadis tersebut berasal dari riwayat Sahabat Ali bin Abi Thalib ra: “Sesungguhnya ada seorang budak mukatab (budak yang dalam proses memerdekakan diri) mendatanginya dan berkata, “Sungguh aku sudah tak mampu memerdekakan diriku, tolonglah aku.” Kemudian Ali berkata: “Maukah engkau kuajari kalimat-kalimat doa yang diajarkan Rasulullah kepadaku jika engkau memiliki hutang sebesar gunung Shiir pun akan dilunasi oleh Allah? Maka ucapkanlah: “Allahummakfini bihalalika ‘an haramika wa aghnini bi fadhlika ‘amman siwaka”. Artinya: Ya Allah, cukupilah aku dengan rezeki halal-Mu agar terhindar dari yang Kau haramkan. Jadikanlah aku kaya karena karunia-Mu, bukan karena karunia selain-Mu.
            Bagi orang yang benar-benar beriman, Allah adalah segalanya. Allah adalah tempat bergantungnya semua makhluk. Karena itu, problem apapun dan sebesar apapun, jika diserahkan kepada Allah dan dimintakan pertolongan kepadaNya, maka Allah pasti bisa mengatasinya. Untuk mendapatkan pertolongan Allah, syaratnya harus benar-benar beriman dan mau memenuhi perintah-Nya. Allah menyatakan: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), “Aku itu dekat”. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186).
            Ibn al-Qayyim dalam Zad al-Ma’ad Fi Hady Khayr al-‘Ibad, memberikan “tip” bagaimana hidup ini mudah dan rizki pun lancar. Beliau memaparkan ada empat amalan, yaitu (1) qiyam al-layl, menegakkan salat malam; (2) Katsrat al-istighfar Bi al-Ashar, memperbanyak istighfar atau mohon ampun di waktu sahur; (3) ta’ahud al-sadaqah, membiasakan sedekah; dan (4) al-dzikr awwal al-nahar wa akhirahu, berdzikir di wakti pagi dan sore hari (Ibn al-Qayyim, Zad al-Ma’ad, IV/372). Apabila empat amalan tersebut dilakukan dengan baik, penuh rasa tunduk dan patuh kepada Allah serta beriman sepenuh hati bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu, maka apa yang dimita hambaNya pasti akan diberikan. Berikut ini penjelasan tentang empat amalan yang harus dilakukan:
Pertama, Qiyam al-layl (menegakkan salat malam).
            Salat malam adalah amalan yang menjadi kebiasaan orang-orang salih dan menjadi sarana untuk bisa semakin dekat dengan Allah Swt. Pernyataan ini merujuk sabda Nabi Saw yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzi No. 3549; al-Hakim No. 1156; al-Thabrani No. 6031; Ibn Khuzaymah No. 1135; dan al-Bayhaqi No. 4832.  Menurut al-Albani hadis tentang salat malam merupakan kebiasaan orang salih ini statusnya hasan, dan al-Hakim menilainya sahih sesuai syarat al-Bukhari (al-Albani, Sahih al-Targhib Wa al-Tarhib, I/151). Pernyataan Nabi Saw ini bisa menjadi pendorong bagi orang yang ingin menjadi salih dan dekat kepada Allah, yaitu suka bangun malam untuk melakukan salat tahajjud. Bila seorang hamba suka bangun malam terutama pada saat sepertiga malam terakhir, maka ia sangat berpeluang untuk mendapatkan apa saja yang diinginkan dari Allah swt., termasuk kemudahan dalam hidup, kesuksesan usaha, dan tercukupinya rizki.
            Nabi Saw menyatakan dalam sabdanya: “Tuhan kita tabaraka wata’ala akan turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berkata: ‘Siapa yang berdoa pada-Ku, akan Kuperkenankan doanya. Siapa yang meminta pada-Ku, pasti akan Kuberi. Dan siapa yang meminta ampun pada-Ku, pasti akan Kuampuni’.” (HR. Bukhari no. 6321 dan Muslim no. 758). Hadis ini memberi isyarat bahwa siapa pun yang menginginkan sesuatu, hendaklah suka bangun malam, salat dan memohon dengan sepenuh hati di waktu yang istimewa itu.
Kedua, Katsrat al-istighfar Bi al-Ashar, memperbanyak istighfar waktu sahur.
            Istighfar artinya memohon ampun kepada Allah atas segala dosa. Istighfar dapat dilakukan kapan saja, misal setiap selesai salat lima waktu, dan terutama pada waktu sahur atau sepertiga malam terakhir. Nabi sendiri biasa istighfar, setiap harinya lebih dari 70 kali atau 100 kali. Nabi Saw menyatakan: Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari No. 6307). Bila seorang hamba memperbanyak istighfar, maka Allah akan memperhatikan apa yang dibutuhkan hambaNya. Berikut ini kisah tentang solusi menghadapi segala masalah yang pernah diadukan kepad Syekh Hasan al-Basri.
Suatu ketika datang seseorang kepada Imam Hasan Al-Basri mengadukan masalahnya. Orang pertama datang mengadukan musim paceklik, kemudian Hasan Al-Basri  berkata kepadanya: “Istighfarlah engkau kepada Allah”. Kemudian orang kedua datang mengadukan tentang kemiskinannya, Hasan Al-Basri  tetap berkata kepadanya:” Istighfarlah engkau kepada Allah“. Datang lagi orang ketiga mengadukan kondisinya yang tidak kunjung dikaruniai anak, Hasan Al-Basri berkata kepadanya:” Istighfarlah engkau kepada Allah“. Datang lagi orang keempat mengadukan tentang kebunnya yang kering, kemudian  Hasan Al- Basri  berkata kepadanya:” Istighfarlah engkau kepada Allah”. Semua keluhan dan masalah yang diadukan kepada Hasan Al-Basri dijawabnya  dengan: “Istighfarlah engkau kepada Allah”.
Memperhatikan hal tersebut, al-Rabi bin al-Sabih, murid Hasan Al Basri bertanya kepada beliau dengan sangat penasaran. Wahai Syekh Hasan al-Basri, tadi orang-orang berdatangan kepadamu mengadukan berbagai permasalahan, dan engkau memerintahkan mereka semua agar beristighfar, mengapa demikian?”. Hasan Al-Bashri menjawab: “Aku tidak menjawab berdasarkan pikiranku sendiri, tetapi karena Allah Subhanahu wata’ala telah mengatakan dalam firman-Nya (QS. Nuh, 10-12) yang artinya: “Maka, Aku katakan kepada mereka, Mohonlah ampunan kepada Rabb-mu, sesunguhnya dia adalah Maha Pengampun, niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Allah pun akan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”. (Abu Ishak al-Tsa’labi al-Naysaburi, al-Kasyf Wa al-Bayan, X/44).
Ketiga, Ta’ahud al-Sadaqah, membiasakan bersedekah.
            Sedekah adalah pemberian sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan. Sedekah bisa diberikan kepada fakir atau miskin, dan juga bisa diberikan kepada pihak lain seperti lembaga pendidikan, tempat ibadah untuk kepentingan pembangunan atau biaya operasional. Allah menjanjikan kepada siapapun yang suka bersedekah, apapun bentuknya, akan diberikan balasan sesuai yang dikehendakiNya. Allah Swt berfirman: “ Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya” (QS. Saba, 39).
            Suatu saat ada seseorang sedang mengikuti salat Jumat di sebuah masjid Surabaya. Pada saat kotak infak berjalan menuju ke arahnya, ia membuka dompet yang isinya tinggal 5000 rupiah. Ia pikir-pikir, kalau uang itu diinfakkan ke dalam kotak berarti ia tidak bisa makan siang. Kalau digunakan makan siang berarti ia tidak bisa berinfak. Ia gelisah, lalu mohon kepada Allah untuk mendapatkan ketetapan hati.  Akhirnya ia dapat ilham yang kemudian memasukkan uang tersebut ke dalam kotak infak. Ia percaya Allah memperhatikan hambaNya.
            Setelah salat Jumat selesai, tiba-tiba ada orang yang menyapa dari arah belakangnya. Orang itu ternyata teman lama yang sudah dua puluh tahun tak berjumpa. Perbincangan pun sangat asik dan gayeng sekali. Teman itu kemudian mengatakan, bagaimana kalau perbincangan ini kita lanjutkan di kafe sambil makan siang? Tentu saja orang ini mengiyakan, setuju sekali, karena uangnya sudah habis. Alhamdulillah, rupanya Allah benar-benar telah mengganti uang yang tadi telah disedekahkan, kata hatinya penuh syukur.
Keempat, al-Dzikr Awwal al-Nahari Wa Akhirahu, berdzikir di waktu pagi dan sore hari.
            Dzikir artinya mengingat atau menyebut, yakni mengingat atau menyebut nama Allah Swt. orang yang suka mengingat Allah, maka Allah pun akan mengingatnya. Allah Swt berfirman: “Ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (QS. Al-Baqarah [2]: 152).
            Dzikir kepada Allah diperintahkan setiap waktu, pagi, siang, sore, dan malam hari. Dalam sebuah hadis riwayat Abu Dawud No. 5084 dan al-Tirmidzi No. 3575 dikisahkan bahwa Abbdullah bin Khubaib Radhiyallahu ‘anhu bercerita: suatu saat kami keluar mencari Rasulullah _Shollallohu ‘alaihi wasallam untuk salat bersama kami, di saat hujan dan gelap gulitanya malam. Aku pun mendapatkan beliau. Lalu berkata: “Bacalah!”, saat itu aku tidak mengucapkan apapun. Beliau berkata lagi: “Bacalah!. Aku masih belum berkata apa-apa. Beliau mengulangi ucapannya: “Bacalah!”. Aku pun bertanya : “Wahai Rasulullah, apa yang aku baca ?” Beliau bersabda: “Bacalah: Surat al-Ikhlash, dan al-Mu’awwidzatain (Al Falaq dan An Nas) ketika masuk waktu sore dan masuk waktu pagi sebanyak tiga kali, maka hal itu akan mencukupi kamu dari segala sesuatu.”. hadis ini menurut al-Albani hasan sahih, (al-Albani, al-Targhib Wa al-Tarhib, I/158).
            Hadis tersebut menerangkan bahwa siapa pun yang suka berdzikir kepada Allah, terutama dzikir dengan membaca surat al-Ikhlas, al-Falaq, dan al-Nas, masing-masing tiga kali, baik di waktu pagi maupun sore, maka Allah akan  menjamin dan mencukup kehidupannya.



Tambahan:


Ibn al-Qayyim, dalam Zad al-Ma’ad Fi Hady Khayr al’Ibad, IV/372, mengatakan:
وَأَرْبَعَةٌ تَجْلِبُ الرّزْقَ قِيَامُ اللّيْلِ وَكَثْرَةُ الِاسْتِغْفَارِ بِالْأَسْحَارِ وَتَعَاهُدُ الصّدَقَةِ وَالذّكْرُ أَوّلَ النّهَارِ وَآخِرَهُ .

Ada empat perkara yang dapat menarik (membawa) rizki, yaitu: (1) Shalat malam; (2) Memperbanyak istighfar waktu sahur; (3) Membiasakan shadaqah; dan (4) Berdzikir pagi dan sore.


Di antara lafal istighfar yang dianjurkan Rasulullah adalah memperbanyak membaca sayyidul istighfar. Redaksinya sebagai berikut:
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ ، لَا إِلٰـهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمتِكَ عَلَيَّ ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ
Allahumma Anta Rabbi, La Ilaha Illa Anta Khalaqtani wa Ana ‘Abduka, wa Ana ‘ala ‘Ahdika wa Wa’dika Mastatha’tu, A’udzubika min Syarri Ma Shana’tu, Abu u laka bi ni’matika ‘alayya, wa Abu u bi dzanbi faghfirli, fainnahu la yaghfirudz dzunuba illa Anta.
Artinya:
 “Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku menetapi perjanjian-Mu dan janji-Mu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.”
Dalam hadis riwayat al-Bukhari ditegaskan, orang yang sering membaca sayyidul istighfar, Allah menjanjikan surga untuknya. Rasulullah bersabda:
مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوْقِنًا بِهَا ، فَمَـاتَ مِنْ يوْمِهِ قَبْل أَنْ يُمْسِيَ ، فَهُو مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوْقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ .
Artinya:
“Siapa yang membaca sayyidul istighfar pada siang hari dengan yakin, kemudian meninggal dunia sebelum datang waktu sore, maka dia termasuk ahli surga. Dan siapa saja yang membaca di waktu malam dengan yakin, kemudian dia meninggal sebelum pagi, maka dia juga termasuk penghuni surga.” (HR. al-Bukhari No.6306 ).