Sabtu, 09 Juli 2011

SHALAT WITIR BESERTA DZIKIR DAN DOANYA

Shalat Witir beserta Dzikir dan Doanya

Oleh: Achmad Zuhdi Dh (0817581229)

Pengantar

Shalat Witr adalah shalat yang dilakukan pada malam hari setelah usai shalat isya. Bilangan rakaatnya ganjil (gasal); bisa satu rakaat, tiga rakaat, lima rakaat sampai dengan sebelas rakaat. Sekurang-kurangnya satu rakaat, dan sebanyak-banyaknya sebelas rakaat.[1]

Rasulullah Saw bersabda:

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ فَالْيُوْتِرْ بِرَكْعَةٍ

Artinya:

Shalat malam itu (bilangan rakaatnya) dua-dua. Maka apabila salah seorang di antara kamu khawatir masuk waktu shubuh, maka hendaklah ia melakukan shalat Witr satu rakaat saja.[2]

Shalat Witr sebaiknya dilakukan beriringan dengan shalat malam seperti shalat Tarawih atau shalat Tahajjud. Tetapi jika dilakukan secara tersendiri tanpa diiringi (didahului) oleh shalat malam juga boleh, misalnya dilakukan pada awal malam, setelah usai shalat fardlu isya dan shalat sunnah bada isya, sebelum tidur.

Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُوْمَ مِنْ أَخِرِ اللَّيْلِ فَالْيُوْتِرْ أَوَّلَهُ وَمَنْ طَمَعَ أَنْ يَقُوْمَ أَخِرَهُ فَالْيُوْتِرْ أَخِرَ اللَّيْلِ فَإِنَّ صَلاَةَ أَخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُوْدَةٌ وَذَالِكَ أَفْضَلُ

Artinya:

“Barangsiapa khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaklah ia melakukan shalat Witr pada awal malam (sebelum tidur), dan barangsiapa berkeyakinan bahwa dirinya bisa bangun pada akhir malam, hendaklah ia shalat Witr pada akhir malam, karena shalat Witr di akhir malam itu disaksikan (oleh malaikat) dan lebih utama”.[3]

Sesuai dengan saran Rasulullah Saw, maka yang utama adalah melakukan shalat Witr setelah shalat malam (shalat tarawih atau shalat tahajjud). Nabi Saw. bersabda:

إِجْعَلُوْا أَخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا

Artinya:

“Jadikanlah akhir dari kegiatan shalat malammu itu dengan shalat Witr”.[4]

Dzikr sesudah usai shalat Witr

Sesuai hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud dan Nasa’i dengan sanad yang shahih[5] dan juga al-Daruqutni, maka dzikr-dzikr yang biasa dibaca oleh Rasulullah Saw setelah usai shalat Witr adalah sbb:

1. Subhaanal Malikil Qudduus;

2. Subhaanal Malikil Qudduus;

3. Subhaanal Malikil Qudduus; (pada bacaan yang ketiga ini dibaca dengan memanjangkan bacaan dan mengeraskan suaranya);[6]

4. Rabbil Malaa-ikati Warruuh.[7]

١. سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ

٢. سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ

٣. سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ

٤. رَبِّ الْمَلاَ ئِكَةِ وَالرُّوْحِ

Artinya:

1. Maha suci Raja yang Suci;

2. Maha suci Raja yang Suci;

3. Maha suci Raja yang Suci;

4. Tuhannya para Malaikat dan Jibril.

Doa sesudah usai shalat Witr

Sesuai hadits riwayat Abu Dawud, Al-Tirmidzi dan al-Nasa-i, dari Ali ra.[8] bahwasanya Nabi Saw biasa membaca doa pada akhir shalat Witr-nya dengan bacaan doa sebagai berikut:

Allaahumma innii a’uudzu biridlaaka min sakhatik;

Wa a’uudzu bimu’aafaatika min ‘uquubatik;

Wa a’uudzu bika minka;

Laa uhshii tsanaa-an ‘alaika anta;

Kamaa atsnaita ‘alaa nafsik.

اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ

وَأَعُوْذُ بِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ

وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ

لاَ أُحْصِىْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ

كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

Artinya:

“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan dengan keridlaanMu dari kemurkaanMu;

Aku mohon perlindungan dengan pengampunanMu dari siksaanMu;

Aku berlindung kepadaMu dari Mu;

Aku tidak menghitung pujian atasMu

Sebagaimana Engkau telah memuji atas diriMu sendiri”.

Al-Nasa-i dalam kitabnya “Matn ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah” meriwayatkan hadits mengenai do’a setelah shalat Witr tersebut dari ‘Ali ra., ia berkata: “Aku pernah bermalam dengan Rasulullah Saw pada suatu malam, maka aku mendengar Nabi Saw apabila selesai mengerjakan shalat Witr, ia merebahkan badannya sambil membaca doa tersebut”.[9]

Catatan kaki:

[1] Al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir Fi Fiqh Madhhab al-Imam al-Syafii ra Wahuwa Syarh Mukhtashar al-Muzani, Vol.II (Bairut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah,1994),293

[2] Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Vol.I, 198-199.

[3] Muslim, Shahih Muslim, Vol.I, 331. Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Vol.I, 163.

[4] Muslim, Shahih Muslim, I, 335. Al-Baghawi, Syarh al-Sunnah, Vol. II (Bairut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1992),490.

[5] Al-Nawawi, Al-Adzkar, 74.

[6] Dalam hadits riwayat Abu Dawud dan al-Nasai dengan sanad yang shahih dari Ubay bin Kab ra berkata: Adalah Rasulullah saw apabila selesai mengucapkan salam dalam shalat Witr, beliau membaca dzkir "Subhaanal Malikil Qudduus; Subhaanal Malikil Qudduus; Subhaanal Malikil Qudduus”. Al-Nawawi, Al-Adzkar, 74.

[7] Al-Syaukani dalam kitabnya Tuhfat al-Dzakirin mengutip hadits dengan tambahan redaksi sebagai berikut: ...Dan sesudah selesai salam (dari shalat Witr), membaca dzikr Subhaanal Malikil Qudduus” sebanyak tiga kali dengan memanjangkan bacaannya dan mengeraskan suaranya pada bacaan yang ketiganya (HR.Abu Dawud, Al-Nasa-i dan Al-Daruqutni). Setelah itu membaca: “Rabbil Malaa-ikati Warruuh” (HR.Al-Daruqutni). Al-Syaukani, Tuhfat al-Dzakirin (Bairut: Dar al-Kutrub al-‘Ilmiyah,tt), 128. Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah,Vol. I, 166.

[8] Al-Nawawi, Al-Adzkar, 74.

[9] Al-Nasa-i, Matn Amal al-Yaum wa al-Lailah, 261. Hadits tersebut juga di muat di berbagai kitab di antaranya Ibn al-Qayyim, Zad al-Maad,Vol.I, 88. Dan Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Vol.I, 166.

Jumat, 08 Juli 2011

UPACARA SELAMATAN

UNSUR-UNSUR

ANIMISME-DINAMISME, HINDU-BUDHA DAN ISLAM

DALAM UPACARA SELAMATAN

(Sebagai hasil akulturasi budaya setelah kedatangan Islam di Jawa)

(Oleh: Achmad Zuhdi Dh)

Abstraksi:

Upacara selamatan yang biasa dilakukan oleh orang Jawa, yang sudah mendarah daging hingga kini, merupakan fenomena yang tak bisa dilepaskan dengan akar sejarah kepercayaan-kepercayaan yang pernah dianut oleh orang Jawa itu sendiri. Aktifitas selamatan yang dimaksudkan untuk memperoleh keselamatan bagi pelakunya itu pada mulanya bersumber dari kepercayaan animisme-dinamisme, sebuah fenomena kepercayaan yang dianut oleh nenek moyang orang Jawa yang menganggap bahwa setiap benda itu punya roh dan kekuatan tertentu. Dari sinilah manusia pada awalnya, setelah merasa tak berdaya, lalu meminta perlindungan kepada yang maha kuat, yang disebut dengan roh-roh dan kekuatan-kekuatan yang ada pada benda-benda tertentu. Aktifitas yang berupa permohonan untuk suatu keselamatan itulah kemudian disebut dengan “selamatan”. Seiring dengan masuknya kepercayaan Hindu dan Budha pada orang Jawa, maka kepercayaannya pun bertambah lagi, menjadi percaya kepada adanya dewa-dewi. Hal ini akan nampak jelas pada bacaan doa dalam upacara selamatan yang diselenggarakan. Setelah kedatangan Islam di tanah Jawa, Islam juga ikut mempengaruhi upacara selamatan. Jika pada masa sebelumnya disebut nama-nama roh dan kekuatan tertentu kemudian nama-nama dewa-dewi, maka setelah kedatrangan Isalam nama-nama Allah, Muhammad, dan para keluarga Nabi serta para sahabatnya cukup mewarnainya, dalam doa-doa selamatan.

Asal-Usul Selamatan[1] dan Perkembangannya

Menurut para ahli antropologi, penduduk yang dianggap pertama sekali mendiami Indonesia adalah suku bangsa Wedda yang berbadan kecil dan berkulit coklat. Kemudian pada sekitar tahun 3000 SM datanglah gelombang pertama orang-orang melalyu ke Indonesia[2]. Bagi mereka yang menetap di pulau Jawa, mereka ini lalu terpengaruh oleh alam lingkungan Jawa; oleh keadaan gunung-gunungnya, oleh sungai-sungainya, oleh udaranya, oleh tumbuh-tumbuhannya, oleh suara burungnya dan sebagainya. Akibatnya membawa pengaruh pada mereka untuk menumbuhkan kebudayaan Jawa, yaitu suatu budaya yang merupakan hasil interaksi antara manusia pendatang dengan lingkungan alam Jawa. Oleh karena itu orang-orang melayu yang datang kemudian dianggap sebagai nenek-moyang orang Jawa[3].

Sebagaimana pada tempat-tempat yang lain, suku Jawa pada zaman purba kehidupannya amat bergantung kepada lingkungan hidup, kemudian menimbulkan kepercayaan adanya kekuatan alam dan arwah orang yang meninggal dibarengi dengan timbulnya seni lukis yang berlatang belakang magis, khususnya di dinding-dinding gua.[4]

Budiono Herusatoto dalam bukunya “Sombolisme Dalam Budaya Jawa”, mengatakan bahwa suku bangsa Jawa pada zaman purba mempunyai pandangan hidup Animisme, suatu kepercayaan adanya roh atau jiwa pada semua benda, tumbuh-tumbuhan, hewan dan juga pada manusia sendiri. Di samping Animisme, pada mereka juga punya pandangan hidup Dinamisme, yaitu kepercayaan akan adanya tenaga magis pada manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda, juga dalam sebuah kata yang diucapkan atau ditulis pada tanda yang dipasang[5]. Lebih jauh H.Th.Fischer mengatakan bahwa Animisme itu biasanya menjadi religi, sebab orang akan merasa terikat kepada roh itu dan kemudian berpaling menghamba kepadanya. Sedangkan Dinamisme biasanya menjadi magi, sebab orang mengira bahwa dengan tindakan-tindakan tertentu tenaga-tenaga itu dapat dimiliki, dapat dipergunakan untuk keuntungan diri sendiri atau kerugian orang lain[6].

Menurut I.Djumhur, antara Animisme dan Dinamisme tak dapat dipisah-pisahkan; tidak ada bangsa primitip yang hanya mempunyai anggapan Dinamistis dengan mengenyampingkan Animistis. Kedua gejala berpikir tersebut dapat di jumpai pada suatu bangsa yang sama[7]. Di Jawa misalnya, ada kepercayaan bahwa apabila orang itu punya ilmu tinggi, maka ia akan mengalami kesulitan apabila akan mati, karena dia menyimpan tenaga magis. Gejala ini merupakan gejala Dinamistis. Selanjutnya ada juga kepercayaan bahwa apabila orang itu mati harus ditutup semua lubang yang ada pada mayat, agar nyawa yang yang ada pada tubuh itu terlindung dari pengaruh-pengaruh buruk. Gejala ini adalah berkaitan dengan Animisme. Animisme dan Dinamisme inilah yang merupakan asal-usul kepercayaan yang dimiliki orang Jawa. Adanya kepercayaan terhadap kedua isme ini maka orang-orang Jawa pada zaman purba itu tunduk kepada gejala-gejala alamiah dan benda-benda alam. Ketundukan ini lahir dalam bentuk menyembah dan mempertuhankannya. Maka disembahlah berbagai macam binatang dan tumbuh-tumbuhan. Disembahlah manusia yang dianggap lebih kuat daripadanya. Disembahlah benda-benda alam yang lain seperti matahari, bulan, binatang, gunung, air, api dan lain-lain. Semuanya itu dianggap sebagai Tuhan. Untuk mengungkapkan perasaan dan ketundukannya kepada sesembahannya itu maka dibuatlah gambar dan tata-cara tertentu[8]. Sebagai contoh untuk mencegah kekuatan yang bisa menimbulkan penyakit, banjir, gempa bumi atau hama tanaman maka dipersembahkanlah sesajian untuk benda-benda yang dianggapnya punya roh dan kekuatan[9].

Kemudian kira-kira pada tahun 400 M, datanglah orang-orang India ke Pulau Jawa untuk berdagang yang membawa pula agama Hindu dan Budha dan kemudian berkembanglah kedua agama itu di Pulau Jawa. Selanjutnya berdirilah kerajaan-kerajaan yang beragama Hindu atau Budha. Tetapi dalam masyarakat Jawa, agama Hindu dan Budha bisa hidup berdampingan secara damai, meski negara mungkin berstatus sebagai negara Hindu atau Budha. Bahkan pernah terjadi pula di Jawa pada masa itu agama Hindu bercampur dengan agama Budha, dengan nama agama Siwa-Budha. Kerajaan-kerajaan Hindu atau Budha di Pulau Jawa pada saat itu misalnya:

Kerajaan Sanjaya di Jawa Tengah (abad VIII M) yang berstatus agama Hindu, kerajaan Syailendra di Jawa Tengah (abad VIII M) yang berstatus agama Budha, Kerajaan Dinasti Empu Sindok di Jawa Timur (dari Sindok sendiri sampai Erlangga, 929-1024 M) yang berstatus agama Hindu-Siwa, tetapi juga memberi kesempatan pada agama Budha untuk berkembang, Kerajaan Kediri dan Singosari di Jawa Timur (1042-1292 M), yang berstatus agama Hindu-Wisnu, tetapi juga memberi kesempatan pada alam pikiran agama primitip untuk berkembang kembali, raja adalah pusat daya magis dan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur (1253-1528 M) yang berstatus agama Hindu-Siwa tetapi juga memberi kesempatan sinkretisme agama-agama yang ada pada masa itu mencapai puncaknya[10].

Dari gambaran tersebut jelas kiranya bahwa kebudayaan Indonesia lebih-lebih Jawa mengalami perubahan besar. Pengaruh agama Hindu dan Budha bukan saja mengantarkan bangsa Indonesia memasuki zaman sejarah, tetapi juga membawa perubahan dalam susunan masyarakat yaitu timbulnya kedudukan raja dan bentuk pemerintahan kerajaan di samping juga dalam alam pikiran dengan adanya bentuk keagamaan yang baru itu. Dengan sendirinya adat kebiasaan dan penghidupan pun mengalami perubahan[11].

Bagi orang-orang Jawa yang tergolong priyayi[12], pinjam istilah Geertz, yakni para keluarga istana dan pejabat pemerintahan, sudah barang tentu sangat terpengaruh oleh ajaran agama Hindu dan Budha. Sebab merekalah yang menegakkan kerajaan-kerajaan yang beragama Hindu dan Budha itu. Namun demikian pada mereka juga masih terdapat kepercayaan-kepercayaan yang berasal dari Animisme dan Dinamisme. Sedangkan golongan petani (rakyat kecil/ wong cilik) tidak seberapa terpengaruh oleh mistik Hindu-Budha sebagaimana terpengaruhnya pada kalangan priyayi. Hal ini dimungkinkan karena golongan wong cilik itu teralalu sibuk mencari sesuap nasi, sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk mendalami buku-buku Hindu dan Budha yang mistis itu. Oleh karena itu pula kepercayaan mereka tetap Animisme-Dinamisme dengan dilengkapi mistik Hindu-Budha yang kurang begitu dominan pada mereka[13].

Masa Jawa-Hindu (masa kerajaan-kerajaan Hindu-Budha) itu mempunyai kenangan yang dalam pada masyarakat Jawa. Karena di samping waktunya begitu lama, masa itu juga dianggap telah melahirkan kerajaan-kerajaan Jawa yang besar, melahirkan candi-candi besar, melahirkan pujangga-pujangga dan kitab-kitab yang besar pengaruhnya.

Di antara pengaruh yang jelas dari kebudayaan Hindu-Budha terhadap orang Jawa dapat dilihat pada tindakan relijius orang Jawa. Penghormatan orang Jawa terhadap kekuatan benda dan roh-roh, kini beralih pada dewa-dewa yang menguasai benda-benda dan roh-roh itu. Kalau pada Animisme-Dinamisme percaya pada kekuatan bulan, maka oleh Hindu kemudian kepercayaan itu ditambahai dengan adanya dewa yang menjaga dan menguasai bulan itu, yakni dewa Candra. Begitu pula pada matahari yang dipercayai secara Animstis dan Dinamistis akhirnya juga dilengkapi dengan kepercayaan adanya dewa yang menjaga dan menguasainya, yakni dewa Surya. Ini adalah hasil assimilasi dan akulturasi faham Animisme-Dinamisme dengan faham Hindu-Budha. Hasil assimilasi yang lain adalah munculnya kepercayaan terhadap dewi Sri, tokoh simbolik kaum petani Jawa yang melindungi tanaman padinya dari gangguan hama tanaman yang dianggapnya berasal dari roh-roh jahat. Kemudian tokoh Bethara Kala adalah simbul pembawa malapetaka bagi orang yang mempunyai ciri-ciri tertentu dan melakukan tindakan-tindakan tertentu yang telah ditetapkan oleh Bethara Guru, raja segala dewa untuk menjadi mangsa Bethara Kala. Untuk menghindarkan diri dari mangsanya, orang harus diruwat atau dibebaskan dari incaran dan ancaman Bathara Kala; yaitu dengan mengadakan selamatan. Untuk upacara selamatan dalam upaya membebaskan diri dari padanya, biasanya diadakanlah pagelaran wayang dengan mengambil lakon (cerita) Murwakala[14].

Kemudian pada abad XIII M, Islam sudah masuk ke Indonesia. Ia dibawa oleh orang-orang Persi dan orang-orang Gujarat. Sebab orang-orang Persi membawa ke Gujarat. Kemudian keduanya bersama-sama atau sendiri-sendiri membawanya ke Indonesia[15].

Dari Persia, Islam yang sudah berbau mistik itu (mistik Islam: tasawwuf), singgah di Gujarat-India. Di sini ia berkembang dan bersentuhan dengan agama Hindu yang mistis itu. Dari sebab itu penyiar pertama agama Islam di Indonesia dimungkinkan dari ahli-ahli tasawwuf, dan juga orang-orang syi’ah. Walaupun nanti ternyata pengaruh syi’ah tidak sebesar pengaruh tasawwuf. Di antara data yang mendukung bahwa pembawa Islam ke Indonesia adalah para ahli tasawwuf, hal ini bisa dilihat di daerah Sumatera (daerah yang pertama sekali disinggahi muballigh-muballigh Islam), ternyata di sana banyak lahir ulama sufi yang cukup besar pengaruhnya, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin Pasai, Abdur Rauf Singkel dan Nuruddin Ar Raniri.

Dalam bukunya yang berjudul “The Spread of Islam In Indonesia”, Mukti Ali mengemukakan sebagai berikut:

“Alasan lain yang menyebabkan suksesnya Islam di Indonesia, yang dilupakan oleh Brouwer ialah bahwa Islam telah disiarkan di kepulauan Indonesia ini oleh ahli-ahli mistik. Dan mistik itu mempunyai daya tarik yang besar sekali bagi orang-orang Indonesia. Setelah datangnya Islam di Indonesia, orang-orang Indonesia lebih menaruh perhatian pada ilmu mistik (tasawwuf) dan praktik-praktik mistik dibangkitkan kepada ilmu theologi-scholastik maupun kepada hukum Islam. Di antara orang-orang Indonesia, bukanlah para ahli theologi (mutakallimun) atau para ahli hukum (fuqaha) yang menjadi terkenal, akan tetapi yang menjadi terkenal itu adalah tokoh-tokoh kelompok mistik (Syaikh al-Tariqah). Di antara mereka itu (para sarjana muslim) yang terkenal pada abad ke-16 M di Sumatera adalah Hamzah Fansuri, Syamsuddin Pasai, Nuruddin Ar Raniri, Abdur Rauf Singkel dan lain-lain. Mereka itu adalah tokoh-tokoh sufi. Demikian pula di Jawa, para wali yang hidup pada masa itu adalah tokoh-tokoh sufi”[16].

Sejalan dengan kemajuan Majapahit dan kiprahnya di dunia internasional, maka semakin sering pelaut dan pedagang-pedagang Jawa berhubungan dengan orang-orang Islam yang ada di Malaka, karena Malaka adalah pusat penyiaran Islam untuk Asia Tenggara[17]. Dari sebab semakin ramainya pedagang Majapahit, semakin banyak orang Jawa yang bersentuhan dengan agama Islam dan terpengaruh oleh Islam. Dari hari ke hari orang yang berhubungan dengan pelabuhan-pelabuhan di pantai utara Jawa, semakin banyak orang Islamnya. Baik itu orang-orang Jawa sendiri ataupun pedagang Persia dan Gujarat. Keadaan itu berlangsung terus, sehingga lama-kelamaan pelabuhan-pelabuhan tersebut merupakan pusat-pusat penyiaran agama Islam di Pulau Jawa. Selanjutnya saudagar-saudagar muslim itu berusaha mengislamkan para saudagar Jawa yang belum masuk Islam.

Para bangsawan agaknya merasa terhormat apabila gadis-gadisnya dinikahi oleh saudagar-saudagar asing (muslim) tersebut. Itulah sebabnya di kalangan bangsawan Majapahit juga terdapat orang-orang yang beragama Islam. Sebagian orang yang masuk Islam itu ada yang didorong oleh kepentingan ekonomi maupun politik. Sejak itu di daerah pantai utara Jawa, terutama di daerah-daerah pelabuhan, seperti Jepara, Tuban, Gresik dan Surabaya kekuatan Islam semakin bertambah dengan mantapnya. Rakyat pun banyak yang masuk Islam karena pengaruh pedagang yang menguasai ekonomi dan pelabuhan-pelabuhan. Kemudian pada saat pemerintahan Majapahit mulai nampak lemah, tiada pilihan lain bagi para bangsawan kecuali masuk Islam. Bahkan untuk selanjutnya semakin banyak rakyat yang masuk Islam karena bangsawan yang ada di daerahnya telah masuk Islam[18].

Setelah ajaran Islam masuk ke dalam hati orang jawa yang sebelumnya sudah diwarnai oleh Animisme-Dinamisme dan Hindu-Budha, pada akhirnya muncullah dua golongan kepercayaan dalam masyarakat Jawa, yaitu golongan putihan (kelompok santri) dan golongan abangan (Islam kejawen).

Golongan putihan (kelompok santri) adalah golongan orang yang taat beragama Islam, namun mereka agaknya tidak bisa menghilangkan begitu saja pengaruh-pengaruh kepercayaan pra Islam. Ciri golongan ini adalah ketaatannya untuk melakukan salat lima waktu sehari semalam dan berpuasa bulan Ramadan. Faktor penyebab sulitnya menghilangkan kepercayaan pra Islam bagi orang Jawa, menurut Sufaat M, hal ini dikarenakan para wali yang merupakan arsitek penyiaran agama Islam di Jawa mengambil garis lunak terhadap unsur-unsur kepercayaan lama. Mereka adalah orang-orang ahli tasawwuf yang cukup tolerans dan menyadari bahwa periode mereka adalah periode transisi[19].

Golongan abangan (Islam kejawen) adalah orang Jawa yang meskipun ia penganut Islam, tidak begitu saleh dan alim, tidak begitu sungguh-sungguh menjalankan agama, bahkan merasa tidak perlu sembahyang Jumat, berpuasa dan lain-lain[20]. Golongan ini terbagi menjadi dua, yaitu Golongan wong cilik dan Golongan priyayi.

Golongan wong Cilik adalah golongan yang dasar kepercayaannya Animisme-Dinamisme. Kalau dulu kepercayaannya hanya dilengkapi dengan unsur Hindu-Budha, maka kini mendapat unsur baru yaitu Islam. Bahkan Islam di sini, di samping menjadi unsur tambahan juga menjadi bungkus. Golongan ini mempunyai acara inti berupa selamatan atau sesaji. Mereka yang tinggal bersama-sama dalam satu lingkungan daerah merupakan suatu ikatan dari orang-orang yang mempunyai kepercayaan yang sama. Konsepsi mu’jizat dan karamah pada golongan tasawwuf nampaknya menarik golongan ini untuk menempelkan lencana Islam pada diri mereka.

Golongan Priyayi adalah golongan keluarga Istana dan pejabat pemerintahan. Mereka ini masih tetap kuat pengaruh mistik Hindu-Budhanya. Perubahannya adalah kalau dulu hanya didasari oleh unsur-unsur Animisme-Dinamisme, kini mendapatkan tambahan unsur baru, yaitu Islam. Tetapi Islam hanyalah diperlukan untuk melengakapi kata-kata yang diperlukan pada ajaran mistik. Sebab esensi mistik priyayi ini memang amat sulit untuk dikompromikan dengan ajaran tasawwuf yang masih murni menurut konsepsi Islam. Dalam mistik priyayi ini, tiada beda antara yang mutlak dengan manusia. Sedangkan dalam Islam, Tuhan jelas berbeda dengan manusia. Dalam mistik priyayi, terjadinya persatuan dengan yang mutlak, tergantung dari kesanggupan usaha manusia. Sedangkan kasyf (terbukanya tirai antara manusia dengan Tuhan) pada golongan tasawwuf, adalah merupakan anugerah dari Tuhan. Manusia hanya dapat memohon dan mempersiapkan diri. Golongan ini (mistik priyayi) mempunyai ciri memperluas kehidupan batin atau rasa. Dalam hal-hal tertentu mereka sering melakukan semedi atau menyepi. Oleh sebab itu dari golongan ini lalu banyak muncul tokoh aliran kebatinan, atau mistik Jawa atau kejawen[21].

Begitulah dengan masuknya Islam ke hati orang Jawa, nampaknya menambah wawasan dalam keyakinan mereka. Tetapi dengan menerima Islam itu tidaklah dengan sendirinya berarti mereka melenyapkan kepercayaan-kepercayaan lama pra Islam. Mereka menafsirkan dan memahami al-Quran secara “eclectic”, sebagai karet yang bisa diulur-ulur. Mereka mengucapkan syahadat, akan tetapi kenang-kenangan dan kepercayaan kepada Bethara Guru, Bethara Wisnu, Dewi Sri dan lain-lain masih tetap kuat. Di sini muncul kecenderungan kepada sinkretisme.[22] Dengan demikian setelah datangnya Islam, pada orang jawa terdapat berbagai keperacayaan yang bercampur menjadi satu: Animisme-Dinamisme, Hindu-Budha dan Islam. Hal ini nampak jelas pada aktifitas upaca selamatan yang dilakukan oleh orang Islam Jawa. Kalau sebelumnya upacara selamatan hanya mengakomodasi kepercayaan Animisme-Dinamisme dan Hindu Budha, maka pada saat mereka sudah menerima Islam, upacara selamatan dilengkapi dengan unsur-unsur Islam di dalamnya. Sehubungan dengan ini Hildred Geertz menggambarkan tentang selamatan bagi orang Jawa sebagai berikut:

Upacara pokok bagi orang Jawa adalah slametan, dengan mengundang sejumlah pria tetangga terdekat dengan doa dalam bahasa Arab oleh seorang dua orang yang pandai dalam hal itu serta dengan cermat terinci semua dewa Hindu-Budha, Allah, Muhammad dan Fatimah arwah baureksa desa dan sederetan roh tidak bernama, semua diminta perlindungannya, restunya atau kesediaannya untuk tidak mengganggu. Pembacaan doa-doa itu merupakan unsur-unsur terpokok dalam kepercayaan kaum tani dan disertai dengan perbuatan upacara tertentu lainnya misalnya dengan membakar kemenyan dan memberikan sesaji.[23]

Praktik upacara selamatan sebagaimana yang diungkapkan oleh Hildred Geertz tersebut pada umumnya dianut oleh kaum Islam Abangan, sedangkan bagi kaum Islam Putihan (santri) praktik selamatan tersebut tidak sepenuhnya dapat diterima, kecuali dengan membuang unsur-unsur syirik yang menyolok seperti sebutan dewa-dewa dan roh-roh. Karena itu bagi kaum santri, selamatan adalah upacara do’a bersama dengan seorang pemimpin atau modin yang kemudian diteruskan dengan makan-makan bersama sekedarnya dengan tujuan untuk mendapatkan keselamatan dan perlindungan dari Allah Yang maha Kuasa.

Unsur-unsur Animisme-Dinamisme dalam Selamatan

Bila diamati secara jeli, maka unsur Animisme-Dinamisme adalah merupakan unsur yang paling menonjol pada pelaksanaan selamatan, terutama selamatan yang dilaksanakan oleh orang Islam kejawen. Dalam pola umum selamatan yang mereka lakukan, yang terdiri dari peserta selamatan, do’a dan hidangan atau sajian, di dalamnya nampak unsur-unsur Animisme-Dinamisme yang cukup menonjol.

Pada upacara selamatan, yang menjadi pesertanya bukan sekedar dari orang-orang yang masih hidup, tetapi turut juga diundang orang-orang yang sudah mati yang disebut dengan roh-roh leluhur (baca definisi selamatan menurut Clifford Geertz)[24]. Yang dimaksud dengan roh-roh leluhur adalah nenek moyang mereka atau para pendahulu mereka yang sudah mati dan pernah berjasa pada mereka. Mereka itu misalnya orang-orang yang telah berjasa dalam mendirikan suatu desa atau cakal bakal desa, yang biasanya kemudian disebut sebagai danyang desa. Selain itu juga orang-orang yang pernah mendirikan suatu kerajaan dan berjasa dalam memakmurkannya. Juga wali sanga yang dianggap berjasa dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa bahkan Nabi Muhammad sebagai penyebar Islam di seluruh dunia. Di samping itu juga roh-roh leluhur yang menjadi penghuni alam sekitar, misalnya roh penghuni rumah, roh penghuni jembatan, roh penghuni perempatan, roh penghuni sumur, roh penghuni kuburan dan roh-roh yang baik maupun yang jahat semuanya diundang guna dimintai pertolongannya agar berkenan merestui dan tidak mengganggu.

Dilihat dari peserta selamatan yang diundang, yang melibatkan roh-roh leluhur, roh-roh penghuni suatu tempat serta roh-roh jahat dan baik, maka semua ini adalah unsur Animisme. Meski di dalamnya tersebut tokoh-tokoh Islam, tetapi yang menjadi tujuan pokok dalam selamatan ini adalah persembahan kepada roh-roh mereka.

Tentang sebutan berbagai macam roh sebagai tersebut di atas, yang juga melibatkan tokoh-tokoh Islam seperti Allah, Nabi Muhammad, Fatimah dan tokoh-tokoh yang lain seperti yang baureksa desa biasanya nampak dalam komposisi do’a yang diucapkan pada upacara selamatan (baca definisi selamatan menurut Hildred Geertz)[25].

Guna suksesnya upacara selamatan, terutama dalam upaya menghadirkan para arwah, selain disebutkan dalam do’a, yang lebih penting adalah penyediaan sajian-sajian. Sebagai contoh dalam selamatan tingkepan; biasanya penyelenggaraannya harus diadakan pada hari Rabu atau Sabtu dan pada tanggal-tanggal ganjil[26]. Perasaan salah bahkan bisa membawa celaka bila tidak melaksanakannya pada hari-hari yang ditentukan tersebut adalah bagian dari Dinamisme. Unsur lain nampak pada sajian-sajian yang disediakan, misalnya setakir nasi untuk setiap tamu terdiri dari nasi putih di atas dan nasi kuning di bawah. Takir dibuat dari daun pisang yang direkatkan dengan jarum baja atau emas, agar anak yang akan lahir nanti bisa kuat dan tajam pikirannya. Kemudian tiga jenis bubur: putih, merah dan campuran antara keduanya, yang disebut bubur sengkala, dianggap sangat mujarab untuk mencegah masuknya makhluk halus jenis apa pun. Semuanya ini adalah unsur Dinamisme.

Mengenai unsur Animisme nampak pada ketakutan terhadap roh-roh halus yang sewaktu-waktu menganggu, sehingga perlu dicegah dengan sajian bubur sengkala. Kemudian sikap hormat yang tinggi terhadap roh-roh leluhur yang kemudian diiundang untuk dimintai restunya pada suatu hajat, baik dari danyang desa, wali sanga, ataupun Nabi Muhammad dan Fatimah. Untuk menghadirkan mereka (para arwah) dibuatlah sajian-sajian tertentu dalam rangka selamatan tingkeban. Untuk danyang desa dibuatkan sebuah nasi tumpeng besar, untuk wali sanga disediakan sembilan nasi putih yang dibentuk dengan genggaman tangan, dan untuk Nabi Muhammad dan Fatimah dibuatkan sajian nasi yang dicampur dengan kelapa parutan dan ayam isian. Perasaan takut dan harap terhadap berbagai macam roh tersebut adalah unsur Animisme.

Unsur-unsur Hindu-Budha dalam upacara selamatan

Sebagaimana dipaparkan di muka bahwa unsur yang menonjol dalam upacara selamatan adalah unsur Animisme-Dinamisme. Hal ini terjadi karena upacara selamatan itu sendiri adalah berasal dari Animisme-Dinamisme. Karena kuatnya unsur Animisme-Dinamisme pada orang Jawa, setiap agama atau kepercayaan yang masuk ke Jawa selalu mengalami seleksi yang tajam. Hal ini berlaku juga pada agama Hindu-Budha.

Di antara unsur yang jelas dari Hindu-Budha pada pelaksanaan selamatan dapat dilihat pada tindakan relijius orang Jawa, khususnya dalam penghormatan dan pemujaan terhadap yang kuasa. Dalam Hinduisme, pemujaan terahadap dewa-dewi adalah merupakan upacara yang terpenting. Jumlah dewa-dewi yang dipuja itu kra-kira 30 juta banyaknya[27]. Setelah Hindu-Budha masuk ke Jawa, kemudian mempengaruhi alam pikiran orang Jawa. Kalau pada mulanya (Animisme-Dinamisme) pemujaan dan penghormatan ditujukan kepada kekuatan benda-benda dan roh-roh, maka dengan masuknya unsur Hindu-Budha pemujaan itu dialihkan kepada dewa-dewi yang menguasai benda-benda dan lingkungan alam ini. Kalau sebelumnya menyebut penjaga desa dengan danyang desa atau roh penjaga desa, misalnya, maka setelah masuk unsur Hindu-Budha sebutan itu menjadi dewa penjaga desa.

Tentang sebutan dewa-dewi ini nampak pada ungkapan do’a yang dipersembahkan pada setiap upacara selamatan, sebagaimana yang dikatakan oleh Hildred Geertz bahwa dalam selamatan orang Jawa terdapat do’a dalam bahasa Arab serta dengan cermat terinci semua dewa Hindu-Budha, .... dan seterusnya[28].

Selanjutnya unsur Hindu-Budha nampak pada sajian yang dihidangkan dalam suatu selamatan. Dalam selamatan tingkepan misalnya, di sana terdapat hidangan dua buah pisang yang diletakkan di bawah nasi yang dicampur dengan kelapa parutan dan ayam isian. Hidangan dua pisang itu dimaksudkan sebagai korban/ persembahan untuk Dewi Pertimah (harfiah: Dewi Hindu Fatimah, yakni putri Nabi Muhammad dengan gelar Hindu)[29]. Sebutan Fatimah dengan Dewi Pertimah adalah unsur Hindu.

Unsur Hindu-Budha yang lain misalnya sebutan Dewi Nawangwulan, yang selalu diminta bantuannya untuk mempercantik gadis-gadis yang hendak menikah. Hal ini biasanya dilakukan pada upacara selamatan midodareni. Kemudian Dewi Sri, yang selalu diminta bantuannya untuk menyuburkan tanaman padi oleh para petani. Hal ini dilakukan sehubungan dengan acara selamatan pada saat menjelang panen padi. Dan Dewa Kala atau Bethara Kala, dewa yang dimohon oleh orang Jawa agar tidak membawa malapetaka pada manusia. Hal ini biasanya dilakukan orang Jawa pada saat mengadakan selamatan ruwatan.

Khusus pada upacara selamatan kematian, unsur Hindu-Budha nampak pada penentuan hari diadakannya selamatan. Orang Jawa yang sudah dipengaruhi oleh kepercayaan Hindu-Budha, mereka punya anggapan bahwa setelah orang meninggal, rohnya berkeliaran di sekitar rumah atau tempat tinggalnya sampai tiga hari. Setelah tiga hari (jasmaninya mulai membusuk, maka atma (semangat), kama (keinginan), prana (nafsu), manas (akal), manasa (kecerdasan) dan jiwa yang merupakan unsur-unsur yang terdapat pada tubuh manusia mulai meninggalkan jasmaninya. Setelah itu menuju Kamaloka pada hari ketujuh. Di Kamaloka berhenti hingga hari yang keempat puluh dari kematiannya. Selanjutnya roh itu berusaha memurnikan diri dan mempersiapkan diri untuk masuk ke surga pertama pada hari keseratusnya. Setelah berhasil masuk ke surga pertama, roh menjadi lebih murni. Setelah waktu berjalan hingga seribu harinya, roh itu berhasil masuk ke surga kedua, dan seterusnya berulang-ulang hingga mencapai surga ketujuh dan mencapai moksa[30].

Adanya kepercayaan terhadap perjalanan roh yang begitu panjang dan melampaui dari satu stasiun ke stasiun yang lain, rupanya cukup mempengaruhi keyakinan orang Jawa, sehingga pada moment-moment yang penting tersebut selalu diadakan selamatan dengan maksud agar perjalanan roh itu dapat berlangsuang dengan selamat dan tidak mengalami hambatan apa pun.

Unsur-unsur Islam dalam upacara selamatan

Upacara selamatan yang berasal dari kepercayaan Indonesia asli (Animisme-Dinamisme), setelah mendapat pengaruh dari Hindu-Budha, pada perkembangan berikutnya juga mendapat pengaruh dari Islam. Unsur Islam memang tidak begitu menonjol, akan tetapi dalam beberapa hal, Islam cukup besar peranannya dalam memodifikasi selamatan. Dalam beberapa jenis selamatan ada yang mengesankan bahwa selamatan itu seolah-olah dari budaya Islam semata. Lebih-lebih jika yang menyelenggarakan selamatan itu dari kalangan Islam santri.

Pada upacara selamatan kematian misalnya, maka unsur Islam dapat dilihat dengan jelas dari segi bacaan-bacaan dhikr atau do’a yang dibacakan dalam selamatan. Hampir semua do’a yang dibacakan dalam selamatan itu selalu diawali dengan surat al-Fatihah, demikian pula pada akhir do’a. Kemudian bahasa do’a selalu diutamakan dengan bahasa Arab, yang pada intinya berisi tentang permohonan untuk keselamatan. Di antara sekian do’a selamatan yang paling sering dibacakan modin pada setiap upacara selamatan adalah sebagai berikut:

“Allahumma inna nas-aluka salamatan fi al-ddin, wa ‘afiyatan fi al-jasad, wa ziyadatan fi al-‘ilm, wa barakatan fi al-rizq, wa tawbatan qabla al-mawt, wa rahmatan ‘inda al-mawt, wa maghfiratan ba’da al-mawt, wannajata min al-nar wa al-‘afwa ‘inda al-hisab. Allahumma hawwin ‘alayna sakarati al-mawt, rabbana la tuzigh qulubana ba’da idh hadaytana wa hablana min ladunka rahmatan innaka anta al-wahhab. Rabbana atina fi al-dun-ya hasanah wa fi al-akhirati hasanah waqina ‘adhab al-nnar[31].

Selain do’a tersebut, ada bacaan yang khas yang disebut dengan tahlil. Bedanya, kalau do’a tadi hanya dibacakan oleh seorang modin dan yang lain cukup mengamini, maka pada bacaan tahlil ini dibaca bersama-sama oleh semua peserta selamatan dengan dipimpin oleh seorang yang ahli di bidang itu. Dilihat dari do’a dan bacaan tahlil yang dibacakan pada selamatan kematian yang banyak menggunakan bahasa Arab tersebut, jelaslah bahwa semua ini adalah unsur Islam. Tentang adanya tahlil ini, hingga kini cukup kuat pengaruhnya pada kalangan Islam santri. Begitu kuatnya pengaruh tahlil ini, sehingga upacara selamatan kematian ini lebih populer dengan sebutan tahlilan.

Unsur Islam yang lain nampak pada sajian-sajian yang dipersembahkan. Misalnya hidangan Rasulan, yaitu nasi wudu, ingkung ayam (ayam yang putih mulus), becek kambing (gule), apem, rujak wuni, wedang dan penganan. Hidangan ini dimaksudkan untuk ngaturi dhahar Kanjeng Nabi, memberikan makanan kepada Nabi Muhammad Saw. Hidangan semacam ini biasanya dibuat pada acara selamatan kematian. Kemudian bubur sura, yang terdiri dari botor, kacang gede, klungsu, kacang ijo, mrica putih dan isi delima, pasangannya kambing kenyah, dupa menyan madu[32]. Hidangan ini dimaksudkan untuk menghormati cucu Nabi Muhammad, Hasan-Husen. Hidangan ini biasanya dibuat sehubungan dengan selamatan 10 sura. Kemudian sembilan bola nasi putih yang dibentuk dengan genggaman tangan yang juga disebut sega golong. Hidangan yang biasa dibuat pada acara selamatan tingkepan ini dimaksudkan untuk memuliakan wali sanga, sembilan tokoh penyebar Islam di Jawa.

Selain itu unsur Islam juga nampak pada nama penganan-penganan yang dibuat pada acara selamatan. Penganan-penganan yang dimaksud antara lain apem, kolek dan ketan. Apem berasal dari kata Arab ‘afwun, artinya mohon ampun/ma’af. Kolek dari kata Khaliq, artinya Tuhan Pencipta. Ketan dari kata khata-an, artinya kesalahan atau dosa. Jika ketiga kata itu yakni apem, kolek dan ketan dirangkai menjadi satu, maka artinya adalah mohon ampun kepada Tuhan dari segala kesalahan atau dosa.

Disamping itu, unsur Islam juga nampak pada acara-acara selamatan yang dikaitkan dengan hari-hari besar Islam seperti Muludan (memperingati hari lahirnya Nabi Saw), Suranan (memperingati 10 Muharram), Megengan (sehari sebelum datangnya bulan Puasa)[33]. Dilihat dari penentuan waktu yang ditetapkan dengan hari-hari yang istimewa dalam Islam, jelas ini adalah unsur-unsur Islam.

Penutup

Demikian unsur-unsur Animisme-Dinamisme, Hindu-Budha dan Islam dalam upacara selamatan yang dilakukan oleh orang Jawa setelah mengalami perkembangannya, di mana pola selamatan yang dilakukan mengalami perkembangan seiring dengan masuknya agama-agama baru pada orang Jawa. Sebagai bangsa yang beragama dan berkepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, orang Jawa cukup antusias melaksanakan suatu aktifitas yang berhubungan dengan keagamaan/kepercayaan. Upacara selamatan yang ternyata merupakan budaya Jawa yang sarat dengan unsur-unsur agama dan kepercayaan, nampaknya cukup memberikan motivasi tersendiri bagi orang Jawa untuk menyelenggarakannya, hingga sekarang.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Banna, Hasan. Allah Fi al-‘Aqidah al-Islamiyah, terj. Mukhtar Yahya. Solo:

Ramadhani, 1981.

Djumhur, I. Pengantar ke Antropologi Budaya. Bandung: Dirgantara. 1977 .

Fischer, H.Th. Pengantar Anthropologi Kebudayaan Indonesia, terj. Anas

Makruf. Jakarta: Pustaka Sardjana, 1953.

Geertz, Clifford. Abangan, Santri dan Priyayi dalam masyarakat Jawa, terj.

Aswab Mahasin. Jakarta: Pustaka Jaya, 1981.

Geertz, Hildred. Keluarga Jawa. terj.Grafiti Pers .Jakarta: Grafiti Pers, 1985.

Herusatoto, Budiono. Simbolisme Dalam Budaya Jawa. Jogjakarta: PT.

Hanindita, 1984.

Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka, 1984.

MZ,H Fatchurrahman. Surat Yaasiin dan Tahlil. Surabaya: Amanah,tt.

M, Sufa’at. Beberapa Pembahasan Tentang Kebatinan. Yogjakarta: Kota

Kembang, 1985.

Mulyono, Sri. Sombolisme dan Mistikisme dalam Wayang, Sebuah Tinjauan

Filosofis. Jakarta: Gunung Agung, 1979.

Rasyidi, HM. Empat Kuliah Agama Pada Perguruan Tinggi. Jakarta: Bulan

Bintang, 1977.

Rosihan Anwar, Demi Da’wah. Bandung: Al-Ma’arif, 1976.

Soejono, R.P. Ed. Sejarah Nasional Indonesia, Vol.I .Jakarta: PN. Balai Pustaka,

1984.

Soekmono, R. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Vol. II. Jakarta:

Yayasan Kanisius, 1973.

Sihombing, ODP. India, Sejarah dan Kebudayaannya. Bandung: Sumur, 1962.

Tjakraningrat, Kanjeng Pangeran Harja. Kitab Primbon Betal Jemur Adammakna

Yogjakarta: Soemodidjojo Mahadewa, 1980

Tanojo, R. Primbon Djawa Pandita Sabda Nata.Solo: Toko Buku Pelajar,tt.



[1] Selamatan adalah upacara pokok bagi orang Jawa dan merupakan unsur terpenting dalam hampir semua ritus dan upacara dalam sistem religi orang Jawa, yang melambangkan kesatuan mistis dan sosial mereka yang ikut di dalamnya, dengan melibatkan handai-taulan, tetangga, rekan sekerja, arwah setempat, nenek moyang yang sudah mati dan sebagainya yang semuanya duduk bersama mengelilingi satu meja untuk diminta perlindungannya, restunya dan kesediaannya untuk tidak mengganggu. Baca Clifford Geertz, Abangan, Santri dan Priyayi dalam masyarakat Jawa, terj. Aswab Mahasin (Jakarta: Pustaka Jaya, 1981), 13. Baca juga Hildred Geertz, Keluarga Jawa, terj.Grafiti Pers (Jakarta: Grafiti Pers, 1985), 14.

[2] Sufa’at M, Beberapa Pembahasan Tentang Kebatinan (Yogjakarta: Kota Kembang, 1985), 33.

[3] Ibid., 34.

[4] R.P. Soejono, Ed., Sejarah Nasional Indonesia, Vol.I (Jakarta: PN. Balai Pustaka, 1984), 159.

[5] Budiono Herusatoto, Simbolisme Dalam Budaya Jawa (Jogjakarta: PT. Hanindita, 1984), 43.

[6] H.Th. Fischer, Pengantar Anthropologi Kebudayaan Indonesia, terj. Anas Makruf (Jakarta: Pustaka Sardjana, 1953), 149.

[7] I.Djumhur, Pengantar ke Antropologi Budaya (Bandung: Dirgantara. 1977), 100.

[8] Hasan al-Banna, Allah Fi al-‘Aqidah al-Islamiyah, terj. Mukhtar Yahya (Solo: Ramadhani, 1981), 19.

[9] HM.Rasyidi, Empat Kuliah Agama Pada Perguruan Tinggi (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), 11.

[10] Sufaat M, Beberapa Pembahasan, 34.

[11] R. Soekmono, Pengantar Sejarah Kebidayaan Indonesia, Vol. II (Jakarta: Yayasan Kanisius, 1973), 7.

[12] Baca Geertz, Abangan Santri dan Priyayi, 308.

[13] Baca Sufaat M, Beberapa Pembahasan, 36.

[14] Sri Mulyono, Sombolisme dan Mistikisme dalam Wayang, sebuah Tinjauan Filosofis (Jakarta: Gunung Agung, 1979), 36.

[15] Sufaat M, Beberapa Pembahasan, 37.

[16] Ibid., 39.

[17] Ibid., 41.

[18] Ibid., 42.

[19] Ibid., 43.

[20] Rosihan Anwar, Demi Da’wah (Bandung: Al-Ma’arif, 1976), 5.

[21] Sufaat M, Beberapa Pembahasan, 44.

[22] Rosihan Anwar, Demi Da’wah, 9.

[23] Hildred Geertz, Keluarga Jawa, 14.

[24] Baca Clifford Geertz, Abangan, Santri dan Priyayi, 13.

[25] Baca Hildred Geertz, Keluarga Jawa, 14.

[26] Menurut Kitab Primbon, hari untuk upacara tingkepan itu hendaknya dijatuhkan pada hari Rebo atau Sabtu dan pada tanggal-tanggal ganjil sebelum tanggal lima belas, yaitu tanggal 1,3,5,7,9,11, atau 13 menurut kalender Jawa. Baca Kanjeng Pangeran Harja Tjakraningrat, Kitab Primbon Betal Jemur Adammakna (Yogjakarta: Soemodidjojo Mahadewa, 1980), 38.

[27] ODP Sihombing, India, Sejarah dan Kebudayaannya (Bandung: Sumur, 1962), 15.

[28] Hildred Geertz, Keluarga Jawa, 14.

[29] Clifford Geertz, Abangan, 50-51.

[30] Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), 338.

[31] H Fatchurrahman MZ, Surat Yaasiin dan Tahlil (Surabaya: Amanah,tt), 77.

[32] R. Tanojo, Primbon Djawa Pandita Sabda Nata (Solo: Toko Buku Pelajar,tt), 58.

[33] Clifford Geertz, Abangan, 105.