Rabu, 26 September 2012


 

ORIENTALISME
 DAN GERAKAN KRISTENISASI

oleh: Achmad Zuhdi Dh


A.    Studi Bahasa Arab


Jika orientalisme menganggap bahwa pengetahuan bahasa-bahasa Timur adalah merupakan perangkat penting yang dapat digunakan untuk mengenal agama dan peradaban Timur, maka sesungguhnya dalam hal ini Orientalisme sama dengan Kristenisasi. Hal ini (menguasai bahasa-bahasa Timur terutama  bahasa Arab) sangat ditekankan bagi para Juru dakwah Kristen yang akan melakukan kristenisasi di daerah-daerah kaum muslimin yang akan menjadi sasaran misi  Kristen.Gerakan studi bahasa yang dilakukan oleh misionaris-misionaris Kristen ini merupakan faktor penting bagi perkembangan orientalisme, sehingga pada waktu itu sulit dibedakan antara gerakan kristenisasi dan orientalisme.[1] Karena gerakan kristenisasi (motivasi agama) inilah yang merupakan sebab utama tumbuhnya gerakan orientalisme.
Roger Bacon (1214-1294 M) adalah salah seorang penyebar Kristen yang sangat agressif meminta teman-temannya agar mempelajari bahasa kaum muslimin untuk kepentingan kristenisasi. Bacon beranggapan bahwa kristenisasi adalah satu-satunya cara yang mungkin dilakukan untuk perluasan dan penyebaran agama kristen. Untuk mewujudkan tujuan itu maka diperlukan tiga syarat, yaitu:
1.  Harus mempelajari bahasa;
2. Mempelajari semua macam kekufuran, kemudian membedakan antara yangsatu dengan yang lain;
3.  Mempelajari semua dalil atau argumentasi agar dapat mematahkan lawan.[2]


Gagasan Bacon ini kemudian didukung oleh Reymond Lull (1235-1316 M). Reymond Lull lahir di Spanyol.[3] Ia mempelajari bahasa Arab dari Abdun Arabi. Ia mempunyai andil yang besar sekali dalam membina pengajaran bahasa Arab di beberapa tempat, hanya saja tujuannya tidak lain adalah untuk kegiatan kristenisasi. Mereka berusaha meyakinkan kaum muslimin dengan menggunakan bahasa Arab mengenai kelemahan-kelemahan Islam serta menarik kaum muslimin agar menjadi penganut Kristen.[4]
Pertemuan gereja di Wina pada tahun 1312 M juga mendukung gagasan Bacon dan Lull tentang penggalakan pengajaran bahasa-bahasa Islam (Arab). Sebagai tindak lanjutnya, di beberapa Universitas Eropa seperti Paris, Oxford, Polonia, Salmanka dan Universitas Kurie juga telah diajarkan bahasa Arab. Dalam hal ini Reymond Lull sempat menyaksikan impiannya tersebut, ia beranggapan bahwa sudah waktunya untuk menundukkan kaum muslimin dengan cara kristenisasi, dengan demikian tantangan berat yang menghambat perubahan manusia ke keyakinan Katolik dapat dihilangkan.[5]
Pada tahun 1539 M di Colleage de France Perancis telah dilengkapi dengan jurusan bahasa Arab yang dibina oleh Guillaume Postel[6] (Wafat 1581 M) yang terhitung sebagai orientalis tulen. Ia telah banyak memberikan jasanya dalam membina pelajaran bahasa Timur di Eropa. Ketika ia berada di negara Timur, ia menemukan manuskrip-manuskrip penting yang baru dijabarkan oleh muridnya Joseph Scaliger[7] (wafat 1609 M).
Postel tidak memisahkan diri dari kegiatan-kegiatan kristenisasi sama sekali, walaupun dari segi lain ia memuji-muji ketinggian kesusasteraan Arab, dan dalam bentuk khusus tentang tulisan-tulisan yang berkenaan dengan ilmu kedokteran dan falak. Ia berkata:
“Tak ada seorang pun yang dapat menolak hasil pengobatan yang digali dari ilmu kedokteran Arab; apa yang diuraikan Ibnu Sina dalam satu atau dua halaman, lebih berbobot dari apa yang dikatakan oleh Galinius dalam 5 atau 6 jilid yang tebal”.[8]
                  
       Walupun demikian, Postel tetap mengingatkan tentang keputusan pertemuan Wina yang disebutkan terdahulu, ia mengungkapkan betapa besar manfaatnya menguasai bahasa Arab, seperti yang dikatakan:  “...bahasa Arab sangat besar manfaatnya karena merupakan bahasa internasional, sebagai alat berkomunikasi dengan orang Maroko, Mesir, Syria, Persia, Turki, bangsa Tartar dan India. Sasteranya sangat kaya. Ia mangatakan bahwa barangsiapa menguasai bahasa Arab maka ia dengan mudah dapat mematahkan musuh-musuh aqidah Kristen dengan kitab suci, dan dapat membantah aqidah mereka yang dianutnya. Dengan jalan memahami bahasa Arab seseorang dapat berkomunikasi dengan orang sedunia”. Mereka bangga dengan menguasai bahasa Arab, karena dengan penguasaan bahasa Arab, mereka sanggup menyeberangi Asia sampai ke daratan Cina tanpa memerlukan penterjemah.[9]
         Pada tahun 1586 M pencetakan dan penerbitan buku-buku bahasa Arab di Eropa semakin terbuka jalannya, dan ketika itu buku-buku tersebut dicetak pada percetakan yang didirikan oleh Kardinal Ferdinand de Medici Tuscany. Telah banyak buku-buku berbahasa Arab yang dicetak,  di antaranya adalah karangan-karangan Ibnu Sina mengenai kedokteran dan filsafat.[10]
        Di antara orang yang berperan aktif dalam menunjang pengajaran bahasa Arab di Eropa adalah seorang orientalis Thomas Erpenius[11] (1584-1613 M). Ia adalah orang pertama yang memberikan pengajaran bahasa Arab di Universitas Leiden pada tahun 1613 M. Melalui jerih payahnya dan ditunjang dengan tulisan-tulisan tentang bahasa Arab ia telah menempatkan Belanda sebagai tempat/ sumber pengajaran bahasa Arab di Eropa selama kurang lebih dua abad.
          Sungguhpun ia mengakui bahwa al-Qur’an memiliki nilai yang tinggi dalam segi bahasanya, namun ia tidak mempunyai keyakinan bahwa sebenarnya al-Qur’an mengandung banyak hal yang menyangkut kehidupan dunia dan akhirat, ia bahkan berpendapat bahwa mereka yang mengamalkan ajaran-ajaran al-Qur’an tidak lebih daripada taqlid yang menggelikan kepada kitab suci. Sedangkan sikap dan pandangannya terhadap Nabi Muhammad Saw dan ajaran yang dibawanya tidak ubahnya seperti pendapat kebanyakan orang orientalis yang lain di Eropa yaitu memusuhi dan antipati.[12]

B.     Studi Islam
      Walaupun kita mengetahui tujuan kristenisasi yang jelas-jelas bersikap memusuhi Islam, tetapi di akhir abad ke-17 sampai abad ke-18 dari pihak lain kita melihat kecenderungan yang berbeda mengenai apa yang dilakukan oleh kaum orientalis pada umumnya. Kelompok ini memandang Islam  dengan pandangan yang obyektif dan ada kecenderungan untuk condong kepada Islam. Kondisi demikian telah memberikan dorongan bagi timbulnya suatu pergolakan pemikiran yang baru di Eropa pada waktu itu, di mana pada umunya mereka tidak sejalan dengan kebijaksanaan gereja.
       Orang orientalis yang termasuk dalam kelompok ini adalah Richard Simon, dalam bukunya “Sejarah kritik terhadap keyakinan dan adat istiadat bangsa-bangsa Timur”(tahun 1684); ia menulis dalam buku itu mengenai  tradisi dan agama kaum muslimin secara jujur dan berimbang. Selanjutnya ia memberikan respek dan menunjukkan kekagumannya terhadap tradisi-tradisi Islam. Terhadap sikap Simon ini, Arnould menuduhnya sebagai berlebih-lebihan dalam keobyektivitasannya terhadap Islam. Selanjutnya Simon menganjurkan Arnould agar mau mencermati ajaran akhlaq mulia kaum muslimin.
        Demikian juga Filosuf Pierre Bayle, ia adalah seorang yang mengagumi toleransi yang dimiliki Islam. Sikap ini nampak pada tulisannya tentang kehidupan Muhammad Saw dalam kamus tarikh dan kritik yang terbit untuk pertama kalinya di Rotterdam pada tahun 1697 M. Sedangkan Simon Ockley (1678-1720 M) dalam bukunya “Sejarah Arab Muslim”, ia menulis dengan jujur dan tidak berat sebelah. Ia memuji Timur dan Islam serta mengangkatnya/ memujinya melebihi Barat.[13]
        Contoh-contoh tadi merupakan peralihan perlahan-perlahan ke arah pandangan baru yang benar mengenai Islam. Adapun usaha sungguh-sungguh yang pertama dilakukan untuk memperkenalkan Islam adalah oleh Andrianus Relandus[14] (wafat 1718 M), seorang guru besar bahasa-bahasa Timur di Universitas Utrech Belanda. Ia telah menerbitkan sebuah buku dalam bahasa Latin tentang Islam yang berjudul “Agama Muhammad” dalam dua jilid. Pada jilid pertama ia mengemukakan tentang aqidah Islamiah yang referensinya dari sumber buku Latin dan Arab. Sedangkan pada jilid yang kedua ia berupaya meluruskan pandangan-pamdangan Barat tentang Islam.
              Buku tersebut kemudian mendapatkan tanggapan yang negatif dari pihak gereja, dan menuduhnya sebagai ikut berperan dalam kegiatan dakwah Islam. Akhirnya gereja mengelompokkan buku tersebut sebagai buku-buku terlarang, tetapi anehnya buku tersebut kemudian masih diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Belanda dan Spanyol[15].
              Pada abad ke-18 M, dunia orientalisme Jerman juga menyaksikan contoh-contoh lain yang serupa di antaranya adalah J.J. Reiske (1716-1773 M). Ia adalah seorang cendekiawan ahli bahasa Arab pada masanya, ia juga dikenal sebagai orientalis Jerman yang pertama; ia mendapat tempat terhormat dan menonjol dalam bidang pengajaran bahasa Arab di Jerman.
             Tetapi zaman dan teman-teman sejawatnya bersikap apatis kepadanya. Sejumlah cendekiawan Kristen menyerang dan menuduhnya sebagai munafiq; mungkin karena sikapnya yang positif terhadap Islam. Ia memuji  Islam dalam bukunya yang ditulis dalam bahasa Latin. Ia menolak mengidentikkan Nabi Saw dengan kebohongan dan kesesatan, atau menolak pemberian sifat agama khurafat dan menggelikan kepada Islam, sebagaimana yang banyak dilakukan orang pada waktu itu. Ia juga dengan tegas menolak pembagian sejarah dunia menjadi sejarah suci dan sejarah yang bukan suci, yang meletakkan sejarah Islam pada jantung sejarah dunia. Lebih dari itu ia telah mengungkapkan pendapatnya dengan jelas dan terang-terangan tanpa memikirkan akibat yang akan dihadapinya. Ia menghadapi cobaan-cobaan itu, sepanjang hidupnya dilalui dengan kondisi ekonominya yang memprihatinkan. Ia wafat setelah sengsara menghadapi penyakit paru-paru pada usia 58 tahun. Fueck berkomentar tentang dia:
              “Reiske telah menjadi syahid sastra Arab; hidupnya menjadi sejarah dari kepedihan yang diabadikan dalam buku hariannya.......sungguh suatu hal memalukan bahwa seorang yang sangat menonjol pada masanya tidak dikenali potensi luar biasa yang dimiliki Reiske yang menjadi salah seorang ahli dalam bahasa Arab”.[16]
       
         Apa yang dilakukan oleh sebagian orientalis yang cenderung obyektif dan terkadang malah memuji Islam tersebut memang dapat meringankan beban dan tuduhan yang dilontarkan oleh cendekiawan Kristen kepada Islam, tetapi usaha-usaha yang positif tersebut masih belum bisa mempengaruhi pikiran-pikiran kebanyakan orang Eropa yang sudah terlanjur membenci Islam. Begitulah gambaran negatif yang telah melekat di hati orang-orang Eropa sebagai warisan dari abad pertengahan, yang terkadang masih bermunculan hingga hari ini. Ada ungkapan Maxim Rodinson yang cukup menggembirakan terhadap Islam, sebagai berikut:
“......Sesungguhnya di abad kedelapan belas kaum Kristen memandang Timur Islam dengan pandangan persaudaraan yang penuh pengertian. Pemikiran yang mengatakan bahwa pemberian akal yang sama kepada segenap manusialah yang telah membantu penyebarannya semakin kuat dan kokoh; itulah dia agama yang hakiki pada masa itu. Semakin terbuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengadakan kritik terhadap tuduhan yang dilemparkan kepada dunia Islam pada abad-abad yang lalu.....dan pada abad kejayaan kaum muslimin baru dianggap seperti manusia yang lain, malahan ada di antara mereka yang mengungguli bangsa Eropa”.[17]
                    
              Kalau kita menerima apa yang dikatakan Rodinson tentang ini, maka sebenarnya dia sendiri tidak memungkiri bahwa pandangan yang diungkapkannya itu selanjutnya beralih menjadi pandangan/sikap yang lebih buruk dari sebelumnya; Ia berkata:
               “Pada abad kesembilan belas ini, Timur Islam tetap merupakan musuh bahkan ia adalah musuh yang sudah dinyatakan kalah. Dunia Timur menyerupai panorama indah yang sudah binasa. Waktu itu seseorang dapat menikmati kemegahan yang mereka puji di saat kaum politikus dan usahawan berbuat segala sesuatu yang dalam wewenangnya untuk mempercepat proses kehancurannya. Di masa datang mereka tidak mungkin menunjukkan  semangat, malahan dalam operasionalnya (pembaharuannya itu), mereka kehilangan bau aneh yang dulu mereka dambakan”.[18]

         Demikianlah pandangan bangsa Eropa sebelumnya, yang dikumandangkan lewat ideologi internasional pada zamannya, yaitu menghormati bangsa selain Eropa dan menghargai peradaban mereka. Namun setelah itu yaitu pada abad ke-19 keadaan sudah berubah, pandangannya menjadi sombong dan congkak, disusul kemudian dengan munculnya teori-teori yang membagi manusia kepada dua jenis, yaitu yang maju dan yang terbelakang; Yang pertama yakni yang maju adalah bangsa Ariyah, sedangkan yang kedua yang terbelakang adalah bangsa Samiyah (Smit). Para orientalis dan pemikir-pemikir Eropa yang berjalan menurut metodanya (dengan keterangan yang mereka katakan) bahwa ciri-ciri khas bangsa Ariyah adalah mereka itu orang-orang yang menciptakan peradaban dan datang dengan segala yang baru, sedangkan bangsa Samiyah adalah mereka yang dangkal pemikiran dan falsafahnya.[19]
         Demikian sekilas mengenai bagaimana sejarah orang Barat terutama dari kalangan juru dakwah Kristen dan para orientalis menekuni kajian bahasa Arab dan agama Islam.  Dari telaah tersebut dapat difahami betapa tidak mudahnya membedakan antara gerakan orientalisme dengan Kristenisasi. Di sini motivasi agama (termasuk kristenisasi) sangat dominan dalam menggerakkan orientalisme. Sungguhpun ada beberapa kelompok orientalis yang secara jujur mengagumi bahasa dan sastra Arab serta ajaran Islam, tetapi arus besar masih menunjukkan yang kebalikannya. Paling tidak hal ini dapat dibaca perjalanan sejarahnya hingga abad ke-19.

Dinukil dari buku Pandangan Orientalis Barat tentang Islam, 
karya Achmad Zuhdi Dh




[1] Baca Assamurai, Bukti-Bukti, 67.
[2] Zaqzuq, al-Istishraq, 35.
[3] Assamurai mencatat bahwa Raymond Lull berasal dari Majore, kelahiran kota Palma tahun 1233 M (633 H).Ada yang berkomentar bahwa pada diri Raymond Lull terdapat obyek yang sangat membingungkan. Sebagian orang menganggapnya sebagai orang suci sementara yang lain menganggapnya zindiq. Sebagian orang menganggapnya sangat alim tetapi yang lainnya menganggapnya tolol. Sebagian menganggapnya penerima ilham, namun yang lainnya menganggapnya sebagai orang linglung. Baca Assamurai, Bukti-Bukti, 119.
[4] Rudi Paret, Al-Dirasat al-Islamiah wa al-‘Arabiyah Fi al-Jami’at al-Almaniyah, terj. Mustafa Mahir (Kairo: tp, 1967),9. Baca juga Zaqauq, al-Istishraq, 35.
[5] Ibid., 36.
[6] Guillaume Postel adalah orientalis Perancis lahir di Dolerie, Timur Laut Perancis pada tahun 1510 dan meninggal pada tahun 1581 di Perancis. Di antara sumbangan Postel yang paling menonjol dalam kajian orientalis adalah kesuksesannya dalam mengoleksi naskah-naskah Timur, seperti naskah Tarikh Abi al-Fida, tulisan-tulisan Yohanna al-Dimashqi dan terjemahan Suryani versi baru kitab suci. Levy de Lavida menjelaskan bahwa sebagian dari naskah-naskahnya tersimpan di perpustakaan Vatikan. Abdurrahman Badawi, Ensiklopedi Tokoh Orientalis, terj. Amroeni Drajat (Yogjakarta: LKIS, 2003),  100.
[7] Joseph Scaliger adalah orientalis Perancis yang ahli filologi klassik. Ia lahir pada 4 Agustus 1540 di Agen, Barat Daya Perancis dan meninggal pada 21 Januari 1609. Ia memperdalam bahasa Yunani, Latin, Ibrani, Arab, Suryani, Persia dan sejumlah bahasa Eropa Modern. Dia yang mengidentifikasi bahwa yang dimaksud dengan Dzul Qarnain dalam surat al-Kahfi adalah Iskandar Agung. Dalam kitabnya ia banyak mencantumkan teks-teks Arab yang berhubungan dengan sistem penanggalan, seperti penanggalan yang berlaku pada gereja-gereja Timur, gereja Antaqiyah, Habshiyah, dan gereja Qibtiyah, dengan disertai nama-nama binatang pada setiap zodiaknya dalam bahasa Arab. Ibid., 16-18.
[8]Ibid., 37.
[9] Edward Said, Orientalism, 81. Baca juga Zaqzuq, al-Istishraq, 37.
[10]Ibid., 38.
[11] Thomas Erpenius adalah seorang orientalis Belanda yang dalam bahasa Belanda dikenal dengan nama Van Erpe. Ia lahir tanggal 11 September 1584 di Gorkum, Belanda dan meninggal pada tahun 1624, dalam usia 40 tahun. Badawi, Ensiklopedi, 6.
[12] Zaqzuq, al-Istishraq, 39.
[13] Ibid., 41.
[14] Andrianus Relandus atau yang juga disebut Reeland adalah orientalis Belanda yang wafat pada tahun 1718 M.  Ia dipandang sebagai orientalis Eropa pertama yang berusaha keras membersihkan Islam dari prasangka buruk yang tertanam di benak pembaca Eropa yang bersumber dari buku Eropa yang menyebarkan pemahaman salah terhadap Islam, terutama yang ditulis oleh tokoh-tokoh agama Kristen. Relandus memberi contoh salah seorang cendekiawan Kristen yang berada di bawah pengiuasa Islam adalah Johann al-Dimasgqi. Badawi, Ensiklopedi, 227.
[15] Zaqzuq, al-Istishraq, 41.
[16] Johan Fueck, Die Arabischen Studien in Eropa (Leipzig, 1955), 108 sebagaimana dikutip oleh Zaqzuq dalam al-Istishraq, 44,
[17] Ibid., 45.
[18] Ibid., 46.
[19] Mustafa Abd al-Razzaq, Tamhid Li Tarikh al-Falsafah al-Islamiah (Kairo, 1966), 9. Baca juga Zaqzuq, al-Istishraq, 47.