Kamis, 11 Desember 2014

MENYAMBUT TAHUN BARU


MENYAMBUT TAHUN BARU,
BAGAIMANA UMAT ISLAM HARUS MENYIKAPINYA?

Oleh


DR.H.Achmad Zuhdi Dh,M.Fil I

Pertanyaan:
Bagaimana hukum menyambut atau merayakan tahun baru bagi umat Islam? Kalau boleh, bagaimana sebaiknya cara-cara yang bisa kita lakukan agar tidak terjebak pada perbuatan yang terlarang?  
Jawab:
Pergantian tahun, dari akhir tahun ke tahun baru yang biasa diistilahkan dengan pergantian Old and New adalah sesuatu yang sudah biasa. Biasa karena memang setiap tahun pasti terjadi. Yang membedakan adalah cara menyambutnya atau menyikapinya. Sebagian masyarakat bahkan suatu negara ada yang menyambutnya dengan gegap gempita, sorak-sorai penuh kegembiraan dalam merayakannya. Sementara yang lain menyambutnya dengan biasa-biasa saja.
Terjadinya pergantian tahun merupakan sunnatullah yang diterapkan demi kelangsungan kehidupan dan telah tertera di dalam al-Quran Surat Yunus ayat 5:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.” (QS. Yunus, 5)
Selanjutnya firman Allah Surat al-Isra ayat 12:
وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ فَمَحَوْنَا آيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا
 “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas. (QS. Al-Isra, 12)
Dua ayat tersebut memberikan informasi bahwa adanya pergantian hari, bulan dan tahun adalah merupakan ketentuan Allah yang berlaku di dunia ini. Karena itu maka sebagai kaum muslimin pada dasarnya kita boleh-boleh saja menyambut tahun baru asal dalam menyambutnya tidak dengan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syari’at Islam atau akidah Islam. Seperti pergi ke tempat-tempat wisata dengan melakukan maksiat, pacaran/pergaulan bebas, atau menjalani ritual-ritual tertentu yang bertentangan dengan akidah dan ibadah kita.
 Budaya masyarakat kita yang suka kumpul-kumpul dalam menyambut tahun baru,  sebaiknya kita jadikan ladang untuk melakukan dakwah amar ma’ruf nahi munkar.  Bentuk kegiatan yang kita lakukan hendaknya kegiatan-kegiatan yang menarik dan positif agar masyarakat tidak terjebak pada perbuatan yang dilarang syari’at.
Beberapa kegiatan yang bisa kita lakukan misalnya dengan muhasabah(instrospeksi diri) terhadap kegiatan-kegiatan kita, baik secara pribadi maupun sebagai umat Islam selama satu tahun yang lewat, yang dikemas dengan tabligh akbar atau seminar yang digelar di masjid-masjid atau tempat-tempat yang strategis dan menarik bagi jamaah untuk mendatanginya. Kegiatan ini penting untuk mengkondisikan diri agar dapat mengontrol, mengevaluasi diri apa saja yang sudah kita lakukan, dan selanjutnya berupaya memperbaiki dan meningkatkannya agar kehidupan selanjutnya menjadi lebih baik . Allah Swt berfirman:
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS. Al-Hasyr 18).
            Selain dengan kemasan tabligh akbar atau seminar, bisa juga dengan melakukan kajian-kajian keislaman yang berkaitan dengan masalah aqidah, akhlak dan ibadah dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas diri agar tahun depan lebih baik dari tahun sebelumnya. Termasuk mengevaluasi strategi dakwah kita selama ini, apakah masih relevan atau perlu ada metode baru yang lebih efektif dan lebih mengenai sasaran.
                  Demikian beberapa hal yang dapat kita lakukan dalam menyambut dan mengisi semangat tahun baru. Tentu kegiatan tersebut merupakan beberapa alternatif yang bisa kita lakukan, dan insya Allah masih banyak lagi alternatif lain yang dapat kita lakukan untuk menarik perhatian masyarakat, terutama kaum mudanya, sehingga mereka berkenan gabung dengan kita. Harapan kita, dengan demikian dapat mengkondisikan mereka agar terhindar dari budaya-budaya yang dapat merusak akhlak umat (khususnya kamu muda Islam), dan selanjutnya lebih fokus pada upaya pencapaian masa depan yang  penuh dengan kesuksesan dan kegemilangan.
Dari sekian banyak kegiatan yang terkait dengan penyambutan tahun baru,  yang tak kalah pentingnya adalah melakukan “MUHASABAH” atau Evaluasi Diri. Adapaun hal-hal yang dapat  dievaluasi antara lain:
1. Bagaimana dengan shalat lima waktu kita, sudahkah kita biasa melakukannya dengan berjamaah? Bagaimana dengan shalat sunnah rawatib, shalat dhuha, dan shalat tahajjud kita.....? Sudahkah kita melakukannya secara istiqamah?
2. Bagaimana dengan zakat, infaq dan sedekah kita? Sudahkah secara rutin dan istiqamah dapat kita laksanakan? Sudahkah kita gemar berbagi ?
3. Bagaimana dengan Qira’atul Qur’an kita? Sudahkah kita secara istiqamah/rutin membaca al-Qur’an setiap hari? Sudah mampukah kita mengkhatamkannya setiap bulan?
4. Bagaimana dengan puasa-puasa sunnah kita? Sudahkah kita membiasakannya puasa (shaum) Senin-Kamis? Dll ...
5. Bagaimana dengan kegiatan ngaji kita? Sudahkah kita bisa mengikutinya, minimal seminggu sekali?
6. Bagaimana dengan keikut-sertaan kita dalam berorganisasi, ikut memikirkan umat, dalam rangka amar makruf nahi munkar? Apa yang bisa kita berikan kepada umat?
7. Bagaimana dengan hati kita ? Bisakah kita menjaga kebersihannya? Tidak mudah berprasangka buruk (su’udzdzan) kepada orang lain, dan sebaliknya, dapatkah kita membiasakan berprasangka baik (husnudzdzan) dan berpikiran positif?

            Semoga kehidupan kita yang akan datang lebih bermakna, bermartabat dan mencerahkan.

Selasa, 04 November 2014

SYAHID DAN PAHLAWAN

APAKAH PAHLAWAN PASTI MATI SYAHID ?

Disajikan oleh


DR.H.Achmad Zuhdi Dh,M.Fil I

Pertanyaan:
Ustadz rahimakumullah!
Kami mohon penjelasan mengenai mati syahid. Apakah yang dimaksud dengan mati syahid itu? Apakah mati syahid hanya diperoleh bagi orang yang meninggal di medan perang? Apakah para pahlawan kita yang gugur di medan tempur juga bisa disebut mati syahid?
Terima kasih atas penjelasannya. Jazakumullah khairan katsiran!
Jawab:
Secara bahasa, syahid berasal dari kata sya-hi-da [arab: شَهِدَ] yang artinya bersaksi atau hadir. Saksi kejadian, artinya hadir dan ada di tempat kejadian.  Secara istilah, syahid umumnya digunakan untuk menyebut orang yang meninggal di medan jihad (perang suci) dalam rangka menegakkan kalimat Allah. Bentuk jamak dari syahid adalah syuhada, artinya orang-orang yang mati syahid.
Ulama berbeda pendapat tentang alasan mengapa mereka disebut syahid. Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan ada sekitar 14 pendapat tentang makna syahid. Di antaranya adalah karena orang yang mati syahid hakekatnya masih hidup, seolah ruhnya menyaksikan, artinya hadir. Ini merupakan pendapat Al-Nadlr bin Syumail. Sementara Ibn al-Anbari berpendapat, karena Allah dan para malaikatnya bersaksi bahwa dia ahli surga. Ulama yang lain berpendapat, karena ketika ruhnya keluar, dia menyaksikan bahwa dirinya akan mendapatkan pahala yang dijanjikan. Karena disaksikan bahwa dirinya mendapat jaminan keamanan dari neraka. Karena ketika meninggal tidak ada yang menyaksikannya kecuali malaikat penebar rahmat. Dan masih ada beberapa pendapat lainnya. (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, VIII/438).

            Mati syahid adalah sebaik-baik kematian. Banyak sahabat Nabi yang bercita-cita ingin mati syahid, tetapi tidak semuanya berhasil mati syahid di medan juang. Di antara mereka yang syahid di medan juang (berperang di jalan Allah) adalah, Hamzah bin Abdul Muthalib yang syahid dalam perang Uhud melawan kafir Quraisy, Jakfar bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, dan Abdullah bin Rawahaih yang syahid dalam perang melawan Rumawi. Masih banyak lagi para shahabat yang syahid di medan juang. Adapun di antara mereka yang tidak mendapatkan kesyahidan di medan juang adalah “Saifullah” Khalid bin Walid, meskipun ia sebenarnya layak mendapatkan julukan sebagai pahlawan besar, mengingat jasa-jasanya yang memenangkan di berbagai pertempuran melawan musuh-musuh Islam.
            Gelar syahid adalah gelar kehormatan yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamabaNya yang beriman dan berjuang mempertahankan kebenaran. Di antara mereka itu adalah yang meninggal pada saat berjuang fi sabilillah, berperang memperjuangkan agama Allah. Selain itu, Nabi Saw juga memberi gelar syahid kepada orang-orang yang mati bukan karena berperang melawan musuh Allah, tetapi mati karena melahirkan, karena kebakaran, karena tenggelam dan lain-lain.  Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw pernah bertanya kepada para sahabat, “Siapakah yang disebut syahid menurut kalian?” ‘Orang yang mati di jalan Allah, itulah syahid.’ Jawab para sahabat serempak. “Berarti orang yang mati syahid di kalangan umatku hanya sedikit.” Lanjut Nabi Saw. “Lalu siapa saja mereka, wahai Rasulullah?’ tanya sahabat. Kemudian Nabi Saw menyebutkan orang-orang yang bergelar syahid, yaitu:
مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي الطَّاعُونِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَالْغَرِيقُ شَهِيدٌ
“Siapa yang terbunuh di jalan Allah (medan perang), dia syahid. Siapa yang mati (tidak terbunuh dalam perang) di jalan Allah dia syahid, siapa yang mati karena wabah penyakit Tha’un, dia syahid. Siapa yang mati karena sakit perut, dia syahid. Siapa yang mati karena tenggelam, dia syahid.” (HR. Muslim No. 1915).
Dalam hadis lain, dari Abdullah bin Amr ra, Nabi Saw bersabda:
مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ
“Siapa yang terbunuh karena membela hartanya maka dia syahid.” (HR. Bukhari No. 2480).
Dari Jabir bin Atik ra.  Rasulullah Saw bersabda:
الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ: الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ، وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ، وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ، وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ، وَالَّذِي يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ، وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ
“Selain yang terbunuh di jalan Allah, mati syahid ada tujuh: mati karena tha’un syahid, mati karena tenggelam syahid, mati karena sakit tulang rusuk syahid, mati karena sakit perut syahid, mati karena terbakar syahid, mati karena tertimpa benda keras syahid, wanita yang mati karena melahirkan syahid.” (HR. Abu Daud No. 3111). Hadis ini shahih menurut Al-Albani (Sunan Abi Dawud, ta’liq Al-Albani, III/156).
Jika mereka yang syahid dalam perang fi sabilillah tidak perlu dimandikan, dikafani dan dishalati, maka bagi mereka yang syahid bukan karena perang, jenazahnya diperlakukan sebagaimana jenazah kaum muslimin pada umumnya. Artinya tetap wajib dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan. Para ulama mengistilahkan dengan syahid akhirat. Di akhirat dia mendapat pahala syahid, namun di dunia dia ditangani sebagaimana umumnya jenazah.
Ketika mejelaskan hadis daftar orang yang mati syahid selain di medan jihad, Badr al-Din al-‘Aini al-Hanafi mengatakan: “Mereka mendapat gelar syahid secara status, bukan hakiki. Dan ini karunia Allah untuk umat ini, Dia menjadikan musibah yang mereka alami (ketika mati) sebagai pembersih atas dosa-dosa mereka, dan ditambah dengan pahala yang besar, sehingga mengantarkan mereka mencapai derajat dan tingkatan para syuhada hakiki. Karena itu, mereka tetap dimandikan, dan ditangani sebagaimana umumnya jenazah kaum muslimin.” (Umdat al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari, 21/273).
Imam al-Nawawi mengatakan:
 الشُّهَدَاء ثَلَاثَة أَقْسَام : شَهِيد فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَة ، وَهُوَ الْمَقْتُول فِي حَرْب الْكُفَّار ، وَشَهِيد فِي الْآخِرَة دُون أَحْكَام الدُّنْيَا ، وَهُمْ هَؤُلَاءِ الْمَذْكُورُونَ هُنَا ، وَشَهِيد فِي الدُّنْيَا دُون الْآخِرَة ، وَهُوَ مَنْ غَلَّ فِي الْغَنِيمَة أَوْ قُتِلَ مُدْبِرًا
Mati syahid itu ada tiga kategori, pertama Syahid dunia dan akhirat, mereka itu adalah orang yang terbunuh karena di medan perang melawan orang kafir. Kedua, Syahid akhirat, namun hukum di dunia tidak syahid. Mereka itu adalah orang yang disebut (dalam kelompok tujuh syahid di atas). Ketiga, Syahid dunia, dan bukan akhirat. Dialah orang yang mati di medan jihad, sementara dia ghulul (mencuri) ghanimah, atau terbunuh ketika lari dari medan perang. (al-Nawawi, Syarh al-Nawawi ‘Ala Muslim, VI/397).
Bagaimana dengan gelar syahid untuk para pahlawan? Apakah mereka yang disebut sebagai pahlawan nasional otomatis meninggal sebagai mati syahid? Untuk membahas ini, perlu memahami dulu pengertian pahlawaan. Kata pahlawan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran (KBBI, 1989: 636). Di era modern sekarang ini, sebutan pahlawan menjadi lebih luas dan tidak ada batasan yang jelas. Misalnya, para Tenaga Kerja Indonesia disebut sebagai para pahlawan devisa. Guru yang mengajar di sekolah diberi gelar pahlawan tanpa tanda jasa. Bahkan seorang pria ataupun wanita yang bekerja membanting tulang demi menghidupi keluarganya disebut sebagai pahlawan keluarga. Semua sebutan pahlawan tersebut merujuk pada pengertian “telah berjasa”. Dalam pengertian tersebut tidak mencantumkan komitmen terhadap agama.
Jika ditinjau dari terminologi Islam, seorang muslim yang meninggal ketika berperang atau berjuang di jalan Allah membela kebenaran, atau mempertahankan hak dengan penuh kesabaran dan keikhlasan untuk menegakkan agama Allah, maka mereka disebut dengan Syahid. Oleh karena itu, status para pahlawan kita, yang telah berjuang dan meninggal di medan pertempuran demi membela kepentingan bangsa dan negara Indonesia ini, baru layak disebut mati syahid bila mereka itu meninggal dalam keadaan beriman, ikhlas dan berjuang menegakkan kebenaran karena Allah Swt.

Wallahu A’lam bishshawab !

Senin, 03 November 2014


SUWUK,RUQYAH DAN SAINS MODERN-III



Oleh


DR.H.Achmad Zuhdi Dh, M.Fil I



 Kajian Sains[1] Modern terhadap Suwuk dan Ruqyah.  

          Secara umum, suwuk dan ruqyah hampir tidak bisa dibedakan. Keduanya merupakan upaya alternatif untuk mendapatkan kebebasan (kesembuhan) dari gangguan penyakit. Dalam praktiknya, baik suwuk maupun ruqyah biasanya  menggunakan media air. Selain itu, yang biasa melakukan suwuk atau ruqyah itu adalah orang yang sudah tua atau yang dipandang tua karena keahliannya di bidang penyembuhan. Sementara yang membedakannya hanyalah asal kawasan di mana istilah itu muncul. Jika suwuk berasal dari Jawa-Indonesia, maka ruqyah berasal dari Arab.  
            Di Jawa-Indonesia, terutama kalangan muslim yang salih, kegiatan suwuk sebenarnya adalah kegiatan ruqyah itu sendiri. Karena itu, mantra, jampi atau bacaan yang digunakan dalam menyuwuk atau meruqyah adalah bacaan dari al-Qur’an dan doa-doa Nabi Saw. Jika dulu para ulama Jawa (termasuk walisanga) tidak mempopulerkan istilah ruqyah, hal itu dikarenakan para juru dakwah (termasuk walisanga) ingin mempermudah penerimaan dari masyarakat Jawa yang sebelumnya didominasi keyakinan Hindu-Budha dan Animisme-Dinamisme, yang sudah akrab dengan istilah suwuk. Karena itu, sungguhpun mereka masih lekat dengan istilah suwuk, namun muatannya sudah sama dengan ruqyah ila>hi>yah, yang sesuai dengan al-Qur’an dan sunnah Nabi Saw. Kini, istilah ruqyah mulai populer di masyarakat Jawa-Indonesia, setelah  melimpahnya literatur dari Timur Tengah yang sampai ke Indonesia. 
            Dalam kajian sains modern terhadap suwuk dan ruqyah, berikut ini akan dilihat dari dua aspek, pertama tentang penggunaan media air dan kedua tentang pihak terapis yang dipercaya.
            Dalam praktik suwuk atau ruqyah, air menjadi media yang sangat penting.  Air yang sudah di-suwuk atau di-ruqyah (dibacakan al-Qur’an atau doa-doa dari Nabi saw) kemudian diminumkan kepada pasien atau digunakan untuk mandi. Selain itu, air yang  sudah di-suwuk atau di-ruqyah bisa juga dipercikkan ke bagian badan pasien. Zaman dahulu, di kalangan muslim puritan menganggapnya sebagai hal yang mengandung syirik. Tetapi kini, setelah Masaru Emoto mempublikasikan hasil temuannya tentang keajaiban air, banyak kalangan yang mulai memahami betapa dahsyatnya “kekuatan” air, sehingga wajar jika dalam pengobatan suwuk atau ruqyah sering menggunakan media air.
Pada awal tahun 2000-an, Dr.Masaru Emoto dari Universitas Yokohama Jepang telah melakukan penelitian tentang perilaku air. Dalam hipotesisnya, Emoto mengatakan bahwa air dapat menyusun kristal dalam bentuk berbeda-beda bergantung informasi yang diterimanya. Ia yakin bahwa perbedaan bentuk kristal es bukan hanya karena ada tidaknya klorin[2], melainkan karena ada informasi lain yang mempengaruhinya. Untuk menguji hal ini, Emoto memasukkan air ke dalam dua gelas. Gelas pertama diberi label “terima kasih”, sedangkan botol lainnya diberi label “kamu bodoh”.  Air yang ada dalam kedua botol tersebut kemudian dibekukan melalui freezer (dengan suhu -250 C/-13o F). Hasilnya, di luar dugaan Emoto. Air dengan label “terima kasih” membentuk kristal heksagonal yang indah, sedangkan air dengan label “kamu bodoh” hanya membentuk pecahan-pecahan kristal. Kesimpulannya, kualitas air dapat berubah bergantung informasi yang diperolehnya.[3]
  Eksperimen Masaru Emoto selanjutnya, ketika 500 orang berkonsentrasi memusatkan pesan “peace” di depan sebotol air, kristal air tadi mengembang bercabang-cabang dengan indahnya. Dan ketika dicoba dibacakan doa Islam, kristal bersegi enam dengan lima cabang daun muncul berkilauan. Masaru Emoto akhirnya berkeliling dunia melakukan percobaan dengan air di Swiss, Berlin, Prancis, Palestina, dan ia kemudian diundang ke Markas Besar PBB di New York untuk mempresentasikan temuannya pada bulan Maret 2005 lalu. Ternyata air bisa “mendengar” kata-kata, bisa “membaca” tulisan, dan bisa “mengerti” pesan. Dalam bukunya The Hidden Message in Water, Dr. Masaru Emoto menguraikan bahwa air bersifat bisa merekam pesan, seperti pita magnetik atau compact disk (CD). Semakin kuat konsentrasi pemberi pesan, maka semakin dalam pesan tercetak di air. Air bisa mentransfer pesan tadi melalui molekul air yang lain.
Lebih lanjut Emoto mengatakan bahwa air bersifat sensitif. Ia akan merespons setiap kata yang kita ucapkan. Apabila kita mengirimkan hado (efek gelombang energi) yang baik kepada air dengan mengatakan kata-kata positif, air akan mempersembahkan kristal-kristal yang indah. Doa juga mengeluarkan energi yang dapat mengubah kualitas air. Dengan memberikan doa ke air, berarti kita mengirimkan hado ke air, dan air kemudian menggunakan kekuatan/ energinya untuk menjawab maksud doa-doa ini.  Menurut Emoto, doa yang biasa digunakan dalam ajaran agama memiliki energi hado yang kuat. Jika kita menjalani agama dengan baik dan berdoa tanpa keraguan, kita akan diberkahi dengan kekuatan yang sangat dahsyat.[4]
DR.dr.Siti Fadilah Supari, Sp.Jp (K), mantan Menteri Kesehatan RI (2004-2009) menyatakan bahwa Dr.Masaru Emoto melalui riset ilmiahnya selama bertahun-tahun telah berhasil menjadikan air untuk pengobatan alternatif terhadap berbagai gangguan kesehatan. Hal ini semakin meyakinkan saya tentang pentingnya menjembantani pengobatan kedokteran modern dengan pengobatan alternatif.[5]
Berdasarkan hasil temuan Masaru Emoto tersebut, dapat difahami mengapa air putih yang didoakan atau disuwuk bisa memberi efek kesembuhan pada orang  sakit. Molekul air ternyata bisa  menangkap pesan doa kesembuhan, menyimpannya, lalu vibrasinya merambat kepada molekul air lain yang ada di tubuh si sakit. Selanjutnya doa atau suwuk tadi menformat efek energi air (hado) untuk kemudian berfungsi menyembuhkan berbagai penyakit. 
Selain media air yang dipandang penting, faktor terapis dari penyuwuk maupun peruqyah juga sangat menentukan dalam memberikan efek kesembuhan. Dalam hal ini, peran penyuwuk dan peruqyah dari kalangan orang terpandang dan terhormat serta diyakini sebagai orang yang mumpuni akan memberikan sugesti tersendiri bagi pasien untuk lebih memberikan harapan dan keyakinan dalam memperoleh kesembuhan.
Seorang ahli kesehatan moderen, Panati Charles (1989), melaporkan hasil penelitiannya tentang hubungan pikiran, keyakinan dan kepasrahan dengan kesembuhan. Penelitian ini dilakukan terhadap sejumlah pasien di rumah sakit jiwa dengan membaginya menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menerima obat penenang stolazine, sementara kelompok lainya diberi placebo (obat tanpa isi/ obat bohong–bohongan, sekedar untuk memberi sugesti). Percobaan tersebut dilaksanakan sedemikian rupa sehingga dokter dan pasien pun tidak mengetahuai siapa yang menerima obat yang sesungguhnya. Hasil penelitian ini sangat mengejutkan karena  pasien yang menjadi tenang dengan mengkonsumsi placebo ternyata sedikit lebih banyak dari pada pasien yang telah diberi obat stolazine. Percobaan ini kemudian diulangi lagi. Untuk percobaan kedua ini para pasien diberi takaran dua kali lipat dan diberi tahu (diyakinkan, disugesti) bahwa takaran tambahan tersebut akan mempercepat reaksi mereka terhadap penyembuhan. Hasilnya malah lebih mengejutkan lagi, karena mereka yang mendapat takaran placebo dua kali lipat bereaksi lebih santai dibandingkan dengan mereka yang menerima dua kali takaran obat yang sebenarnya.[6] 
Jika dicermati, kasus yang diteliti oleh Panati tersebut menunjukkan bahwa faktor pikiran, keyakinan dan sugesti bisa menjadi sangat berpengaruh terhadap penyembuhan. Ketika terapis dari penyuwuk atau peruqyah berhasil meyakinkan pasien dengan nasihat-nasihat dan doa-doanya, maka pasien merasa lebih tenang.  Jika dikaitkan dengan teori penyembuhan melalui “Pineal Therapy[7], maka suasana hati yang tenang dan tenteram inilah yang akan membantu kelenjar pineal dalam memproduksi hormon melatonin[8]. Jika hormon melatonin berhasil diproduksi dalam jumlah yang memadai, akan dapat digunakan untuk mencegah dan menyembuhkan berbagai penyakit.



[1] Kata sains berasal dari bahasa Latin scientia yang berarti "pengetahuan" atau "mengetahui". Dari kata ini terbentuk kata science (Inggris). Sains dalam pengertian sebenarnya adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari berbagai fenomena alam sehingga rahasia yang dikandungnya dapat diungkap dan dipahami. Dalam usaha mengungkap rahasia alam tersebut, sains melakukannya dengan menggunakan metode ilmiah. Dalam hal ini meliputi langkah-langkah sistematis, bersifat objektif, logis, dan  bersifat universal. http://www.pengertianahli.com/ 2013/12.
[2] Klorin adalah unsur halogen yang paling banyak terdapat di alam namun jarang ditemui dalam bentuk bebas. Pada umumnya klorin ditemukan dalam bentuk garam halida dan ion klorida (Lihat: sifat-sifat unsur Halogen). Sumber utama klorin adalah air laut. Dalam air laut klorin berbentuk ion klorida. Pada proses pembuatan garam, ion klorida akan berikatan dengan unsur Natrium membentuk garam Natrium klorida atau garam dapur. http://www.kamusq.com/2012/11/klorin-adalah-pengertian-dan-definisi.html.
[3] Masaru Emoto, The True Power Of Water, Hikmah Air Dalam Olah Jiwa, terj. Azam Translator (Bandung: MQ Publishing, 2006), 13.
[4] Emoto, The True Power, 113-115.
[5] Siti Fadilah Supari dalam “komentar/tanggapan” terhadap buku Masaru Emoto, The True Power Of Water, Hikmah Air Dalam Olah Jiwa, terj. Azam Translator (Bandung: MQ Publishing, 2006)
[6] Moh. Sholeh, Bertobat sambil Berobat: Rahasia Ibadah Untuk Mencegah dan Menyembuhkan Berbagai Penyakit (Bandung: Hikmah, 2008), 154.
[7] Yang dimaksud dengan terapi pineal adalah terapi yang memfokuskan pada kelenjar otak yang bernama pineal atau pineal gland. Dalam hal ini, terapi yang dilakukan adalah dengan menjaga dan mengkondisikan agar kelenjar pineal dapat memproduksi hormon sesuai yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Kelenjar pineal ini dipandang mampu menaklukkan berbagai penyakit yang datang menyerang. Iftachul ‘Ain Hambali, Islamic Pineal Theraphy (Jakarta: Prestasi, 2011), 9.
[8] Hormon melatonin sangat berperan dalam mengatur, mengontrol dan mengendalikan kelenjar dan hormon yang lain serta fungsi-fungsi biologis organ tubuh yang lain, di antaranya 1). mengurangi ketegangan jiwa; 2) memperbaiki tidur; 3) memperkuat daya kekebalan tubuh; meningkatkan daya tahan terhadap bakteri dan virus; 4) mencegah kanker dan 5) mencegah pikun. Hambali, Islamic Pineal therapy, 22-23.