Kamis, 21 November 2013

SHALAT SESUDAH SHUBUH

SHALAT SUNNAH SETELAH SHUBUH,
BOLEHKAH?

Oleh
Dr.H.Achmad Zuhdi Dh

Bagaimana hukum shalat sunnah setelah shubuh (fajar), boleh atau tidak? Untuk membahas masalah ini, perlu dikemukakan beberapa hadis berikut ini:

1. Hadis yang melarang shalat sunnah setelah shubuh;

عن أبي هريرة قال نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلاتَيْنِ بَعْدَ اْلفَجْرِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ وَبَعْدَ اْلعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ
Dari Abu Hurairah ra ia berkata : “Rasulullah Saw melarang dua macam shalat, yaitu shalat ba’da shubuh hingga terbit matahari dan shalat ba’daashar hingga terbenamnya matahari”(HR. Al-Bukhari no. 563 dan Muslim no. 825).
Hadis tersebut secara jelas menunjukkan bahwa shalat sunnah setelah shalat shubuh itu terlarang.

2. Hadis yang membolehkan shalat sunnah setelah shalat shubuh;

عَنْ قَيْسٍ بن عمرو قَالَ : خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُقِيمَتْ الصَّلاةُ ، فَصَلَّيْتُ مَعَهُ الصُّبْحَ ثُمَّ انْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَنِي أُصَلِّي ، فَقَالَ : مَهْلا يَا قَيْسُ ، أَصَلاتَانِ مَعًا ؟! قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنِّي لَمْ أَكُنْ رَكَعْتُ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ . قَالَ : فَلا إِذَنْ أخرجه الترمذي

Dari Qais, ia berkata: Rasullullah keluar (dari rumah), lalu iqamah (shubuh) di kumandangkan, maka aku shalat shubuh bersama beliau, kemudian beliau-tatkala selesai shalatnya- mendapati aku melaksanakan shalat (lagi), lalu beliau menegurku: “Sebentar wahai Qais, apakah engkau melakukan dua kali shalat bersamaan? Lalu aku menjawab: “Wahai Rasulullah, aku belum melaksanakan shalat sunnah dua rakaat (sebelum) shubuh. “Nabi  bersabda: “Kalau begitu tidak mengapa.” (HR. Al-Tirmidzi: 422, Ibn Majah: 1151) al-Albani mengatakan bahwa hadis ini sanadnya sahih (al-Albani, Sahih Wa Da’if Sunan al-Tirmidzi, I/422)
Hadis tersebut menjelaskan bahwa bagi orang yang tidak sempat melaksanakan shalat qabliyah shubuh (shalat sunnah fajar), maka ia boleh meng-qadha-nya setelah selesai shalat shubuh sebelum terbitnya matahari. (Shalih al-Munjid, Fatawa, I/5466)

3.  Hadis yang membolehkan shalat sunnah fajar setelah terbitnya matahari;

 عَن أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يُصَلِّ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ فَلْيُصَلِّهِمَا بَعْدَ مَا تَطْلُعُ الشَّمْسُ
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang belum melaksanakan shalat sunnah dua rakaat fajar, hendaknya dia melaksanakannya setelah terbit matahari.” (HR. Tirmidzi( . Al-Albani menshahihkannya (al-Silsilah al-shahihah, V/478.)

Hadis tersebut menjelaskan bahwa bagi orang yang tidak sempat melaksanakan shalat qabliyah shubuh (shalat sunnah fajar), maka ia boleh meng-qadha-nya setelah  terbitnya matahari (waktu dhuha).

4. Hadis tentang penting dan keutamaannya shalat sunnah fajar;

Shalat sunnah Fajar merupakan shalat sunnah rawatib yang paling ditekankan dibandingkan dengan yang lainnya. Rasulullah Saw tidak pernah meninggalkannya; baik dalam keadaan safar (bepergian) maupun muqim (tinggal di rumah, tidak bepergian). Hal ini didasarkan kepada hadis ‘Aisyah ra,  beliau berkata:

لَمْ يَكُنْ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَلَى شَيْءٍ مِنْ اَلنَّوَافِلِ أَشَدَّ تَعَاهُدًا مِنْهُ عَلَى رَكْعَتَيْ اَلْفَجْرِ
“Nabi Saw tidak pernah memperhatikan shalat-shalat sunat melebihi perhatiannya terhadap dua rakaat fajar.” (Muttafaq ‘Alaih)

Dalam hadis lain diterangkan:

عَنْ عَائِشَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا ».

Dari ‘Aisyah ra,  Nabi Saw bersabda: shalat sunnah dua rakaat fajar itu nilainya lebih baik daripada dunia dan seisinya (HR. Muslim no. 1721)
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh ‘Imran bin Hushain: 

 أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ فِى مَسِيرٍ لَهُ فَنَامُوا عَنْ صَلاَةِ الْفَجْرِ فَاسْتَيْقَظُوا بِحَرِّ الشَّمْسِ فَارْتَفَعُوا قَلِيلاً حَتَّى اسْتَقَلَّتِ الشَّمْسُ ثُمَّ أَمَرَ مُؤَذِّنًا فَأَذَّنَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَقَامَ ثُمَّ صَلَّى الْفَجْرَ.
Bahwasanya Rasulullah Saw pernah kesiangan melaksanakan shalat Shubuh dalam satu perjalanan. Mereka (bersama Beliau) bangun saat matahari sudah terbit, dan agak tinggi. Kemudian beliau menyuruh Bilal untuk mengumandangkan adzan. Lalu beliau shalat sunnah fajar dua rakaat (yang diikuti oleh para sahabat). Kemudian beliau menyuruh Bilal mengumandangkan iqamah dan beliau shalat Shubuh (bersama mereka).” (HR. Abu Dawud No. 443) al-Albani mensahihkan hadis ini. (Sahih Wa Dha’if Sunan Abi Dawud, I/443)

5. Kesimpulan:

a. Shalat sunnah dua rakaat sebelum shalat shubuh (fajar), adalah shalat sunnah yang sangat penting dan utama. Nabi Saw bahkan mengatakan bahwa shalat sunnah fajar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya. Karena itu, Nabi Saw tidak pernah meninggalkannya walaupun dalam keadaan bepergian (safar).

b. Mengingat penting dan utamanya shalat sunnah fajar, maka jika seseorang tidak berkesempatan menjalankan dua rakaat fajar sebelum shalat Shubuh maka boleh baginya meng-qadha-nya (mengganti dengan menjalankannya) setelah shalat shubuh atau pada waktu matahari sudah terbit (di waktu Dhuha).

c. Mengenai mana waktu yang lebih baik untuk meng-qadha shalat fajar, Imam Ahmad berpendapat bahwa sungguhpun beliau membolehkan qadha mengerjakan shalat fajar setelah selesai shalat shubuh, namun beliau memilih untuk melaksanakannya pada waktu setelah matahari terbit dan sedikit meninggi. (Ibn Qudamah, al-mughni, I/793).

d. Bila tanpa ada alasan, seperti niat untuk men-qadha shalat sunnah fajar, maka shalat sesudah shubuh tidak diperbolehkan.


Wallahu a’lam bishshawab!
Hukum Menerima Sedekah dari non Muslim

oleh

 Dr.H.Achmad Zuhdi Dh, M.Fil I


Suatu benda, baik berupa makanan, uang atau barang yang lain dinyatakan haram (terlarang, tidak boleh) diterima, bukan dilihat dari siapa (agamanya apa) yang memberikan melainkan dilihat dari bagaimana cara mendapatkan suatu benda dan dilihat dari zatnya itu sendiri.
Dilihat dari cara mendapatkannya, suatu benda bisa menjadi haram diterima sebagai sedekah atau pemberian, jika suatu benda yang diberikan tadi diketahui atau diduga berasal dari  hasil mencuri, korupsi, manipulasi, memeras, menipu, menyogok, atau dari tindak kejahatan lainnya. Dalam hal ini, pemberian barang yang berasal dari hasil tindak kejahatan, baik dari muslim maupun non muslim, maka barang tersebut tidak boleh diterima.
Sedangkan dilihat dari zatnya, jika suatu benda sudah dinyatakan haram oleh al-Qur’an atau al-Sunnah, seperti khamer atau minuman keras, daging babi, dan lain sebagainya, maka benda-benda tersebut tidak boleh diterima sebagai pemberian atau sedekah, baik dari seorang muslim maupun dari non muslim.
Oleh karena itu, jika ada seorang non muslim bersedekah atau memberi sesuatu kepada seorang muslim berupa uang halal, makanan halal atau barang-barang yang halal menurut Islam, maka pemberian tersebut boleh diterima. Dalam sebuah hadis riwayat Ahmad diterangkan sebagai berikut:

حَدَّثَنَا عَامِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَدِمَتْ قُتَيْلَةُ ابْنَةُ عَبْدِ الْعُزَّى بْنِ عَبْدِ أَسْعَدَ مِنْ بَنِى مَالِكِ بْنِ حَسَلٍ، عَلَى ابْنَتِهَا أَسْمَاءَ ابْنَةِ أَبِى بَكْرٍ بِهَدَايَا ضِبَابٍ وَأَقِطٍ وَسَمْنٍ وَهِىَ مُشْرِكَةٌ، فَأَبَتْ أَسْمَاءُ أَنْ تَقْبَلَ هَدِيَّتَهَا أوَتُدْخِلَهَا بَيْتَهَا فَسَأَلَتْ عَائِشَةُ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: {لاَ يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِى الدِّينِ} [الممتحنة 8]، إِلَى آخِرِ الآيَةِ. فَأَمَرَهَا أَنْ تَقْبَلَ هَدِيَّتَهَا وَأَنْ تُدْخِلَهَا بَيْتَهَا.

Dari Amir bin Abdullah bin al-Zubair, ia berkata, “Qutailah (Ibu dari Asma’) pernah mendatangi anak perempuannya, Asma’ binti Abu Bakar dengan membawa beberapa hadiah, di antaranya daging, keju dan minyak samin, sedangkan ia (Qutailah) seorang yang musyrik, maka Asma’ menolak hadiahnya serta tidak mempersilakan ibunya masuk rumah. Aisyah ra  pun menanyakan tentang peristiwa tersebut kepada Nabi Saw ,  maka Allah Swt  menurunkan Surat al-Mumtahanah ayat 8 (artinya: Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama). Maka Nabi Saw  pun memerintahkan Asma’ untuk menerima hadiah ibunya dan mempersilakan masuk rumah.” (Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, IV/4); Menurut al-Hakim, hadis ini sahih. (Wahbah al-Zuhayli, al-Tafsir al-Munir, XXVI/135 ).

Dalam hadis sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim, dari Asma binti Abi Bakr, ia berkata:

قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، قُلْتُ، وَهِيَ رَاغِبَةٌ: أَفَأَصِلُ أُمِّي قَالَ: نَعَمْ صِلِي أُمَّك
”Aku pernah didatangi ibuku yang masih musyrik pada masa Rasulullah saw lalu aku meminta fatwa dari Rasulullah saw. Aku berkata,’Sesungguhnya ibuku datang, dia begitu ingin(menemuiku), apakah aku sambungkan silaturahim dengan ibuku?’ beliau bersabda,’Ya, sambungkanlah ibumu”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dua hadis tersebut menunjukkan bahwa menerima pemberian atau sedekah dari seorang non muslim itu diperbolehkan.


SHALAT SESUDAH ASHAR

HADIS-HADIS TENTANG
SHALAT SESUDAH ASHAR

Oleh
Dr.H.Achmad Zuhdi Dh,M.Fil I


A. Hadis-hadis yang melarang:
Hadis pertama:
عن أبي هريرة قال نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلاتَيْنِ بَعْدَ اْلفَجْرِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ وَبَعْدَ اْلعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ
Dari Abu Hurairah ra ia berkata : “Rasulullah Saw melarang dua macam shalat: shalat ba’da shubuh hingga terbit matahari dan shalat ba’daashar hingga terbenamnya matahari”(HR. Al-Bukhari no. 563 dan Muslim no. 825).
Hadis kedua:
عن عمرو بن عبسة السلمي : ..... فَإِذَا أَقْبَلَ اْلفَيْءُ فَصَلِّ فَإِنَّ الصَّلاةَ مَشْهُوْدَة مَحْضُوْرَة حَتَّى تُصَلِّيَ اْلعَصْرَ ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاةِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَإِنَّهَا تَغرُبُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانِ وَحِيْنَئِذ يَسْجُدُ لَهَا اْلكُفَّارُ
Dari ‘Amr bin ‘Abasah ra, bahwasannya Rasulullah Saw telah bersabda: “…..Jika bayangan telah condong (waktu zawal), maka kerjakanlah shalat, karena shalat pada waktu itu disaksikan dan dihadiri (oleh para malaikat), hingga engkau mengerjakan shalat ‘ashar. Setelah itu, janganlah engkau shalat hingga matahari terbenam, karena matahari terbenam di antara dua tanduk syaithan, dan pada saat itu, orang-orang kafir sujud padanya”(HR. Muslim no. 1967).

Keterangan:

Dua hadis tersebut menunjukkan bahwa shalat sesudah ashar hingga terbenamnya matahari itu dilarang, karena matahari terbenam di antara dua tanduk setan, dan pada saat itu, orang-orang kafir sujud padanya.
B. Hadis-hadis yang membolehkan shalat sesudah ashar:
Hadis ketiga:
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ صَلَّى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بَعْدَ الْعَصْرِ رَكْعَتَيْنِ وَقَالَ شَغَلَنِيْ نَاسٌ مِنْ عَبْدِ الْقَيْسِ عَنِ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ
Dari Ummu Salamah ra ia berkata : “Nabi Saw pernah shalat dua raka’at setelah ‘ashar, lalu beliau bersabda: Orang-orang dari suku ‘Abdul-Qais telah menyibukkanku dari shalat dua raka’at setelah dhuhur”(HR. Al-Bukhari)[1]
Hadis keempat:
عن أم سلمة قالت شُغِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ اْلعَصْرِ فَصَلاهُمَا بَعْدَ اْلعَصْرِ
Dari Ummu Salamah ra ia berkata : “Rasulullah Saw dibuat sibuk atas satu urusan sehingga tidak sempat mengerjakan shalat dua raka’at sebelum ‘ashar. Maka beliau mengerjakannya setelah ‘ashar” (HR. An-Nasa’i)[2].
Hadis kelima:
عن عائشة قالت وَالَّذِيْ ذَهَبَ بِهِ مَا تَرَكَهُمَا حَتَّى لَقِيَ اللهَ وَمَا لَقِيَ اللهَ تَعَالَى حَتَّى ثَقُلَ عَنِ الصَّلاةِ وَكَانَ يُصَلِّيَ كَثِيْرًا مِنْ صَلاتِهِ قَاعِدًا تَعْنِيْ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ اْلعَصْرِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّيْهِمَا وَلا يُصَلِّيْهِمَا فِيْ اْلمَسْجِدِ مُخَافَةَ أَنْ يُثَقِّلَ عَلَى أُمَّتِهِ وَكَانَ يُحِّبُ مَا يُخَفِّفُ عَنْهُمْ
Dari ‘Aisyah ra ia berkata : “Demi Allah, beliau tidak pernah meninggalkan shalat dua raka’at sehingga beliau Saw bertemu dengan Allah, dan beliau tidak bertemu dengan Allah Swt hingga beliau merasa berat melakukan shalat. Dan beliau sering melakukan shalatnya dengan duduk, yaitu shalat (sunnah) dua raka’at setelah ‘ashar, dan Nabi Saw biasa mengerjakan shalat (sunnah) dua raka’at setelah ‘Ashar itu tidak di dalam masjid karena takut akan memberatkan umatnya dan beliau senang terhadap sesuatu yang membuat ringan bagi umatnya” [HR. Al-Bukhari nomor 565].
Hadis keenam:
عَنْ أَبِى سَلَمَة أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ عَنِ السَّجْدَتَيْنِ اللَّتَيْنِ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّيهِمَا بَعْدَ الْعَصْرِ فَقَالَتْ كَانَ يُصَلِّيهِمَا قَبْلَ الْعَصْرِ ثُمَّ إِنَّهُ شُغِلَ عَنْهُمَا أَوْ نَسِيَهُمَا فَصَلاَّهُمَا بَعْدَ الْعَصْرِ ثُمَّ أَثْبَتَهُمَا وَكَانَ إِذَا صَلَّى صَلاَةً أَثْبَتَهَا. قَالَ يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ قَالَ إِسْمَاعِيلُ تَعْنِى دَاوَمَ عَلَيْهَا.
Dari Abu Salamah bahwasannya ia bertanya kepada ‘Aisyah ra tentang dua sujud (maksudnya : dua raka’at) yang dilakukan Rasulullah Saw ba’da ashar. Maka ‘Aisyah menjawab : “Beliau biasa shalat dua raka’at sebelum ‘ashar, namun kemudian beliau dibuat sibuk atau beliau lupa mengerjakannya. Maka beliau Saw mengerjakannya (yaitu menggantinya) ba’da ‘asar dan kemudian menetapkannya. Beliau apabila biasa mengerjakan suatu shalat maka beliau menetapkannya”. Telah berkata Yahya bin Ayyub (perawi hadis) : Telah berkata Isma’il : “Yaitu mendawamkannya (= selalu mengerjakannya)” (HR. Muslim no. 1971).
Hadis ketujuh:
عن عائشة قالت مَا تَرَكَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اْلعَصْرِ عِنْدِيْ قَطّ
Dari ‘Aisyah ra ia berkata : “Rasulullah Saw tidak pernah meninggalkan dua raka’at ba’da ‘ashar di sisiku (rumahku) (HR. al-Bukhari no. 566 dan Muslim no. 1972).
Hadis kedelapan:
عن عائشة قالت صَلاتَانِ مَا تَرَكَهمَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ بَيْتِيْ قَطّ سِرًا وَلا عَلانِيَةً رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ اْلفَجْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اْلعَصْرِ
Dari ‘Aisyah ra ia berkata : “Dua shalat yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah Saw di rumahku dalam keadaan apapun yaitu : Dua raka’at sebelum fajar/shubuh dan dua raka’at setelah ‘ashar” (HR. Al-Bukhari no.567 dan Muslim nomor 1973).
Hadis kesembilan:
عن عائشة قالت مَا كَانَ النّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِيْنِيْ فِيْ يَوْم بَعْدَ اْلعَصْرِ إِلا صَلَّى رَكْعَتَيْنِ
Dari ‘Aisyah ra ia berkata : “Tidaklah Nabi Saw mendatangiku di suatu hari setelah ‘Ashar melainkan beliau mengerjakan shalat dua raka’at” (HR. Al-Bukhari no.568).
Hadis kesepuluh:
عن علي قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يُصَلِّى بَعْدَ اْلعَصْرِ إِلا أَنْ تَكُوْنَ الشَمْسُ بَيْضَاءَ مُرْتَفِعَة
Dari ‘Ali bin Abi Thalib ra ia berkata : Telah bersabda Rasulullah Saw: “Janganlah seseorang shalat setelah ‘ashar kecuali  bila matahari masih putih dan tinggi’ ([HR. Ibnu Khuzaimah no. 1284)[3].
Keterangan:
Dari beberapa hadis di atas dapat dipahami sebagai berikut :
1.      Nabi Saw pernah mengerjakan shalat sunnah ba’da ‘ashar sebagai ganti shalat sunnah dua raka’at ba’da (sesudah) dhuhur atau dua raka’at qabla (sebelum) ‘ashar karena kesibukan beliau dalam melayani sebagian shahabatnya.
2.      Nabi Saw (kemudian) sering atau biasa mengerjakan shalat (sunnah) dua raka’at setelah ‘ashar tidak di dalam masjid, tetapi di rumah, karena takut akan memberatkan umatnya dan beliau senang terhadap sesuatu yang membuat ringan bagi umatnya;
3.      Kebolehan melaksanakan shalat sunnah setelah ‘ashar ini diberikan dengan taqyid (pembatasan), yakni jika matahari masih tinggi/panas dan bercahaya putih (belum meredup) sebagaimana dikhabarkan oleh ‘Ali bin Abi Thalib ra. Adapun jika matahari telah redup cahayanya, maka tidak boleh mengerjakan shalat sunnah ba’da ashar sebagaimana keumuman larangan dalam hadis pertama.

C. Pandangan ulama mengenai shalat sunnah setelah ‘ashar.

1.      Pada umumnya ulama melarang shalat sunnah setelah shalat ashar. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Abu Hurairah. Pendapat ini didukung oleh Umar bin Khattab, Ibn Umar, Ibn ‘Abbas, Khalid bin Walid, Mu’awiyah, dan sejumlah shahabat yang lain. Di kalangan Tabi’in dan Tabi Tabi’in antara lain Malik, al-Awza’i, al-Tsauri, Abu Tsaur, Hanafi, Syafi’i, Ishaq, dan Ahmad.[4]
2.      Mengingat adanya hadis yang melarang shalat sesudah ashar, dan adanya hadis tentang shalatnya Rasulullah Saw setelah ashar, sebagaimana riwayat dari ‘Aisyah ra, maka larangan shalat sunnah setelah ashar hukumnya makruh. Kecuali  jika shalat sesudah ashar itu merupakan shalat qada (pengganti) dari shalat sunnah ba’da dhuhur yang tidak sempat dilakukan, atau karena ada sebab lain maka hal itu dibolehkan. Pendapat ini termasuk pendapat dari Imam Syafi’i;[5]
3.      Shalat sunnah setelah ashar, merupakan “kekhususan” bagi Nabi Saw, tidak berlaku bagi umatnya. Alasannya, karena sungguhpun ada hadis yang menunjukkan bahwa Nabi Saw pernah melakukan shalat sunnah setelah ashar, tetapi juga terdapat hadis yang melarang shalat setelah ashar hingga terbenamnya matahari. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah al-Thahawi;[6]
4.      Larangan shalat sunnah setelah ashar, adalah bila waktunya mendekati matahari terbenam. Namun, jika waktu ashar masih panjang, maka shalat sunnah setelah ashar boleh saja. Hal ini berdasarkan pada hadis ‘Aisyah yang menerangkan bahwa Nabi Saw telah membiasakan shalat sunnah setelah ashar, hingga beliau wafat. Selain itu juga berdasarkan hadis riwayat Ali yang membolehkan shalat setelah ashar bila matahari masih putih dan tinggi. Yang berpendapat seperti ini antara lain Muhammad Nashiruddin al-Albani. [7] 
Wallahu a’lam bishshawab!




[1] Imam al-Bukhari, al-Jami’ al-Shahih al-Mukhtashar, Vol. I (Bayrut: Dar Ibn Katsir, 1987), 213.
[2] Menurut al-Albani, hadis tersebut hasan shahih. Al-Albani, Shahih Wa Da’if Sunan al-Nasa-i, Vol.II/ 224.
[3] Muhammad Mushthafa Al-A’dhami menilai hadis tersebut shahih. Ibn Khuzaymah, Shahih Ibn Khuzaymah, tahqiq Mushthafa al-A’dhami, Vol.II (Bayrut: al-Maktab al-Islami, 1970), 265.
[4] Ibn Rajab, Fath al-Bari, Vol.III (al-Su’udiyah: Dar Ibn al-Jawzi, 1422 H), 280.
[5] Muhammad Syams al-Haq al-‘Adzim al-Abadi, ‘Awn al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, Vol.IV (Bayrut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1415 H), 107.
[6] Al-Syawkani, Nayl al-Awthar, Vol.III/ 33.
[7] Muhammad Nashiruddin al-Albani, al-Silsilah al-Shahihah, Vol.VI/ 48.