Kamis, 21 November 2013

SHALAT SESUDAH ASHAR

HADIS-HADIS TENTANG
SHALAT SESUDAH ASHAR

Oleh
Dr.H.Achmad Zuhdi Dh,M.Fil I


A. Hadis-hadis yang melarang:
Hadis pertama:
عن أبي هريرة قال نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلاتَيْنِ بَعْدَ اْلفَجْرِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ وَبَعْدَ اْلعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ
Dari Abu Hurairah ra ia berkata : “Rasulullah Saw melarang dua macam shalat: shalat ba’da shubuh hingga terbit matahari dan shalat ba’daashar hingga terbenamnya matahari”(HR. Al-Bukhari no. 563 dan Muslim no. 825).
Hadis kedua:
عن عمرو بن عبسة السلمي : ..... فَإِذَا أَقْبَلَ اْلفَيْءُ فَصَلِّ فَإِنَّ الصَّلاةَ مَشْهُوْدَة مَحْضُوْرَة حَتَّى تُصَلِّيَ اْلعَصْرَ ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاةِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ فَإِنَّهَا تَغرُبُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانِ وَحِيْنَئِذ يَسْجُدُ لَهَا اْلكُفَّارُ
Dari ‘Amr bin ‘Abasah ra, bahwasannya Rasulullah Saw telah bersabda: “…..Jika bayangan telah condong (waktu zawal), maka kerjakanlah shalat, karena shalat pada waktu itu disaksikan dan dihadiri (oleh para malaikat), hingga engkau mengerjakan shalat ‘ashar. Setelah itu, janganlah engkau shalat hingga matahari terbenam, karena matahari terbenam di antara dua tanduk syaithan, dan pada saat itu, orang-orang kafir sujud padanya”(HR. Muslim no. 1967).

Keterangan:

Dua hadis tersebut menunjukkan bahwa shalat sesudah ashar hingga terbenamnya matahari itu dilarang, karena matahari terbenam di antara dua tanduk setan, dan pada saat itu, orang-orang kafir sujud padanya.
B. Hadis-hadis yang membolehkan shalat sesudah ashar:
Hadis ketiga:
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ صَلَّى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بَعْدَ الْعَصْرِ رَكْعَتَيْنِ وَقَالَ شَغَلَنِيْ نَاسٌ مِنْ عَبْدِ الْقَيْسِ عَنِ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ
Dari Ummu Salamah ra ia berkata : “Nabi Saw pernah shalat dua raka’at setelah ‘ashar, lalu beliau bersabda: Orang-orang dari suku ‘Abdul-Qais telah menyibukkanku dari shalat dua raka’at setelah dhuhur”(HR. Al-Bukhari)[1]
Hadis keempat:
عن أم سلمة قالت شُغِلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ اْلعَصْرِ فَصَلاهُمَا بَعْدَ اْلعَصْرِ
Dari Ummu Salamah ra ia berkata : “Rasulullah Saw dibuat sibuk atas satu urusan sehingga tidak sempat mengerjakan shalat dua raka’at sebelum ‘ashar. Maka beliau mengerjakannya setelah ‘ashar” (HR. An-Nasa’i)[2].
Hadis kelima:
عن عائشة قالت وَالَّذِيْ ذَهَبَ بِهِ مَا تَرَكَهُمَا حَتَّى لَقِيَ اللهَ وَمَا لَقِيَ اللهَ تَعَالَى حَتَّى ثَقُلَ عَنِ الصَّلاةِ وَكَانَ يُصَلِّيَ كَثِيْرًا مِنْ صَلاتِهِ قَاعِدًا تَعْنِيْ الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ اْلعَصْرِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّيْهِمَا وَلا يُصَلِّيْهِمَا فِيْ اْلمَسْجِدِ مُخَافَةَ أَنْ يُثَقِّلَ عَلَى أُمَّتِهِ وَكَانَ يُحِّبُ مَا يُخَفِّفُ عَنْهُمْ
Dari ‘Aisyah ra ia berkata : “Demi Allah, beliau tidak pernah meninggalkan shalat dua raka’at sehingga beliau Saw bertemu dengan Allah, dan beliau tidak bertemu dengan Allah Swt hingga beliau merasa berat melakukan shalat. Dan beliau sering melakukan shalatnya dengan duduk, yaitu shalat (sunnah) dua raka’at setelah ‘ashar, dan Nabi Saw biasa mengerjakan shalat (sunnah) dua raka’at setelah ‘Ashar itu tidak di dalam masjid karena takut akan memberatkan umatnya dan beliau senang terhadap sesuatu yang membuat ringan bagi umatnya” [HR. Al-Bukhari nomor 565].
Hadis keenam:
عَنْ أَبِى سَلَمَة أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ عَنِ السَّجْدَتَيْنِ اللَّتَيْنِ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّيهِمَا بَعْدَ الْعَصْرِ فَقَالَتْ كَانَ يُصَلِّيهِمَا قَبْلَ الْعَصْرِ ثُمَّ إِنَّهُ شُغِلَ عَنْهُمَا أَوْ نَسِيَهُمَا فَصَلاَّهُمَا بَعْدَ الْعَصْرِ ثُمَّ أَثْبَتَهُمَا وَكَانَ إِذَا صَلَّى صَلاَةً أَثْبَتَهَا. قَالَ يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ قَالَ إِسْمَاعِيلُ تَعْنِى دَاوَمَ عَلَيْهَا.
Dari Abu Salamah bahwasannya ia bertanya kepada ‘Aisyah ra tentang dua sujud (maksudnya : dua raka’at) yang dilakukan Rasulullah Saw ba’da ashar. Maka ‘Aisyah menjawab : “Beliau biasa shalat dua raka’at sebelum ‘ashar, namun kemudian beliau dibuat sibuk atau beliau lupa mengerjakannya. Maka beliau Saw mengerjakannya (yaitu menggantinya) ba’da ‘asar dan kemudian menetapkannya. Beliau apabila biasa mengerjakan suatu shalat maka beliau menetapkannya”. Telah berkata Yahya bin Ayyub (perawi hadis) : Telah berkata Isma’il : “Yaitu mendawamkannya (= selalu mengerjakannya)” (HR. Muslim no. 1971).
Hadis ketujuh:
عن عائشة قالت مَا تَرَكَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اْلعَصْرِ عِنْدِيْ قَطّ
Dari ‘Aisyah ra ia berkata : “Rasulullah Saw tidak pernah meninggalkan dua raka’at ba’da ‘ashar di sisiku (rumahku) (HR. al-Bukhari no. 566 dan Muslim no. 1972).
Hadis kedelapan:
عن عائشة قالت صَلاتَانِ مَا تَرَكَهمَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ بَيْتِيْ قَطّ سِرًا وَلا عَلانِيَةً رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ اْلفَجْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ اْلعَصْرِ
Dari ‘Aisyah ra ia berkata : “Dua shalat yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah Saw di rumahku dalam keadaan apapun yaitu : Dua raka’at sebelum fajar/shubuh dan dua raka’at setelah ‘ashar” (HR. Al-Bukhari no.567 dan Muslim nomor 1973).
Hadis kesembilan:
عن عائشة قالت مَا كَانَ النّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِيْنِيْ فِيْ يَوْم بَعْدَ اْلعَصْرِ إِلا صَلَّى رَكْعَتَيْنِ
Dari ‘Aisyah ra ia berkata : “Tidaklah Nabi Saw mendatangiku di suatu hari setelah ‘Ashar melainkan beliau mengerjakan shalat dua raka’at” (HR. Al-Bukhari no.568).
Hadis kesepuluh:
عن علي قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يُصَلِّى بَعْدَ اْلعَصْرِ إِلا أَنْ تَكُوْنَ الشَمْسُ بَيْضَاءَ مُرْتَفِعَة
Dari ‘Ali bin Abi Thalib ra ia berkata : Telah bersabda Rasulullah Saw: “Janganlah seseorang shalat setelah ‘ashar kecuali  bila matahari masih putih dan tinggi’ ([HR. Ibnu Khuzaimah no. 1284)[3].
Keterangan:
Dari beberapa hadis di atas dapat dipahami sebagai berikut :
1.      Nabi Saw pernah mengerjakan shalat sunnah ba’da ‘ashar sebagai ganti shalat sunnah dua raka’at ba’da (sesudah) dhuhur atau dua raka’at qabla (sebelum) ‘ashar karena kesibukan beliau dalam melayani sebagian shahabatnya.
2.      Nabi Saw (kemudian) sering atau biasa mengerjakan shalat (sunnah) dua raka’at setelah ‘ashar tidak di dalam masjid, tetapi di rumah, karena takut akan memberatkan umatnya dan beliau senang terhadap sesuatu yang membuat ringan bagi umatnya;
3.      Kebolehan melaksanakan shalat sunnah setelah ‘ashar ini diberikan dengan taqyid (pembatasan), yakni jika matahari masih tinggi/panas dan bercahaya putih (belum meredup) sebagaimana dikhabarkan oleh ‘Ali bin Abi Thalib ra. Adapun jika matahari telah redup cahayanya, maka tidak boleh mengerjakan shalat sunnah ba’da ashar sebagaimana keumuman larangan dalam hadis pertama.

C. Pandangan ulama mengenai shalat sunnah setelah ‘ashar.

1.      Pada umumnya ulama melarang shalat sunnah setelah shalat ashar. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Abu Hurairah. Pendapat ini didukung oleh Umar bin Khattab, Ibn Umar, Ibn ‘Abbas, Khalid bin Walid, Mu’awiyah, dan sejumlah shahabat yang lain. Di kalangan Tabi’in dan Tabi Tabi’in antara lain Malik, al-Awza’i, al-Tsauri, Abu Tsaur, Hanafi, Syafi’i, Ishaq, dan Ahmad.[4]
2.      Mengingat adanya hadis yang melarang shalat sesudah ashar, dan adanya hadis tentang shalatnya Rasulullah Saw setelah ashar, sebagaimana riwayat dari ‘Aisyah ra, maka larangan shalat sunnah setelah ashar hukumnya makruh. Kecuali  jika shalat sesudah ashar itu merupakan shalat qada (pengganti) dari shalat sunnah ba’da dhuhur yang tidak sempat dilakukan, atau karena ada sebab lain maka hal itu dibolehkan. Pendapat ini termasuk pendapat dari Imam Syafi’i;[5]
3.      Shalat sunnah setelah ashar, merupakan “kekhususan” bagi Nabi Saw, tidak berlaku bagi umatnya. Alasannya, karena sungguhpun ada hadis yang menunjukkan bahwa Nabi Saw pernah melakukan shalat sunnah setelah ashar, tetapi juga terdapat hadis yang melarang shalat setelah ashar hingga terbenamnya matahari. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah al-Thahawi;[6]
4.      Larangan shalat sunnah setelah ashar, adalah bila waktunya mendekati matahari terbenam. Namun, jika waktu ashar masih panjang, maka shalat sunnah setelah ashar boleh saja. Hal ini berdasarkan pada hadis ‘Aisyah yang menerangkan bahwa Nabi Saw telah membiasakan shalat sunnah setelah ashar, hingga beliau wafat. Selain itu juga berdasarkan hadis riwayat Ali yang membolehkan shalat setelah ashar bila matahari masih putih dan tinggi. Yang berpendapat seperti ini antara lain Muhammad Nashiruddin al-Albani. [7] 
Wallahu a’lam bishshawab!




[1] Imam al-Bukhari, al-Jami’ al-Shahih al-Mukhtashar, Vol. I (Bayrut: Dar Ibn Katsir, 1987), 213.
[2] Menurut al-Albani, hadis tersebut hasan shahih. Al-Albani, Shahih Wa Da’if Sunan al-Nasa-i, Vol.II/ 224.
[3] Muhammad Mushthafa Al-A’dhami menilai hadis tersebut shahih. Ibn Khuzaymah, Shahih Ibn Khuzaymah, tahqiq Mushthafa al-A’dhami, Vol.II (Bayrut: al-Maktab al-Islami, 1970), 265.
[4] Ibn Rajab, Fath al-Bari, Vol.III (al-Su’udiyah: Dar Ibn al-Jawzi, 1422 H), 280.
[5] Muhammad Syams al-Haq al-‘Adzim al-Abadi, ‘Awn al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, Vol.IV (Bayrut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1415 H), 107.
[6] Al-Syawkani, Nayl al-Awthar, Vol.III/ 33.
[7] Muhammad Nashiruddin al-Albani, al-Silsilah al-Shahihah, Vol.VI/ 48.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar