Minggu, 24 April 2016

KIRIM BACAAN AL-FATIHAH UNTUK KESEMBUHAN ORANG SAKIT

MEMBACA SURAT AL-FATIHAH
UNTUK KESEMBUHAN ORANG SAKIT

Oleh:


Dr.H.Achmad Zuhdi Dh,M.Fi I


Permasalahan:

            Di kalangan masyarakat sering ada kegiatan doa bersama di masjid, khususnya pembacaan surat al-Fatihah yang ditujukan bagi orang yang sedang sakit agar segera mendapatkan kesembuhan. Bagaimana tuntunan Islam mengenai pembacaan surat al-Fatihah kepada orang yang sakit? Adakah hadis dari Nabi Saw atau praktik sahabat yang menjelaskan tentang dzikir bersama membaca al-Fatihah untuk kesembuhan orang yang sedang sakit? Mohon pencerahannya !

Jawaban:

            Ulama sepakat bahwa surat al-Fatihah adalah surat yang paling agung di antara surat-surat yang lain dalam al-Qur’an. Di antara sebutan surat al-Fatihah adalah Umm al-Qur’an atau induknya al-Qur’an, karena di dalamnya tercakup pokok-pokok isi al-Qur’an (Tafsir al-Baghawi, I/70). Menurut al-Qurthubi, ada dua belas nama untuk sebutan surat al-Fatihah, yaitu: al-Shalah, al-Hamdu, Fatihat al-Kitab, Umm al-Kitab, Umm al-Qur’an, al-Matsani, al-Qur’an al-Adzim, al-Syifa, al-Ruqyah, al-Asas, al-Wafiyah, dan al-Kafiyah (Tafsir al-Qurthubi, I/111-113).

            Dari dua belas nama surat al-Fatihah tersebut ada dua nama yang terkait dengan penyembuhan, yaitu al-Syifa dan al-Ruqyah.  Al-Syifa berarti obat atau kesembuhan. Surat al-Fatihah dinamakan al-Syifa, karena berdasarkan hadis Nabi Saw bahwa:
فَاتِحَةُ الْكِتَابِ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ
Surat al-Fatihah itu merupakan obat segala macam penyakit
(HR. Al-Darimi dan al-Bayhaqi). Kata al-Albani hadis ini dha’if, mursal.
(Misykat al-Mashabih, II/1219)

Adapun sebutan al-Ruqyah (mantra untuk kesembuhan) adalah berdasarkan hadis shahih riwayat al-Bukhari dan Muslim, pernah suatu ketika sejumlah rombongan sahabat Nabi Saw melakukan perjalanan dan singgah di sebuah kampung. Saat itu kepala kampungnya menderita sakit karena sengatan ular atau kalajengking. Salah seorang sahabat Nabi Saw mendatangi kepala kampung itu kemudian melakukan ruqyah dengan cara meniup dan sedikit meludah ke bagian tubuhnya yang terluka sambil membacakan surat al-Fatihah.  Dengan izin Allah, sakit yang diderita kepala kampung itu hilang dan sembuh total. Para sahabat pun mendapatkan hadiahnya. Setelah dikonfirmasikan kepada Nabi Saw, beliau tertawa dan mengatakan:

مَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ
“Bagaimana kamu tahu kalau surat al-Fatihah itu bisa digunakan
 untuk melakukan ruqyah?

Selanjutnya Nabi Saw mengatakan: “Kalian telah berbuat yang benar. Sekarang bagikanlah hadiahnya dan sebagian berikan untuk saya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri).

            Berdasarkan hadis-hadis tersebut dipahami bahwa bacaan surat al-Fatihah itu bisa digunakan untuk melakukan penyembuhan. Praktik Abu Sa’id al-Khudri yang mengobati kepala kampung dengan cara membaca surat al-Fatihah sambil meniupkan dan meludah pada bagian tubuh yang sakit tersebut, di kemudian hari dijadikan acuan ulama dan orang-orang sesudahnya untuk menjadikan surat al-Fatihah sebagai bacaan ruqyah untuk suatu penyembuhan.

Di antara ulama yang kemudian mempraktikkannya adalah Ibn Qayyim al-Jauziyah. Ibn al-Qayyim berkata, “Pada suatu ketika aku pernah berada di Makkah dan jatuh sakit, tetapi aku tidak menemukan seorang dokter dan obat penyembuh. Lalu aku berusaha mengobati dan menyembuhkan diriku dengan surat al-Fatihah. Aku ambil segelas air zam-zam dan membacakan padanya surat al-Fatihah berkali-kali, lalu aku meminumnya hingga aku sembuh total. Selanjutnya aku berpedoman dengan cara tersebut dalam mengobati berbagai penyakit dan aku merasakan manfaat yang sangat besar (al-Tibb al-Nabawi, I/152).
Dalam kitab al-Jawab al-Kafi, 'Ibn al-Qayyim berkata:
فَكُنْتُ أُعَالِجُ نَفْسِيْ بِالْفَاتِحَةِ فَأَرَي لَهَا تَأْثِيْرًا عَجِيْبًا فَكُنْتُ أَصِفُ ذَلِكَ لِمَنْ يَشْتَكِيْ أَلَمًا وَكَانَ كَثِيْرٌ مِنْهُمْ يَبْرَأُ سَرِيْعًا
Kemudian aku berusaha mengobati diriku sendiri dengan bacaan surat al-Fatihah lalu aku melihat pengaruh yang sangat menakjubkan. Selanjutnya aku beritahukan kepada banyak orang yang menderita sakit dan ternyata banyak dari mereka yang berhasil sembuh dengan cepat. (al-Jawab al-Kafi, I/3).
            Praktik Abu Said al-Khudri dan Ibn al-Qayyim tersebut dipahami oleh ulama (masyarakat) secara beragam. Sebagian masyarakat berpendapat bahwa bacaan al-Fatihah bisa digunakan untuk kepentingan apa saja dan dengan berbagai cara. Di antara mereka ada yang membacakan surat al-Fatihah (kirim doa) secara bersama-sama untuk orang yang sakit di suatu tempat, sebagian lagi yang lain ada yang membacakannya (kirim pahala) untuk orang yang sudah mati. Mereka mengambil dasar dari hadis Nabi Saw:
اَلْفَاتِحَةُ لِمَا قُرِئَتْ لَهُ
“Al-Fatihah itu bisa dibaca untuk apa saja”(HR. Al-Baihaqi)

            Hadis tersebut maudhu’/palsu, la ashla lahu, tidak jelas asal-usulnya, demikian tulis Muhammad Thahir bin Ali al-Hindi dalam Tadzkirat al-Maudhu’at, I/80, dan Ali bin Sulthan al-Harawi dalam al-Mashnu’ Fi Ma’rifat al-Hadis al-Maudhu’, I/127).

            Atas dasar keyakinan bahwa al-Fatihah itu adalah surat yang paling agung dalam al-Qur’an dan bisa digunakan untuk keperluan apa saja (lima quriaat lahu), maka sebagian ulama (masyarakat) ada yang menggunakan surat al-Fatihah untuk keperluan apa saja, termasuk untuk penyembuhan berbagai penyakit dengan cara membacakannya secara besama-sama, baik di masjid atau tempat yang lain.

 Lain lagi dengan pendapat Syaikh Ibn Utsaimin. Menurutnya,  surat al-Fatihah dan surat-surat tertentu dari al-Qur’an tidak boleh dibacakan kecuali pada kondisi-kondisi yang telah disyariatkan. Jika al-Fatihah dibaca pada tempat dan waktu yang tidak sesuai dengan sunnah Rasul dengan maksud ibadah, maka hal itu dipandang mengada-ada (تعتبر من البدع).  Lebih lanjut al-Utsaimin mengatakan, apa yang kita saksikan di tengah-tengah masyarakat yang membacakan al-Fatihah pada berbagai kesempatan, seperti membacakan al-Fatihah untuk orang yang mati, dan untuk kepentingan yang bermacam-macam, maka hal itu termasuk perkara bid’ah yang munkar (Fatawa Nur ‘Ala al-Darb, XI/116)
 Dengan demikian, maka membacakan al-Fatihah secara bersama-sama untuk kesembuhan orang yang sakit, karena tidak ada contoh dari Rasul, dan para sahabat juga tidak pernah mempraktikkannya, maka hal itu termasuk perkara yang tidak disyariatkan. Adapun yang disyariatkan adalah mendoakan kepada si sakit pada saat menjenguknya, terutama dengan doa-doa yang telah diajarkan oleh Rasul. Selain itu, pada saat menjenguknya, bisa dibacakan surat al-Fatihah atau surat-surat yang lain, karena hal ini sesuai dengan praktik Abu Said al-Khudri yang kemudian dibenarkan oleh Rasulullah Saw(HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Menurut Syekh bin Baz,  beberapa surat al-Qur’an yang boleh dibacakan saat mengunjungi orang sakit adalah Surat Al-Fatihah, Ayat kursi, Surat Al-Ikhlas, Surat Al-Falaq, Surat An-Naas, dan ayat yang lain dari Al-Quran Al-Aziz. Dalam membacanya boleh mengulang-ulanginya setiap pagi dan sore dan boleh ditambah dengan doa yang ma’tsur dari Nabi Saw, misalnya:
اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَأْسَ وَاشْفِه وأَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَآءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا
“Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah penyakit dan berilah dia kesembuhan, Engkau Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain”  (HR Bukhari 535 dan Muslim 2191).
Syekh bin Baz lebih jauh mengatakan, selain bacaan tersebut bisa juga dibacakan doa lainnya yang diinginkan. Akan tetapi doa yang berasal dari Nabi Saw lebih baik. Dalam hal ini, Bin Baz tidak menganjurkan pembacaan al-Fatihah secara bersama-sama untuk tujuan mendapatkan kesembuhan bagi orang yang sakit. Adapun yang dianjurkan adalah membaca al-Fatihah atau surat-surat yang lain(ruqyah) di dekat orang yang sakit. Hal ini sesuai dengan hadis sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Said al-Khudri, sebagaimana yang telah disebutkan tadi.
Kesimpulan:
1.    Ada dua pendapat tentang hukum membacakan surat al-Fatihah secara bersama-sama untuk kesembuhan orang yang sedang sakit;
2.    Pendapat pertama membolehkan dengan alasan ada hadis yang menyatakan bahwa al-Fatihah itu bisa menjadi obat segala penyakit dan bisa difungsikan untuk apa saja (al-Fatihah lima quriat lahu);
3.    Pendapat kedua tidak membolehkan dengan alasan tidak ada contoh dari Rasul dan tidak ada contoh dari sahabat Nabi. Yang boleh atau yang disyariatkan adalah dengan cara membacakan al-Fatihah langsung di dekat orang yang sakit atau dengan cara melakukan ruqyah.
Wallahu A’lam !


Tidak ada komentar:

Posting Komentar