Jumat, 09 April 2021

UTANG PUASA: Penyebab, Cara Qada, dan Fidyahnya

 

UTANG PUASA:

Penyebab, Cara Qada, dan Fidyahnya

 

Oleh


Dr.H. Achmad Zuhdi Dh, M.Fil I

 

Dari Abu Salamah ra, ia mendengar Aisyah ra berkata:

كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ الشُّغُلُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَوْ بِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-

“Aku dahulu punya kewajiban puasa. Aku tidaklah bisa membayar utang puasa tersebut kecuali pada bulan Syakban karena kesibukan dengan Rasulullah Saw. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Status Hadis

              Hadis tersebut dinilai sahih oleh Imam al-Bukhari dalam Sahih al-Bukhari No. 1950 dan Imam Muslim dalam Sahih Muslim No. 2743. Selain diriwayatkan oleh dua Imam tersebut, juga diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi dalam Sunan al-Tirmidzi No. 783, Imam Ahmad dalam al-Musnad No. 24928, Imam Ibn Abi Syaibah dalam Mushannaf Ibn Abi Syaibah No. 9726, Imam Abd al-Razzaq dalam Mushannaf Abd al-Razzaq No. 7677, Imam al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Shaghir No. 567, Imam Ibn Khuzaimah dalam Shahih Ibn Khuzaimah No. 2049, dan Imam Ishaq Bin Rahawaih dalam Musnad Ishaq Bin Rahawaih No. 1608.

 

Kandungan Hadis

Hadis tersebut menerangkan tentang utang puasa dan waktu mengqadanya (membayar utang kewajiban ibadah puasa). Dalam hadis tersebut Aisyah menceritakan bahwa dirinya pernah mempunyai utang kewajiban berpuasa. Ia tidak bisa membayar utang puasanya tersebut kecuali pada bulan Syakban karena kesibukannya dengan Rasulullah Saw. Pembahasan lebih lanjut mengenai utang puasa ini, akan dibahas tentang apa saja yang menyebabkan orang berutang puasa, bagaimana cara mengqadanya, dan bagaimana cara membayar fidyahnya.

 

Sebab-Sebab Berutang Puasa

              Orang terkena utang puasa karena pada saat bulan Ramadhan ia tidak melaksanakan ibadah puasa dengan beberapa sebab. Di antara sebabnya adalah karena ia sakit, karena dalam perjalanan atau bepergian, karena hamil, karena menyusui, atau karena memang sudah tidak kuat berpuasa. Mereka itu diperbolehkan tidak berpuasa pada bulan Ramadhan karena kondisinya yang tidak sanggup berpuasa, sebagai gantinya mereka diwajibkan mengqada pada hari lain di luar Ramadhan jika nanti sudah bisa berpuasa, dan cukup membayar fidyah bagi yang akan tetap mengalami kesulitan atau keberatan berpuasa. Selain itu ada sebab seseorang tidak berpuasa Ramadhan karena memang tidak boleh berpuasa, yaitu saat seseorang sedang mengalami haid dan nifas.

 

              Beberapa dalil tentang orang-orang yang diperbolehkan tidak berpuasa Ramadhan di antaranya, Alquran surat Albaqarah ayat 185, Allah swt. berfirman:

 

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ


Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (QS. Albaqarah, 184).

Imam Al-Nawawi berkata: “Kaum muslimin sepakat bahwa wanita haid dan nifas tidak wajib shalat dan puasa dalam masa haid dan nifasnya” (al-Nawawi, Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, IV/26). Abu Sa’id Al-Khudri menerangkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda kepada para wanita yang mempertanyakan tentang maksud kurangnya agama mereka. Nabi saw. bersabda:

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا

“Bukankah wanita itu bila haid ia tidak shalat dan tidak puasa?” Para wanita menjawab, “Iya.” Rasulullah berkata, “Maka itulah dari kekurangan agamanya.” (HR. Al-Bukhari no. 304).

Cara Mengqada Puasa

Pertama, mengqada puasa Ramadhan sebaiknya disegerakan setelah Idul Fitri. Allah swt. berfirman:

أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al-Mu’minun: 61).

 

Kedua, mengqada puasa dianjurkan paling lambat atau paling akhir pada bulan Syakban, sebelum datangnya Ramadhan berikutnya. Dari Abu Salamah ra, ia mendengar Aisyah ra berkata:

كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ الشُّغُلُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَوْ بِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-

“Aku dahulu punya kewajiban puasa. Aku tidaklah bisa membayar utang puasa tersebut kecuali pada bulan Syakban karena kesibukan dengan Rasulullah Saw.                            (HR. al-Bukhari No. 1950 dan Muslim No. 2743).

Ketiga, apabila mengqada puasa melampaui Ramadhan berikutnya, ulama berbeda pendapat. Sebagian ulama berpendapat, bagi orang yang tidak bisa mengqada puasa kecuali setelah lewat Ramadhan berikutnya, maka ia harus memberi makan kepada orang miskin (fidyah), kecuali bila tertundanya itu dikarenakan sakit, safar, atau sebab lain yang menyebabkan ia tidak bisa berpuasa, maka ia hanya wajib qada saja. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibn Abbas ra dan Syekh Bin Baz (Bin Baz, Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, no. 15 hal. 347).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin menganggap bahwa memberi makan kepada orang miskin karena menunda qada puasa sampai Ramadhan berikutnya dapat diangggap sunnah dan tidak wajib. Dengan alasan bahwa pendapat tersebut hanyalah perkataan sahabat dan menyelisihi nash (dalil) yang menyatakan puasa hanya cukup diganti (diqada) dan tidak ada tambahan selain itu (al-Utsaimin, Syarh al-Mumti’, VI, 446-447).

Tim Tarjih PPM berpendapat, waktu untuk mengqada (membayar puasa) adalah pada hari-hari lain di luar bulan Ramadhan, dan berdasarkan keumuman ayat tersebut tidak ada batas akhir waktu kapan harus mengganti puasa (qada). Namun demikian baik sekali jika mengganti puasa dilaksanakan sebelum Ramadhan berikutnya. Jika ia tidak bisa mengqadanya sebelum Ramadhan berikutnya karena ada hal yang membuat terhalang, maka tetap harus diganti setelah Ramadhan berikutnya. Selain itu, orang yang telah lalai tersebut agar beristigfar, memohon ampun dan bertaubat untuk tidak mengulangi kelalaiannya dan tetap wajib membayar utang puasanya setelah Ramadhan berikutnya (Fatwa Tarjih, 2 Nopember 2010).

 

Keempat, apabila ia lupa atau ragu berapa hari utang puasanya, maka ia harus memilih yang lebih meyakinkan. Misalnya ia lupa apakah ia berutang puasa tujuh hari atau sepuluh hari. Dalam hal ini yang harus ia pilih adalah yang 10 hari karena demikian itu yang lebih meyakinkan. Pedoman ini berdasarkan sabda Nabi Saw. terkait orang yang lupa bilangan rakaat ketika shalat:

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلاَثًا أَمْ أَرْبَعًا فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ

“Apabila seseorang di antara kalian ragu dalam shalat, sehingga ia tidak tahu berapa rakaat ia shalat, apakah tiga atau empat rakaat, maka hendaknya dia buang keraguannya dan dia ambil yang lebih meyakinkan….” (HR. Muslim No.1300).

Kelima, apabila belum sempat mengqada utang puasanya lalu ia meninggal, maka tergantung penyebab tertundanya mengqada. Imam al-Nawawi berkata: “Barangsiapa masih memiliki utang puasa Ramadhan, ia belum sempat melunasinya lantas meninggal dunia, maka perlu dirinci. Jika ia menunda utang puasanya karena ada uzur lantas ia meninggal dunia sebelum memiliki kesempatan untuk melunasinya, maka ia tidak punya kewajiban apa-apa. Karena ini adalah kewajiban yang tidak ada kesempatan untuk melakukannya hingga meninggal dunia, maka kewajiban itu gugur sebagaimana dalam haji. Sedangkan jika uzurnya hilang dan masih memiliki kesempatan untuk melunasi namun tidak juga dilunasi hingga meninggal dunia, maka puasanya dilunasi dengan memberi makan kepada orang miskin, di mana satu hari tidak puasa memberi makan dengan satu mud” (al-Nawawi, Al-Majmu’, VI/367).

Tim Tarjih PPM berpendapat, berdasarkan beberapa hadis sahih, di antaranya hadis (مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ), Dari Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa meninggal dunia padahal ia berutang puasa, maka walinyalah yang berpuasa untuknya” (HR. al-Bukhari No. 1952, Muslim No.2748). Kemudian hadis dari Ibnu Abbas ra.  bahwa seorang wanita datang menghadap Rasulullah saw. lalu berkata: Ya Rasulullah, sungguh ibu saya telah meninggal, padahal ia punya kewajiban puasa satu bulan. Lalu Nabi bersabda: Bagaimana pendapatmu jika ibumu memiliki utang, apakah kamu akan membayarnya? Wanita itu menjawab: Ya. Lalu Nabi bersabda: Utang kepada Allah lebih berhak untuk dilaksanakan(فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ بِالْقَضَاءِ)”(HR. Muslim No. 2749), dan beberapa hadis lainnya, maka dapat diambil kesimpulan bahwa apabila seseorang berkewajiban puasa, kemudian ia meninggal dan belum sempat melaksanakannya, maka walinya dapat menggantikan puasanya itu. Yang dimaksud wali di sini bisa orangtuanya, anaknya, atau kerabatnya yang lain seperti saudara atau pamannya (SM, Tanya Jawab Agama, V/82).

Keenam, mengqada utang puasa boleh dilakukan dengan cara terpisah-pisah, tidak harus berturut-turut. Misalnya punya utang puasa 7 hari, bisa dilakukan pada pekan pertama puasa 2 hari, pekan kedua puasa 3 hari, dan pekan ketiga puasa 2 hari. Ibn Abbas berpendapat bahwa tidak mengapa mengqada puasanya dengan cara terpisah, sesuai dengan firman Allah Surat Albaqarah ayat 184: فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ, maka hendaknya mengganti puasanya sesuai jumlah hari puasa yang ditinggalkannya pada hari-hari yang lain (al-Asqalani, Fath al-Bari, VI/208).

Cara Membayar Fidyah

              Di atas telah dijelaskan tentang siapa saja yang boleh tidak berpuasa dan bagaimana cara mengqadanya. Mereka yang boleh tidak berpuasa dan harus mengqadanya pada hari yang lain adalah orang yang sedang sakit dan karena bepergian. Sedangkan lainnya yang boleh tidak berpuasa dan cukup menggantinya dengan membayar fidyah tanpa mengqada puasa adalah orang-orang yang sudah tidak kuat puasa. Dalam Alquran disebutkan: وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍ, Artinya: “… Dan wajib orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin…” (QS. Albaqarah, 184). 

              Yang dimaksud dengan orang-orang yang keberatan menjalankan puasa adalah orang-orang yang sudah sangat tua yang tidak sanggup berpuasa karena lemahnya (Ibn Katsir, Tafsir Ibn Katsir, I/268). Mereka ini boleh tidak berpuasa dan tidak perlu mengqadanya, tetapi harus membayuar fidyah. Termasuk dalam ketegori orang yang tidak kuat berpuasa adalah orang yang sedang hamil dan sedang menyusui.  Ibn Abbas berkata kepada jariyahnya yang hamil:

أَنْتِ بِمَنْزِلَةِ الَّذِي لَا يُطِيقُهُ فَعَلَيْكِ الْفِدَاءُ وَلَا قَضَاءَ عَلَيْكِ

Engkau termasuk orang yang keberatan berpuasa, maka engkau hanya wajib membayar fidyah, dan tidak perlu mengqada puasa (al-Syaukani, Nail al-Authar, IV/314, al-Mubarakfuri, Tuhfat al-Ahwadzi, III/331). Pandangan Ibn Abbas ra. ini relevan dengan sabda Nabi saw yang diriwayatkan Anas bin Malik ra. sebagai berikut:

 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ الصَّوْمَ، وَشَطْرَ الصَّلاَةِ، وَعَنِ الحَامِلِ أَوِ الْمُرْضِعِ الصَّوْمَ أَوِ الصِّيَامَ

Dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh Allah Yang Maha Tinggi telah membebaskan puasa dan separuh shalat bagi orang yang bepergian, serta membebaskan puasa dari orang yang hamil dan menyusui” (HR. al-Tirmidzi No. 715, al-Nasai No. 2275, Ibn Majah No. 1667, dll). Muhammad Nashiruddin al-Albani menilai hadis ini hasan sahih (al-Albani, Sahih Wa Daif Sunan Ibn Majah, IV/167).

 

Ulama, dalam hal ini berbeda pendapat tentang wanita hamil dan menyusui. Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa wanita hamil dan menyusui bila tidak berpuasa maka ia wajib mengqada pada hari lain, dan tidak wajib fidyah.  Ulama Syafiiyah dan Hanabilah berpendapat apabila yang dikhawatirkan anaknya saja, maka wanita hamil dan menyusui wajib membayar fidyah dan mengqada puasanya. Sedangkan ulama Malikiyah berpendapat hanya wanita menyusui yang harus membayar fidyah dan mengqada puasanya, tidak bagi wanita hamil (Wahbah al-Zuhaili, Tafsir al-Munir, I/140).

Tim Tarjih PPM berpendapat bahwa orang yang tidak sanggup berpuasa kecuali dengan sangat berat, seperti orang yang sudah sangat tua, orang yang sakit tidak ada harapan sembuh, wanita yang sedang hamil dan menyusui, maka Islam memberikan keringanan untuk tidak berpuasa dan menggantinya dengan memberikan makan kepada fakir miskin. Hal ini sesuai dengan isyarat QS. Albaqarah, 184. Lebih dari itu, banyak ulama yang berpendapat bahwa para pekerja berat yang “tidak memungkinkan berpuasa”, maka mereka ini bisa dimasukkan ke dalam isyarat ayat tersebut. Boleh tidak berpuasa, tetapi wajib membayar fidyah (SM, Tanya Jawan Agama, V/78).

 

Adapun cara membayar fidyah, maka boleh dibayar sekaligus, boleh diangsur beberapa kali, bahkan boleh pula dibayar setelah lewat bulan Ramadhan berikutnya. Allah berfirman:

 يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…(QS. Al-pBaqarah, 185).

Tentang banyaknya fidyah yang harus diberikan kepada orang miskin, tidak ada nas khusus yang menyatakannya. Masalah ini merupakan domain ijtihad, di antaranya bisa dengan mengukur kebiasaan sehari-harinya yang ia makan. Misalnya, bila ia makan sehari tiga kali dengan nilai 50 ribu rupiah, maka fidyah yang dikeluarkan kepada seorang miskin setiap harinya adalah 50 ribu rupiah. Namun bilamana ia mengeluarkan fidyah lebih dari kebiasaan sehari-harinya, itu lebih baik. Allah berfirman: “Barangsiapa yang dengan rela hati mengerjakan kebaikan, maka hal itu akan lebih baik baginya…”(QS. Albaqarah, 184).

Selanajutnya, fidyah bisa diberikan kepada satu orang miskin selama satu bulan atau diberikan kepada 30 orang miskin sekaligus dengan bahan makanan yang biasa dikonsumsi sehari-hari. Untuk kemudahan, boleh juga dibayarkan dengan uang yang senilai dengan harga makanan (Muammal Hamidi, Islam Dalam Kehidupan Sehari-hari, II/82).

Wallahu A’lam!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Minggu, 04 April 2021

VAKSINASI BAGIAN DARI TAKDIR

 

VAKSINASI BAGIAN DARI TAKDIR

 oleh


Dr.H.Achmad Zuhdi Dh, M.Fil I


Alhamdulillah, Senin 29 Maret 2021 lalu, saya bersama beberapa teman dari PWM Jawa Timur telah mendapatkan kesempatan untuk vaksinasi CoronaVac tahap kedua. Vaksinansi ini dilakukan sebagai bentuk ikhtiar merawat kesehatan dan bagian dari menjalani takdir untuk dapat menghindari virus atau penyakit yang bisa menyerang kapan saja dan kepada siapa saja.

            Dalam pandangan 'Ibn al-Qayyim, berobat untuk mendapatkan kesembuhan dari suatu penyakit adalah merupakan perintah Nabi Saw. Hal ini berdasarkan pada sejumlah hadis berikut ini:

1.      Muslim dalam Sahih-nya meriwayatkan hadis:

عَنْ جَابِرٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ »

Dari Jabir bin ‘Abdillah bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: “Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obatnya cocok dengan penyakitnya maka akan mendapatkan kesembuhan dengan izin Allah ‘Azza Wa Jalla.

2.      Dalam Kitab Sahih al-Bukhari dan Sunan 'Ibn Majah:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً »

Dari 'Abu Hurayrah ra, Nabi Saw bersabda: “Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali menurunkan pula obat untuk penyembuhannya”.

3.      Dalam Musnad al-'Imam 'Ahmad:

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ شَرِيكٍ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- وَأَصْحَابُهُ عِنْدَهُ كَأَنَّمَا عَلَى رُءُوسِهِمُ الطَّيْرُ - قَالَ - فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ وَقَعَدْتُ - قَالَ - فَجَاءَتِ الأَعْرَابُ فَسَأَلُوهُ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَتَدَاوَى قَالَ « نَعَمْ تَدَاوَوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ دَوَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ الْهَرَمُ »

              Dari Usamah b. Sharik, ia berkata: “Aku mendatangi Nabi Saw, saat itu para sahabat berada di sisi beliau seakan-akan burung di atas kepala mereka”. Ia (Usamah) berkata: “Kemudian aku menyampaikan salam kepada beliau lalu duduk. Setelah itu datanglah orang-orang Badui lalu bertanya kepada beliau: Ya Rasulallah! Apakah kami harus berobat? Nabi Saw menjawab: Ya! Berobatlah kalian! Karena sesungguhnya Allah tidak meletakkan suatu penyakit kecuali meletakkan juga obatnya, kecuali satu penyakit yaitu ketuaan”.

4.      Dalam hadis lain riwayat 'Ahmad dari ‘Abdullah b. Mas’ud ra, disebutkan:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ دَاءً، إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ دَوَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ، وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ.

Rasulullah Saw bersabda: “Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali menurunkan juga obat penyembuhnya. Orang yang berilmu mengetahuinya dan yang tidak berilmu tidak megetahuinya”.

 

5.      Dalam hadis riwayat al-Tirmidhi disebutkan:

عَنْ أَبِى خُزَامَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ رُقًى نَسْتَرْقِيهَا وَدَوَاءً نَتَدَاوَى بِهِ وَتُقَاةً نَتَّقِيهَا هَلْ تَرُدُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ شَيْئًا قَالَ « هِىَ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ »

Dari 'Abu Khuzamah dari bapaknya, katanya: “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw: “Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapatmu tentang ruqyah yang kami lakukan, pengobatan yang kami lakukan dan penangkal yang kami terapkan? Apakah yang demikian ini menolak takdir Allah? Nabi Saw menjawab: “Itu semua termasuk takdir Allah!”.

Berdasarkan beberapa hadis tersebut di atas, 'Ibn al-Qayyim berpendapat bahwa berobat itu diperintahkan. Berobat tidak menafikan tawakkal. Hal ini sama halnya dengan orang yang lapar atau haus lalu berusaha menghilangkannya dengan makan dan minum. Yang demikian ini tidak menafikan tawakkal. Menurut 'Ibn al-Qayyim, jika tidak memenuhi tuntutan musababnya, seperti tidak mau berobat dan tidak mau makan dan minum padahal sangat membutuhkannya, hal itu malah menunjukkan ketidak-sempurnaan tauhidnya, karena dianggap tidak memenuhi perintah Allah. Menghentikan usaha berobat, sama halnya dengan menafikan tawakkal itu sendiri. Karena dengan tidak berobat, berarti menghentikan hakikat ketergantungannya kepada Allah yang telah memberitahu apa yang dapat bermanfaat dan apa yang dapat membawa bahaya, baik dalam agamanya maupun dunianya. Dengan ketergantungan ini maka harus dijalani sebab-sebab. Jika tidak, berarti menghentikan hikmah dan syarak. Karena itu, kata 'Ibn al-Qayyim, janganlah seorang hamba menjadikan kelemahannya sebagai tawakkal dan jangan pula menjadikan tawakkalnya sebagai kelemahan.

Menurut 'Ibn al-Qayyim, hadis-hadis tersebut juga mengandung penolakan terhadap orang yang mengingkari pengobatan yang mengatakan bahwa jika kesembuhan sudah ditakdirkan maka pengobatan tidak diperlukan. Demikian juga jika belum ditakdirkan sembuh maka pengobatan juga tidak ada manfaatnya. Orang yang mengingkari pengobatan juga berdalih bahwa terjadinya suatu penyakit itu karena takdir Allah, sedangkan taqdir Allah itu tidak dapat ditolak.

Persoalan ini pernah dikemukakan oleh orang-orang Badui kepada Rasulullah Saw yang menyangsikan tentang bolehnya berobat. Orang-orang Badui pernah mempertanyakan: “Ya Rasulallah! Apakah kami harus berobat? Nabi Saw menjawab: Ya! Berobatlah kalian! Karena sesungguhnya Allah tidak meletakkan suatu penyakit kecuali meletakkan juga obatnya, kecuali satu penyakit yaitu ketuaan”. Adapun para sahabat yang utama, mereka sudah sangat faham dengan ajaran Allah, hikmah dan sifatNya, sehingga mereka tidak perlu mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah Saw seperti yang pernah diajukan oleh orang-orang Badui.

'Ibn al-Qayyim mengatakan bahwasanya Nabi saw telah menegaskan tentang bolehnya berobat untuk mendapatkan kesembuhan. Nabi Saw bersabda bahwasanya usaha penyembuhan dengan berobat, melakukan ruqyah dan membuat penangkalnya adalah termasuk takdir Allah, sehingga tidak ada sesuatu yang keluar dari takdir Allah. Bahkan takdir Allah dapat ditolak dengan takdirNya yang lain. Penolakan terhadap takdir yang lain ini sesungguhnya merupakan takdir Allah juga. Karena itu tidak ada jalan keluar dari takdirNya dengan cara apa pun.  

Mengenai maksud sabda Nabi Saw bahwa Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya, kemudian orang yang berhasil mendapatkan kesembuhan adalah orang yang telah mendapatkan obat yang cocok dengan penyakitnya, dan hanya orang yang berilmu saja yang akan mengetahui obat yang cocok dengan penyakitnya, 'Ibn al-Qayyim memberikan ilustrasi dengan menyebutkan athar Isra’il sebagai berikut:

أَنّ إبْرَاهِيمَ الْخَلِيلَ قَالَ يَا رَبّ مِمّنْ الدّاءُ ؟ قَالَ " مِنّي " . قَالَ فَمِمّنْ الدّوَاءُ " ؟ قَالَ " مِنّي". قَالَ فَمَا بَالُ الطّبِيبِ ؟. قَالَ "رَجُلٌ أُرْسِلُ الدّوَاءَ عَلَى يَدَيْهِ"

Bahwasanya 'Ibrahim al-Khalil berkata: “Wahai Tuhanku, dari siapa datangnya penyakit itu?”. Tuhan menjawab: “Penyakit itu datangnya dariKu!”. 'Ibrahim bertanya lagi: “Dari mana asal obat itu?”.  Tuhan menjawab: “Obat itu asalnya dariKu!”. 'Ibrahim bertanya lagi: “Kalau bagitu apa peranan dokter?”. Tuhan menjawab: “Dokter itu adalah orang yang Aku kirimkan obat di tangannya!”.

Melalui ilustrasi 'athar dari 'Ibrahim al-Khalil itu, 'Ibn al-Qayyim menjelaskan bahwa sesungguhnya berobat kepada dokter untuk mendapatkan kesembuhan itu diperintahkan. Dokter adalah orang yang diberi ilmu oleh Allah untuk mengetahui obat yang cocok terhadap suatu penyakit. Karena itu jika ada orang yang berobat kepada dokter kemudian mendapatkan kesembuan, hakikatnya ia telah mendapatkan kesembuhan dari Allah melalui tangan dokter yang telah diberitahu oleh Allah Swt. Hal ini sangat sesuai dengan perkataan Nabi Saw bahwasanya kalau sudah terjadi kecocokan antara penyakit dengan obatnya, pasti akan memperoleh kesembuhan dengan izin Allah Swt.

Menurut 'Ibn al-Qayyim, mengenai hikmah adanya hadis Nabi Saw bahwa setiap penyakit itu ada obatnya, maka dengan sabda Nabi Saw ini dapat memberikan kekuatan mental bagi orang yang sakit dan mendorong bagi dokter untuk mencari obat dan memeriksanya. Sabab, kata 'Ibn al-Qayyim, apabila orang yang sakit menyadari bahwa  bagi setiap penyakit ada obat yang dapat menyembuhkannya, maka ia akan mempunyai harapan untuk sembuh. Dengan demikiaan, hatinya menjadi tenang. Apabila jiwanya kuat dan hatinya tenang maka dapat membantu untuk mengusir penyakit dan menolaknya. Demikian juga dokter apabila mengetahui bahwa setiap penyakit itu ada obatnya, maka ia akan berusaha untuk mencari obatnya dan memeriksa penyakitnya (Ibn al-Qayyim, al-Thibb al-Nabawi, Zad al-Ma’ad; al-Jurjani, Mukhtashar al-Ruqyah al-Syar’iyah; al-Munawi, Faidh al-Qadir; Kutub al-Tis’ah).

(Sumber: Buku Dr.H.Achmad Zuhdi Dh, M.Fil I, Terapi Qur’ani, hal. 167-174)