Kamis, 16 November 2017

HUKUM MENGIDOLAKAN BINTANG KOREA

HUKUM MENGIDOLAKAN BINTANG KOREA

Oleh


Dr.H.Achmad Zuhdi Dh, M.Fil I


Pertanyaan:
Assalamu'alaikum wr.wb!
Ustadz Zuhdi (UZ) yang dirahmati Allah!
Saya siswa sekolah menengah pertama, dan alhamdulillah sekarang sudah duduk di kelas 8. Akhir-akhir ini, banyak di kalangan remaja yang gemar dengan bintang korea. Mereka mengidolakan pemeran film/drama, penyanyi band dari negara tersebut. Bagaimana Islam memandang idola? Apa yang harusnya dilakukan para remaja sekarang agar tidak terjebak pada pengidolaan yang berlebihan? Terima kasih, ustadz !
Jawaban:
Wa’alaikumussalam wr. Wb!
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut perlu difahami dulu apa itu idola dan apa yang dimaksud dengan mengidolakan. Idola artinya orang, gambar, patung, dan sebagainya yang menjadi pujaan. Dengan demikian maka mengidolakan berarti menjadikan sesuatu sebagai idola (https://kbbi.web.id/idola). Idola juga berarti sesuatu yang dibanggakan, dipuja dan kemudian ingin ditirunya.
            Jika idola itu berupa orang, maka idola adalah seorang tokoh yang menjadi pusat perhatian dikarenakan kelebihan yang dimilikinya. Kelebihan bisa berupa prestasi di bidang olah raga, seni, pendidikan, dan lain-lain. Misalnya ada seorang siswa yang memiliki IP(indeks prestasi) tertinggi di sekolahnya, maka ia bisa menjadi idola bagi teman sekelas dan juga adik-adik kelasnya. Ketika ada anak negeri ini berhasil menjuarai bulu tangkis tingkat dunia, maka ia bisa menjadi idola banyak remaja se negaranya. Atau seorang bintang film terkenal, baik karena kecantikan atau karena ketampanannya, biasanya juga menjadi idola banyak orang. Ketika seseorang menjadi idola, maka ia akan menjadi pusat perhatian banyak orang, dan apa saja yang dilakukannya akan menarik perhatian dan kemudian ditirunya. Selanjutnya banyak orang yang ingin bertemu, minta tanda tangan, dan bahkan ingin meraih kesuksesan seperti tokoh yang diidolakannya itu. Ambil contoh  dengan kepopuleran bintang korea yang sering menghiasi layar kaca tv di Indonesia, yang banyak menyedot perhatian para remaja Indonesia untuk menjadikannya sebagai idola. Bintang korea terkenal semisal Kim Tae Hee dan Joo Won yang pernah membintangi film tv serial Yong Pal (18 episode) dua tahun lalu (2015), masing-masing telah meraih sukses luar biasa dengan mendapatkan bayaran per episode 40 juta won atau sekitar hampir setengah milyar per episode-nya. Berita terkini, untuk artis termahal Korea dipegang oleh Kim Soo Hyun yang berhasil meraup bayaran 9,8 milyar rupiah sekali tampil dalam suatu acara tv di China. Sukses luar biasa yang telah dicapai para bintang tersebut menjadikan banyak remaja, termasuk remaja Indonesia sangat nge-fans dan mengidolakannya.
            Permasalahannya, bolehkah mengidolakan bintang Korea, yang konon mereka umumnya tidak beragama Islam?
            Dalam Islam, orang yang paling layak untuk dijadikan idola hanyalah Muhammad, Nabi dan Rasul Allah. Beliau layak karena memiliki kesempurnaan dan keagungan akhlak. Allah Swt berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21).
 Tentang keagungan akhlak Rasulullah, dapat diketahui berdasarkan  riwayat sebuah hadis bahwasanya “Sa’ad bin Hisyam bin Amir berkata: “Aku pernah mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha, lalu aku bertanya: “ Wahai Ummul Mukminin, beritahukanlah kepadaku tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”, beliau menjawab: “Akhlak beliau adalah Al Quran, apakah kamu tidak membaca Al Quran, Firman Allah Azza wa Jalla: (وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ) dan sesungguhnya engkau di atas budi pekerti yang agung.” (HR. Ahmad, No. 24645, dishahihkan oleh Syu’ayb al-Arnout dalam Musnad Ahmad, VI/91).
            Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan tentang makna berakhlak dengan al-Quran, yaitu beliau senantiasa beradab dan berakhlak dengan al-Quran, apa yang dipuji al-Quran maka di dalamnya terdapat kerelaan beliau dan apa saja yang dicela al-Quran maka di dalamnya terdepat kemurkaan beliau.” (Ibn Rajab, Jami’ Al-Ulum Wa Al-Hikam, XVIII/14).
            Dengan demikian, akhlak beliau adalah sejalan denga isi al-Qur’an. Karena itu, jika kita ingin meneladani beliau, caranya dengan mempelajari isi al-Qur’an dan berusaha mengamalkan dengan sebaik-baiknya.
            Apa untungnya mencintai, mengagumi, dan mengidolakan Nabi Saw?
            Sebuah hadis meriwayatkan bahwa seseorang yang benar-benar mengidolakan dan mencintai Rasulullah Saw akan mendapatkan jaminan bisa bersama Rasulullah kelak di surga. Berikut ini hadisnya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita: “Pernah seorang lelaki datang menenmui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu dia bertanya: “Wahai Rasulullah, kapan hari kiamat?”, beliau bersabda: “Apa yang kamu telah persiapkan untuk menyongsong hari kiamat”? Orang tersebut menjawab: “Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya”; Beliau bersabda: “Sesungguhnya kamu akan bersama orang yang engkau cintai”(فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ). Anas berkata: “Kami tidak pernah bergembira setelah masuk Islam melebihi gembiranya disebabkan sabda nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya kamu bersama yang engkau cintai”. Maka aku mencintai Allah dan Rasul-Nya, juga mencintai Abu Bakar dan Umar, dan aku berharap bisa bersama mereka (di surga) meskipun aku tidak beramal seperti amalan mereka”. (HR. Muslim).
Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa sabda beliau “Seseorang bersama yang dia cintai”, maksudnya adalah dia akan dikumpulkan bersama orang yang dia cintai. Allah berfirman: “Barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka akan bersama orang-orang yang dianugerahkan oleh Allah nikmat atas mereka”, dan secara lahir hadits, mencakup keumuman baik untuk mencintai orang shalih atau orang yang tidak shalih, dan yang menguatkan pendapat ini adalah hadits yang berbunyi: “Seseorang sesuai dengan agama temannya”, sebagaimana yang sudah disebutkan. Maka di dalam hadits ini, terdapat motivasi (untuk berteman dengan orang shalih-pent) dan peringatan keras (untuk tidak berteman dengan orang tidak shalih-pent), di dalam hadits ini terdapat janji yang baik (bagi yang berteman dengan orang shalih-pent) dan ancaman siksa (bagi yang berteman dengan orang tidak shalih-pent).” (al-Mubarakfuri, Tuhfat Al Ahwadzi, VII/51).
Atas dasar keterangan tersebut maka mengidolakan seseorang bisa membawanya pada kehidupan di akhirat. Jika yang menjadi idolanya itu orang-orang yang baik dan shalih, insya Allah akan membawanya hidup di akhirat dalam kelompok orang-orang shalih yang ahli surga. Sebaliknya, jika yang menjadi idola itu orang-orang yang berperangai atau berakhlak buruk kemudian diikuti perangai buruknya itu, maka akan membawanya pada kelompok orang-orang buruk yang ahli neraka.
Bagaimana dengan mengidolakan bintang Korea?
Bila mengidolakan bintang korea sampai pada mengikuti akhlaknya yang tidak sesuai dengan norma Islam, misalnya ikut suka bergaul bebas tanpa batas, cara berpakaian yang tembus pandang atau ketat sehingga tampak lekuk-lekuk bagian tubuhnya atau bahkan banyak bagian tubuhnya yang terbuka, maka yang demikian ini diharamkan atau tidak diperbolehkan. Tetapi, jika pengidolaannya lebih kepada simpati karena kegigihan dalam berusaha, keseriusannya dalam meniti karir, cara aktingnya yang begitu total, dan hal-hal lain yang sifatnya mubah dan positif, maka mengidolakan yang demikian ini boleh-boleh saja.
Wallahu A’lam!