Minggu, 25 Januari 2015

BERBAGI BAHAGIA

Oleh


DR.H. Achmad Zuhdi Dh, M.Fil I


قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ
 وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Katakanlah, "Sungguh, Tuhanku melapangkan rizki dan membatasi (menyempitkannya) bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rizki yang terbaik (QS. Saba, 39).


Alkisah, seorang pemuda berangkat kerja dipagi hari… Memanggil taksi, dan naik…  Selamat pagi Pak,…katanya menyapa sang sopir taksi terlebih dulu… “Pagi ini sangat cerah, ya Pak?” Sambungnya sambil tersenyum,… lalu bersenandung kecil…Sang sopir tersenyum melihat keceriaan penumpangnya. Dengan senang hati, ia pun melajukan taksinya… Sesampainya di tempat tujuan, pemuda itu membayar dengan selembar 100 ribuan, untuk argo yg hampir 75 ribu…
Kembaliannya buat bapak saja…selamat bekerja Pak...kata pemuda dengan senyum. “Terima kasih…” Jawab Pak sopir taksi dengan penuh syukur…senang dan bahagia...
‘Wah.. aku bisa sarapan dulu nih… Pikir sopir taksi itu… Dan ia pun menuju ke sebuah warung langganannya.  “Biasa Pak, nasinya?”  Tanya si penjual nasi itu.
“Iya biasa, ....Tapi, untuk pagi ini tambahkan sepotong ayam...”, jawab Pak sopir dengan tersenyum bahagia.
Dan, ketika membayar nasi, ditambahkannya lima ribu rupiah.  “Buat jajan anaknya ya bu?” ... kata sang sopir yang juga ingin  berbagi bahagia.
Dengan uang jajan lima ribu (yang biasanya hanya dua ribu), pagi itu, anak si penjual nasi berangkat ke sekolah dengan senyum lebar karena senang dan bahagianya.
Saat jam istirahat sekolah, tidak seperti biasanya, anak tadi tidak hanya membeli sepotong roti untuk dirinya,  namun ia mengajak temannya yang kebetulan tidak membawa bekal, lalu membeli dua buah roti untuk dia dan temannya itu......Ia rupanya juga ingin berbagi bahagia dengan temannya......... “Terima kasih mas, jajannya”, kata temannya yang hari itu tidak terbayangkan dapat jajan...
Begitulah…cerita bisa berlanjut.. Bergulir… .seperti bola salju…Pak sopir bisa lebih bahagia hari itu… Begitu juga keluarga si penjual nasi Teman-teman si anak…keluarga mereke…Semua tertular kebahagiaan…
(diadaptasi dari “http//isal.wordpress.com” dengan ditambah dan dikurangi seperlunya).

            Berbagai bahagia, bisa berupa memberikan sejumlah nasi bungkus kepada warga miskin. Memberikan bantuan uang SPP bagi anak sekolah yang tidak mampu. Membantu mencarikan pekerjaan kepada orang yang masih menganggur. Mencarikan jodoh bagi yang belum mendapatkannya. Sekedar membantu memberikan nasihat dan solusi bagi orang yang menghadapi suatu masalah, dan masih banyak lagi cara lain dalam berbagi bahagia, membuat orang lain merasa senang dan bahagia.
            Berbahagialah, orang-orang seperti kita yang setiap harinya sanggup berbagi bahagia. Dalam sebuah hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim disebutkan:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا »
(رواه البخارى ومسلم)
Dari  Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang hamba memasuki waktu pagi pada setiap harinya, kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satunya memohon: 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi dermawan yang menyedekahkan hartanya.' Dan satu lagi memohon: 'Ya Allah, musnahkanlah harta si bakhil.(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

            Hadis tersebut seharusnya dapat memotivasi kita agar gemar bersedekah, berbagi bahagia setiap hari. Menurut hadis tersebut, orang yang gemar berbagi, bersedekah setiap hari, malaikat selalu mendoakan kepadanya agar uang atau harta yang disedekahkannya diganti oleh Allah (doa malaikat: 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi dermawan yang menyedekahkan hartanya'). Sebaliknya, hadis tersebut mestinya dapat menyadarkan kita agar tidak lagi bakhil, merasa eman dan enggan bersedekah. Karena, jika kita bakhil, tidak mau berbagi, enggan bersedekah, maka akan terkena doa malaikat yang dapat memusnahkan harta kekayaan kita (doa malaikat: 'Ya Allah, musnahkanlah harta si bakhil). Na’udzu billah min dzalik. !
            Bersedekah, berbagi bahagia, selain sedekahnya akan diganti oleh Allah, dan bisa jadi akan ditambah dan dilipat-gandakan, bersedekah juga bisa menjadi wasilah untuk mendapatkan berbagai kemudahan. Hal-hal yang tadinya sulit diperoleh, sulit dicarikan solusinya, dalam banyak kasus, lantaran bersedekah, semuanya menjadi mudah. Misalnya kesulitan dalam memperoleh kesembuhan dari penyakit yang dideritanya, karena bersedekah dengan ikhlas, Allah pun kemudian memberikan obat yang dapat menyembuhkannya.
Ada seorang wanita Saudi Arabia bernama 'Abiir (28 tahun) yang sedang dilanda penyakit kanker. Ia adalah seorang wanita yang kaya raya, sangat cantik jelita dan mengagumkan, bahkan mungkin tidak berlebihan jika dikatakan, kecantikannya merupakan tanda kebesaran Allah. Setiap lelaki yang di sekitarnya berangan-angan untuk memperistrikannya atau menjadikannya sebagai menantu putra-putranya. Hal ini dapat difahami dari pembicaraan 'Abiir tatkala bercerita tentang dirinya dalam acara Radio Qur'an Saudi "Buyuut Muthma'innah" pada tahun 2011. 
Abiir adalah seorang ibu yang memiliki seorang putri yang berumur 9 tahun bernama Maya. Sakit yang diderita sangatlah berat, bahkan sampai-sampai ia menangis akibat keluhan rasa sakit dan kepayahan yang dirasakan. Karena banyak mengonsumsi obat-obat kimia, rambutnya yang indah mulai berguguran.
            Pada suatu malam, datanglah putrinya (Maya) duduk di samping sang bunda. Maya membawa sedikit manisan (kue) untuk diberikan kepada bunda. Maya bertanya: "Bunda…engkau dalam keadaan baik..?". Ibu menjawab, "Iya". Lalu Maya memegang uraian rambut sang bunda, …ternyata uraian rambut itupun berguguran di tangan Maya. Lalu bunda berkata kepada sang putri, "Bagaimana menurutmu dengan kondisiku ini wahai Maya..?". Maya kemudian tak sanggup menahan tangisnya.  Sang bunda pun menangis melihatnya, lalu memeluknya. 
Suatu hari, sang bunda tidak sanggup menerima penderitaannya, akhirnya ia mencukur seluruh rambutnya. Melihat sang bunda menggundul rambutnya, Maya  mengeluhkannya, dan menyayangkannya. Ia berkata, "Mama..kenapa engkau melakukan ini? Apakah engkau lupa bahwa aku telah berdoa kepada Allah agar menyembuhkanmu, dan agar rambutmu tidak berguguran lagi? Maya terus berusaha untuk berdoa agar Allah menyembuhkan sang bunda, dalam setiap kesempatan. Maya kemudian bercerita kepada bunda bahwa dirinya  sudah sebulan tidak membeli sarapan pagi di sekolah dengan uang jajannya. Ia selalu menyedekahkan uang jajannya untuk para pembantu yang miskin di sekolah, dan ia meminta kepada mereka untuk mendoakan sang bunda. Mendengar tuturan sang putri, Abiir (sang bunda) pun tidak kuasa menahan air matanya, ia pun kemudian memeluknya sambil menangis…". Maya kembali berdoa untuk kesembuhan sang bunda.
Sebulan kemudian, Abiir kembali periksa ke rumah sakit. Setelah diperiksa, para dokter mengabarkan kepadanya bahwa mulai saat ini ia sudah tidak membutuhkan lagi obat-obatan kimia. Kondisi kesehatannya telah semakin membaik. Abiir pun menangis karena saking gembiranya mendengar berita itu. Para dokter sempat marah kepadanya karena telah mencukur rambutnya, dan mengingatkannya agar ia tetap kuat dan beriman kepada Allah serta yakin bahwasanya kesembuhan ada di tangan Allah.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, semua bergembira dan bahagia, demikian pula dengan sang putri, Maya, yang tertawa bahagia melihat kebahagiaan dan kegembiraan sang bunda. Saat itu Maya berkata kepada sang bunda: "Mama…dokter itu tidak ngerti apa-apa, Robku (Allah) yang mengetahui segala-galanya". Sang bunda bertanya, "Apa maksudmu, Maya?".  Maya berkata, "Aku mendengar papa berbicara dengan sahabatnya di HP, papa berkata padanya bahwasanya keuntungan toko bulan ini seluruhnya ia berikan kepada yayasan sosial panti asuhan agar Allah menyembuhkan bunda". Mendengar tuturan Maya, sang bunda pun terharu, menangis karena sikap keluarga, baik suami maupun anak yang begitu perhatian, demi kesembuhannya.
Sekedar untuk diketahui, keuntungan tokonya dalam sebulan tidak kurang dari 200 ribu real (sekitar 500 juta rupiah), dan terkadang lebih dari itu.                       ( www.firanda.com).

Begitulah dahsyatnya doa yang didukung dengan bersedekah. Dengan doa yang terus-menerus dan sedekah yang tak tanggung-tanggung (200 ribu real atau 500 juta rupiah), penyakit kanker yang diderita oleh Abiir, disembuhkan oleh Allah Swt.
Allah telah berjanji dalam firman-Nya:
وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rizki yang terbaik (QS. Saba, 39).

Allah telah membuktikan janji-Nya. Maya yang selalu berdoa dan bersedekah berhari-hari dengan uang jajannya demi kesembuhan sang bunda, dan suami yang selalu berdoa serta mohon doa dari berbagai pihak dengan didukung sedekah sebanyak setengah milyar rupiah dari keuntungan tokonya selama sebulan demi kesembuhan sang isteri, maka Allah menggantinya dengan rizki berupa kesembuhan sang bunda. Memang benar, Allah adalah sebaik-baik pemberi rizki. Allah adalah yang paling tahu apa yang lebih dibutuhkan oleh hamba-Nya.
والله اعلم بالصواب