Kamis, 30 Oktober 2014

SUWUK, RUQYAH DAN SAINS MODERN[1]

Oleh


DR.H.Achmad Zuhdi Dh, M.Fil I[2]


Abstrak
Salah satu budaya Jawa yang hingga kini masih eksis adalah suwuk. Suwuk adalah upaya alternatif penyembuhan suatu penyakit dengan cara membacakan sesuatu, terkadang dihadapkan dengan segelas air, kemudian ditiup lalu diminumkan kepada pasien dengan maksud untuk mendapatkan kesembuhan. Tradisi ini sudah berabad-abad berlangsung di tanah Jawa. Konon, walisanga sebagai juru dakwah di tanah Jawa juga dibekali dengan keahlian suwuk  ini.
Setelah dicermati dari teknik dan pola-pola penyembuhan yang dilakukan, ternyata budaya suwuk ini banyak miripnya dengan ruqyah, sebuah  tradisi penyembuhan yang sudah ada sejak pra Islam, namun setelah kedatangan Islam, ruqyah kemudian diislamisasi sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dan al-Sunnah, sehingga menjadi ruqyah syar’i>yah  atau ruqyah ila>hiyah.
Pada masa lalu hingga akhir abad 20 M, umat Islam Jawa-Indonesia terutama kalangan muslim puritan memandang budaya suwuk ini mengandung unsur syirik, karena menjadikan air (meyakininya) sebagai media utama untuk memperoleh kesembuhan. Namun, setelah ditemukan teori-teori sains modern terkait dengan keajaiban air dan peran sugesti dalam penyembuhan suatu penyakit, mereka berangsur-angsur bisa menerimanya. Mereka bisa menerima model terapi suwuk ini setelah diketahuinya relevan dengan budaya terapi ruqyah yang sesuai al-Qur’an dan al-Sunnah. Karena itu, mereka lebih suka menyebutnya ruqyah. Sementara kalangan muslim tradisional masih merasa akrab dengan sebutan suwuk.
Kata kunci: Suwuk, Ruqyah, dan Sains Modern
Suwuk
 Dalam literatur Jawa, suwuk adalah japa-mantra sing disêbulake ing êmbun-êmbunan (tulak lêlara lsp) [3], yakni bacaan-bacaan tertentu (mantra) yang ditiupkan pada ubun-ubun pasien dengan maksud untuk menghilangkan penyakit dan lain-lain. Eddy Sugianto,[4] dalam tulisannya The Power of Suwuk  mengatakan bahwa suwuk adalah suatu penyembuhan alternatif  dengan cara seseorang membacakan suatu mantra[5] pada segelas air dan selanjutnya diminumkan kepada pasien. Di kalangan masyarakat Jawa, suwuk dipandang sebagai suatu cara melakukan terapi atau penyembuhan alternatif dari seseorang yang memiliki kemampuan atau keahlian dalam hal penyembuhan dengan cara membacakan suatu mantra pada media air yang kemudian diminumkan kepada pasien atau kepada orang yang sedang menderita sakit. Dalam praktiknya, media yang digunakan dalam terapi suwuk ini, selain menggunakan air putih terkadang juga menggunakan ludah dari penyuwuk untuk disemburkan.
Dalam bingkai budaya, tradisi suwuk sudah dilakukan secara turun temurun dalam berbagai tradisi budaya khususnya pada masyarakat Jawa, di mana proses pengobatan dilakukan dengan membacakan mantra-mantra dari seseorang yang dianggap ahli, dukun atau tabib melalui media air yang kemudian air tersebut diberikan kepada orang yang sedang sakit, baik dengan cara diminumkan, digunakan untuk mandi maupun sekedar dibasuhkan dan dipercikkan. Hingga saat ini  tradisi suwuk ini masih bertahan dan masih bisa ditemui dalam berbagai ritual penyembuhan dan terapi alternatif.[6]
            Praktik menyuwuk biasanya menggunakan media air putih. Dalam hal ini, air zam-zam dianggap sebagai air yang paling baik untuk digunakan suwuk, karena diyakini banyak berkahnya. Kalau air zam-zam tidak ditemukan, bisa juga menggunakan air hujan, air sumur di sekitar makam wali, atau air sumur di sekitar makam Sunan Ampel[7] Surabaya. Kalau semua itu juga sulit diperoleh, maka setiap air putih juga bisa dipakai, bahkan termasuk air mineral dalam kemasan pun bisa digunakan. Caranya, wadah air dibuka tutupnya dan diletakkan di depan penyuwuk, kemudian dibacakan mantra atau doa-doa tertentu lalu ditiupkan kepadanya[8].

            Jika penyuwuknya berlatar belakang Islam Abangan[9], maka mantra atau doa yang dibacakan biasanya menggunakan bahasa Jawa kuno disertai simbol-simbol kepercayaan pra Islam, dan terkadang dicampur dengan bahasa Arab. Dalam hal ini, umumnya mereka berpedoman kepada Kitab Primbon. Dalam buku Primbon Betal Jemur Adammakna diajarkan bahwa ketika seseorang sakit cacar (cangkrangen), maka cara menyembuhkan atau mengobatinya adalah dengan mengunyah-ngunyah brambang  dan kunci  kemudian disemburkan (di-suwuk-kan) ke matanya yang sakit setiap pagi, tapi kunyahan yang disemburkan ke matanya hanya udaranya (hawanya) saja sehingga tidak sampai mengenai matanya. Adapun doa atau mantranya adalah sebagai berikut:
            Bismilla>hirrahma>nirrahi>m, kanjul ngaras, kanjul ngalam, Bagus karang aja perak-perak marang aku, pan aku anak putune Sayid Pangeran. Bujang Galiman aja uruk sudi gawe marang aku, pan aku anak putune Bagus Karang. Loncang-Lancing Nyai Rara Kidul aweh gabag cacar plenting 10,9,8,7.6.5.4.3.2.1 siji bae trima, trima saking kersaning Allah.[10]
Namun jika yang menjadi penyuwuknya itu seorang kyai atau ustad yang memahami al-Qur’an dan al-Sunnah maka mantra atau doa yang dibacakan adalah surah a-Fa>tih}ah atau ayat-ayat al-Qur’an lainnya dan doa-doa yang ma’thu>r dari Nabi Saw. Secara umum, doa yang biasa dibacakan kepada orang yang sedang sakit, selain surat al-Fatihah adalah doa yang diajarkan oleh Nabi Saw: “Alla>humma rabba al-na>s mudhhiba al-ba’s ishfi anta al-Sha>fi> la> sha>fiya illa> anta shifa>’an la> yugha>diru saqaman” (Ya Allah, Tuhan Pencipta Alam dan Pemelihara Manusia, hilangkanlah penyakit, sembuhkanlah dia. Engkaulah yang menyembuhkan. Tiada kesembuhan kecuali kesembuhan dari Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (HR. al-Bukha>ri> No. 5410)[11]
             Secara historis, budaya suwuk tidak lahir begitu saja di Indonesia. Ketika zaman Walisongo, salah seorang anggotanya, Maulana Ishaq yang berasal dari Samarkand, Rusia selatan ini adalah seorang ahli pengobatan. Salah satu metode pengobatan yang dilakukan Maulana Ishaq adalah dengan suwuk. Metode ini menjadi salah satu alternatif dakwah Maulana Ishaq dengan cara memberikan pengobatan secara gratis kepada warga di setiap daerah yang dilewatinya. Suatu saat Maulana Ishaq dipanggil oleh seorang raja di Blambangan-Jawa Timur yang anaknya sakit keras. Atas izin Allah, pengobatan yang dilakukan Maulana Ishaq ini berhasil menyembuhkan. Suwuk biasanya dilakukan oleh para kiai yang wira’i, zuhud atau mereka yang mendalami ilmu ketabiban. Hampir semua kiai tempo dulu membekali dirinya dengan ilmu suwuk ini. Biasanya para kiai yang memberikan pengobatan model ini menyertakan pesan:”Jangan lupa minta kesembuhan kepada Allah SWT, karena yang punya kesehatan dan sakit itu hanyalah Allah. Manusia hanya ikhtiar dan obat hanyalah perantara, sedangkan Allahlah yang menentukannya.[12] Dewasa ini, suwuk yang telah mendarah daging dan turun-temurun itu masih bertahan dan diamalkan oleh sebagian masyarakat kita khususnya di Jawa, namun di kalangan masyarakat muslim tertentu, istilah suwuk kini mulai populer dengan istilah ruqyah, terutama di kalangan ahl al-sunnah. Hal ini berkenaan dengan banyaknya literatur Islam dari Timur Tengah yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Sunnah yang membanjiri masyarakat muslim Indonesia.
Ruqyah
Kata ruqyah  berasal dari bahasa Arab raqa>, raqyan, ruqiyyan wa ruqyatan (رقى رَقيا رُقياّ ورقية ).[13]  Ahmad Warson Munawwir, dalam Kamus Arab-Indonesia  menerjemahkannya dengan mantra.[14] Hans Wehr, dalam A Dictionary of Modern Written Arabic, menulis bahwa ruqyah pl.ruqan berarti spell.[15] Sedangkan John M.Echols dan Hassan Shadily dalam Kamus Inggris- Indonesia menulis bahwa spell artinya jampi, mantra (sihir).[16] 'Ibra>hi>m 'Ani>s dalam Kamus al-Mu’jam al-Wasi>t} mengartikan ruqyah sebagai perlindungan (الرقية العُوذة),[17] sedangkan Ibn Taymi>yah memasukkannya dalam kategori doa (من أنواع الدعاء).[18] Pendapat bahwa ruqyah itu termasuk doa (الرقية وهي الدعاء)[19] juga dikemukakan oleh 'Ibn al-Qayyim.
Beberapa pengertian yang menjelaskan tentang arti kata ruqyah dari aspek bahasa tersebut secara keseluruhan dapat difahami semakna dan saling melengkapi satu sama lain, yaitu semacam doa, permohonan perlindungan dengan membacakan atau mengucapkan mantra, yakni perkataan atau ucapan yang terdiri dari kalimat yang tersusun dan berirama yang dianggap mengandung kekuatan gaib. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, jika dikaitkan dengan penawar maka mantra penawar berarti mantra pengobatan.[20] 
Secara istilah, ruqyah telah didefinisikan oleh para ulama, di antaranya oleh 'Ibn al-Athi>r[21]. Ia berkata:Ruqyah adalah permohonan perlindungan (jampi-jampi, mantra) yang dibacakan kepada orang yang terkena penyakit seperti demam, ketakutan dan penyakit-penyakit yang lain.
Sedangkan ‘Abd al-Razza>q[22] mengatakan:Ruqyah adalah permohonan perlindungan (jampi-jampi) yang dibacakan pada orang yang terkena penyakit seperti demam, ketakutan (sawan), dan kedengkian dengan maksud untuk mendapatkan kesembuhan.
Muh}ammad Na>sir al-Di>n al-'Alba>ni>[23] dengan agak lengkap mendefinisikan ruqyah yang sesuai Sunnah sebagai berikut:Ruqyah adalah sesuatu doa yang berasal dari al-Qur’an dan al-Sunnah yang sahih} yang dibacakan (pada pasien) dengan maksud untuk mendapatkan kesembuhan.
Beberapa definisi mengenai ruqyah tersebut, sekilas ada perbedaan antara satu dengan yang lain. 'Ibn al-Athi>r dan ‘Abd al-Razza>q secara umum mendefinisikan ruqyah sebagai bentuk permohonan perlindungan yang dibacakan pada orang yang sakit untuk mendapatkan kesembuhan dari berbagai penyakit. Namun dalam definisi tersebut tidak dijelaskan mengenai sumber bacaan yang harus dibacakan.  Sedangkan Muh}ammad Na>sir al-Di>n al-'Alba>ni> mendefinisikan ruqyah dengan doa yang bersumber dari al-Qur'an dan al-Sunnah yang dibacakan pada orang sakit untuk mendapatkan kesembuhan.
Dari beberapa definisi tentang ruqyah tersebut, antara satu dengan yang lain saling melengkapi, sehingga dapat dipadukan menjadi suatu doa atau permohonan perlindungan kepada Allah dengan membacakan suatu bacaan dari al-Qur'an dan al-Sunnah yang sahih} kepada orang yang sakit atau yang mengalami gangguan suatu penyakit dengan maksud untuk mendapatkan kesembuhan dari penyakit yang diderita dan perlindungan dari segala marabahaya.
Dalam sejarahnya, ruqyah sudah dikenal di kalangan masyarakat Arab sebelum kedatangan Islam. Ruqyah merupakan warisan bangsa Arab dalam rangka mendapatkan berkah dan permohonan kepada Allah. Ruqyah berasal dari agama-agama samawi, kemudian diselewengkan oleh orang-orang sesat lalu dimasukkan ke dalam sihir dan pengobatan. Mereka mencampur-adukkan dengan ucapan-ucapan yang bisa jadi mereka sendiri tidak memahami artinya. Dalam praktiknya juga ditambah dengan suatu benda seperti bebatuan, atau potongan-potongan tulang dan rambut hewan. Akhirnya bercampur-aduklah perkara ruqyah  di kalangan masyarakat jahiliah. Setelah Islam datang, ruqyah digunakan untuk terapi dengan menggunakan ayat-ayat al-Qur’an dan bacaan-bacaan doa yang ma’thu>r  melalui sarana doa.[24]
Pada masa jahiliah, ruqyah diartikan sebagai mantra, jampi-jampi yakni kalimat-kalimat yang dianggap berpotensi mendatangkan daya gaib atau susunan kata yang berunsur puisi yang dianggap mengandung kekuatan gaib. Mantra dibaca oleh orang yang mempercayainya guna meminta bantuan kekuatan yang melebihi kekuatan natural, guna meraih manfaat atau menolak bahaya. Dalam pengertian ini, ruqyah dianggap bisa menyembuhkan karena kekuatan ruqyah itu sendiri atau bantuan dari jin dan sebagainya. Karena pemahaman yang demikian ini maka Nabi saw pernah melarang ruqyah. Beliau pernah bersabda bahwa sesungguhnya ruqyah, tami>mah[25] dan tiwalah[26] itu adalah syirik[27]. Sehubungan dengan pernyataan Nabi Saw bahwa ruqyah itu mengandung syirik, ‘Abdullah bin Mas‘u>d menjelaskan kepada isterinya yang pernah sembuh matanya karena diterapi ruqyah oleh orang Yahudi. Ibn Mas‘u>d[28] berkata: sesungguhnya cara seperti itu adalah perbuatan setan yang menyolok matanya dengan tangannya sehingga ketika diterapi ruqyah dapat menahan rasa sakitnya”. 
Nabi Saw memang pernah melarang ruqyah,  tetapi tidak berlaku pada semua jenis ruqyah. Ruqyah yang dilarang Nabi Saw hanyalah ruqyah yang di dalamnya terdapat unsur syirik seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang jahiliah dan orang Yahudi. Selama ruqyah tidak dimasuki unsur syirik maka dibolehkan. Seorang sahabat Nabi Saw bernama ‘Awf bin Ma>lik al-Ashja‘i> berkata: “Kami dahulu pada masa jahiliah pernah melakukan ruqyah kemudian kami bertanya kepada Rasulullah Saw: “bagaimana pendapatmu terhadap ruqyah yang kami lakukan?”. Nabi Saw kemudian minta ditunjukkan cara melakukan ruqyah, lalu Nabi Saw menyatakan: “tidak mengapa dengan ruqyah selama tidak terdapat unsur syirik di dalamnya         (لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ).[29]
Di kalangan kaum Yahudi, dalam melakukan ruqyah ada yang bekerjasama dengan jin atau setan selain ada juga yang menggunakan Kitab Allah. Seorang Yahudi yang dikenal suka bekerjasama dengan jin atau setan adalah Labi>d bin Al-'A’s}am yang pernah menyihir Nabi Saw.[30]  Sedangkan praktik ruqyah dengan Kita>b Allah pernah dilakukan oleh wanita Yahudi yang melakukan ruqyah  kepada ‘A<'ishah ra pada saat ia sakit. Diriwayatkan bahwa suatu ketika 'Abu> Bakr datang ke rumah ‘A<'ishah ra yang sedang menderita sakit. Saat itu ada seorang wanita Yahudi yang akan mengobati ‘A<'ishah dengan cara  ruqyah. Maka 'Abu> Bakr memerintahkan wanita Yahudi itu untuk melakukan ruqyah dengan Kita>b Allah, yaitu dengan Taurat dan Inji>l.((يعني: بالتوراة والإنجيل[31]. Peristiwa ini menunjukkan bahwa ruqyah, selain dilakukan oleh orang-orang Arab jahiliah, juga dilakukan oleh orang-orang Arab Yahudi.
Berdasarkan peristiwa yang terliput dalam hadis-hadis tersebut, kata ruqyah tidak boleh dipahami dalam arti mantra sebagaimana dimaksudkan oleh mereka yang mempercayainya sebagai kalimat-kalimat yang memiliki kekuatan magis. Ia seharusnya diartikan sebagai salah satu sebab yang bisa menyembuhkan atas izin Allah, ia bukan penyembuh. Ia hanyalah kalimat-kalimat yang diajarkan atau dibenarkan Nabi untuk diucapkan dalam rangka memohon kepada Allah dan pengaruhnya berpulang semata-mata kepada kehendak Allah, Yang Maha Kuasa.
Kepercayaan yang demikian kuat di kalangan masyarakat yang ditemui Al-Qur’an, pada masa pra Islam, menjadikan Allah dan Rasul-Nya menggunakan kata tersebut, tetapi dengan mengubah makna semantiknya sehingga sejalan dengan akidah Islam. Dengan demikian kata ruqyah telah diislamkan oleh Al-Qur’an melalui pengajaran dan pengamalan Nabi Saw  serta sahabat-sahabatnya. Karena itu pula dapat dikatakan bahwa ada ruqyah yang disyariatkan (dibenarkan) dan ada pula ruqyah yang dilarang.
'Ibn H{ajar al-‘Asqala>ni> berkata: “...para ulama telah sepakat bahwa ruqyah yang dibolehkan adalah yang memenuhi tiga syarat, yaitu (1) melakukan ruqyah dengan`   ayat-ayat Al-Qur’an atau dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya; (2) melakukan ruqyah dengan bahasa Arab atau bahasa lain yang bisa dimengerti maknanya; dan (3) percaya sepenuhnya bahwa penyembuhan yang terjadi adalah semata-mata atas izin dan restu Allah SWT[32].
Mengenai teknik dan media yang digunakan dalam meruqyah, berdasarkan  beberapa hadis Nabi dan athar sahabat, dapat diketahui tentang cara-cara melakukan ruqyah dan media yang dipergunakan, di antaranya adalah dengan cara: (1) sekedar membaca doa atau membaca beberapa ayat al-Qur'an; Hadis riwayat 'Ah}mad dan lain-lain dari 'Abu> Sa’i>d al-Khudri, ia berkata: Sesungguhnya Jibri>l pernah mendatangi Nabi Saw kemudian berkata: “Apakah engkau sakit wahai Muh}ammad? Nabi Saw menjawab: Ya ! lalu Jibri>l membaca: “Bismilla>hi 'arqi>ka min kulli shay'in yu'dhi>ka min sharri kulli nafsin wa ‘aynin yashfi>ka bismilla>hi 'arqi>ka” (Dengan nama Allah aku meruqyahmu/ mengobatimu dari segala sesuatu yang membuatmu sakit, dari kejahatan semua jiwa dan pandangan mata. Allahlah yang akan menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu) [33]. Tentang status hadis ini, Muh}ammad Na>s}ir al-Di>n al-'Alba>ni> menilainya s{ah}i>h}.[34] Hadis tersebut menjelaskan tentang Jibri>l yang melakukan ruqyah setelah mengetahui Nabi saw menderita sakit. Dalam melakukan ruqyah, Jibri>l membaca doa dengan menggunakan asma Allah.  (2) membaca doa, meniup kedua telapak tangan dan mengusapnya ke seluruh anggota badan;  Hadis riwayat al-Bukha>ri> dan Muslim dari ‘A<'ishah ra: Bahwasanya Rasulullah Saw, dulu apabila sakit beliau meniup untuk dirinya sendiri dengan membaca surat al-Mu’awwidha>t  lalu mengusap dengan tangannya. Ketika sakitnya semakin parah, saat menjelang wafatnya, aku (‘A<'ishah ra) yang meniupkan untuk dirinya dengan surat al-Mu’awwidha>t sebagaimana dulu Nabi meniup untuk dirinya dan mengusap dengan tangannya[35]. Hadis ini menerangkan bahwa ketika Nabi Saw terkena sakit, beliau melakukan ruqyah dirinya sendiri dengan cara meniup, membaca surat al-Mu‘awwidha>t dan mengusapkan dengan tangannya sendiri. Al-Muba>rakfu>ri>[36] dalam kitab Mura‘a>t al-Mafa>ti>h} Sharh} Mishka>t al-Mas}a>bi>h}, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan meniup (نَفَثَ) adalah mengeluarkan angin dari mulut tanpa mengeluarkan air ludah. Sedangkan yang dimaksudkan dengan al-Mu’awwidha>t (الْمُعَوِّذَاتِ) adalah surat al-'Ikhla>s}, al-Falaq dan al-Na>s. Atau bisa juga ayat-ayat yang lain yang mengandung perlindungan, seperti ayat 97 dan ayat 98 dari surat al-Mukminu>n. Adapun yang dimaksud dengan mengusap pakai tangan (وَمَسَحَ عَنْهُ بِيَدِهِ) adalah mengusap dengan tangannya ke anggota badannya. Mengenai ‘A<'ishah yang melakukan ruqyah Nabi Saw (saat beliau sakit parah) dengan menggunakan tangan beliau itu adalah karena tangan Nabi Saw dinilai lebih banyak keberkahannya. (c) membaca doa, meniup dan sedikit meludah; Hadis riwayat al-Bukhari> dari 'Abu> Sa‘i>d al-Khudri>, katanya: Dari 'Abu> Sa’i>d (al-Khudri>) bahwasanya ada sekelompok sahabat Nabi Saw yang melakukan bepergian. Di tengah-tengah perjalanan, mereka singgah di sebuah kampung Arab. Mereka berharap agar penduduk kampung berkenan menjamunya sebagai tamu. Namun dari penduduk kampung tak ada yang mau menjamunya.  Tidak lama kemudian ada berita bahwa pemimpin kampung terkena sengatan. Mengetahui pemimpinnya butuh pertolongan maka penduduk kampung berusaha mencari penawarnya. Tetapi usaha mereka itu gagal, lalu salah seorang di antara penduduk kampung itu berkata kepada teman-temannya untuk menemui sekelompok (sahabat Nabi yang singgah di sana) barangkali ada di antara mereka yang memiliki sesuatu (penawar atau obat untuk menyembuhkan akibat sengatan yang menimpa pemimpinnya). Dari penduduk kampung itu akhirnya menemui sekelompok sahabat Nabi dan berkata: “Wahai saudara-saudara sekalian, pemimpin kami telah tersengat. Kami sudah mengupayakan berbagai cara untuk mencari penawarnya tetapi tidak berhasil. Apakah ada di antara kalian yang memiliki sesuatu (keahlian untuk mengobatinya)? Mendengar keterangan dari penduduk kampung itu, di antara sahabat Nabi Saw ada yang menjawab: “Ya, demi Allah saya adalah seorang peruqyah (yang bisa mengobati). Namun, demi Allah kami telah meminta jamuan kepada kalian tetapi kalian tidak menjamu kami, karena itu saya tidak akan melakukan ruqyah (pengobatan) kepada kalian kecuali jika kalian memberikan upah kepada kami. Mendengar pernyataan sahabat Nabi seperti itu maka penduduk kampung itu pun setuju untuk memberi upah beberapa ekor kambing. Setelah terjadi kesepakatan, seorang sahabat Nabi Saw kemudian mendatangi pemimpin kampung yang tengah sakit itu lalu meniup dengan sedikit meludah sambil membaca al-h}amdulilla>hi rabbil ‘a>lami>n (surat al-Faatihah). Setelah itu tidak lama kemudian pemimpin kampung itu merasa lega, terlepas dari ikatan dan selanjutnya dapat berjalan tanpa ada gangguan sama sekali. Setelah itu penduduk kampung menyerahkan upah sesuai yang telah disepakati. Sebagian sahabat berkata: “Bagilah !”. Seorang sahabat yang tadi meruqyah berkata: “Jangan kalian lakukan (jangan dibagi dulu) sebelum kita menghadap kepada Rasulullah Saw dan menceritakan kepadanya tentang peristiwa yang terjadi pada kita, lalu apa yang diperintahkan kepada kita”. Para sahabat pun akhirnya mendatangi Rasulullah Saw dan menceritakan apa yang telah mereka alami. Menyimak apa yang terjadi pada para sahabat itu, Nabi Saw berkata: “kalian tahu dari mana kalau al-Fatihah itu bisa untuk meruqyah ? Kalian benar, bagikanlah upahnya dan berikan juga bagian untukku”. [37] (d) membaca doa dan meletakkan tangan kanan ke badan yang terasa sakit serta mengusapnya;  Hadis riwayat Muslim dari ‘Uthma>n bin 'Abi> al-‘A<s} al-Thaqafi>>>, ia pernah mengadu kepada Rasulullah Saw  tentang rasa sakit yang ada di badannya semenjak ia masuk Islam. Maka Rasulullah Saw bersabda: Letakkan tanganmu di atas bagian tubuhmu yang sakit, kemudian ucapkan basmalah sebanyak tiga kali dan ucapkan “'a‘u>dhu billa>hi wa qudratihi> min sharri ma> ajidu wa 'uh}a>dhiru” (aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari kejahatan atau keburukan yang aku temui dan yang aku takuti) sebanyak tujuh kali. [38]  (e) membaca doa dan meletakkan jari di tanah kemudian mengangkatnya; Hadis riwayat al-Bukha>ri> dan Muslim dari ‘A<'ishah ra, katanya: Bahwasanya Rasulullah Saw, apabila ada seseorang mengeluh kepada beliau tentang rasa sakit akibat bisul (bernanah) atau luka, maka Nabi Saw membaca doa sambil meletakkan jarinya di tanah seperti ini-Sufya>n bin ‘Uyaynah mencontohkan dengan meletakkan jari telunjuknya di tanah kemudian mengangkatnya dan berdoa: “Bismilla>h turbatu 'ard}ina> biri>qati ba‘d}ina> liyushfa> bihi> saqi>muna> bi'idhni rabbina>” (Dengan nama Allah, tanah bumi kita ini, dengan ludah sebagian kami, semoga dengannya disembuhkan sakit kami dengan izin Tuhan kami) [39]. (f) membaca doa dan memasukkan tangan ke dalam air yang dicampur dengan garam; Pada suatu ketika Nabi Saw sedang melaksanakan salat malam. Tiba-tiba tangannya tersengat kalajengking. Setelah itu Nabi Saw mengambil air dicampur dengan garam kemudian dituangkan ke tangan yang terkena sengatan tadi sambil dibacakan al-Qur’an surat al-Ka>firu>n, al-'Ikhla>s}, al-Falaq dan al-Na>s. Peristiwa ini terrekam dalam beberapa hadis berikut ini: ‘Ali> bin 'Abi> T{a>lib berkata, “Ketika Rasulullah sedang salat, beliau disengat kalajengking. Setelah selesai salat, beliau bersabda, ‘Semoga Allah melaknat kalajengking yang tidak membiarkan orang yang sedang salat atau yang lainnya.’ Lalu beliau mengambil sewadah air dan garam. Kemudian beliau usap bagian anggota badan yang disengat kalajengking, seraya membaca surat al-Ka>firu>n, al-Falaq dan al-Na>s. [40]  Muh}ammad Na>s}iruddi>n al-'Alba>ni> mens}ah}ih}kannya.[41] (g) membaca doa, menuangkan air zam-zam dan meminumnya; Hadis riwayat al-Bayhaqi> dari Hisha>m bin ‘Urwah dari ayahnya: Bahwasanya ‘A<'ishah ra pernah membawa air zam-zam. Ia mengabarkan bahwasanya Rasulullah Saw pernah juga membawanya. Perawi lain meriwayatkannya dari 'Abu> Kurayb dengan tambahan: “Rasulullah Saw membawa air zam-zam di dalam kantong kulit dan geriba, kemudian beliau menuangkannya pada orang yang sakit dan meminumkannya. [42] Al-'Alba>ni> dalam Silsilah al-S{ah}i>h}ah menilai hadis ini s}ah}i>h}.  Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Bukha>ri> dalam al-Ta>ri>kh al-Kabi>r, II/173, al-Tirmidhi>, I/180 dan al-Bayhaqi>, V/202. [43] Hadis tersebut menerangkan bahwa salah satu cara meruqyah yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw adalah dengan membawa air zam-zam untuk dituangkan pada orang yang sakit atau diminumkannya. (h) menulis beberapa ayat al-Qur’an atau doa pada kertas atau alat-alat yang boleh diletakkan di atas air, kemudian diminumkan atau digunakan untuk  mandi;  Sa‘i>d bin Jubayr mendapatkan keterangan dari ‘Abdulla>h bin ‘Abba>s tentang wanita yang mengalami kesulitan saat hendak melahirkan, ia berkata: Hendaknya dituliskan di atas kertas (dimasukkan dalam bejana berisi air) kemudian diminumkan. Adapun yang ditulis adalah: bismilla>h alladhi> la> 'ila>la 'illa> huwa al-h}aki>m al-kari>m, subha>nalla>hi wa ta‘a>la> rabbi al-‘arsh al-‘adhi>m, al-h}amdulilla>hi rabb al-‘a>lami>n, kemudian surat al-Ahqa>f ayat 35 (...ka'annahum yawma yarawna ma> yu> ‘adu>na lam yalbathu> 'illa> sa>’atan min naha>rin bala>ghun fahal yuhlaku 'illa> al-qawmu al-fa>siqu>n, artinya: “pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (inilah) suatu pelajaran yang cukup, Maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.); dan surat al-Na>zi’a>t ayat 46 (ka'annahum yawma yarawnaha> lam yalbathu> 'illa> ‘ashiyyatan aw d}uh}a>ha>, artinya: “pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari). Hadis ini mawqu>f pada 'Ibn ‘Abba>s ra. [44]  ‘Abdulla>h bin 'Ah}mad berkata: “Aku melihat ayahku ('Ima>m 'Ah}mad) menulis doa dan ayat-ayat tersebut pada sebuah tempat minuman yang putih atau sesuatu yang bersih untuk seorang wanita yang sedang mengalami kesulitan melahirkan” (اذا عسُر عليها وِلادتهُا). [45]  Menurut 'Ibn al-Qayyim, menulis bacaan atau doa-doa (pada bejana berisi air) untuk ruqyah itu bisa memberikan manfaat (وَكُلّ مَا تَقَدَّمَ مِنْ الرُّقَى فَإِنَّ كِتَابَته نَافِعَة). Lebih lanjut 'Ibn al-Qayyim mengatakan bahwa sejumlah ulama salaf telah memberikan rukhs}ah (keringanan) mengenai bolehnya menulis beberapa ayat al-Qur’an pada sebuah gelas atau tempat minuman yang bersih lalu meminumnya. Hal itu bisa menjadi sarana pengobatan atau penyembuhan (وَجَعَلَ ذَلِكَ مِنْ الشِّفَاء الَّذِي جَعَلَ اللَّه فِيهِ).[46]  (i) memukul dada, meniup mulut dengan sedikit air ludah dan mengusap wajah dengan air sambil membaca doa. Hadi>th riwayat 'Ibn Ma>jah dari ‘Uthma>n Bin 'Abi> al-‘A<s}, ia berkata: ‘Uthma>n bin 'Abi> al-‘A<s} r.a. berkata, ketika aku bekerja untuk Rasulullah saw. di T{a>'if, tiba-tiba aku melihat sesuatu dalam salatku, sampai-sampai aku tidak tahu sedang salat apa. Setelah kejadian itu aku menemui Rasulullah saw. Beliau berkata, "'Ibnu 'Abi> al-‘A<s}?” Aku menjawab, ”Benar, ya Rasulullah.” Rasul bertanya, ”Apa yang membuatmu datang ke sini?” Aku menjawab, ”Wahai Rasulullah, aku melihat sesuatu dalam salatku sampai-sampai aku tidak tahu sedang salat apa.” Nabi bersabda, ”Itu adalah setan. Mendekatlah padaku!” Aku pun mendekat kepada Nabi, lalu aku duduk di atas kedua telapak kakiku. 'Ibn 'Abi> al-‘A<s} berkata, ”Lalu Nabi memukul dadaku dengan tangannya dan meniup mulutku sambil berkata, ”Keluarlah musuh Allah!”. Nabi melakukannya sebanyak tiga kali. Lalu Nabi berkata, ”Teruskanlah pekerjaanmu.” [47]  Al-'Alba>ni> menilai hadis ini s}ah}i>h}.[48] Hadis ini menjelaskan tentang cara Nabi Saw melakukan ruqyah terhadap seorang sahabat yang bernama  'Ibn 'Abi> al-‘A<s} yang terganggu oleh setan dalam salatnya. Saat itu Nabi Saw melakukan ruqyah kepadanya dengan cara memukul dada kemudian meniup mulutnya sambil mengucapkan: 'ukhruj ‘aduwwalla>h! (keluarlah wahai musuh Allah). Hal ini dilakukan oleh Nabi Saw sebanyak tiga kali.  Mengenai bacaan doanya, Sa‘i>d bin ‘Ali> bin Wahf al-Qah}t}a>ni> mengatakan bahwa bacaan ruqyah yang paling agung adalah surat al-Fa>tih}ah, ayat al-Kursi>, dua ayat terakhir dari surat al-Baqarah, al-'Ikhla>s}, al-Falaq, dan al-Na>s sambil meniup orang yang terkena penyakit gila. Selain bacaan tersebut boleh juga bacaan ayat-ayat lain yang terdapat dalam al-Qur’a>n al-Kari>m, karena sesungguhnya seluruh al-Qur’an itu merupakan obat atau penyembuh apa yang ada dalam dada dan menjadi petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.[49]
Kajian Sains[50] Modern terhadap Suwuk dan Ruqyah.  
          Secara umum, suwuk dan ruqyah hampir tidak bisa dibedakan. Keduanya merupakan upaya alternatif untuk mendapatkan kebebasan (kesembuhan) dari gangguan penyakit. Dalam praktiknya, baik suwuk maupun ruqyah biasanya  menggunakan media air. Selain itu, yang biasa melakukan suwuk atau ruqyah itu adalah orang yang sudah tua atau yang dipandang tua karena keahliannya di bidang penyembuhan. Sementara yang membedakannya hanyalah asal kawasan di mana istilah itu muncul. Jika suwuk berasal dari Jawa-Indonesia, maka ruqyah berasal dari Arab.  
            Di Jawa-Indonesia, terutama kalangan muslim yang salih, kegiatan suwuk sebenarnya adalah kegiatan ruqyah itu sendiri. Karena itu, mantra, jampi atau bacaan yang digunakan dalam menyuwuk atau meruqyah adalah bacaan dari al-Qur’an dan doa-doa Nabi Saw. Jika dulu para ulama Jawa (termasuk walisanga) tidak mempopulerkan istilah ruqyah, hal itu dikarenakan para juru dakwah (termasuk walisanga) ingin mempermudah penerimaan dari masyarakat Jawa yang sebelumnya didominasi keyakinan Hindu-Budha dan Animisme-Dinamisme, yang sudah akrab dengan istilah suwuk. Karena itu, sungguhpun mereka masih lekat dengan istilah suwuk, namun muatannya sudah sama dengan ruqyah ila>hi>yah, yang sesuai dengan al-Qur’an dan sunnah Nabi Saw. Kini, istilah ruqyah mulai populer di masyarakat Jawa-Indonesia, setelah  melimpahnya literatur dari Timur Tengah yang sampai ke Indonesia. 
            Dalam kajian sains modern terhadap suwuk dan ruqyah, berikut ini akan dilihat dari dua aspek, pertama tentang penggunaan media air dan kedua tentang pihak terapis yang dipercaya.
            Dalam praktik suwuk atau ruqyah, air menjadi media yang sangat penting.  Air yang sudah di-suwuk atau di-ruqyah (dibacakan al-Qur’an atau doa-doa dari Nabi saw) kemudian diminumkan kepada pasien atau digunakan untuk mandi. Selain itu, air yang  sudah di-suwuk atau di-ruqyah bisa juga dipercikkan ke bagian badan pasien. Zaman dahulu, di kalangan muslim puritan menganggapnya sebagai hal yang mengandung syirik. Tetapi kini, setelah Masaru Emoto mempublikasikan hasil temuannya tentang keajaiban air, banyak kalangan yang mulai memahami betapa dahsyatnya “kekuatan” air, sehingga wajar jika dalam pengobatan suwuk atau ruqyah sering menggunakan media air.
Pada awal tahun 2000-an, Dr.Masaru Emoto dari Universitas Yokohama Jepang telah melakukan penelitian tentang perilaku air. Dalam hipotesisnya, Emoto mengatakan bahwa air dapat menyusun kristal dalam bentuk berbeda-beda bergantung informasi yang diterimanya. Ia yakin bahwa perbedaan bentuk kristal es bukan hanya karena ada tidaknya klorin[51], melainkan karena ada informasi lain yang mempengaruhinya. Untuk menguji hal ini, Emoto memasukkan air ke dalam dua gelas. Gelas pertama diberi label “terima kasih”, sedangkan botol lainnya diberi label “kamu bodoh”.  Air yang ada dalam kedua botol tersebut kemudian dibekukan melalui freezer (dengan suhu -250 C/-13o F). Hasilnya, di luar dugaan Emoto. Air dengan label “terima kasih” membentuk kristal heksagonal yang indah, sedangkan air dengan label “kamu bodoh” hanya membentuk pecahan-pecahan kristal. Kesimpulannya, kualitas air dapat berubah bergantung informasi yang diperolehnya.[52]
  Eksperimen Masaru Emoto selanjutnya, ketika 500 orang berkonsentrasi memusatkan pesan “peace” di depan sebotol air, kristal air tadi mengembang bercabang-cabang dengan indahnya. Dan ketika dicoba dibacakan doa Islam, kristal bersegi enam dengan lima cabang daun muncul berkilauan. Masaru Emoto akhirnya berkeliling dunia melakukan percobaan dengan air di Swiss, Berlin, Prancis, Palestina, dan ia kemudian diundang ke Markas Besar PBB di New York untuk mempresentasikan temuannya pada bulan Maret 2005 lalu. Ternyata air bisa “mendengar” kata-kata, bisa “membaca” tulisan, dan bisa “mengerti” pesan. Dalam bukunya The Hidden Message in Water, Dr. Masaru Emoto menguraikan bahwa air bersifat bisa merekam pesan, seperti pita magnetik atau compact disk (CD). Semakin kuat konsentrasi pemberi pesan, maka semakin dalam pesan tercetak di air. Air bisa mentransfer pesan tadi melalui molekul air yang lain.
Lebih lanjut Emoto mengatakan bahwa air bersifat sensitif. Ia akan merespons setiap kata yang kita ucapkan. Apabila kita mengirimkan hado (efek gelombang energi) yang baik kepada air dengan mengatakan kata-kata positif, air akan mempersembahkan kristal-kristal yang indah. Doa juga mengeluarkan energi yang dapat mengubah kualitas air. Dengan memberikan doa ke air, berarti kita mengirimkan hado ke air, dan air kemudian menggunakan kekuatan/ energinya untuk menjawab maksud doa-doa ini.  Menurut Emoto, doa yang biasa digunakan dalam ajaran agama memiliki energi hado yang kuat. Jika kita menjalani agama dengan baik dan berdoa tanpa keraguan, kita akan diberkahi dengan kekuatan yang sangat dahsyat.[53]
DR.dr.Siti Fadilah Supari, Sp.Jp (K), mantan Menteri Kesehatan RI (2004-2009) menyatakan bahwa Dr.Masaru Emoto melalui riset ilmiahnya selama bertahun-tahun telah berhasil menjadikan air untuk pengobatan alternatif terhadap berbagai gangguan kesehatan. Hal ini semakin meyakinkan saya tentang pentingnya menjembantani pengobatan kedokteran modern dengan pengobatan alternatif.[54]
Berdasarkan hasil temuan Masaru Emoto tersebut, dapat difahami mengapa air putih yang didoakan atau disuwuk bisa memberi efek kesembuhan pada orang  sakit. Molekul air ternyata bisa  menangkap pesan doa kesembuhan, menyimpannya, lalu vibrasinya merambat kepada molekul air lain yang ada di tubuh si sakit. Selanjutnya doa atau suwuk tadi menformat efek energi air (hado) untuk kemudian berfungsi menyembuhkan berbagai penyakit. 
Selain media air yang dipandang penting, faktor terapis dari penyuwuk maupun peruqyah juga sangat menentukan dalam memberikan efek kesembuhan. Dalam hal ini, peran penyuwuk dan peruqyah dari kalangan orang terpandang dan terhormat serta diyakini sebagai orang yang mumpuni akan memberikan sugesti tersendiri bagi pasien untuk lebih memberikan harapan dan keyakinan dalam memperoleh kesembuhan.
Seorang ahli kesehatan moderen, Panati Charles (1989), melaporkan hasil penelitiannya tentang hubungan pikiran, keyakinan dan kepasrahan dengan kesembuhan. Penelitian ini dilakukan terhadap sejumlah pasien di rumah sakit jiwa dengan membaginya menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menerima obat penenang stolazine, sementara kelompok lainya diberi placebo (obat tanpa isi/ obat bohong–bohongan, sekedar untuk memberi sugesti). Percobaan tersebut dilaksanakan sedemikian rupa sehingga dokter dan pasien pun tidak mengetahuai siapa yang menerima obat yang sesungguhnya. Hasil penelitian ini sangat mengejutkan karena  pasien yang menjadi tenang dengan mengkonsumsi placebo ternyata sedikit lebih banyak dari pada pasien yang telah diberi obat stolazine. Percobaan ini kemudian diulangi lagi. Untuk percobaan kedua ini para pasien diberi takaran dua kali lipat dan diberi tahu (diyakinkan, disugesti) bahwa takaran tambahan tersebut akan mempercepat reaksi mereka terhadap penyembuhan. Hasilnya malah lebih mengejutkan lagi, karena mereka yang mendapat takaran placebo dua kali lipat bereaksi lebih santai dibandingkan dengan mereka yang menerima dua kali takaran obat yang sebenarnya.[55] 
Jika dicermati, kasus yang diteliti oleh Panati tersebut menunjukkan bahwa faktor pikiran, keyakinan dan sugesti bisa menjadi sangat berpengaruh terhadap penyembuhan. Ketika terapis dari penyuwuk atau peruqyah berhasil meyakinkan pasien dengan nasihat-nasihat dan doa-doanya, maka pasien merasa lebih tenang.  Jika dikaitkan dengan teori penyembuhan melalui “Pineal Therapy[56], maka suasana hati yang tenang dan tenteram inilah yang akan membantu kelenjar pineal dalam memproduksi hormon melatonin[57]. Jika hormon melatonin berhasil diproduksi dalam jumlah yang memadai, akan dapat digunakan untuk mencegah dan menyembuhkan berbagai penyakit. 

                      DAFTAR PUSTAKA



Alba>ni> (al), Muh}ammad Na>s}ir al-Din. al-Silsilah al-S{ah}i>h{ah. Vol.VI. al-Riya>d}: Maktabah al-Ma’a>rif, t.th.
_______D{a’i>f Sunan al-Tirmidhi>, Vol.I. t.t: t.p, t.th.
Ali>, Jawwa>d. Al-Mufas}s}al Fi> Ta>ri>kh al-‘Arab Qabl al-'Isla>m, Vol. XII. t.t: Da>r al-Sa>qi>, 2001.
Anis, 'Ibra>hi>m et.al. Al-Mu’jam al-Wasi>t}, Vol. II. t.t: Da>r al-Fikr, t.th.
Anwar, Rosihan. Demi Dakwah. Bandung: Al Ma’arif. 1976.
Asqala>ni> (al), 'Ah}mad bin ‘Ali> bin H{ajar 'Abu> al-Fad}l. Fath} al-Ba>ri> Sharh} S{ah}i>h} al-Bukha>ri>, X. Bayru>t: Da>r al-Ma’rifah,1379 H.
Athi>r (al), 'Ibn. al-Niha>yat Fi> Ghari>b al-'A<tha>r, Vol. II. Bayru>t: al-Maktabah al-‘Ilmi>yah, 1979.
Bayhaqi> (al), 'Ah}mad bin al-H{usayn bin ‘Ali> bin Mu>sa> 'Abu> Bakr. Sunan al-Bayhaqi> al-Kubra>, Vol.IX. Makkah al-Mukarramah: Maktabah Da>r al-Ba>z, 1994 M. 
Bukha>ri> (al), 'Abu> 'Abdilla>h Muh}ammad b. 'Isma>'i>l b. 'Ibra>hi>m b. al-Mughi>rah. S{ah}i>h al-Bukhari> Bi Hasshiyah al-Sindi, Vol.IV. Bayru>t: Da>r al-Fikr, t.th.
Echols, John M. dan Hassan Shadily. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia, 1989.
Emoto, Masaru. The True Power Of Water, Hikmah Air Dalam Olah Jiwa, terj. Azam Translator. Bandung: MQ Publishing, 2006.
Hambali, Iftachul ‘Ain. Islamic Pineal Theraphy. Jakarta: Prestasi, 2011.
http://www.pengertianahli.com/ 2013/12.
Ibin ‘A<shu>r,  Muh}ammad al-T{a>hir. al-Tah}ri>r wa al-Tanwi>r, Vol. XXIX. Tu>nis: al-Da>r al-Tu>nisi>yah, 1984.
Ibn al-al-Jawzi>yah, Muh}ammad bin 'Abi> Bakr bin 'Ayyu>b bin Sad Shams al-Di>n Qayyim. al-Tiby>an Fi> 'Aqsa>m al-Qur’a>n. Vol. I. Bayru>t: Da>r al-Fikr, t.th.
_______Za>d al-Ma‘a>d Fi> Hady Khayr al-‘Iba>d, Vol.IV. Bayru>t: Mu'assasah al-Risa>lah, 1994 M dan 1986 M.
Ibn H{anbal, 'Ah}mad. Musnad al-'Ima>m 'Ah}mad bin H{anbal, Vol. I. Ed. Shu’ayb al-Arnowt et.al. Kairo: Mu'assasah Qurtu>bah, t.th.
Ibn Manz}u>r, Muh}ammad bin Mukrim. Lisa>n al-‘Arab, Vol. XIV. Bayru>t: Da>r S{a>dir, t.th.
Ibn Taymi>yah. Majmu> al-Fata>wa>, Vol. XXVII (t.t: Da>r al-Wafa>, 2005), 68.
Laros, Mas Say.  “Sejarah Budaya Suwuk di Indonesia” dalam Error! Hyperlink reference not valid..
Ma’lu>f,  Luways. al-Munjid Fi> al-Lughah. Bayru>t: Da>r al-Mashriq, 1977.
Muba>rak,  'Abu> ‘Ubaydah Ma>hir Bin S{a>lih} ‘Ali.> Ruqyah Syar’iyyah: Gangguan Jin, Hasad dan ‘Ain, terj. Abu Ahmad. Surabaya: Duta Ilmu, 2006.
Muba>rak}fu>ri> (al),'Abu> al-H{asan ‘Ubayd Alla>h bin Muh}ammad ‘Abd al-Sala>m bin Kha>n Muh}ammad bin Ama>n Alla>h bin H{isa>m al-Din al-Rahma>ni.> Mura’a>t al-Mafa>ti>h} Sharh} Mishka>t al-Mas}a>bi>h}, Vol.V. Benaris al-Hind: Ida>rat al-Buhu}>th al-‘Ilmi>yah Wa al-Da‘wah Wa al-'Ifta>, 1984 M.
Munawwir, Ahmad Warson. Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia. Surabaya: Pustaka Progresif, 1984.
Naysa>bu>ri> (al), 'Abu> al-H{usayn Muslim bin al-H{ajja>j bin Muslim al-Qushayri>. al-Ja>mi’ al-S{ah}i>h} S{ah}i>h} Muslim, Vol. VII. Bayru>t: Da>r al-A<fa>q al-Jadi>dah, t.th.
Qah}t}a>ni> (al), Sa’i>d bin ‘Ali> bin Wahf. al-Du‘a>' Min al-Kita>b Wa al-Sunnah Wa yali>hi al-‘Ila>j Bi al-Ruqa> Min al-Kita>b Wa al-Sunnah (al-Riya>d}: al-Mat}a>bi’ al-H{amid}i>, 1422), 113.
Quzwi>ni> (al), S{ah}i>h} 'Ibn Ma>jah, Vol. XI, 32.
S{a>yim (al), Muh}ammad. Murshid al-Mu‘a>liji>n bi al-Qur’a>n al-Kari>m. al-Qa>hirah: Da>r al-Fad}i>lah, 2006.
S{ana>ni> (al),  ‘Abd al-Razza>q. Tafsir al-Qur’an, Vol. VIII. t.t: t.p, t.th.
Shaykh (al),  S{a>lih} bin ‘Abd al-‘Azi>z bin Muh}ammad bin Ibra>hi>m A<li. al-Shaykh,  al-Tamhi>d Li Sharh} Kita>b al-Tawh}i>d, Vol. I. t.t: Da>r al-Tawh}i>d, 2003.
Sholeh, Moh. Bertobat sambil Berobat: Rahasia Ibadah Untuk Mencegah dan Menyembuhkan Berbagai Penyakit. Bandung: Hikmah, 2008.
Sugianto, Eddy. The Power of Suwuk dalam Error! Hyperlink reference not valid..
T{abra>ni> (al), Sulayma>n bin 'Ah}mad bin 'Ayyu>b 'Abu> al-Qa>sim. al-Mu‘jam al-S{aghi>r, Vol.II. Bayru>t: al-Maktab al-Isla>mi>, 1985 M.
Tim Penyusun. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1989.
Tjakraningrat, Kanjeng Pangeran Harya. Kitab Primbon Betaljemur Adammakna. Yogyakarta: Soemodidjojo Mahadewa. 1980.
Wehr,  Hans. A Dictionary of Modern Written Arabic. London, Macdonal & Evans LTD, 1974.


BIOGRAFI PENULIS
Identitas Pribadi:

Nama Lengkap                        : Dr.H.Achmad Zuhdi Dh,M.Fil I
Tempat, Tanggal lahir             : Lamongan, 11 Oktober 1961
Pangkat/Jabatan Golongan     : Pembina Tk.I/Lektor Kepala (IV/b)
                                                  Ketua Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam
  Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel
  Surabaya
Alamat                                                : Jl. Jendral Sudirman III/19 Sidoarjo
E-mail                                      : zuhdidh@gmail.com
Blog                                        : www.zuhdidh.blogspot.com

Riwayat Pendidikan
1.    SD-SMP di Lamongan;
2.    PGAN di Solo;
3.    S-1, S-2 dan S-3 di IAIN Sunan Ampel Surabaya
Karya Buku, makalah dan artikel
            Karya ilmiah yang telah dipublikasikan dalam bentuk buku sebanyak 15 judul. Sedangkan makalah/artikel dalam  jurnal, majalah, surat kabar dan blog lebih dari 100 judul.






[1] Makalah disampaikan pada Seminar Internasional yang diselenggarakan oleh ADIA (Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab) di Makasar, 31 Oktober sd 2 Nopember 2014.
[2] Dosen dan Ketua Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
[4] Eddy Sugianto,The Power of Suwuk dalam http://energikultivasi.wordpress.com /2011/09/03/ the-power-of-suwuk/.
[5] Mantra adalah perkataan atau ucapan yang terdiri dari kalimat yang tersusun dan berirama yang dianggap mengandung kekuatan gaib. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, jika dikaitkan dengan penawar maka mantra penawar berarti mantra pengobatan. Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), 558.
[6] Mas Say Laros, “Sejarah Budaya Suwuk di Indonesia” dalam http://kanal3.wordpress.com/ 2012/09/24.
[7] Sunan Ampel (lahir 1401 M di Champa) merupakan salah seorang anggota Walisanga yang sangat besar jasanya dalam perkembangan Islam di Pulau Jawa. Sunan Ampel adalah bapak para wali. Dari tangannya lahir para pendakwah Islam kelas satu di bumi tanah jawa. Nama asli Sunan Ampel adalah Raden Rahmat. Sedangkan sebutan sunan merupakan gelar kewaliannya, dan nama Ampel atau Ampel Denta itu dinisbatkan kepada tempat tinggalnya, sebuah tempat sekitar Surabaya. http://kolom-biografi.blogspot.com/2010/04/biografi-sunan-ampel.html.
[8] Mas Say Laros, “Sejarah Budaya Suwuk di Indonesia” dalam http://kanal3.wordpress.com.
[9] Golongan Abangan atau Islam Kejawen adalah orang Jawa yang meskipun ia penganut agama Islam, tidak begitu saleh dan alim, tidak begitu sungguh menjalankan agama, bahkan mereka tidak perlu sembahyang Jum’at, berpuasa, dan lain-lain. Kelompok ini terbagi menjadi dua kelompoka, wong cilik dan priyayi. Rosihan Anwar, Demi Dakwah, (Bandung: Al Ma’arif. 1976), 5.
[10] Kanjeng Pangeran Harya Tjakraningrat, Kitab Primbon Betaljemur Adammakna, (Yogyakarta: Soemodidjojo Mahadewa. 1980), 53.
[11] Al-Bukha>ri>, S{ah}i>h} al-Bukha>ri>, Vol. V, 2167.
[12] Mas Say Laros, “Sejarah Budaya Suwuk di Indonesia” dalam http://kanal3.wordpress.com.
[13] Luways Ma’lu>f, al-Munjid Fi> al-Lughah (Bayru>t: Da>r al-Mashriq, 1977), 276.
[14] Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia (Surabaya: Pustaka Progresif, 1984), 562.
[15] Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic  (London, Macdonal & Evans LTD, 1974), 355.
[16] John M.Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia (Jakarta: PT. Gramedia, 1989), 545.
[17] 'Ibra>hi>m 'Ani>s et.al, Al-Mujam al-Wasi>t}, Vol. II (t.t: Da>r al-Fikr, t.th), 367.
[18] 'Ibn Taymi>yah, Majmu> al-Fata>wa>, Vol. XXVII (t.t: Da>r al-Wafa>, 2005), 68.
[19] Muh}ammad bin 'Abi> Bakr bin 'Ayyu>b bin Sad Shams al-Di>n 'Ibn al-Qayyim al-Jawzi>yah, al-Tiby>an Fi> 'Aqsa>m al-Qur’a>n, Vol. I (Bayru>t: Da>r al-Fikr, t.th), 92.
[20] Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), 558.
[21] 'Ibn al-'Athi>r, al-Niha>yat Fi> Ghari>b al-'A<tha>r, Vol. II (Bayru>t: al-Maktabah al-‘Ilmi>yah, 1979), 621. Muh}ammad bin Mukrim 'Ibn Manz}u>r, Lisa>n al-‘Arab, Vol. XIV  (Bayru>t: Da>r S{a>dir, t.th),
331.
[22]Abd al-Razza>q al-S{ana>ni>, Tafsir al-Qur’an, Vol. VIII (t.t: t.p, t.th), 266.
[23] Muh}ammad Na>s}ir al-Di>n al-'Alba>ni>, D{a’i>f Sunan al-Tirmidhi>, Vol.I (t.t: t.p, t.th), 231.
[24] Muh}ammad al-T{a>hir bin ‘A<shu>r, al-Tah}ri>r wa al-Tanwi>r, Vol. XXIX  (Tu>nis: al-Da>r al-Tu>nisi>yah, 1984), 359.
[25] Al-Tama>'im jama’ dari al-tami>mah yaitu suatu jimat perlindungan yang dikalungkan di leher anak untuk penangkal ‘ayn. Jika yang dikalungkan itu dari al-Qur’an, di kalangan ulama ada dua pendapat. Ada yang membolehkan dan ada yang tidak membolehkan.  Pendapat yang lebih kuat dan aman adalah yang melarangnya. 'Abu> ‘Ubaydah Ma>hir Bin S{a>lih} ‘Ali> Muba>rak, Ruqyah Syar’iyyah: Gangguan Jin, Hasad dan ‘Ain, terj. Abu Ahmad (Surabaya: Duta Ilmu, 2006), 207.
[26] Al-Tiwalah adalah aji-aji pengasihan (jawa: pelet) yang dibuat dan dimaksudkan agar sang suami mencintai isterinya atau agar isteri mencintai suaminya. Hai ini termasuk jenis sihir. S{a>lih} bin ‘Abd al-‘Azi>z bin Muh}ammad bin Ibra>hi>m A<li al-Shaykh, al-Tamhi>d Li Sharh} Kita>b al-Tawh}i>d, Vol. I (t.t: Da>r al-Tawh}i>d, 2003), 136.
[27]  'Ah}mad bin H{anbal. Musnad al-'Ima>m Ah}mad Bin H{anbal, Vol. VI110.
[28] 'Ah}mad bin H{anbal, Musnad al-'Ima>m 'Ah}mad bin H{anbal, Vol. I. Ed. Shu’ayb al-Arnowt et.al (Kairo: Mu'assasah Qurtu>bah, t.th), 381. Shu’ayb al-Arnowt berkomentar bahwa h}adi>th ini s}ah}i>h} lighayrih.
[29]  Muslim, Sahih Muslim, Vol. IV, Ed. Muh}ammad Fua>d ‘Abd al-Ba>qi,1772.
[30] 'Abu> 'Abdilla>h Muh}ammad b. 'Isma>'i>l b. 'Ibra>hi>m b. al-Mughi>rah al-Bukha>ri>, S{ah}i>h al-Bukhari> Bi H{a>shiyah al-Sindi>, Vol. IV (Bayru>t: Da>r al-Fikr, t.th), 20.
[31] Jawwa>d ‘Ali>, Al-Mufas}s}al Fi> Ta>ri>kh al-‘Arab Qabl al-'Isla>m, Vol. XII (t.t: Da>r al-Sa>qi>, 2001), 136.
[32] 'Ibn H{{ajar al-‘Asqala>ni>, Fath}} al-Ba>ri> Sharh} S{ah}i>h} al-Bukha>ri>, X (Bayiru>t: Da>r al-Ma’rifah, t.th), 166. Baca juga al-H{a>kimi>, Ala>m al-Sunnah al-Manshu>rah, 155.
[33] 'Ah}mad bin H{anbal. Musnad al-'Ima>m 'Ah}mad bin H{anbal, Vol. III, 56.
[34] al-'Alba>ni, S{ah}i>h} Wa D{a’i>f al-Ja>mi‘ al-S{aghi>r Wa Ziya>datuhu>, Vol. I,  7.
[35] Al-Bukha>ri>, S{ah}i>h} al-Bukha>ri>, Vol. IV, 1614. Muslim, S{ah}i>h} Muslim, VII, 16.
[36] Al-Muba>rakfu>ri, Mura‘a>t al-Mafa>ti>h, Vol. V, 222.
[37]al-Bukha>ri, al-Ja>mi‘ al-S{ah}i>h} al-Mukhtas}ar, Vol. V, 2169. Selain al-Bukhari hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Tirmidhi>, al-Ja>mi‘ al-S{ah}i>h} S{unan al-Tirmidhi>, Vol. IV, 399. 'Ibn H{ibba>n, S{ah}i>h} 'Ibn H{ibba>n, Vol. XIII,  476. 'Ah}mad Bin H{anbal, Musnad al-'Ima>m 'Ah}mad Bin H{anbal, Vol.V, 51.
[38] Muslim, S{ah}i>h} Muslim, Vol. VII, 20.
[39] Al-Bukha>ri>, S{ah}ih} al-Bukha>ri>, Vol. V, 2168. Muslim, S{ah}i>h} Muslim, Vol. VII, 17.
[40]Sulayma>n bin 'Ah}mad bin 'Ayyu>b 'Abu> al-Qa>sim al-T{abra>ni>, al-Mu‘jam al-S{aghi>r, Vol. II (Bayru>t: al-Maktab al-'Isla>mi>, 1985), 87. 
[41] al-'Alba>ni>, al-Silsilah al-S{ah}i>h}ah, Vol.II, 89.
[42] Al-Bayhaqi>, al-Sunan al-Kubra>, Vol. II, 401.
[43] Al-'Alba>ni>, al-Silsilah al-Sahihah, Vol. II, 543.
[44] al-Bayhaqi>, Kita>b al-Da‘awa>t al-Kabi>r, Vol. II, 282.
[45] Muh}ammad al-S{a>yim, Murshid al-Mu‘a>liji>n bi al-Qur’a>n al-Kari>m, (al-Qa>hirah: Da>r al-Fad}i>lah, 2006), 22. 'Abu> al-T{i>b, ‘Awn al-Ma’bu>d, Vol. VIII, 186.
[46] 'Ibn al-Qayyim, Za>d al-Ma‘a>d, Vol. IV, 326. 'Abu> al-T{i>b, ‘Awn al-Ma’bu>d, Vol. X, 94.
[47] Al-Quzwi>ni>, S{ah}i>h} 'Ibn Ma>jah, Vol. XI, 32.
[48] Al-'Alba>ni>, al-Silsilah al-S{ah}i>h}ah, Vol.VI, 417.
[49] Sa’i>d bin ‘Ali> bin Wahf al-Qah}t}a>ni>, al-Du‘a>' Min al-Kita>b Wa al-Sunnah Wa yali>hi al-‘Ila>j Bi al-Ruqa> Min al-Kita>b Wa al-Sunnah (al-Riya>d}: al-Mat}a>bi’ al-H{amid}i>, 1422), 113.
[50] Kata sains berasal dari bahasa Latin scientia yang berarti "pengetahuan" atau "mengetahui". Dari kata ini terbentuk kata science (Inggris). Sains dalam pengertian sebenarnya adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari berbagai fenomena alam sehingga rahasia yang dikandungnya dapat diungkap dan dipahami. Dalam usaha mengungkap rahasia alam tersebut, sains melakukannya dengan menggunakan metode ilmiah. Dalam hal ini meliputi langkah-langkah sistematis, bersifat objektif, logis, dan  bersifat universal. http://www.pengertianahli.com/ 2013/12.


[51] Klorin adalah unsur halogen yang paling banyak terdapat di alam namun jarang ditemui dalam bentuk bebas. Pada umumnya klorin ditemukan dalam bentuk garam halida dan ion klorida (Lihat: sifat-sifat unsur Halogen). Sumber utama klorin adalah air laut. Dalam air laut klorin berbentuk ion klorida. Pada proses pembuatan garam, ion klorida akan berikatan dengan unsur Natrium membentuk garam Natrium klorida atau garam dapur. http://www.kamusq.com/2012/11/klorin-adalah-pengertian-dan-definisi.html.
[52] Masaru Emoto, The True Power Of Water, Hikmah Air Dalam Olah Jiwa, terj. Azam Translator (Bandung: MQ Publishing, 2006), 13.
[53] Emoto, The True Power, 113-115.
[54] Siti Fadilah Supari dalam “komentar/tanggapan” terhadap buku Masaru Emoto, The True Power Of Water, Hikmah Air Dalam Olah Jiwa, terj. Azam Translator (Bandung: MQ Publishing, 2006)
[55] Moh. Sholeh, Bertobat sambil Berobat: Rahasia Ibadah Untuk Mencegah dan Menyembuhkan Berbagai Penyakit (Bandung: Hikmah, 2008), 154.
[56] Yang dimaksud dengan terapi pineal adalah terapi yang memfokuskan pada kelenjar otak yang bernama pineal atau pineal gland. Dalam hal ini, terapi yang dilakukan adalah dengan menjaga dan mengkondisikan agar kelenjar pineal dapat memproduksi hormon sesuai yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Kelenjar pineal ini dipandang mampu menaklukkan berbagai penyakit yang datang menyerang. Iftachul ‘Ain Hambali, Islamic Pineal Theraphy (Jakarta: Prestasi, 2011), 9.
[57] Hormon melatonin sangat berperan dalam mengatur, mengontrol dan mengendalikan kelenjar dan hormon yang lain serta fungsi-fungsi biologis organ tubuh yang lain, di antaranya 1). mengurangi ketegangan jiwa; 2) memperbaiki tidur; 3) memperkuat daya kekebalan tubuh; meningkatkan daya tahan terhadap bakteri dan virus; 4) mencegah kanker dan 5) mencegah pikun. Hambali, Islamic Pineal therapy, 22-23.