Selasa, 04 Desember 2012


HAKIKAT MANUSIA
MENURUT 'IBN AL-QAYYIM

Oleh
Achmad Zuhdi Dh
0817581229

            Menurut 'Ibn al-Qayyim, manusia itu terdiri dari badan dan roh. Bagian pertama merupakan ungkapan tentang badan bangunan yang khusus yang dapat diraba ini, bagian kedua berupa roh atau jiwa yang merupakan ungkapan tentang fisik yang lembut selain badan ini. Fisik yang berbeda dalam hakikatnya dengan badan yang dapat diraba ini, merupakan fisik yang bersifat cahaya, tinggi, ringan, hidup, bergerak, menyebar di setiap sel anggota badan, berjalan di dalamnya seperti aliran air dalam saluran dan seperti aliran minyak zaitun dari api dalam bara[1].
            Selagi anggota badan ini masih bisa menerima pengaruh yang muncul dari fisik yang lembut itu, maka fisik itu tetap ada pada anggota badan ini, sehingga ia merasakan pegaruhnya yang berupa rasa, gerakan dan kehendak. Jika anggota-anggota ini rusak karena didominasi komponen yang menekannya dan tidak dapat menerima pengaruh itu, maka roh berpisah dengan badan dan beralih ke alam roh (فارق الروح البدن وانفصل الى عالم الارواح).[2]
            Pendapat 'Ibn al-Qayyim ini didukung beberapa dalil berikut ini:
Pertama, firman Allah surat al-Zumar ayat 42:
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ [3]
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.
Menurut 'Ibn al-Qayyim, dalam ayat tersebut terkandung tiga petunjuk, yaitu (1) berita tentang dipegangnya jiwa; (2) berita tentang ditahannya jiwa; dan (3) berita tentang dilepaskannya jiwa.[4]
Kedua, firman Allah surat al-'An‘a>m ayat 60-61:
وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَى أَجَلٌ مُسَمًّى ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُونَ [5]
Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur (mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.
Menurut 'Ibn al-Qayyim, dalam ayat tersebut terkandung tiga petunjuk, yaitu (1) informasi tentang ditidurkannya jiwa pada malam hari; (2) jiwa itu dikembalikan ke badannya pada siang hari; (3) para malaikat mewafatkannya jika sudah tiba saat kematiannya.[6]
 Ketiga, hadis riwayat Ah}mad dari 'Abu> Hurayrah ra:
عَن النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ الْمَيِّتَ تَحْضُرُهُ الْمَلَائِكَةُ فَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ الصَّالِحُ قَالُوا اخْرُجِي أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الطَّيِّبِ اخْرُجِي حَمِيدَةً وَأَبْشِرِي بِرَوْحٍ وَرَيْحَانٍ وَرَبٍّ غَيْرِ غَضْبَانَ قَالَ فَلَا يَزَالُ يُقَالُ ذَلِكَ حَتَّى تَخْرُجَ ثُمَّ يُعْرَجَ بِهَا إِلَى السَّمَاءِ فَيُسْتَفْتَحُ لَهَا فَيُقَالُ مَنْ هَذَا فَيُقَالُ فُلَانٌ فَيَقُولُونَ مَرْحَبًا بِالنَّفْسِ الطَّيِّبَةِ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الطَّيِّبِ ادْخُلِي حَمِيدَةً وَأَبْشِرِي بِرَوْحٍ وَرَيْحَانٍ وَرَبٍّ غَيْرِ غَضْبَانَ قَالَ فَلَا يَزَالُ يُقَالُ لَهَا حَتَّى يُنْتَهَى بِهَا إِلَى السَّمَاءِ الَّتِي فِيهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَإِذَا كَانَ الرَّجُلُ السَّوْءُ قَالُوا اخْرُجِي أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الْخَبِيثِ اخْرُجِي ذَمِيمَةً وَأَبْشِرِي بِحَمِيمٍ وَغَسَّاقٍ وَآخَرَ مِنْ شَكْلِهِ أَزْوَاجٍ فَلَا يَزَالُ حَتَّى تَخْرُجَ ثُمَّ يُعْرَجَ بِهَا إِلَى السَّمَاءِ فَيُسْتَفْتَحُ لَهَا فَيُقَالُ مَنْ هَذَا فَيُقَالُ فُلَانٌ فَيُقَالُ لَا مَرْحَبًا بِالنَّفْسِ الْخَبِيثَةِ كَانَتْ فِي الْجَسَدِ الْخَبِيثِ ارْجِعِي ذَمِيمَةً فَإِنَّهُ لَا يُفْتَحُ لَكِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ فَتُرْسَلُ مِنْ السَّمَاءِ ثُمَّ تَصِيرُ إِلَى الْقَبْرِ [7]

            Dari Nabi Saw, ia bersabda: Sesungguhnya orang yang mati itu ditemui para malaikat. Jika ia orang salih, maka para malaikat berkata: "keluarlah wahai jiwa yang baik yang sebelumnya berada di jasad yang baik. Keluarlah dalam keadaan terpuji, dan terimalah kabar gembira berupa ketenangan dan kenikmatan serta Tuhan yang tidak murka. Hal itu senantiasa dikatakan kepadanya hingga roh itu keluar, lalu dibawa naik hingga tiba di langit. Langit diminta membukakan untuk kedatangannya, lalu ada yang bertanya: "Siapakah itu?". Dijawab: "Fulan bin Fulan".
            Dikatakan: "Selamat datang kepada jiwa yang baik yang sebelumnya berada di dalam badan yang baik pula. Masuklah dalam keadaan terpuji dan terimalah kabar gembira berupa ketenangan dan kenikmatan serta Tuhan yang tidak murka. Hal itu senantiasa dikatakan kepadanya hingga ia tiba di langit yang di sana ada Allah. Jika orang buruk, maka dikatakan kepadanya: "kembalilah wahai jiwa yang buruk yang sebelumnya berada di badan yang buruk pula. Keluarlah dalam keadaan hina dan terimalah kabar berupa air yang mendidih dan nanah serta hukuman-hukuman lainnya". Hal itu senantiasa dikatakan kepadanya hingga ia keluar dan tiba di hadapan Allah. Ditanyakan: "Siapa itu?". Dijawab: "Fulan bin Fulan".
            Dikatakan: "Tidak ada ucapan selamat datang kepada jiwa yang buruk yang sebelumnya berada di badan yang buruk pula. Keluarlah dalam keadaan hina, karena pintu-pintu langit tidak dibukakan bagimu". Lalu ia dikirim ke bumi kemudian kembali ke kubur".  
Menurut 'Ibn al-Qayyim, hadis tersebut sahih, yang di dalamnya terkandung sepuluh petunjuk, yaitu: (1) Roh itu sebelumnya ada yang berada di badan yang baik dan ada yang di badan yang buruk. Berarti di sini ada keadaan dan ada tempat.  (2) Keluar dalam keadaan terpuji. (3) Sabda beliau: "terimalah kabar gembira berupa ketenangan dan kenikmatan". Ini merupakan kabar gembira yang disampaikan kepadanya setelah roh itu keluar. (4) Sabda beliau: "hal itu senantiasa dikatakan kepadanya hingga ia tiba di langit".  (5) Sabda beliau: "langit diminta membukakan untuk kedatangannya ". (6) Perkataan: "masukklah dalam keadaan terpuji". (7) Sabda beliau: "hingga ia tiba di langit yang di sana ada Allah". (8) Perkataan yang disampaikan kepada jiwa yang buruk: "kembalilah dalam keadaan hina". (9) Pintu-pintu langit tidak dibukakan bagi jiwa yang buruk. (10)Sabda beliau: "lalu ia dikirim ke bumi kemudian kembali ke kubur.[8]
Menurut 'Ibn al-Qayyim, semua orang yang berakal sepakat bahwa yang disebut manusia itu adalah yang hidup ini, yang berpikir, makan, tidur, merasakan, bergerak berdasarkan kehendak. Sifat-sifat ini ada dua macam, yaitu sifat-sifat yang dimiliki badan dan sifat-sifat yang dimiliki roh dan jiwanya yang dapat memikirkan. Sekiranya roh memiliki substansi yang kosong, tidak berada di dalam alam ini maupun di di luarnya, tidak berhubungan dengannya namun tidak pula berpisah darinya, tentunya manusia tidak berada di dalam alam ini dan tidak pula di luarnya. Manusia secara keseluruhannya ada di dalam alam ini, badannya dan juga rohnya.[9]
Lebih lanjut 'Ibn al-Qayyim mengatakan bahwa yang dimaksud dengan manusia itu adalah wujud yang ada ini dan yang ada padanya. Wujud manusia yang tampak ini dan yang ada padanya inilah yang menerima seruan dari Allah Swt. Begitu pula jika ada pujian, celaan, pahala, siksa, anjuran dan larangan, maka yang menerima adalah wujud yang ada ini dan yang ada padanya.[10]   
'Ibn al-Qayyim lebih lanjut mengatakan bahwa roh itu adalah sesuatu yang mengetahui apa-apa yang diketahui indera-indera ini lewat alat-alatnya. Jiwa adalah indera yang bisa mengetahui meskipun tidak bisa diraba. Hal-hal yang berupa fisik dan yang tampak ini yang dapat diraba. Jiwa dapat merasakan karenanya, dapat menerima keutamaan dan hinaan yang menghampirinya. Jiwa adalah penggerak menurut pilihannya untuk menggerakkan badan, dengan cara paksaan dan penundukan. Jiwalah yang mempengaruhi badan dengan suatu pengaruh sehingga ia merasa sakit, nikmat, senang, sedih, rida, marah, putus asa, benci, mengingat, lalai, tahu, mengingkari dan lain sebagainya. Pengaruh jiwa ini merupakan bukti paling nyata tentang keberadaannya, sebagaimana pengaruh Khalik yang menunjukkan keberadaan dan kesempurnaan-Nya.[11]
Menurut 'Ibn al-Qayyim, roh dan jiwa itu satu. Perbedaan antara roh dan jiwa itu merupakan perbedaan dalam sifat bukan dalam zat. Dikatakan roh karena dengan roh itu ada kehidupan badan, seperti halnya ri>h} (angin) yang mendatangkan kehidupan. Disebut al-nafs (jiwa), boleh jadi karena ia termasuk al-nafi>s (sesuatu yang berharga), karena nilai dan kemuliaannya, atau boleh jadi karena termasuk tanaffus (hembusan napas), sesuatu jika napas itu terhembus keluar karena dan banayaknya hembusan yang keluar-masuk di dalam badan, sehingga disebut nafs. Begitu pula jiwa memiliki gerakan. Jika seorang hamba sedang tidur, maka jiwa itu keluar dari dirinya, dan jika terbangun, maka ia kembali lagi kepadanya.[12]
Menurut 'Ibn al-Qayyim, beberapa ayat al-Qur'an yang menyebutkan  kata al-nafs (jiwa) yang berarti roh, di antaranya adalah surat al-Fajr ayat 27:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي (30)[13]
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.
Kemudian surat al-'An‘a>m ayat 93:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ [14]
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", Padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah." Alangkah dahsyatnya Sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang Para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.

Adapun jiwa, apakah ia satu atau tiga, Ibn al-Qayyim[15] berpendapat bahwa jiwa itu sebenarnya satu, namun ia memiliki tiga sifat, yaitu al-nafs al-mut}ma'innah, al-nafs al-lawwa>mah dan al-nafs al-'amma>rah. Disebut dengan al-mut}ma'innah karena pertimbangan ketenangan yang sedang menuju kepada-Nya berkat ibadah, kecintaan, tawakkal, kepasrahan dan rida kepada-Nya. Sedangkan disebut al-lawwa>mah karena senantiasa mencela diri sendiri akibat keterbatasannya dalam mentaati Allah, meskipun sebenarnya ia telah mengerahkan usaha dan kemampuannya. Adapun disebut al-'amma>rah karena sifatnya yang selalu menyuruh kepada setiap keburukan, yang memang merupakan tabiat jiwa, kecuali yang mendapatkan taufik Allah dan pertolongan-Nya. Di dunia ini tak seorang pun yang terbebas dari kejahatan jiwanya melainkan berkat taufik dan pertolongan Allah, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ          رَحِيمٌ       [16]  
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.



[1] Shams al-Di>n 'Abi>. ‘Abdilla>h 'Ibn Qayyim al-Jawzi>yah, al-Ru>h} Fi> al-Ka>lam ‘ala> 'arwa>h} al-'amwa>t wa al-'ahya>' Bi al-dala>'il Min al-Kita>b wa al-Sunnah wa al-'a>tha>r wa 'aqwa>l al-‘ulama>' (Bayru>t: Da>r al-Fikr, 1992), 177-178.
[2] Ibid.
[3] Al-Qur'an, 39: 42.
[4] 'Ibn al-Qayyim, al-Ru>h}, 178.
[5] Al-Qur'an, 6: 60-61.
[6]  'Ibn al-Qayyim, al-Ru>h}, 179.
[7] 'Ah}mad bin H{anbal, Musnad al-'Ima>m 'Ah}mad bin H{anbal, Vol. XIV, (t.tp: Mu'assasah al-Risa>lah, 1999), 377.
[8]  'Ibn al-Qayyim, al-Ru>h}, 185.
[9] Ibid., 193.
[10] 'Ibn al-Fad}l al-Taymi> al-'As}baha>ni> (w.535 H) dalam al-H{ujjah meriwayatkan 'athar dari 'Ibn ‘Abba>s ra, ia berkata: "Senantiasa ada permusuhan di antara manusia pada hari kiamat, hingga roh memusuhi badan. Roh berkata: "wahai Tuhan aku dulu hanyalah roh yang datang dari-Mu. Engkau menjadikan aku di dalam badan ini dan aku tidak mempunyai dosa apa pun". Sementara badan berkata: "wahai Tuhan, dulu aku hanyalah badan. Engkau menciptakan aku dan roh ini masuk kepadaku seperti api. Karenanya aku berdiri, dengannya aku duduk, pergi dan datang. Aku tidak mempunyai dosa apa pun. Tuhan berkata: "Akulah yang akan memutuskan perkara di antara kalian berdua. Beritahukan kepada-Ku tentang orang buta dan orang yang tidak bisa berjalan, yang keduanya masuk ke sebuah kebun. Orang yang tidak bisa berjalan berkata kepada orang buta: "aku melihat buah. Sekiranya aku mempunyai dua kaki, tentu aku akan mengambilnya". Orang buta berkata: "aku akan memanggulmu di atas pundakku". Orang buta itu kemudian memanggul orang yang tidak bisa berjalan, hingga dia bisa mengambil buah itu, lalu keduanya bisa memakannya. Siapakah yang berdosa? Roh dan badan menjawab: "mereka berdua semuanya". Allah berfirman: "Aku memutuskan seperti keputusan terhadap orang buta dan orang yang tidak bisa berjalan. 'Abu> al-Qa>sim 'Isma>‘i>l bin Muh}ammad bin al-Fad}l al-Taymi> al-'As}baha>ni, al-H{ujjah Fi> Baya>n al-Mah}ajjah Wa Sharh} ‘Aqi>dah 'Ahl al-Sunnah, Vol. I (al-Riya>d}: Da>r al-Ra>yah, 1999), 507.  Baca juga  'Ibn al-Qayyim, al-Ru>h}, 184.  
[11] Ibid., 209.
[12] Ibid., 213.
[13] Al-Qur'an, 89: 27-30.
[14] Al-Qur'an, 6: 93.
[15]  'Ibn al-Qayyim, al-Ru>h}, 216-221.
[16] Al-Qur'an, 12: 53.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar