Jumat, 19 Oktober 2012


Amalan Sunnah Seputar Idul Adha

Oleh:
Achmad Zuhdi Dh
0817581229

1.      Banyak beramal Shaleh pada 10 hari awal Dzul Hijjah

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ
“Tidak ada hari di mana suatu amal shaleh lebih dicintai Allah melebihi amal shaleh yang dilakukan di sepuluh hari ini (tgl 1-10  Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi Saw bersabda: “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dgn jiwa & hartanya (ke medan jihad), & tak ada satupun yang kembali (mati & hartanya diambil musuh, pen).” (HR. Al Bukhari, Ahmad, & At Turmudzi)

2.      Berpuasa sunnah Arafah ( 9 Dzul Hijjah)

Dari Abu Qatadah ra. Nabi Saw bersabda:

  صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ
“…Puasa hari ‘arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai kaffarah satu tahun sebelumnya & satu tahun setelahnya..” (HR. Ahmad & Muslim).

3.      Banyak bertakbir dan dzikr-dzikr lainnya

Allah berfirman:

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

“…supaya mereka berdzikir (menyebut) nama Allah pada hari yang telah ditentukan…” (QS. Al Hajj: 28)

Dari Ibn Abbas ra
أَنَّهُ كَانَ يُكَبِّرُ مِنْ صَلاَةِ الْفَجْرِ يَوْمَ عَرَفَةَ إِلَى آخِرِ أَياَّمِ التَّشْرِيْقِ، لاَ يُكَبِّرُ فِي الْمَغْرِبِ
Bahwa beliau bertakbir setelah shalat shubuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai tanggal 13 Dzulhijjah. Beliau tak bertakbir setelah maghrib (malam tanggal 14 Dzluhijjah).
(HR Ibn Abi Syaibah & Al Baihaqi. Al Albani mengatakan: Sanadnya shahih)

4.      Merayakan Idul Adha

Dari Anas bin Malik ra, beliau mengatakan:
قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ ». قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ ».
Bahwa ketika Nabi Saw tiba di Madinah, masyarakat Madinah memiliki dua hari yang mereka rayakan dgn bermain. Kemudian nabi Saw bertanya: “Dua hari apakah ini?” mereka menjawab: kami merayakannya dgn bermain di dua hari ini ketika zaman jahiliyah. Kemudian Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah telah memberikan ganti kepada kalian dgn dua hari yang lebih baik: Idul Fitri & Idul Adha.”
(HR. An Nasa’i, Abu Daud, Ahmad & dinilai shahih oleh Al albani)

5.         Berqurban

Allah berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Laksanakanlah shalat utk Tuhanmu dan sembelihlah qurban.”
(QS. Al Kautsar: 2)

Dari Abu Hurairah ra Nabi Saw bersabda:

 مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ، فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
“Siapa yang memililki kelapangan namun dia tak berqurban maka jangan mendekat ke masjid kami.” (HR. Ahmad & Ibn Majah & dihasankan Al Albani)

Bagi orang yang hendak berqurban, hendaknya tidak memotong kuku atau rambut dirinya (bukan hewannya) ketika sudah masuk tanggal 1 Dzulhijjah sampai dia memotong hewan qurbannya. (Al-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, VI/472)

Dari Umu salamah ra dari Nabi Saw bersabda:

مَن كانَ لَهُ ذِبحٌ يَذبَـحُه فَإِذَا أَهَلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ
“Barangsiapa yang memiliki hewan yang hendak dia sembelih (di hari raya Idul Adha), jika sudah masuk tanggal 1 Dzulhijjah maka janganlah dia memotong rambutnya & kukunya sedikitpun, sampai dia menyembelih qurbannya.”
(HR. Muslim)

Yahya bin Ya`mur pernah memberi fatwa di Khurasan:

أَنَّ الرَّجُلَ إِذَا اشْتَرَى الْأُضْحِيَّةَ وَأَسْمَاهَا وَدَخَلَ الْعَشْرُ أَنْ يَكُفَّ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ حَتَّى يُضَحِّيَ

Bahwasanya orang yang telah membeli hewan kurban dan memberinya nama, dan sudah  masuk sepuluh hari (tgl 1-10 Dzul Hijjah) hendaknya ia menahan rambut dan kukunya (tidak memotongnya) hingga ia menyembelihnya
Ibn Hajar, al-Mathalib al-’Aliyah, X/445. 


Amalan Bid’ah di Bulan Dzulhijjah

(1)
Mengkhususkan puasa di hari tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah)
dengan keyakinan bhw hari tsb memiliki keutamaan tertentu. Karena tak ditemukan dalil yang menganjurkan puasa secara khusus pada tanggal 8 Dzulhijjah, selain hadis palsu yang menyatakan:

صَوْمُ يَوْمِ التَّرْوِيةِ كَفَّارَةُ سَنَةً
“berpuasa pada hari tarwiyah dapat menghaapus dosa selama satu tahun.”

Imam Ibnul Jauzi al-Qurasyi menegaskan bahwa hadis ini tidak shahih,
karena di antara perawinya ada yang bernama al-Tibbi yang dikenal sebagai pendusta. (Al Maudhu’at, 2/198), dan Al-Albani men-da’ifkannya dalam Irwa al-Ghalil, IV/112).

Namun jika seseorang berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijjah karena hadis shahih yang menyebutkan keuatamaan 10 hari pertama Dzulhijjah, maka diperbolehkan.

(2)
Ta’rif di hari Arafah

Ta’rif adalah kegiatan di mana orang-orang yang tak sedang melaksanakan haji berkumpul bersama di masjid-masjid pada siang-sore hari, utk berdzikir  dan berdo’a sebagaimana yang dilakukan orang yang sedang wukuf di Arafah. Sebagian ulama menegaskan bahwa kegiatan ini termasuk perbuatan bid’ah. Berikut beberapa nukilan riwayat para ulama yang melarang ta’rif:

Muhammad bin Wadldlah al-Qurtubi dalam   al-Bida‘ Wa al-Nahy ‘Anha, I/53-54  menerangkan:
Dari Abu Hafs Al Madini, beliau menceritakan, bahwa masyarakat Madinah berkumpul setelah asar di masjid Nabawi pada hari arafah. Mereka memperbanyak berdo’a. Kemudian datanglah Nafi, bekas budak & murid Ibnu Umar, sambil mengatakan:

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ الَّذِيْ أَنْتُمْ عَلَيْهِ بِدْعَةٌ وَلَيْسَتْ بِسُنَّةٍ، إِنَّا أَدْرَكْنَا النَّاسَ وَلاَ يَصْنَعُوْنَ مِثْلَ هَذَا
Wahai manusia, sesungguhnya perbuatan yang sedang kalian lakukan adalah bid’ah dan bukan sunnah (tidak ada ajarannya). Sesungguhnya kami pernah menjumpai para sahabat, tak pernah melakukan hal ini..”

قال ابن عون شَهِدْتُ إِبْرَاهِيْمَ النَّخَعِيْ سُئِلَ عَنْ اجْتِمَاعِ النَّاسِ عَشِيَّةً عَرَفَةَ فَكَرِهَهُ وَقَالَ مُحْدَثٌ
Ibn Aun berkata: “Aku melihat Ibrahim An-Nakha’i ditanya tentang praktik beberapa orang yang berkumpul di masjid pada hari arafah. Beliau membencinya  dan mengatakan: Itu bid’ah”.

Diriwayatkan dari Sufyan bahwa beliau mengatakan:

لَيْسَتْ عَرَفَةُ إِلاَّ بِمَكَّةَ ، لَيْسَ فِيْ هَذِهِ الأَمْصَارِ عَرَفَة
Arafah hanya ada di Mekah, sementara di daerah lain tak ada Arafah.
(Ibn Wadldlah al-Qurtubi, Al Bida ‘  Wa al-Nahy ‘anha, I, 53-54 )

Imam Malik menanggapi kegiatan ta’rif ini dgn mengatakan:

لَيْسَ هَذَا مِنْ أَمْرِ النَّاسِ ، وَإِنَّمَا مَفَاتِيْحُ هَذِهِ الأَشْيَاءِ مِنَ الْبِدَعِ
Ini bukan termasuk kebiasaan para sahabat. Kunci pintu perbuatan semacam ini bersumber dari bid’ah.
(Abu Syamah, al-Ba’ith ‘Ala Inkar  al Bida`, I/32 )

والله اعلم بالصّواب
Wallahu A’lam Bi al-Shawab
شُكْراً كَثِيْراً

Tidak ada komentar:

Posting Komentar