Jumat, 27 Januari 2017

BAKTI ORANGTUA
DENGAN MENCINTAI AL-QUR’AN


Oleh



Dr.H.Achamad Zuhdi Dh, M.Fil I



Nabi Saw bersabda:

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِي بُيُوتِ الدُّنْيَا لَوْ كَانَتْ فِيكُمْ فَمَا ظَنُّكُمْ بِالَّذِي عَمِلَ بِهَذَا؟ فَيَقُوْلاَنِ: بِمَ أَعْطَيْناَ هَذَا؟ فَيُقَالُ: بِأَخْذِ وَلَدِ كُمَا لِلْقُرآن. (رواه أبو داود وأحمد والحاكم في المستدرك وقال: صحيح الإسناد ولم يخرجاه)
Artinya: “Barangsiapa membaca Al-Qur`an dan mengamalkannya, maka -pada hari kiamat- akan dipakaikan kepada kedua orang tuanya sebuah mahkota yang berkilau, yang sinarnya lebih baik dari sinar mentari di rumah-rumah dunia, maka bagaimana menurutmu terhadap orang yang mengamalkannya? Kedua orangtuanya berkata: “Mengapa kami diberi mahkota ini? Maka dikatakan: “Karena anakmu mengambil (membaca dan mengamalkan) Al-Qur`an”. (HR. Abu Dawud No.1456; Ahmad No. 15218; al-Hakim No. 2086. Kata al-Hakim sanad hadis ini shahih, dan tidak diriwayatkan oleh al- Bukhari dan Mislim).
            Hadis tersebut menjelaskan betapa mulianya orang-orang yang gemar membaca al-Qur’an dan berusaha mengamalkannya. Dan betapa beruntungnya orang tua yang berhasil mendidik anak-anaknya hingga mencintai, membaca, dan mengamalkan al-Qur’an. Bagi orangtua yang memiliki anak-anak yang gemar membaca al-Qur’an dan mengamalkannya, maka pada hari kiamat kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota yang berkilauan sebagai penghormatan kepada mereka.
            Dalam kenyataannya, dewasa ini banyak orang tua yang merasa bangga jika anak-anaknya dapat nilai tinggi untuk mata pelajaran matematika, namun mereka tidak pernah merasa resah-gelisah walaupun nilai agamanya rendah. Mereka rela habis uang banyak untuk membayar kursus bahasa Inggris bagi anak-anaknya. Sementara keberatan jika dipungut biaya -walaupun sedikit- untuk infak ngaji di TPQ.
            Allah memperingatkan mereka yang tidak mengindahkan ajaranNya dengan firmanNya: “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”Dia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?". Dia (Allah) berfirman, "Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan”. Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Sungguh, azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal (QS.Thaha, 124-127).
            Berikut ini ada kisah nyata yang sangat mengharukan terkait dengan cinta kepada al-Qur’an dan banyak orang yang tak sanggup menahan air matanya saat membaca kisah yang pernah ditulis dalam aryginanjar.com. Berikut ini kisahnya:
Seorang anak berumur 10 tahun namanya Umar. Ia adalah anak pengusaha sukses yang kaya raya. Oleh ayahnya, si Umar di sekolahkan di SD Internasional paling bergengsi di Jakarta. Tentu bisa ditebak, bayarannya sangat mahal. Tapi, bagi si pengusaha, tentu bukan masalah. Maklum, uangnya berlimpah. Si ayah berfikir kalau anaknya harus mendapat bekal pendidikan terbaik di semua jenjang agar anaknya kelak menjadi orang yg sukses mengikuti jejaknya.
Suatu hari isterinya memberi tahu kalau Sabtu depan si ayah diundang menghadiri acara “Father’s Day” di sekolah Umar. “Waduh, saya sibuk ma, kamu saja deh yang datang! Begitu ucap si ayah kepada isterinya. Bagi sang ayah, acara beginian sangat nggak penting dibanding dengan urusan bisnis besarnya. Tapi kali ini isterinya marah dan mengancam, sebab sudah kesekian kalinya si ayah nggak pernah mau datang ke acara anaknya. Sang mama malu karena anaknya selalu didampingi mamanya, sedangkan anak-anak yang lain selalu didampingi ayahnya. Karena diancam isterinya, akhirnya si ayah mau hadir meski dengan agak ogah-ogahan.
“Father’s Day” adalah acara yang dikemas khusus di mana anak-anak saling unjuk kemampuan di depan ayah-ayahnya. Karena ayah si Umar ogah-ogahan maka ia memilih duduk di kursi paling belakang. Sementara para ayah yg lain (terutama yg muda-muda) berebut duduk di depan agar bisa menyemangati anak-anaknya yg akan tampil di panggung.
Acara pun dimulai. Satu persatu anak-anak menampilkan bakat dan kebolehannya masing-masing. Ada yang menyanyi, menari, membaca puisi, pantomime, ada pula yang pamerkan lukisannya, dan lain-lain. Semua mendapat applause, sambutan meriah, dan gegap gempita dari ayah-ayah mereka.
Tibalah giliran si Umar dipanggil gurunya untuk menampilkan kebolehannya. “Miss, bolehkah saya panggil pak Arief ?” Tanya si Umar kepada Miss MC. Pak Arief adalah guru mengaji untuk kegiatan ekstra kurikuler di sekolah itu. “Oh boleh…!”  Begitu jawab Miss MC, dan pak Ariefpun dipanggil ke panggung. “Pak Arief, tolong bapak bukakan Kitab Suci Al Qur’an Surat 78 (An-Naba’)”,  begitu Umar minta kepada guru ngajinya. “Tentu saja boleh nak..!” Jawab pak Arief..! “Tolong bapak perhatikan apakah bacaan saya ada yang salah..!” Lalu si Umar mulai melantunkan QS An-Naba’ tanpa melihat mushafnya (hapalan). Saat itu Umar membacanya dengan lantunan irama yang mirip dengan bacaan “Syaikh Sudais” (Imam Besar Masjidil Haram).
Semua hadirin diam terpukau mendengarkan bacaan si Umar yg mendayu-dayu,  termasuk ayah si Umar yg duduk di belakang. “Stop..! Kamu telah selesai membaca ayat 1 s/d 5 dengan sempurna, sekarang coba kamu baca ayat 9..!” Begitu kata pak Arief yg tiba-tiba memotong bacaan Umar. Lalu Umarpun membaca ayat 9…” Stop..! coba sekarang baca ayat 21.., lalu ayat 33..,” Setelah Umar usai membacanya, lalu kata pak Arief: “Sekarang kamu baca ayat 40 (ayat terakhir)!”   Si Umarpun membaca ayat ke 40 tersebut sampai selesai”.  “Subhanallah…! Kamu hafal Surat An-Naba’ dengan sempurna nak…!”, begitu teriak pak Arief sambil merangkul dan mengucurkan air matanya. Dan, para hadirin yg muslimpun tak kuasa menahan airmatanya…karena terharu, ada anak seusia 10 tahun sudah mahir membaca al-Qur’an dengan begitu indah.
Lalu pak Arief bertanya kepada Umar. ”Kenapa kamu memilih menghafal Al-Qur’an dan membacakannya di acara ini nak, sementara teman-temanmu unjuk kebolehan yang lain..?” Begitu tanya pak Arief penasaran…! Pertanyaan ini juga mungkin menjadi pertanyaan banyak ayah yang hadir pada acara tersebut. Mereka pun ingin tahu apa yang memotivasi Umar hingga penampilannya berbeda dengan teman-teman yang lain. Pada suasana yang khidmad itu, Umar mengatakan: “Begini pak guru…! Dulu, waktu saya malas mengaji dalam mengikuti pelajaran bapak..bapak pernah menegur saya sambil menyampaikan sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa membaca Al-Qur`an dan mengamalkannya, maka -pada hari kiamat- akan dipakaikan kepada kedua orang tuanya sebuah mahkota yang berkilau, yang sinarnya lebih baik dari sinar mentari di rumah-rumah dunia, maka bagaimana menurutmu terhadap orang yang mengamalkannya? Kedua orangtuanya berkata: “Mengapa kami diberi mahkota ini? Maka dikatakan: “Karena anakmu mengambil (membaca dan mengamalkannya) Al-Qur`an”. (Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ahmad, dan al-Hakim. Kata al-Hakim sanad hadis ini shahih, dan tidak diriwayatkan oleh al- Bukhari dan Mislim).
Umar melanjutkan kata-katanya: “Pak guru, saya ingin mempersembahkan “mahkota yang berkilauan” kepada ibu dan ayah saya di hadapan Allah di akherat kelak. Sebagai seorang anak, saya ingin berbakti kepada kedua orangtua saya.”
Saat itu, semua orang terkesima dan tidak sanggup membendung air matanya, terharu mendengar ucapan seorang anak yang masih berumur 10 tahun tersebut. Di tengah suasana hening tersebut, tiba-tiba terdengar teriakan “Allahu Akbar!” dari seseorang yang lari dari belakang menuju ke panggung…. Ternyata dia adalah ayah si Umar yang dengan tergopoh-gopoh langsung memeluk sang anak..lalu mengatakan:  ”Ampuun nak.. maafkan ayah yang selama ini tidak pernah memperhatikanmu..tidak pernah mendidikmu dengan ilmu agama..apalagi mengajarimu mengaji…” Sang ayah pun tidak sanggup membendung air matanya, menangis di kaki anaknya…”. Ayah menginginkan agar kamu sukses di dunia nak…ternyata kamu malah memikirkan “kemuliaan ayah” di akherat kelak.  Ayah malu nak!" Ujar sang ayah sambil menangis tersedu-sedu…!
Suasana hadirin pun pecah dengan derai airmata dan isak tangis yang tak tertahankan. Subhanallah…….! Berapa banyak orang tua yang seperti dia. Lebih mementingkan dunia daripada akhirat. Lebih mementingkan kursus matematika daripada kursus al-Qur’an.  
Semoga kisah nyata ini dapat menginspirasi dan memberikan pencerahan. Dan semoga Allah menyadarkan kita sebagai orang tua.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar