Sabtu, 16 April 2011

Karakter/Sifat Manusia

Empat Karakter(sifat) Manusia

Dilihat dari karaktaristiknya, menurut Imam al-Ghazali (Ihya ‘Ulum al-Din, III/119), manusia memiliki empat macam karakter, yaitu:

1. Al-Rubu’iyah; (الربوبية), yaitu sifat “ketuhanan” yang terdapat pada diri manusia yang apabila telah menguasai diri manusia maka ia ingin menguasai, menduduki jabatan yang tinggi, menguasai ilmu apa saja, suka memaksa orang lain dan tak mau direndahkan, maunya hanya dipuji.

2. Al-Syaithaniyah; (الشيطانية), yaitu sifat “kesetanan” yang ada pada diri manusia yang apabila telah menguasai dirinya ia akan suka merekayasa dengan tipu daya dan meraih segala sesuatu dengan cara-cara yang jahat. Di sini mansia suka mengajak pada perbuatan bid’ah, kemunafikan dan berbagai kesesatan lainnya.

3. Al-Bahimiyah; (البهيمية), yaitu sifat manusia berupa “kehewanan” yang apabila telah menguasai dirinya ia akan rakus, tamak, suka mencuri, makan berlebihan, tidur berlebihan dan bersetubuh berlebihan, suk berzina, berprilaku homoseks dan lain sebagainya.

4. Al-Sabu’iyah. (السبوعية), yaitu sifat “kebuasan” yang apabila menguasai diri manusia ia akan suka bermusuhan, berkelahi, suka marah, suka menyerang, suka memaki, suka berdemo, anarkis, cemburu berlebihan dan lain sebagainya.
Empat sifat tersebut di atas tidak tumbuh dan berkembang secara sekaligus tetapi melalui tahapan-tahapan atau secara berangsur-angsur.

Pertama kali yang tumbuh adalah sifat kehewanan “al-bahimiyah”. Melalui sifat ini manusia suka makan, tidur, seks agar dapat tumbuh sehat.

Selanjutnya yang kedua adalah sifat kebuasan “alsabu’iyah” atau yang disebut dengan nafsu amarah “al-ghadabiyah”. Dengan sifat ini manusia dapat menolak sesuatu yang dapat megancam dan merugikan dirinya seperti ingin menyerang, membunuh, memaki, berkelahi dan lain sebagainya.

Yang ketiga yang tumbuh adalah sifat kesetanan “al-syaithaniyah”. Sifat ini tumbuh pada diri manuia setelah tumbuh sifat kehewanan dan kebuasan. Bilamana kedua sifat tersebut sudah ada pada diri manausia, maka setelah manusia mulai bisa berfikir (sekitar 7 tahun), maka berbagai cara akan dilakukan untuk memenuhi nafsunya. Di sini manusia akan melakukan tipu daya, makar, rekayasa demi mencapai apa yang diinginkannya.

Yang terakhir tumbuh dan berkembang dalam diri manusia adalah sifat ketuhanan “al-rububiyah”. Melalui sifat ini manusia ingin menguasai, memiliki segalanya, ingin berkuasa, menduduki jabatan setinggi-tingginya. Di sini manusia akan merasa berbangga diri, sombong, ingin dipuji, merasa paling benar dan lain sebagainya.
Selain memberikan empat sifat atau karakter pada diri manusia, Allah Swt juga menganugerahi manusia berupa akal. Fungi akal ini adalah untuk mengendalikan keempat karakter (nafsu) tersebut. Menurut Sokrates, fungsi akal itu tidak lain adalah untuk mencari kebenaran.

Dengan akal, sifat “al-bahimiyah” yang ada pada manusia, akan dikendalikan untuk hal-hal yang benar, seperti makan dan tidur secara teratur dan berhubungan seks setelah menempuh pernikahan.

Dengan akal, sifat manusia “al-sabu’iyah” akan dikendalikan menjadi pemberani, membela kebenaran, menolak kebatilan demi kemaslahatan.

Dengan akal, sifat manusia “al-syaithaniyah” akan dikendalikan menjadi berhati-hati, waspada, mampu mengadakan penyelidikan, kritis, teliti, bisa bedakan yang jujur dan bohong.

Dengan akal, sifat manusia “al-rububiyah” akan dikendalikan menjadi seorang pemimpin, manajer dan pelayan bagi orang lain.

Akal, betapapun berfungsi dan bertujuan mencari kebenaran, ia memiliki keterbatasan. Untuk meraih kebenaran yang sempurna, Allah memberikan petunjuk lagi berupa agama. Petunjuk agama ini berupa al-Qur’an dan al-Sunnah.

Dalam hadits riwayat al-Hakim dari Ibn Abbas ra, Nabi Saw bersabda:

إني قد تركت فيكم ما إن اعتصمتم به فلن تضلوا أبدا كتاب الله وسنة نبيه

Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepadamu, apabila kamu berpegang teguh dengannya, kamu tidak akan tersesat selamanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunnah nabiNya (al-Hadits).
Al-Albani menilai hadits tersebut sahih.

Dengan agama, manusia akan dapat mengendalikan diri, dapat terbimbing pada kehidupan yang benar bahkan bisa menjadi seoang manusia yang wara.
Dalam hadits riwayat Malik, al-Tirmidzi dan Ibn Majah dari Abu Hurairah, Nabi Saw bersabda:

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meningglkan hal-hal yang tdak bermanfaat
Al-Albani menilai hadis tersebut sahih

Dalam kajian tashawwuf, orang-orang yang sanggup mngendalikan diri, sehingga dapat membawa diri untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat disebut dengan wara.

Ibrahim bin Adham: Wara adalah 1). Meninggalkan hal-hal yang merugikan; 2). Meninggalkan hal-hal yang tidak berarti; 3). Meninggalkan hal-hal yang berlebihan.
Jika manusia berhasil menjadi orang yang wara’ maka ia akan menjadi manusia atau hamba Allah yang terbaik.

Dalam hadits riwayat Ibn Majah dari Abu Hurairah, Nabi Saw bersabda:

كن ورعا تكن أعبد الناس

Jadilah kamu orang yang wara, pasti kamu akan menjadi orang yang paling tinggi pengabdiannya kepada Allah. Al-Albani menilai hadits tersebut shahih.

Jika manusia berhasil menjadi hamba Allah yang betul-betul mengabdi kepadaNya, maka ia telah sesuai dengan maksud Allah menciptakannya.
Allah Swt berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS.al-Dzariyat, 56)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar