Senin, 09 Mei 2011

KIAT MERAIH KHUSYUK DALAM SHALAT

KIAT MERAIH KHUSYUK DALAM SHALAT

Oleh: Achmad Zuhdi Dh

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, (QS.al-Mukminun, 1-2)

Orang yang khusyuk dalam shalat adalah orang yang mempunyai kesadaran ruhani bahwa dirinya, ketika shalat, sedang beraudensi (bertemu dan berdialog) dengan Allah Swt. (Abu Sangkan, Pelatihan shalat khusyu, 23)

Sejak kecil kita sudah diajari bagaimana tata-cara shalat, tetapi tidak pernah diajari bagaimana cara meraih khusyuk dalam shalat. Karena pada umumnya sang guru beranggapan bahwa meraih khusyuk dalam shalat itu sangat sulit. Akibatnya kita melakukan shalat hanya dengan menghafal bacaan dan gerakan-gerakan tanpa ruh. Sampai-sampai ketika Ramadhan tiba, banyak imam shalat tarawih yang adu cepat dalam menyelesaikan shalatnya. Biasanya sebuah mushalla atau masjid yang imamnya cepat, di situ akan banyak penggemarnya.

Benarkah meraih shalat khusyuk itu sulit? Jawabannya tergantung bagaimana cara memandang dan mengusahakannya.

Meraih khusyuk dalam shalat akan benar-benar terasa sulit apabila sebelumnya seseorang beranggapan bahwa (1)tidak mungkin bisa shalat dengan khusyuk, kecuali orang-orang yang istimewa seperti para wali; (2)shalat itu hanyalah kewajiban yang dibebankan kepada manusia, sehingga setiap hendak melaksanakan shalat ada rasa berat, malas dan tidak jarang terasa menjemukan.

Insya Allah, seseorang akan berhasil meraih khusyuk dalam shalat apabila memiliki sikap dan pandangan bahwa (1)sebenarnya setiap orang berpotensi dapat meraih khusyuk dalam shalatnya, karena tidak mungkin Allah memerintahkan dan memberi beban kepada umatnya yang tidak akan mampu melakukannya; (2)perintah shalat, sebenarnya bukanlah sekedar kewajiban yang harus ditunaikan, tetapi lebih dari itu, shalat sebenarnya merupakan kebutuhan dan sarana bagi manusia untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan. Allah Swt berfiman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk; (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS.al-Baqarah, 45-46)

Berikut ini beberapa petunjuk dari Rasulullah Saw bagaimana cara melakukan shalat yang benar sehingga dapat meraih kekhusyukan dalam shalat.

Pertama, niat ikhlas semata-mata karena Allah
Niat ikhlas adalah kesadaran untuk melakukan shalat karena Allah semata dengan cara mempersatukan aktifitas otak kiri dan otak kanan sehingga menghasilkan kontak, “nyambung” dengan Allah yang menjadi pusat persembahan.

Kebanyakan yang terjadi di masyarakat, kata niat tidak difahami sebagaimana tersebut di atas, tetapi pengertiannya menjadi “membaca niat”, seperti “ushalli” (aku niat shalat). Niat dengan pengertian seperti ini, kata Abu Sangkan, tidak akan membawa dampak apa-apa terhadap shalat yang dilakukan. Niat seharusnya merupakan awal pekerjaan yang penuh kesadaran yang meliputi pikiran, hati dan perbuatan. Jika dalam melakukan shalat dimulai dengan niat yang benar, maka insya Allah akan mudah meraih khusyuk dalam shalatnya.

Betapa pentingnya niat yang benar dan ikhlas, Nabi saw pernah bersabda:

عَنْ أَبِى أُمَامَةَ الْبَاهِلِىِّ قَالَ قَالَ النبى صلى الله عليه وسلم: « إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِىَ بِهِ وَجْهُهُ ». رواه النسائى وقال الشيخ الألباني : حسن صحيح

Dari Abu Umamah al-Bahili, ia berkata: Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan yang tidak didasari dengan niat yang ikhlas dan semata-mata untuk mendapatkan ridha-Nya (HR. Al-Nasa-i. Syekh al-Albani menilai hadis ini hasan-shahih)

Kedua, meneladani Shalat Rasulullah Saw;
Syekh al-‘Utsaimin dalam kitabnya Fiqh al-‘Ibadat (hal.337-338), mengatakan bahwa ada dua syarat agar amal ibadah kita diterima oleh Allah Swt, yaitu (1) ikhlas karena Allah, dan (2) mengikuti sunnah Rasulullah Saw.
Tentang keharusan meneladani shalat Rasulullah Saw, disebutkan dalam Shahih al-Bukhari (III/69) sebagai berikut:

عَنْ أَبِى قِلاَبَةَ قَالَ حَدَّثَنَا مَالِكٌ أَتَيْنَا إِلَى النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم ...قَالَ ...« وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِى أُصَلِّى »

Dari Abu Qilabah, Malik berkata: kami pernah mendatangi Nabi Saw...., beliau bersabda: “Shalatlah kamu sekalian seperti yang kalian lihat cara saya melakukan shalat” (HR. Al-Bukhari)

Salah satu usaha untuk meraih khusyuk dalam shalat adalah dengan melaksanakan shalat secara baik dan benar sesuai petunjuk Rasulullah Saw. Nabi Saw memperingatkan orang yang beramal ibadah dengan asal-asalan, tidak sesuai dengan petunjuk dan perintah Rasulullah Saw. Dari ‘Aisyah ra, Nabi Saw bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan perintah kami, maka amalan itu tertolak/sia-sia. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ketiga, merasa melihat Allah;
Untuk bisa meraih khusyuk dalam shalat, seseorang harus menyadari bahwa ketika berdiri menghadap kiblat, sebenarnya ia sedang berhadapan dengan Allah. Kesadaran ini sangat penting untuk mencapai perhatian yang fokus bahwa hanya Allah yang ada di hadapannya. Kesadaran bahwa seseorang ketika menghadap kiblat seolah-olah melihat Allah digambarkan oleh Nabi Saw dengan istilah “ihsan”.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ مَا الإِحْسَانُ قَالَ « أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ » (رواه البخارى ومسلم)

Dari Abu Hurairah ra, ia meriwayatkan bahwa Nabi Saw pernah ditanya oleh Jibril tentang apa itu ihsan, Nabi Saw kemudian menjelaskan: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya (di hadapanmu) dan jika engkau tidak sanggup melihatnya maka sadarilah bahwa pada saat engkau shalat itu sedang dilihat oleh Allah” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Keempat, berdialog dengan Allah;
Salah satu usaha untuk bisa meraih khusyuk dalam shalat adalah menjadikan kegiatan shalat sebagai media untuk berdialog langsung dengan Allah, terutama ketika sedang membaca surat al-Fatihah. Surat al-Fatihah adalah surat yang wajib dibaca tiap-tiap rakaat. Dalam ayat-ayat yang ada dalam surat al-Fatihah, orang yang sedang membaca al-Fatihah dianjurkan untuk membaca ayat demi ayat, tiap-tiap ayat berhenti. Hal ini disebabkan setiap seorang hamba membaca satu ayat dari al-Fatihah, Allah langsung menjawabnya. Berikut ini hadis qudsi riwayat Muslim dari Abu Hurairah ra. Nabi Saw bersabda:

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ فَنِصْفُهَا لِى وَنِصْفُهَا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِى عَبْدِى وَإِذَا قَالَ (الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَىَّ عَبْدِى. وَإِذَا قَالَ (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ). قَالَ مَجَّدَنِى عَبْدِى - وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَىَّ عَبْدِى - فَإِذَا قَالَ (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ). قَالَ هَذَا بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ ). قَالَ هَذَا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ ».

Allah Swt berfirman: “Aku membagi shalat (surat al-Fatihah) antara Aku dan hamabaKu separuh-separuh. Separuh untukKu dan separuh untuk hambaKu. Dan hambaKu mendapatkan apa yang dia minta. Apabila hambaKu membaca “Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”, Allah Swt berfirman (menjawab): “Hambaku telah memujiKu”. Apabila hambaKu membaca “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”, Allah Swt berfirman (menjawab): “HambaKu telah menyanjungKu”. Apabila hamabaKu membaca “Yang menguasai hari pembalasan”, Allah Swt berfirman (menjawab): “Hambaku telah memuliakan Aku”, sekali waktu Allah berfirman (menjawab): “HambaKu telah pasrah kepadaKu”. Apabila hambaKu membaca “Hanya kepadaMu kami mengabdi dan hanaya kepadaMu kami minta pertolongan”, Allah Swt berfirman (menjawab): “Ini adalah antara Aku dan hambaKu, dan bagi hambaKu ia akan mendapatkan apa yang diminta”. Apabila hambaKu membaca “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat, bukan jalannya orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalannya orang-orang yang tersesat”, Allah berfirman (menjawab): “Ini adalah untuk hambaKu, dan bagi hambaKu apa yang dia minta”. (HR. Muslim).

Kelima, berbisik-bisik dengan Allah Swt;
Di dalam shalat, selain ada gerakan-gerakan khusus juga ada bacaan-bacaan atau doa pada setiap gerakan shalat.
Untuk bisa meraih khusyuk dalam shalat, setiap bacaan atau doa dalam shalat harus difahami dan dihayati dengan baik. Hal ini penting agar setiap gerakan dalam shalatnya dapat digunakan untuk bermunajat, berbisik-bisik dengan Allah Swt . Dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Anas ra, Nabi Saw bersabda:

إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ فِى الصَّلاَةِ فَإِنَّهُ يُنَاجِى رَبَّهُ فَلاَ يَبْزُقَنَّ بَيْنَ يَدَيْهِ وَلاَ عَنْ يَمِينِهِ وَلَكِنْ عَنْ شِمَالِهِ تَحْتَ قَدَمِهِ

Apabila seseorang di antara kamu melakukan shalat, sesungguhnya ia sedang bermunajat (berbisik-bisik) dengan Tuhannya, karena itu hendaknya ia tidak meludah ke depannya dan ke sebelah kanannya, tetapi ke sebelah kiri di bawah kakinya (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Keenam, melakukan tuma’ninah setiap gerakan shalat;
Makna tuma'minah adalah melakukan shalat dengan diam (tenang) dalam ruku', i'tidal, sujud dan duduk di antara dua sujud. Dia harus ada pada posisi tersebut, di mana setiap ruas-ruas tulang ditempatkan pada tempatnya yang sesuai. Tidak boleh terburu-buru di antara dua gerakan dalam shalat, sampai dia selesai tuma'ninah dalam posisi tertentu sesuai waktunya. Nabi Saw bersabda kepada seseorang yang tergesa-gesa dalam shalatnya dengan sabdanya:

اِرْجِعْ فَصَلِّ إِنَّكَ لمَ تُصَلِّ

("Ulangi shalatmu, sebab kamu belum melakukan shalat.)" HR. al-Baihaqi dan al-Thabrani. Al-Albani menilai hadis ini shahih. (Irwa-il Ghalil, II/45).
Dalam hadis lain, Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw masuk masjid dan seorang laki-laki juga masuk masjid melaksanakan shalat, kemudian menghampiri Nabi Saw dan mengucapkan salam kepadanya, Nabi Saw pun menjawabnya kemudian berkata kepada orang itu: “Kembalilah, ulangi lagi shalatmu. Karena sesunggunya engkau belum melakukan shalat!”. Orang itu pun mengulangi shalatnya seperti tadi. Setelah selesai shalat kemudian mendatangi Nabi Saw dan mengucapkan salam kepadanya. Nabi Saw pun berkata lagi kepadanya: “Kembalilah, ulangi lagi shalatmu. Karena sesunggunya engkau belum melakukan shalat!”. Hal ini terjadi sampai tiga kali. Kemudian orang laki-laki itu berkata: “Demi Dia yang mengutus engkau dengan kebenaran, saya tidak dapat melaksanakan shalat lebih baik dari ini, karena itu ajarilah aku”. Nabi Saw pun mengajarkannya:

« إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، وَافْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا »

“Apabila engkau berdiri hendak shalat maka ucapkan takbir (Allahu Akbar), kemudian bacalah al-Qur’an yang mudah bagimu, kemudian rukuklah hingga engkau terasa tenang dalam keadaan rukuk, kemudian angkatlah kepalamu hingga engkau tegak berdiri, kemudian sujudlah hingga engkau terasa tenang dalam keadaan sujud, kemudian angkatlah kepalamu dari sujud hingga engkau terasa tenang dalam keadaan sujud. Lakukanlah seperti itu dalam semua shalatmu” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Tentang lamanya tuma’ninah, terkadang Nabi Saw melaksanakannya dengan cukup lama sebagaimana yang digambarkan dalam hadis berikut ini:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ إِنِّى لاَ آلُو أَنْ أُصَلِّىَ بِكُمْ كَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى بِنَا. قَالَ ثَابِتٌ فَكَانَ أَنَسٌ يَصْنَعُ شَيْئًا لاَ أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَهُ كَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ انْتَصَبَ قَائِمًا حَتَّى يَقُولَ الْقَائِلُ قَدْ نَسِىَ. وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السَّجْدَةِ مَكَثَ حَتَّى يَقُولَ الْقَائِلُ قَدْ نَسِىَ.

Anas ra. berkata: “Sungguh aku tidak kuasa shalat dengan kalian sebagaimana aku pernah melihat Rasulullah Saw shalat dengan kami. Tsabit berkata, Anas berbuat sesuatu yang aku tidak pernah melihat kalian melakukannya. Apabila beliau mengangkat kepalanya dari rukuk, beliau berdiri tegak sehingga orang menduga bahwa beliau lupa (karena saking lamanya), dan apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud, beliau diam (dalam keadaan duduk) sehingga orang menduga bahwa beliau lupa (karena saking lamanya)”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan cara beliau melakukan shalat, dapat diketahui bagaimana lamanya beliau dalam melakukan berdiri iktidal, kemudian duduk di antara sujud, dan pada semua gerakan shalatnya, sampai-sampai sahabatnya mengira bahwa beliau lupa. Hal ini menunjukkan bahwa beliau melakukannya dengan tenang dan menjadikannya sebagai kesempatan untuk berbisik-bisik dan berdialog dengan Allah.

Dari sini kita dapat memahami bahwasanya shalat itu bukan sekedar untuk memenuhi kewajiban tetapi juga sebagai media untuk berkomunikasi, konsultasi dan mengadu kepada Allah sebagaimana firmanNya:

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thaha, 14).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar