Tak Berangkat Haji, Tapi Berpahala Haji
Oleh
Prof.Dr.H. Achmad Zuhdi Dh, M.Fil IPertanyaan:
Assalamu’alaikum wr.wb.!
Ibadah haji adalah impian hampir setiap Muslim. Namun, tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menunaikannya, mungkin karena keterbatasan biaya, kondisi kesehatan, atau antrean yang masih panjang. Dalam kondisi seperti ini, apakah ada amalan lain yang dapat mendatangkan pahala seperti haji meskipun belum berangkat ke Baitullah? Mohon Pengasuh Konsultasi Agama MATAN berkenan memberikan penjelasan disertai dalil-dalilnya (Muchtar, Surabaya).
Pembahasan:
Wa’alaikumussalam wr.wb.
Islam adalah agama yang penuh rahmat. Allah SWT tidak membatasi karunia-Nya hanya pada satu bentuk ibadah atau satu kelompok manusia tertentu. Bagi mereka yang belum mampu menunaikan haji, Allah tetap membuka pintu-pintu pahala yang luas. Bahkan, dalam beberapa hadis Nabi ﷺ disebutkan adanya amalan-amalan yang pahalanya diserupakan atau disetarakan dengan haji.
Berikut lima amalan yang telah diterangkan dalam hadis yang memiliki pahala seperti haji, disertai dengan penjelasan status kesahihan hadisnya.
1. Keluar Rumah dalam Keadaan Suci untuk Salat Fardu
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ
“Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk melaksanakan salat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji dalam keadaan ihram” (HR. Abu Dawud, 558). Hadis ini hasan (al-Albani, Sahih al-Targhib Wa al-Tarhib, I/77).
Hadis ini memberikan perspektif baru tentang makna ibadah dalam Islam. Sesuatu yang tampak sederhana -berwudhu di rumah, lalu melangkah menuju masjid untuk salat fardu- ternyata memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi. Abdul Muhsin al-Abbad dalam Syarah Hadis Sunan Abi Dawud menerangkan bahwa yang dimaksud dengan hadis tersebut adalah Allah memberi pahala kepadanya seperti pahala orang yang keluar untuk haji dalam keadaan ihram. Orang ini keluar untuk menunaikan salat wajib, sedangkan orang yang berihram keluar untuk melaksanakan ibadah yang agung. Maka pahala yang satu seperti pahala yang lain. Dan karunia Allah itu luas (Abdul Muhsin Abbad, Syarah Sunan Abi Dawud, I/2).
Jika kita renungkan, ada kesamaan nilai antara orang yang menuju masjid dan orang yang berangkat haji. Keduanya sama-sama meninggalkan kenyamanan, melangkah menuju ketaatan, dan menghadirkan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan, dalam haji, seseorang mengenakan ihram sebagai simbol kesucian dan penghambaan total. Dalam hadis ini, kondisi “mutathahhiran” (bersuci) menjadi simbol yang mendekati makna tersebut.
Di sinilah terlihat keindahan Islam: ia mengajarkan bahwa jalan menuju pahala besar tidak selalu harus melalui perjalanan jauh. Bahkan langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan niat yang benar bisa bernilai sangat besar.
Dalam konteks kehidupan modern, ketika kesibukan sering menjadi alasan untuk meninggalkan salat berjamaah, hadis ini seolah menjadi teguran sekaligus motivasi bahwa setiap langkah ke masjid adalah investasi pahala yang luar biasa.
2. Salat Subuh Berjamaah, Berzikir hingga Terbit Matahari, lalu Salat Dua Rakaat
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ.
“Barangsiapa melaksanakan salat Subuh berjamaah, kemudian duduk berzikir hingga matahari terbit, lalu salat dua rakaat, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah—sempurna, sempurna, sempurna” (HR. Tirmidzi, 586). Hadis ini hasan (al-Albani, Sahih Wa Da’if Sunan al-Tirmidzi, II/86).
Al-Mulla Ali al-Qari (w. 1605 M) menerangkan bahwa “Penyifatan (pahala tersebut) sebagai haji dan umrah yang ‘sempurna’ diulang sebanyak tiga kali adalah sebagai bentuk penegasan. Dan dikatakan bahwa pengulangan itu dimaksudkan agar tidak disangka bahwa penegasan hanya terletak pada kata ‘sempurna’ dan pengulangannya saja” (Al-Mulla Ali al-Qari, Mirqat al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih, IV/57-58).
Amalan ini sering disebut sebagai “paket ibadah pagi” yang sangat istimewa. Ia dimulai dari salat Subuh berjamaah, dilanjutkan dengan dzikir, tilawah, atau tafakur hingga matahari terbit, lalu ditutup dengan dua rakaat salat isyraq.
Mengapa amalan ini begitu besar pahalanya? Karena ia menggabungkan beberapa bentuk ibadah sekaligus: salat berjamaah, dzikir, kesabaran menahan diri dari aktivitas duniawi, serta komitmen untuk memulai hari dengan mengingat Allah.
Secara psikologis dan spiritual, orang yang menjaga amalan ini akan memiliki ketenangan batin dan fokus yang lebih baik dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Ia memulai harinya bukan dengan hiruk-pikuk dunia, tetapi dengan kedekatan kepada Allah.
Namun, amalan ini tidak mudah. Ia menuntut kedisiplinan waktu, kesabaran, dan keistikamahan. Di sinilah letak nilai pengorbanannya, yang menjadi salah satu sebab diserupakannya pahala dengan haji.
3. Menghadiri Majelis Ilmu di Masjid
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حِجَّتُهُ
“Barangsiapa pergi ke masjid hanya untuk belajar kebaikan atau mengajarkannya, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang berhaji dengan haji yang sempurna.” (HR. al-Thabrani, 7346). Hadis ini hasan sahih (al-Albani, Sahih al-Targhib Wa al-Tarhib, I/20).
Hadis ini menegaskan bahwa ilmu dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Bahkan, aktivitas belajar dan mengajar disetarakan dengan haji yang sempurna. Hal ini tidak mengherankan, karena ilmu adalah fondasi dari seluruh amal. Tanpa ilmu, ibadah bisa salah arah. Dengan ilmu, ibadah menjadi benar, berkualitas, dan bernilai tinggi.
Salman al-Audah menerangkan: “Menuntut ilmu -tidak diragukan lagi- adalah bentuk ibadah yang paling agung dan paling tinggi. Ia tidak terbatas pada kondisi tertentu lalu berhenti di situ. Tidak terbatas, misalnya, hanya ketika seseorang berstatus sebagai pelajar; lalu ketika ia lulus, menjadi guru atau dosen, atau duduk di masjid untuk mengajar para murid, kemudian dianggap selesai dari menuntut ilmu—tidak demikian! Bahkan, ia tetap menjadi penuntut ilmu selama ia masih hidup” (Salman al-Audah, Durus Li al-Syaikh Salman al-Audah, III/245).
Majelis ilmu di masjid juga memiliki dimensi sosial. Ia menjadi ruang pertemuan, dialog, dan pembinaan umat. Di dalamnya tumbuh kesadaran kolektif untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam dengan benar. Karena itu, tidak berlebihan jika pahala menghadiri majelis ilmu diserupakan dengan haji. Keduanya sama-sama merupakan perjalanan menuju kedekatan dengan Allah, yang satu melalui perjalanan fisik, yang lain melalui perjalanan intelektual dan spiritual.
4. Berbakti kepada Ibu
Rasulullah ﷺ bersabda:
فَأَبْلِ اللَّهَ فِي بِرِّهَا، فَإِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ فَأَنْتَ حَاجٌّ وَمُعْتَمِرٌ وَمُجَاهِدٌ
“Berbaktilah kepadanya (ibu). Jika engkau melakukannya, maka engkau seperti orang yang berhaji, berumrah, dan berjihad” (HR. Abu Ya’la, 2760). Hadis ini satus kesahihannya diperselisihkan ulama.
Al-Albani menda’ifkannya (Da’if al-Targhib Wa al-Tarhib, II/73). Sedangkan al-Haitsami (Majma’ al-Zawaid Wa Manba’ al-Fawaid, VIII/138) menerangkan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Abu Ya‘la dan al-Thabrani dalam al-Mu‘jam al-Shaghir dan al-Mu‘jam al-Awsath. Para perawi keduanya adalah perawi yang terdapat dalam kitab sahih, kecuali Maimun bin Najih; dan ia telah dinilai terpercaya (tsiqah) oleh Ibnu Hibban”. Al-Mundziri (w. 1258 M) menilai sanad hadis ini jayid/bagus (al-Mundziri, al-Targhib Wa al-Tarhib, III/216).
Hadis ini menggugah kesadaran bahwa ibadah tidak hanya berbentuk ritual, tetapi juga berbentuk hubungan kemanusiaan. Berbakti kepada orang tua, terutama ibu, adalah salah satu ibadah terbesar dalam Islam. Al-Qahthani menegaskan:
إِنَّ بِرَّ الْوَالِدَيْنِ وَالْإِحْسَانَ إِلَيْهِمَا مِنْ أَعْظَمِ الْقُرُبَاتِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى
“Sesungguhnya berbakti kepada kedua orang tua dan berbuat baik kepada keduanya termasuk di antara amalan yang paling agung untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta‘ala” (al-Qahthani, Fiqh al-Da’wah Fi Sahih al-Bukhari, I/152).
Ibu adalah sosok yang telah berkorban tanpa batas: mengandung, melahirkan, menyusui, dan merawat dengan penuh kasih sayang. Karena itu, Islam menempatkan kedudukannya sangat tinggi. Berbakti kepada orang tua bukan hanya soal memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga mencakup sikap hormat, kasih sayang, kesabaran, dan perhatian. Setiap bentuk kebaikan kepada orang tua bernilai ibadah, dan dalam hadis ini, bahkan diserupakan dengan haji, umrah, dan jihad.
5. Umrah di Bulan Ramadhan
Rasulullah ﷺ bersabda:
فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي
“Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan setara dengan haji atau haji bersamaku” (HR. al-Bukhari 1863(.
Hadis ini menunjukkan keutamaan waktu dalam Islam. Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, di mana pahala amal dilipatgandakan. Umrah yang dilakukan pada bulan ini memiliki nilai yang sangat tinggi, hingga diserupakan dengan haji. Bahkan dalam salah satu riwayat disebutkan “haji bersama Rasulullah”, yang menunjukkan betapa besar keutamaannya.
Namun, para ulama sepakat bahwa kesetaraan ini tidak menggugurkan kewajiban haji. Ia hanya menunjukkan kesamaan dalam pahala, bukan dalam kedudukan hukum (al-Syaukani, Nayl al-Authar Syarh Muntaqa al-Akhbar, V/26).
Penutup
Dari uraian di atas menunjukkan bahwa rahmat Allah SWT sangat luas. Haji memang ibadah agung yang menjadi rukun Islam, tetapi jalan menuju pahala besar tidak hanya satu. Ia terbuka melalui berbagai amalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Bagi yang belum mampu berhaji, tidak perlu berkecil hati. Dengan menjaga salat berjamaah, menghidupkan dzikir pagi, menghadiri majelis ilmu, serta berbakti kepada orang tua, seseorang dapat meraih pahala yang besar di sisi Allah.
Pada akhirnya, yang paling menentukan adalah keikhlasan dan kesungguhan dalam beramal. Amal yang kecil bisa menjadi besar jika dilakukan dengan hati yang tulus. Sebaliknya, amal yang besar bisa menjadi kecil jika kehilangan keikhlasan. Semoga Allah SWT memberikan kita semua kesempatan untuk meraih pahala yang besar, baik melalui haji maupun melalui amalan-amalan lain yang diridhai-Nya. Amien.
(Artikel ini telah dimuat dalam Majalah MATAN PWM Jawa Timur Edisi Juni 2026)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar