Shalat Witir beserta Dzikir dan Doanya
Oleh:
Dr.H.Achmad Zuhdi Dh, M.Fil I
Shalat Witr adalah shalat yang dilakukan pada malam hari setelah usai shalat isya. Bilangan raka’atnya ganjil (gasal); bisa satu raka’at, tiga raka’at, lima raka’at sampai dengan sebelas raka’at. Sekurang-kurangnya satu raka’at, dan sebanyak-banyaknya sebelas raka’at.[1]
Rasulullah Saw bersabda:
صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ فَالْيُوْتِرْ بِرَكْعَةٍ
Artinya:
“Shalat malam itu (bilangan rakaatnya) dua-dua. Maka apabila salah seorang di antara kamu khawatir masuk waktu shubuh, maka hendaklah ia melakukan shalat Witr satu rakaat saja”.[2]
Rasulullah Saw bersabda:
مَنْ خَافَ أَنْ لاَ يَقُوْمَ مِنْ أَخِرِ اللَّيْلِ فَالْيُوْتِرْ أَوَّلَهُ وَمَنْ طَمَعَ أَنْ يَقُوْمَ أَخِرَهُ فَالْيُوْتِرْ أَخِرَ اللَّيْلِ فَإِنَّ صَلاَةَ أَخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُوْدَةٌ وَذَالِكَ أَفْضَلُ
Artinya:
“Barangsiapa khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, hendaklah ia melakukan shalat Witr pada awal malam (sebelum tidur), dan barangsiapa berkeyakinan bahwa dirinya bisa bangun pada akhir malam, hendaklah ia shalat Witr pada akhir malam, karena shalat Witr di akhir malam itu disaksikan (oleh malaikat) dan lebih utama”.[3]
Sesuai dengan saran Rasulullah Saw, maka yang utama adalah melakukan shalat Witr setelah shalat malam (shalat tarawih atau shalat tahajjud). Nabi Saw. bersabda:
إِجْعَلُوْا أَخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا
Artinya:
“Jadikanlah akhir dari kegiatan shalat malammu itu dengan shalat Witr”.[4]
Dzikr sesudah usai shalat Witr
Sesuai hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan dalam Sunan Abi Dawud dan Nasa’i dengan sanad yang shahih[5] dan juga al-Daruqutni, maka dzikr-dzikr yang biasa dibaca oleh Rasulullah Saw setelah usai shalat Witr adalah sbb:
1. Subhaanal Malikil Qudduus;
2. Subhaanal Malikil Qudduus;
3. Subhaanal Malikil Qudduus; (pada bacaan yang ketiga ini dibaca dengan memanjangkan bacaan dan mengeraskan suaranya);[6]
4. Rabbil Malaa-ikati Warruuh.[7]
١. سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ
٢. سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ
٣. سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ
٤. رَبِّ الْمَلاَ ئِكَةِ وَالرُّوْحِ
Artinya:
2. Maha suci Raja yang Suci;
3. Maha suci Raja yang Suci;
4. Tuhannya para Malaikat dan Jibril.
Sesuai hadits riwayat Abu Dawud, Al-Tirmidzi dan al-Nasa-i, dari Ali ra.[8] bahwasanya Nabi Saw biasa membaca doa pada akhir shalat Witr-nya dengan bacaan doa sebagai berikut:
Allaahumma innii a’uudzu biridlaaka min sakhatik;
Wa a’uudzu bimu’aafaatika min ‘uquubatik;
Wa a’uudzu bika minka;
Laa uhshii tsanaa-an ‘alaika anta;
Kamaa atsnaita ‘alaa nafsik.
اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ
وَأَعُوْذُ بِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْبَتِكَ
وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ
لاَ أُحْصِىْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ
كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
Artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan dengan keridlaanMu dari kemurkaanMu;
Aku mohon perlindungan dengan pengampunanMu dari siksaanMu;
Aku berlindung kepadaMu dari Mu;
Aku tidak menghitung pujian atasMu
Sebagaimana Engkau telah memuji atas diriMu sendiri”.
Catatan kaki:
[1] Al-Mawardi, al-Hawi al-Kabir Fi Fiqh Madhhab al-Imam al-Syafi’i ra Wahuwa Syarh Mukhtashar al-Muzani, Vol.II (Bairut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah,1994),293
[2] Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Vol.I, 198-199.
[4] Muslim, Shahih Muslim, I, 335. Al-Baghawi, Syarh al-Sunnah, Vol. II (Bairut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1992),490.
[5] Al-Nawawi, Al-Adzkar, 74.
[6] Dalam hadits riwayat Abu Dawud dan al-Nasai dengan sanad yang shahih dari Ubay bin Ka’b ra berkata: “ Adalah Rasulullah saw apabila selesai mengucapkan salam dalam shalat Witr, beliau membaca dzkir "Subhaanal Malikil Qudduus; Subhaanal Malikil Qudduus; Subhaanal Malikil Qudduus”. Al-Nawawi, Al-Adzkar, 74.
[7] Al-Syaukani dalam kitabnya Tuhfat al-Dzakirin mengutip hadits dengan tambahan redaksi sebagai berikut: “...Dan sesudah selesai salam (dari shalat Witr), membaca dzikr “Subhaanal Malikil Qudduus” sebanyak tiga kali dengan memanjangkan bacaannya dan mengeraskan suaranya pada bacaan yang ketiganya (HR.Abu Dawud, Al-Nasa-i dan Al-Daruqutni). Setelah itu membaca: “Rabbil Malaa-ikati Warruuh” (HR.Al-Daruqutni). Al-Syaukani, Tuhfat al-Dzakirin (Bairut: Dar al-Kutrub al-‘Ilmiyah,tt), 128. Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah,Vol. I, 166.
[8] Al-Nawawi, Al-Adzkar, 74.
