Senin, 03 November 2014

SUWUK, RUQYAH DAN SAINS MODERN 

    Bagian-2


Oleh



DR.H.Achmad Zuhdi Dh, M.Fil I 



Ruqyah

Kata ruqyah  berasal dari bahasa Arab raqa>, raqyan, ruqiyyan wa ruqyatan (رقى رَقيا رُقياّ ورقية ).[1]  Ahmad Warson Munawwir, dalam Kamus Arab-Indonesia  menerjemahkannya dengan mantra.[2] Hans Wehr, dalam A Dictionary of Modern Written Arabic, menulis bahwa ruqyah pl.ruqan berarti spell.[3] Sedangkan John M.Echols dan Hassan Shadily dalam Kamus Inggris- Indonesia menulis bahwa spell artinya jampi, mantra (sihir).[4] 'Ibra>hi>m 'Ani>s dalam Kamus al-Mu’jam al-Wasi>t} mengartikan ruqyah sebagai perlindungan (الرقية العُوذة),[5] sedangkan Ibn Taymi>yah memasukkannya dalam kategori doa (من أنواع الدعاء).[6] Pendapat bahwa ruqyah itu termasuk doa (الرقية وهي الدعاء)[7] juga dikemukakan oleh 'Ibn al-Qayyim.
Beberapa pengertian yang menjelaskan tentang arti kata ruqyah dari aspek bahasa tersebut secara keseluruhan dapat difahami semakna dan saling melengkapi satu sama lain, yaitu semacam doa, permohonan perlindungan dengan membacakan atau mengucapkan mantra, yakni perkataan atau ucapan yang terdiri dari kalimat yang tersusun dan berirama yang dianggap mengandung kekuatan gaib. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, jika dikaitkan dengan penawar maka mantra penawar berarti mantra pengobatan.[8] 
Secara istilah, ruqyah telah didefinisikan oleh para ulama, di antaranya oleh 'Ibn al-Athi>r[9]. Ia berkata:Ruqyah adalah permohonan perlindungan (jampi-jampi, mantra) yang dibacakan kepada orang yang terkena penyakit seperti demam, ketakutan dan penyakit-penyakit yang lain.
Sedangkan ‘Abd al-Razza>q[10] mengatakan:Ruqyah adalah permohonan perlindungan (jampi-jampi) yang dibacakan pada orang yang terkena penyakit seperti demam, ketakutan (sawan), dan kedengkian dengan maksud untuk mendapatkan kesembuhan.
Muh}ammad Na>sir al-Di>n al-'Alba>ni>[11] dengan agak lengkap mendefinisikan ruqyah yang sesuai Sunnah sebagai berikut:Ruqyah adalah sesuatu doa yang berasal dari al-Qur’an dan al-Sunnah yang sahih} yang dibacakan (pada pasien) dengan maksud untuk mendapatkan kesembuhan.
Beberapa definisi mengenai ruqyah tersebut, sekilas ada perbedaan antara satu dengan yang lain. 'Ibn al-Athi>r dan ‘Abd al-Razza>q secara umum mendefinisikan ruqyah sebagai bentuk permohonan perlindungan yang dibacakan pada orang yang sakit untuk mendapatkan kesembuhan dari berbagai penyakit. Namun dalam definisi tersebut tidak dijelaskan mengenai sumber bacaan yang harus dibacakan.  Sedangkan Muh}ammad Na>sir al-Di>n al-'Alba>ni> mendefinisikan ruqyah dengan doa yang bersumber dari al-Qur'an dan al-Sunnah yang dibacakan pada orang sakit untuk mendapatkan kesembuhan.
Dari beberapa definisi tentang ruqyah tersebut, antara satu dengan yang lain saling melengkapi, sehingga dapat dipadukan menjadi suatu doa atau permohonan perlindungan kepada Allah dengan membacakan suatu bacaan dari al-Qur'an dan al-Sunnah yang sahih} kepada orang yang sakit atau yang mengalami gangguan suatu penyakit dengan maksud untuk mendapatkan kesembuhan dari penyakit yang diderita dan perlindungan dari segala marabahaya.
Dalam sejarahnya, ruqyah sudah dikenal di kalangan masyarakat Arab sebelum kedatangan Islam. Ruqyah merupakan warisan bangsa Arab dalam rangka mendapatkan berkah dan permohonan kepada Allah. Ruqyah berasal dari agama-agama samawi, kemudian diselewengkan oleh orang-orang sesat lalu dimasukkan ke dalam sihir dan pengobatan. Mereka mencampur-adukkan dengan ucapan-ucapan yang bisa jadi mereka sendiri tidak memahami artinya. Dalam praktiknya juga ditambah dengan suatu benda seperti bebatuan, atau potongan-potongan tulang dan rambut hewan. Akhirnya bercampur-aduklah perkara ruqyah  di kalangan masyarakat jahiliah. Setelah Islam datang, ruqyah digunakan untuk terapi dengan menggunakan ayat-ayat al-Qur’an dan bacaan-bacaan doa yang ma’thu>r  melalui sarana doa.[12]
Pada masa jahiliah, ruqyah diartikan sebagai mantra, jampi-jampi yakni kalimat-kalimat yang dianggap berpotensi mendatangkan daya gaib atau susunan kata yang berunsur puisi yang dianggap mengandung kekuatan gaib. Mantra dibaca oleh orang yang mempercayainya guna meminta bantuan kekuatan yang melebihi kekuatan natural, guna meraih manfaat atau menolak bahaya. Dalam pengertian ini, ruqyah dianggap bisa menyembuhkan karena kekuatan ruqyah itu sendiri atau bantuan dari jin dan sebagainya. Karena pemahaman yang demikian ini maka Nabi saw pernah melarang ruqyah. Beliau pernah bersabda bahwa sesungguhnya ruqyah, tami>mah[13] dan tiwalah[14] itu adalah syirik[15]. Sehubungan dengan pernyataan Nabi Saw bahwa ruqyah itu mengandung syirik, ‘Abdullah bin Mas‘u>d menjelaskan kepada isterinya yang pernah sembuh matanya karena diterapi ruqyah oleh orang Yahudi. Ibn Mas‘u>d[16] berkata: sesungguhnya cara seperti itu adalah perbuatan setan yang menyolok matanya dengan tangannya sehingga ketika diterapi ruqyah dapat menahan rasa sakitnya”. 
Nabi Saw memang pernah melarang ruqyah,  tetapi tidak berlaku pada semua jenis ruqyah. Ruqyah yang dilarang Nabi Saw hanyalah ruqyah yang di dalamnya terdapat unsur syirik seperti yang pernah dilakukan oleh orang-orang jahiliah dan orang Yahudi. Selama ruqyah tidak dimasuki unsur syirik maka dibolehkan. Seorang sahabat Nabi Saw bernama ‘Awf bin Ma>lik al-Ashja‘i> berkata: “Kami dahulu pada masa jahiliah pernah melakukan ruqyah kemudian kami bertanya kepada Rasulullah Saw: “bagaimana pendapatmu terhadap ruqyah yang kami lakukan?”. Nabi Saw kemudian minta ditunjukkan cara melakukan ruqyah, lalu Nabi Saw menyatakan: “tidak mengapa dengan ruqyah selama tidak terdapat unsur syirik di dalamnya         (لاَ بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ شِرْكٌ).[17]
Di kalangan kaum Yahudi, dalam melakukan ruqyah ada yang bekerjasama dengan jin atau setan selain ada juga yang menggunakan Kitab Allah. Seorang Yahudi yang dikenal suka bekerjasama dengan jin atau setan adalah Labi>d bin Al-'A’s}am yang pernah menyihir Nabi Saw.[18]  Sedangkan praktik ruqyah dengan Kita>b Allah pernah dilakukan oleh wanita Yahudi yang melakukan ruqyah  kepada ‘A<'ishah ra pada saat ia sakit. Diriwayatkan bahwa suatu ketika 'Abu> Bakr datang ke rumah ‘A<'ishah ra yang sedang menderita sakit. Saat itu ada seorang wanita Yahudi yang akan mengobati ‘A<'ishah dengan cara  ruqyah. Maka 'Abu> Bakr memerintahkan wanita Yahudi itu untuk melakukan ruqyah dengan Kita>b Allah, yaitu dengan Taurat dan Inji>l.((يعني: بالتوراة والإنجيل[19]. Peristiwa ini menunjukkan bahwa ruqyah, selain dilakukan oleh orang-orang Arab jahiliah, juga dilakukan oleh orang-orang Arab Yahudi.
Berdasarkan peristiwa yang terliput dalam hadis-hadis tersebut, kata ruqyah tidak boleh dipahami dalam arti mantra sebagaimana dimaksudkan oleh mereka yang mempercayainya sebagai kalimat-kalimat yang memiliki kekuatan magis. Ia seharusnya diartikan sebagai salah satu sebab yang bisa menyembuhkan atas izin Allah, ia bukan penyembuh. Ia hanyalah kalimat-kalimat yang diajarkan atau dibenarkan Nabi untuk diucapkan dalam rangka memohon kepada Allah dan pengaruhnya berpulang semata-mata kepada kehendak Allah, Yang Maha Kuasa.
Kepercayaan yang demikian kuat di kalangan masyarakat yang ditemui Al-Qur’an, pada masa pra Islam, menjadikan Allah dan Rasul-Nya menggunakan kata tersebut, tetapi dengan mengubah makna semantiknya sehingga sejalan dengan akidah Islam. Dengan demikian kata ruqyah telah diislamkan oleh Al-Qur’an melalui pengajaran dan pengamalan Nabi Saw  serta sahabat-sahabatnya. Karena itu pula dapat dikatakan bahwa ada ruqyah yang disyariatkan (dibenarkan) dan ada pula ruqyah yang dilarang.
'Ibn H{ajar al-‘Asqala>ni> berkata: “...para ulama telah sepakat bahwa ruqyah yang dibolehkan adalah yang memenuhi tiga syarat, yaitu (1) melakukan ruqyah dengan`   ayat-ayat Al-Qur’an atau dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya; (2) melakukan ruqyah dengan bahasa Arab atau bahasa lain yang bisa dimengerti maknanya; dan (3) percaya sepenuhnya bahwa penyembuhan yang terjadi adalah semata-mata atas izin dan restu Allah SWT[20].
Mengenai teknik dan media yang digunakana dalam meruqyah, berdasarkan  beberapa hadis Nabi dan athar sahabat, dapat diketahui tentang cara-cara melakukan ruqyah dan media yang dipergunakan, di antaranya adalah dengan cara: (1) sekedar membaca doa atau membaca beberapa ayat al-Qur'an; Hadis riwayat 'Ah}mad dan lain-lain dari 'Abu> Sa’i>d al-Khudri, ia berkata: Sesungguhnya Jibri>l pernah mendatangi Nabi Saw kemudian berkata: “Apakah engkau sakit wahai Muh}ammad? Nabi Saw menjawab: Ya ! lalu Jibri>l membaca: “Bismilla>hi 'arqi>ka min kulli shay'in yu'dhi>ka min sharri kulli nafsin wa ‘aynin yashfi>ka bismilla>hi 'arqi>ka” (Dengan nama Allah aku meruqyahmu/ mengobatimu dari segala sesuatu yang membuatmu sakit, dari kejahatan semua jiwa dan pandangan mata. Allahlah yang akan menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu) [21]. Tentang status hadis ini, Muh}ammad Na>s}ir al-Di>n al-'Alba>ni> menilainya s{ah}i>h}.[22] Hadis tersebut menjelaskan tentang Jibri>l yang melakukan ruqyah setelah mengetahui Nabi saw menderita sakit. Dalam melakukan ruqyah, Jibri>l membaca doa dengan menggunakan asma Allah.  (2) membaca doa, meniup kedua telapak tangan dan mengusapnya ke seluruh anggota badan;  Hadis riwayat al-Bukha>ri> dan Muslim dari ‘A<'ishah ra: Bahwasanya Rasulullah Saw, dulu apabila sakit beliau meniup untuk dirinya sendiri dengan membaca surat al-Mu’awwidha>t  lalu mengusap dengan tangannya. Ketika sakitnya semakin parah, saat menjelang wafatnya, aku (‘A<'ishah ra) yang meniupkan untuk dirinya dengan surat al-Mu’awwidha>t sebagaimana dulu Nabi meniup untuk dirinya dan mengusap dengan tangannya[23]. Hadis ini menerangkan bahwa ketika Nabi Saw terkena sakit, beliau melakukan ruqyah dirinya sendiri dengan cara meniup, membaca surat al-Mu‘awwidha>t dan mengusapkan dengan tangannya sendiri. Al-Muba>rakfu>ri>[24] dalam kitab Mura‘a>t al-Mafa>ti>h} Sharh} Mishka>t al-Mas}a>bi>h}, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan meniup (نَفَثَ) adalah mengeluarkan angin dari mulut tanpa mengeluarkan air ludah. Sedangkan yang dimaksudkan dengan al-Mu’awwidha>t (الْمُعَوِّذَاتِ) adalah surat al-'Ikhla>s}, al-Falaq dan al-Na>s. Atau bisa juga ayat-ayat yang lain yang mengandung perlindungan, seperti ayat 97 dan ayat 98 dari surat al-Mukminu>n. Adapun yang dimaksud dengan mengusap pakai tangan (وَمَسَحَ عَنْهُ بِيَدِهِ) adalah mengusap dengan tangannya ke anggota badannya. Mengenai ‘A<'ishah yang melakukan ruqyah Nabi Saw (saat beliau sakit parah) dengan menggunakan tangan beliau itu adalah karena tangan Nabi Saw dinilai lebih banyak keberkahannya. (c) membaca doa, meniup dan sedikit meludah; Hadis riwayat al-Bukhari> dari 'Abu> Sa‘i>d al-Khudri>, katanya: Dari 'Abu> Sa’i>d (al-Khudri>) bahwasanya ada sekelompok sahabat Nabi Saw yang melakukan bepergian. Di tengah-tengah perjalanan, mereka singgah di sebuah kampung Arab. Mereka berharap agar penduduk kampung berkenan menjamunya sebagai tamu. Namun dari penduduk kampung tak ada yang mau menjamunya.  Tidak lama kemudian ada berita bahwa pemimpin kampung terkena sengatan. Mengetahui pemimpinnya butuh pertolongan maka penduduk kampung berusaha mencari penawarnya. Tetapi usaha mereka itu gagal, lalu salah seorang di antara penduduk kampung itu berkata kepada teman-temannya untuk menemui sekelompok (sahabat Nabi yang singgah di sana) barangkali ada di antara mereka yang memiliki sesuatu (penawar atau obat untuk menyembuhkan akibat sengatan yang menimpa pemimpinnya). Dari penduduk kampung itu akhirnya menemui sekelompok sahabat Nabi dan berkata: “Wahai saudara-saudara sekalian, pemimpin kami telah tersengat. Kami sudah mengupayakan berbagai cara untuk mencari penawarnya tetapi tidak berhasil. Apakah ada di antara kalian yang memiliki sesuatu (keahlian untuk mengobatinya)? Mendengar keterangan dari penduduk kampung itu, di antara sahabat Nabi Saw ada yang menjawab: “Ya, demi Allah saya adalah seorang peruqyah (yang bisa mengobati). Namun, demi Allah kami telah meminta jamuan kepada kalian tetapi kalian tidak menjamu kami, karena itu saya tidak akan melakukan ruqyah (pengobatan) kepada kalian kecuali jika kalian memberikan upah kepada kami. Mendengar pernyataan sahabat Nabi seperti itu maka penduduk kampung itu pun setuju untuk memberi upah beberapa ekor kambing. Setelah terjadi kesepakatan, seorang sahabat Nabi Saw kemudian mendatangi pemimpin kampung yang tengah sakit itu lalu meniup dengan sedikit meludah sambil membaca al-h}amdulilla>hi rabbil ‘a>lami>n (surat al-Faatihah). Setelah itu tidak lama kemudian pemimpin kampung itu merasa lega, terlepas dari ikatan dan selanjutnya dapat berjalan tanpa ada gangguan sama sekali. Setelah itu penduduk kampung menyerahkan upah sesuai yang telah disepakati. Sebagian sahabat berkata: “Bagilah !”. Seorang sahabat yang tadi meruqyah berkata: “Jangan kalian lakukan (jangan dibagi dulu) sebelum kita menghadap kepada Rasulullah Saw dan menceritakan kepadanya tentang peristiwa yang terjadi pada kita, lalu apa yang diperintahkan kepada kita”. Para sahabat pun akhirnya mendatangi Rasulullah Saw dan menceritakan apa yang telah mereka alami. Menyimak apa yang terjadi pada para sahabat itu, Nabi Saw berkata: “kalian tahu dari mana kalau al-Fatihah itu bisa untuk meruqyah ? Kalian benar, bagikanlah upahnya dan berikan juga bagian untukku”. [25] (d) membaca doa dan meletakkan tangan kanan ke badan yang terasa sakit serta mengusapnya;  Hadis riwayat Muslim dari ‘Uthma>n bin 'Abi> al-‘A<s} al-Thaqafi>>>, ia pernah mengadu kepada Rasulullah Saw  tentang rasa sakit yang ada di badannya semenjak ia masuk Islam. Maka Rasulullah Saw bersabda: Letakkan tanganmu di atas bagian tubuhmu yang sakit, kemudian ucapkan basmalah sebanyak tiga kali dan ucapkan “'a‘u>dhu billa>hi wa qudratihi> min sharri ma> ajidu wa 'uh}a>dhiru” (aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari kejahatan atau keburukan yang aku temui dan yang aku takuti) sebanyak tujuh kali. [26]  (e) membaca doa dan meletakkan jari di tanah kemudian mengangkatnya; Hadis riwayat al-Bukha>ri> dan Muslim dari ‘A<'ishah ra, katanya: Bahwasanya Rasulullah Saw, apabila ada seseorang mengeluh kepada beliau tentang rasa sakit akibat bisul (bernanah) atau luka, maka Nabi Saw membaca doa sambil meletakkan jarinya di tanah seperti ini-Sufya>n bin ‘Uyaynah mencontohkan dengan meletakkan jari telunjuknya di tanah kemudian mengangkatnya dan berdoa: “Bismilla>h turbatu 'ard}ina> biri>qati ba‘d}ina> liyushfa> bihi> saqi>muna> bi'idhni rabbina>” (Dengan nama Allah, tanah bumi kita ini, dengan ludah sebagian kami, semoga dengannya disembuhkan sakit kami dengan izin Tuhan kami) [27]. (f) membaca doa dan memasukkan tangan ke dalam air yang dicampur dengan garam; Pada suatu ketika Nabi Saw sedang melaksanakan salat malam. Tiba-tiba tangannya tersengat kalajengking. Setelah itu Nabi Saw mengambil air dicampur dengan garam kemudian dituangkan ke tangan yang terkena sengatan tadi sambil dibacakan al-Qur’an surat al-Ka>firu>n, al-'Ikhla>s}, al-Falaq dan al-Na>s. Peristiwa ini terrekam dalam beberapa hadis berikut ini: ‘Ali> bin 'Abi> T{a>lib berkata, “Ketika Rasulullah sedang salat, beliau disengat kalajengking. Setelah selesai salat, beliau bersabda, ‘Semoga Allah melaknat kalajengking yang tidak membiarkan orang yang sedang salat atau yang lainnya.’ Lalu beliau mengambil sewadah air dan garam. Kemudian beliau usap bagian anggota badan yang disengat kalajengking, seraya membaca surat al-Ka>firu>n, al-Falaq dan al-Na>s. [28]  Muh}ammad Na>s}iruddi>n al-'Alba>ni> mens}ah}ih}kannya.[29] (g) membaca doa, menuangkan air zam-zam dan meminumnya; Hadis riwayat al-Bayhaqi> dari Hisha>m bin ‘Urwah dari ayahnya: Bahwasanya ‘A<'ishah ra pernah membawa air zam-zam. Ia mengabarkan bahwasanya Rasulullah Saw pernah juga membawanya. Perawi lain meriwayatkannya dari 'Abu> Kurayb dengan tambahan: “Rasulullah Saw membawa air zam-zam di dalam kantong kulit dan geriba, kemudian beliau menuangkannya pada orang yang sakit dan meminumkannya. [30] Al-'Alba>ni> dalam Silsilah al-S{ah}i>h}ah menilai hadis ini s}ah}i>h}.  Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Bukha>ri> dalam al-Ta>ri>kh al-Kabi>r, II/173, al-Tirmidhi>, I/180 dan al-Bayhaqi>, V/202. [31] Hadis tersebut menerangkan bahwa salah satu cara meruqyah yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw adalah dengan membawa air zam-zam untuk dituangkan pada orang yang sakit atau diminumkannya. (h) menulis beberapa ayat al-Qur’an atau doa pada kertas atau alat-alat yang boleh diletakkan di atas air, kemudian diminumkan atau digunakan untuk  mandi;  Sa‘i>d bin Jubayr mendapatkan keterangan dari ‘Abdulla>h bin ‘Abba>s tentang wanita yang mengalami kesulitan saat hendak melahirkan, ia berkata: Hendaknya dituliskan di atas kertas (dimasukkan dalam bejana berisi air) kemudian diminumkan. Adapun yang ditulis adalah: bismilla>h alladhi> la> 'ila>la 'illa> huwa al-h}aki>m al-kari>m, subha>nalla>hi wa ta‘a>la> rabbi al-‘arsh al-‘adhi>m, al-h}amdulilla>hi rabb al-‘a>lami>n, kemudian surat al-Ahqa>f ayat 35 (...ka'annahum yawma yarawna ma> yu> ‘adu>na lam yalbathu> 'illa> sa>’atan min naha>rin bala>ghun fahal yuhlaku 'illa> al-qawmu al-fa>siqu>n, artinya: “pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (inilah) suatu pelajaran yang cukup, Maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.); dan surat al-Na>zi’a>t ayat 46 (ka'annahum yawma yarawnaha> lam yalbathu> 'illa> ‘ashiyyatan aw d}uh}a>ha>, artinya: “pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari). Hadis ini mawqu>f pada 'Ibn ‘Abba>s ra. [32]  ‘Abdulla>h bin 'Ah}mad berkata: “Aku melihat ayahku ('Ima>m 'Ah}mad) menulis doa dan ayat-ayat tersebut pada sebuah tempat minuman yang putih atau sesuatu yang bersih untuk seorang wanita yang sedang mengalami kesulitan melahirkan” (اذا عسُر عليها وِلادتهُا). [33]  Menurut 'Ibn al-Qayyim, menulis bacaan atau doa-doa (pada bejana berisi air) untuk ruqyah itu bisa memberikan manfaat (وَكُلّ مَا تَقَدَّمَ مِنْ الرُّقَى فَإِنَّ كِتَابَته نَافِعَة). Lebih lanjut 'Ibn al-Qayyim mengatakan bahwa sejumlah ulama salaf telah memberikan rukhs}ah (keringanan) mengenai bolehnya menulis beberapa ayat al-Qur’an pada sebuah gelas atau tempat minuman yang bersih lalu meminumnya. Hal itu bisa menjadi sarana pengobatan atau penyembuhan (وَجَعَلَ ذَلِكَ مِنْ الشِّفَاء الَّذِي جَعَلَ اللَّه فِيهِ).[34]  (i) memukul dada, meniup mulut dengan sedikit air ludah dan mengusap wajah dengan air sambil membaca doa. Hadi>th riwayat 'Ibn Ma>jah dari ‘Uthma>n Bin 'Abi> al-‘A<s}, ia berkata: ‘Uthma>n bin 'Abi> al-‘A<s} r.a. berkata, ketika aku bekerja untuk Rasulullah saw. di T{a>'if, tiba-tiba aku melihat sesuatu dalam salatku, sampai-sampai aku tidak tahu sedang salat apa. Setelah kejadian itu aku menemui Rasulullah saw. Beliau berkata, "'Ibnu 'Abi> al-‘A<s}?” Aku menjawab, ”Benar, ya Rasulullah.” Rasul bertanya, ”Apa yang membuatmu datang ke sini?” Aku menjawab, ”Wahai Rasulullah, aku melihat sesuatu dalam salatku sampai-sampai aku tidak tahu sedang salat apa.” Nabi bersabda, ”Itu adalah setan. Mendekatlah padaku!” Aku pun mendekat kepada Nabi, lalu aku duduk di atas kedua telapak kakiku. 'Ibn 'Abi> al-‘A<s} berkata, ”Lalu Nabi memukul dadaku dengan tangannya dan meniup mulutku sambil berkata, ”Keluarlah musuh Allah!”. Nabi melakukannya sebanyak tiga kali. Lalu Nabi berkata, ”Teruskanlah pekerjaanmu.” [35]  Al-'Alba>ni> menilai hadis ini s}ah}i>h}.[36] Hadis ini menjelaskan tentang cara Nabi Saw melakukan ruqyah terhadap seorang sahabat yang bernama  'Ibn 'Abi> al-‘A<s} yang terganggu oleh setan dalam salatnya. Saat itu Nabi Saw melakukan ruqyah kepadanya dengan cara memukul dada kemudian meniup mulutnya sambil mengucapkan: 'ukhruj ‘aduwwalla>h! (keluarlah wahai musuh Allah). Hal ini dilakukan oleh Nabi Saw sebanyak tiga kali.  Mengenai bacaan doanya, Sa‘i>d bin ‘Ali> bin Wahf al-Qah}t}a>ni> mengatakan bahwa bacaan ruqyah yang paling agung adalah surat al-Fa>tih}ah, ayat al-Kursi>, dua ayat terakhir dari surat al-Baqarah, al-'Ikhla>s}, al-Falaq, dan al-Na>s sambil meniup orang yang terkena penyakit gila. Selain bacaan tersebut boleh juga bacaan ayat-ayat lain yang terdapat dalam al-Qur’a>n al-Kari>m, karena sesungguhnya seluruh al-Qur’an itu merupakan obat atau penyembuh apa yang ada dalam dada dan menjadi petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.[37]


[1] Luways Ma’lu>f, al-Munjid Fi> al-Lughah (Bayru>t: Da>r al-Mashriq, 1977), 276.
[2] Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia (Surabaya: Pustaka Progresif, 1984), 562.
[3] Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic  (London, Macdonal & Evans LTD, 1974), 355.
[4] John M.Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia (Jakarta: PT. Gramedia, 1989), 545.
[5] 'Ibra>hi>m 'Ani>s et.al, Al-Mujam al-Wasi>t}, Vol. II (t.t: Da>r al-Fikr, t.th), 367.
[6] 'Ibn Taymi>yah, Majmu> al-Fata>wa>, Vol. XXVII (t.t: Da>r al-Wafa>, 2005), 68.
[7] Muh}ammad bin 'Abi> Bakr bin 'Ayyu>b bin Sad Shams al-Di>n 'Ibn al-Qayyim al-Jawzi>yah, al-Tiby>an Fi> 'Aqsa>m al-Qur’a>n, Vol. I (Bayru>t: Da>r al-Fikr, t.th), 92.
[8] Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), 558.
[9] 'Ibn al-'Athi>r, al-Niha>yat Fi> Ghari>b al-'A<tha>r, Vol. II (Bayru>t: al-Maktabah al-‘Ilmi>yah, 1979), 621. Muh}ammad bin Mukrim 'Ibn Manz}u>r, Lisa>n al-‘Arab, Vol. XIV  (Bayru>t: Da>r S{a>dir, t.th),
331.
[10]Abd al-Razza>q al-S{ana>ni>, Tafsir al-Qur’an, Vol. VIII (t.t: t.p, t.th), 266.
[11] Muh}ammad Na>s}ir al-Di>n al-'Alba>ni>, D{a’i>f Sunan al-Tirmidhi>, Vol.I (t.t: t.p, t.th), 231.
[12] Muh}ammad al-T{a>hir bin ‘A<shu>r, al-Tah}ri>r wa al-Tanwi>r, Vol. XXIX  (Tu>nis: al-Da>r al-Tu>nisi>yah, 1984), 359.
[13] Al-Tama>'im jama’ dari al-tami>mah yaitu suatu jimat perlindungan yang dikalungkan di leher anak untuk penangkal ‘ayn. Jika yang dikalungkan itu dari al-Qur’an, di kalangan ulama ada dua pendapat. Ada yang membolehkan dan ada yang tidak membolehkan.  Pendapat yang lebih kuat dan aman adalah yang melarangnya. 'Abu> ‘Ubaydah Ma>hir Bin S{a>lih} ‘Ali> Muba>rak, Ruqyah Syar’iyyah: Gangguan Jin, Hasad dan ‘Ain, terj. Abu Ahmad (Surabaya: Duta Ilmu, 2006), 207.
[14] Al-Tiwalah adalah aji-aji pengasihan (jawa: pelet) yang dibuat dan dimaksudkan agar sang suami mencintai isterinya atau agar isteri mencintai suaminya. Hai ini termasuk jenis sihir. S{a>lih} bin ‘Abd al-‘Azi>z bin Muh}ammad bin Ibra>hi>m A<li al-Shaykh, al-Tamhi>d Li Sharh} Kita>b al-Tawh}i>d, Vol. I (t.t: Da>r al-Tawh}i>d, 2003), 136.
[15]  'Ah}mad bin H{anbal. Musnad al-'Ima>m Ah}mad Bin H{anbal, Vol. VI110.
[16] 'Ah}mad bin H{anbal, Musnad al-'Ima>m 'Ah}mad bin H{anbal, Vol. I. Ed. Shu’ayb al-Arnowt et.al (Kairo: Mu'assasah Qurtu>bah, t.th), 381. Shu’ayb al-Arnowt berkomentar bahwa h}adi>th ini s}ah}i>h} lighayrih.
[17]  Muslim, Sahih Muslim, Vol. IV, Ed. Muh}ammad Fua>d ‘Abd al-Ba>qi,1772.
[18] 'Abu> 'Abdilla>h Muh}ammad b. 'Isma>'i>l b. 'Ibra>hi>m b. al-Mughi>rah al-Bukha>ri>, S{ah}i>h al-Bukhari> Bi H{a>shiyah al-Sindi>, Vol. IV (Bayru>t: Da>r al-Fikr, t.th), 20.
[19] Jawwa>d ‘Ali>, Al-Mufas}s}al Fi> Ta>ri>kh al-‘Arab Qabl al-'Isla>m, Vol. XII (t.t: Da>r al-Sa>qi>, 2001), 136.
[20] 'Ibn H{{ajar al-‘Asqala>ni>, Fath}} al-Ba>ri> Sharh} S{ah}i>h} al-Bukha>ri>, X (Bayiru>t: Da>r al-Ma’rifah, t.th), 166. Baca juga al-H{a>kimi>, Ala>m al-Sunnah al-Manshu>rah, 155.
[21] 'Ah}mad bin H{anbal. Musnad al-'Ima>m 'Ah}mad bin H{anbal, Vol. III, 56.
[22] al-'Alba>ni, S{ah}i>h} Wa D{a’i>f al-Ja>mi‘ al-S{aghi>r Wa Ziya>datuhu>, Vol. I,  7.
[23] Al-Bukha>ri>, S{ah}i>h} al-Bukha>ri>, Vol. IV, 1614. Muslim, S{ah}i>h} Muslim, VII, 16.
[24] Al-Muba>rakfu>ri, Mura‘a>t al-Mafa>ti>h, Vol. V, 222.
[25]al-Bukha>ri, al-Ja>mi‘ al-S{ah}i>h} al-Mukhtas}ar, Vol. V, 2169. Selain al-Bukhari hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Tirmidhi>, al-Ja>mi‘ al-S{ah}i>h} S{unan al-Tirmidhi>, Vol. IV, 399. 'Ibn H{ibba>n, S{ah}i>h} 'Ibn H{ibba>n, Vol. XIII,  476. 'Ah}mad Bin H{anbal, Musnad al-'Ima>m 'Ah}mad Bin H{anbal, Vol.V, 51.
[26] Muslim, S{ah}i>h} Muslim, Vol. VII, 20.
[27] Al-Bukha>ri>, S{ah}ih} al-Bukha>ri>, Vol. V, 2168. Muslim, S{ah}i>h} Muslim, Vol. VII, 17.
[28]Sulayma>n bin 'Ah}mad bin 'Ayyu>b 'Abu> al-Qa>sim al-T{abra>ni>, al-Mu‘jam al-S{aghi>r, Vol. II (Bayru>t: al-Maktab al-'Isla>mi>, 1985), 87. 
[29] al-'Alba>ni>, al-Silsilah al-S{ah}i>h}ah, Vol.II, 89.
[30] Al-Bayhaqi>, al-Sunan al-Kubra>, Vol. II, 401.
[31] Al-'Alba>ni>, al-Silsilah al-Sahihah, Vol. II, 543.
[32] al-Bayhaqi>, Kita>b al-Da‘awa>t al-Kabi>r, Vol. II, 282.
[33] Muh}ammad al-S{a>yim, Murshid al-Mu‘a>liji>n bi al-Qur’a>n al-Kari>m, (al-Qa>hirah: Da>r al-Fad}i>lah, 2006), 22. 'Abu> al-T{i>b, ‘Awn al-Ma’bu>d, Vol. VIII, 186.
[34] 'Ibn al-Qayyim, Za>d al-Ma‘a>d, Vol. IV, 326. 'Abu> al-T{i>b, ‘Awn al-Ma’bu>d, Vol. X, 94.
[35] Al-Quzwi>ni>, S{ah}i>h} 'Ibn Ma>jah, Vol. XI, 32.
[36] Al-'Alba>ni>, al-Silsilah al-S{ah}i>h}ah, Vol.VI, 417.
[37] Sa’i>d bin ‘Ali> bin Wahf al-Qah}t}a>ni>, al-Du‘a>' Min al-Kita>b Wa al-Sunnah Wa yali>hi al-‘Ila>j Bi al-Ruqa> Min al-Kita>b Wa al-Sunnah (al-Riya>d}: al-Mat}a>bi’ al-H{amid}i>, 1422), 113.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar