Senin, 03 November 2014


SUWUK,RUQYAH DAN SAINS MODERN-III



Oleh


DR.H.Achmad Zuhdi Dh, M.Fil I



 Kajian Sains[1] Modern terhadap Suwuk dan Ruqyah.  

          Secara umum, suwuk dan ruqyah hampir tidak bisa dibedakan. Keduanya merupakan upaya alternatif untuk mendapatkan kebebasan (kesembuhan) dari gangguan penyakit. Dalam praktiknya, baik suwuk maupun ruqyah biasanya  menggunakan media air. Selain itu, yang biasa melakukan suwuk atau ruqyah itu adalah orang yang sudah tua atau yang dipandang tua karena keahliannya di bidang penyembuhan. Sementara yang membedakannya hanyalah asal kawasan di mana istilah itu muncul. Jika suwuk berasal dari Jawa-Indonesia, maka ruqyah berasal dari Arab.  
            Di Jawa-Indonesia, terutama kalangan muslim yang salih, kegiatan suwuk sebenarnya adalah kegiatan ruqyah itu sendiri. Karena itu, mantra, jampi atau bacaan yang digunakan dalam menyuwuk atau meruqyah adalah bacaan dari al-Qur’an dan doa-doa Nabi Saw. Jika dulu para ulama Jawa (termasuk walisanga) tidak mempopulerkan istilah ruqyah, hal itu dikarenakan para juru dakwah (termasuk walisanga) ingin mempermudah penerimaan dari masyarakat Jawa yang sebelumnya didominasi keyakinan Hindu-Budha dan Animisme-Dinamisme, yang sudah akrab dengan istilah suwuk. Karena itu, sungguhpun mereka masih lekat dengan istilah suwuk, namun muatannya sudah sama dengan ruqyah ila>hi>yah, yang sesuai dengan al-Qur’an dan sunnah Nabi Saw. Kini, istilah ruqyah mulai populer di masyarakat Jawa-Indonesia, setelah  melimpahnya literatur dari Timur Tengah yang sampai ke Indonesia. 
            Dalam kajian sains modern terhadap suwuk dan ruqyah, berikut ini akan dilihat dari dua aspek, pertama tentang penggunaan media air dan kedua tentang pihak terapis yang dipercaya.
            Dalam praktik suwuk atau ruqyah, air menjadi media yang sangat penting.  Air yang sudah di-suwuk atau di-ruqyah (dibacakan al-Qur’an atau doa-doa dari Nabi saw) kemudian diminumkan kepada pasien atau digunakan untuk mandi. Selain itu, air yang  sudah di-suwuk atau di-ruqyah bisa juga dipercikkan ke bagian badan pasien. Zaman dahulu, di kalangan muslim puritan menganggapnya sebagai hal yang mengandung syirik. Tetapi kini, setelah Masaru Emoto mempublikasikan hasil temuannya tentang keajaiban air, banyak kalangan yang mulai memahami betapa dahsyatnya “kekuatan” air, sehingga wajar jika dalam pengobatan suwuk atau ruqyah sering menggunakan media air.
Pada awal tahun 2000-an, Dr.Masaru Emoto dari Universitas Yokohama Jepang telah melakukan penelitian tentang perilaku air. Dalam hipotesisnya, Emoto mengatakan bahwa air dapat menyusun kristal dalam bentuk berbeda-beda bergantung informasi yang diterimanya. Ia yakin bahwa perbedaan bentuk kristal es bukan hanya karena ada tidaknya klorin[2], melainkan karena ada informasi lain yang mempengaruhinya. Untuk menguji hal ini, Emoto memasukkan air ke dalam dua gelas. Gelas pertama diberi label “terima kasih”, sedangkan botol lainnya diberi label “kamu bodoh”.  Air yang ada dalam kedua botol tersebut kemudian dibekukan melalui freezer (dengan suhu -250 C/-13o F). Hasilnya, di luar dugaan Emoto. Air dengan label “terima kasih” membentuk kristal heksagonal yang indah, sedangkan air dengan label “kamu bodoh” hanya membentuk pecahan-pecahan kristal. Kesimpulannya, kualitas air dapat berubah bergantung informasi yang diperolehnya.[3]
  Eksperimen Masaru Emoto selanjutnya, ketika 500 orang berkonsentrasi memusatkan pesan “peace” di depan sebotol air, kristal air tadi mengembang bercabang-cabang dengan indahnya. Dan ketika dicoba dibacakan doa Islam, kristal bersegi enam dengan lima cabang daun muncul berkilauan. Masaru Emoto akhirnya berkeliling dunia melakukan percobaan dengan air di Swiss, Berlin, Prancis, Palestina, dan ia kemudian diundang ke Markas Besar PBB di New York untuk mempresentasikan temuannya pada bulan Maret 2005 lalu. Ternyata air bisa “mendengar” kata-kata, bisa “membaca” tulisan, dan bisa “mengerti” pesan. Dalam bukunya The Hidden Message in Water, Dr. Masaru Emoto menguraikan bahwa air bersifat bisa merekam pesan, seperti pita magnetik atau compact disk (CD). Semakin kuat konsentrasi pemberi pesan, maka semakin dalam pesan tercetak di air. Air bisa mentransfer pesan tadi melalui molekul air yang lain.
Lebih lanjut Emoto mengatakan bahwa air bersifat sensitif. Ia akan merespons setiap kata yang kita ucapkan. Apabila kita mengirimkan hado (efek gelombang energi) yang baik kepada air dengan mengatakan kata-kata positif, air akan mempersembahkan kristal-kristal yang indah. Doa juga mengeluarkan energi yang dapat mengubah kualitas air. Dengan memberikan doa ke air, berarti kita mengirimkan hado ke air, dan air kemudian menggunakan kekuatan/ energinya untuk menjawab maksud doa-doa ini.  Menurut Emoto, doa yang biasa digunakan dalam ajaran agama memiliki energi hado yang kuat. Jika kita menjalani agama dengan baik dan berdoa tanpa keraguan, kita akan diberkahi dengan kekuatan yang sangat dahsyat.[4]
DR.dr.Siti Fadilah Supari, Sp.Jp (K), mantan Menteri Kesehatan RI (2004-2009) menyatakan bahwa Dr.Masaru Emoto melalui riset ilmiahnya selama bertahun-tahun telah berhasil menjadikan air untuk pengobatan alternatif terhadap berbagai gangguan kesehatan. Hal ini semakin meyakinkan saya tentang pentingnya menjembantani pengobatan kedokteran modern dengan pengobatan alternatif.[5]
Berdasarkan hasil temuan Masaru Emoto tersebut, dapat difahami mengapa air putih yang didoakan atau disuwuk bisa memberi efek kesembuhan pada orang  sakit. Molekul air ternyata bisa  menangkap pesan doa kesembuhan, menyimpannya, lalu vibrasinya merambat kepada molekul air lain yang ada di tubuh si sakit. Selanjutnya doa atau suwuk tadi menformat efek energi air (hado) untuk kemudian berfungsi menyembuhkan berbagai penyakit. 
Selain media air yang dipandang penting, faktor terapis dari penyuwuk maupun peruqyah juga sangat menentukan dalam memberikan efek kesembuhan. Dalam hal ini, peran penyuwuk dan peruqyah dari kalangan orang terpandang dan terhormat serta diyakini sebagai orang yang mumpuni akan memberikan sugesti tersendiri bagi pasien untuk lebih memberikan harapan dan keyakinan dalam memperoleh kesembuhan.
Seorang ahli kesehatan moderen, Panati Charles (1989), melaporkan hasil penelitiannya tentang hubungan pikiran, keyakinan dan kepasrahan dengan kesembuhan. Penelitian ini dilakukan terhadap sejumlah pasien di rumah sakit jiwa dengan membaginya menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menerima obat penenang stolazine, sementara kelompok lainya diberi placebo (obat tanpa isi/ obat bohong–bohongan, sekedar untuk memberi sugesti). Percobaan tersebut dilaksanakan sedemikian rupa sehingga dokter dan pasien pun tidak mengetahuai siapa yang menerima obat yang sesungguhnya. Hasil penelitian ini sangat mengejutkan karena  pasien yang menjadi tenang dengan mengkonsumsi placebo ternyata sedikit lebih banyak dari pada pasien yang telah diberi obat stolazine. Percobaan ini kemudian diulangi lagi. Untuk percobaan kedua ini para pasien diberi takaran dua kali lipat dan diberi tahu (diyakinkan, disugesti) bahwa takaran tambahan tersebut akan mempercepat reaksi mereka terhadap penyembuhan. Hasilnya malah lebih mengejutkan lagi, karena mereka yang mendapat takaran placebo dua kali lipat bereaksi lebih santai dibandingkan dengan mereka yang menerima dua kali takaran obat yang sebenarnya.[6] 
Jika dicermati, kasus yang diteliti oleh Panati tersebut menunjukkan bahwa faktor pikiran, keyakinan dan sugesti bisa menjadi sangat berpengaruh terhadap penyembuhan. Ketika terapis dari penyuwuk atau peruqyah berhasil meyakinkan pasien dengan nasihat-nasihat dan doa-doanya, maka pasien merasa lebih tenang.  Jika dikaitkan dengan teori penyembuhan melalui “Pineal Therapy[7], maka suasana hati yang tenang dan tenteram inilah yang akan membantu kelenjar pineal dalam memproduksi hormon melatonin[8]. Jika hormon melatonin berhasil diproduksi dalam jumlah yang memadai, akan dapat digunakan untuk mencegah dan menyembuhkan berbagai penyakit.



[1] Kata sains berasal dari bahasa Latin scientia yang berarti "pengetahuan" atau "mengetahui". Dari kata ini terbentuk kata science (Inggris). Sains dalam pengertian sebenarnya adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari berbagai fenomena alam sehingga rahasia yang dikandungnya dapat diungkap dan dipahami. Dalam usaha mengungkap rahasia alam tersebut, sains melakukannya dengan menggunakan metode ilmiah. Dalam hal ini meliputi langkah-langkah sistematis, bersifat objektif, logis, dan  bersifat universal. http://www.pengertianahli.com/ 2013/12.
[2] Klorin adalah unsur halogen yang paling banyak terdapat di alam namun jarang ditemui dalam bentuk bebas. Pada umumnya klorin ditemukan dalam bentuk garam halida dan ion klorida (Lihat: sifat-sifat unsur Halogen). Sumber utama klorin adalah air laut. Dalam air laut klorin berbentuk ion klorida. Pada proses pembuatan garam, ion klorida akan berikatan dengan unsur Natrium membentuk garam Natrium klorida atau garam dapur. http://www.kamusq.com/2012/11/klorin-adalah-pengertian-dan-definisi.html.
[3] Masaru Emoto, The True Power Of Water, Hikmah Air Dalam Olah Jiwa, terj. Azam Translator (Bandung: MQ Publishing, 2006), 13.
[4] Emoto, The True Power, 113-115.
[5] Siti Fadilah Supari dalam “komentar/tanggapan” terhadap buku Masaru Emoto, The True Power Of Water, Hikmah Air Dalam Olah Jiwa, terj. Azam Translator (Bandung: MQ Publishing, 2006)
[6] Moh. Sholeh, Bertobat sambil Berobat: Rahasia Ibadah Untuk Mencegah dan Menyembuhkan Berbagai Penyakit (Bandung: Hikmah, 2008), 154.
[7] Yang dimaksud dengan terapi pineal adalah terapi yang memfokuskan pada kelenjar otak yang bernama pineal atau pineal gland. Dalam hal ini, terapi yang dilakukan adalah dengan menjaga dan mengkondisikan agar kelenjar pineal dapat memproduksi hormon sesuai yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Kelenjar pineal ini dipandang mampu menaklukkan berbagai penyakit yang datang menyerang. Iftachul ‘Ain Hambali, Islamic Pineal Theraphy (Jakarta: Prestasi, 2011), 9.
[8] Hormon melatonin sangat berperan dalam mengatur, mengontrol dan mengendalikan kelenjar dan hormon yang lain serta fungsi-fungsi biologis organ tubuh yang lain, di antaranya 1). mengurangi ketegangan jiwa; 2) memperbaiki tidur; 3) memperkuat daya kekebalan tubuh; meningkatkan daya tahan terhadap bakteri dan virus; 4) mencegah kanker dan 5) mencegah pikun. Hambali, Islamic Pineal therapy, 22-23.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar