Kamis, 30 Oktober 2014

SUWUK, RUQYAH DAN SAINS MODERN[1]

Bag-1

Oleh


DR.H.Achmad Zuhdi Dh, M.Fil I[2]


Abstrak

Salah satu budaya Jawa yang hingga kini masih eksis adalah suwuk. Suwuk adalah upaya alternatif penyembuhan suatu penyakit dengan cara membacakan sesuatu, terkadang dihadapkan dengan segelas air, kemudian ditiup lalu diminumkan kepada pasien dengan maksud untuk mendapatkan kesembuhan. Tradisi ini sudah berabad-abad berlangsung di tanah Jawa. Konon, walisanga sebagai juru dakwah di tanah Jawa juga dibekali dengan keahlian suwuk  ini.
Setelah dicermati dari teknik dan pola-pola penyembuhan yang dilakukan, ternyata budaya suwuk ini banyak miripnya dengan ruqyah, sebuah  tradisi penyembuhan yang sudah ada sejak pra Islam, namun setelah kedatangan Islam, ruqyah kemudian diislamisasi sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dan al-Sunnah, sehingga menjadi ruqyah syar’i>yah  atau ruqyah ila>hiyah.
Pada masa lalu hingga akhir abad 20 M, umat Islam Jawa-Indonesia terutama kalangan muslim puritan memandang budaya suwuk ini mengandung unsur syirik, karena menjadikan air (meyakininya) sebagai media utama untuk memperoleh kesembuhan. Namun, setelah ditemukan teori-teori sains modern terkait dengan keajaiban air dan peran sugesti dalam penyembuhan suatu penyakit, mereka berangsur-angsur bisa menerimanya. Mereka bisa menerima model terapi suwuk ini setelah diketahuinya relevan dengan budaya terapi ruqyah yang sesuai al-Qur’an dan al-Sunnah. Karena itu, mereka lebih suka menyebutnya ruqyah. Sementara kalangan muslim tradisional masih merasa akrab dengan sebutan suwuk.
Kata kunci: Suwuk, Ruqyah, dan Sains Modern



Suwuk
 Dalam literatur Jawa, suwuk adalah japa-mantra sing disêbulake ing êmbun-êmbunan (tulak lêlara lsp) [3], yakni bacaan-bacaan tertentu (mantra) yang ditiupkan pada ubun-ubun pasien dengan maksud untuk menghilangkan penyakit dan lain-lain. Eddy Sugianto,[4] dalam tulisannya The Power of Suwuk  mengatakan bahwa suwuk adalah suatu penyembuhan alternatif  dengan cara seseorang membacakan suatu mantra[5] pada segelas air dan selanjutnya diminumkan kepada pasien. Di kalangan masyarakat Jawa, suwuk dipandang sebagai suatu cara melakukan terapi atau penyembuhan alternatif dari seseorang yang memiliki kemampuan atau keahlian dalam hal penyembuhan dengan cara membacakan suatu mantra pada media air yang kemudian diminumkan kepada pasien atau kepada orang yang sedang menderita sakit. Dalam praktiknya, media yang digunakan dalam terapi suwuk ini, selain menggunakan air putih terkadang juga menggunakan ludah dari penyuwuk untuk disemburkan.
Dalam bingkai budaya, tradisi suwuk sudah dilakukan secara turun temurun dalam berbagai tradisi budaya khususnya pada masyarakat Jawa, di mana proses pengobatan dilakukan dengan membacakan mantra-mantra dari seseorang yang dianggap ahli, dukun atau tabib melalui media air yang kemudian air tersebut diberikan kepada orang yang sedang sakit, baik dengan cara diminumkan, digunakan untuk mandi maupun sekedar dibasuhkan dan dipercikkan. Hingga saat ini  tradisi suwuk ini masih bertahan dan masih bisa ditemui dalam berbagai ritual penyembuhan dan terapi alternatif.[6]
            Praktik menyuwuk biasanya menggunakan media air putih. Dalam hal ini, air zam-zam dianggap sebagai air yang paling baik untuk digunakan suwuk, karena diyakini banyak berkahnya. Kalau air zam-zam tidak ditemukan, bisa juga menggunakan air hujan, air sumur di sekitar makam wali, atau air sumur di sekitar makam Sunan Ampel[7] Surabaya. Kalau semua itu juga sulit diperoleh, maka setiap air putih juga bisa dipakai, bahkan termasuk air mineral dalam kemasan pun bisa digunakan. Caranya, wadah air dibuka tutupnya dan diletakkan di depan penyuwuk, kemudian dibacakan mantra atau doa-doa tertentu lalu ditiupkan kepadanya[8].

            Jika penyuwuknya berlatar belakang Islam Abangan[9], maka mantra atau doa yang dibacakan biasanya menggunakan bahasa Jawa kuno disertai simbol-simbol kepercayaan pra Islam, dan terkadang dicampur dengan bahasa Arab. Dalam hal ini, umumnya mereka berpedoman kepada Kitab Primbon. Dalam buku Primbon Betal Jemur Adammakna diajarkan bahwa ketika seseorang sakit cacar (cangkrangen), maka cara menyembuhkan atau mengobatinya adalah dengan mengunyah-ngunyah brambang  dan kunci  kemudian disemburkan (di-suwuk-kan) ke matanya yang sakit setiap pagi, tapi kunyahan yang disemburkan ke matanya hanya udaranya (hawanya) saja sehingga tidak sampai mengenai matanya. Adapun doa atau mantranya adalah sebagai berikut:
            Bismilla>hirrahma>nirrahi>m, kanjul ngaras, kanjul ngalam, Bagus karang aja perak-perak marang aku, pan aku anak putune Sayid Pangeran. Bujang Galiman aja uruk sudi gawe marang aku, pan aku anak putune Bagus Karang. Loncang-Lancing Nyai Rara Kidul aweh gabag cacar plenting 10,9,8,7.6.5.4.3.2.1 siji bae trima, trima saking kersaning Allah.[10]
Namun jika yang menjadi penyuwuknya itu seorang kyai atau ustad yang memahami al-Qur’an dan al-Sunnah maka mantra atau doa yang dibacakan adalah surah a-Fa>tih}ah atau ayat-ayat al-Qur’an lainnya dan doa-doa yang ma’thu>r dari Nabi Saw. Secara umum, doa yang biasa dibacakan kepada orang yang sedang sakit, selain surat al-Fatihah adalah doa yang diajarkan oleh Nabi Saw: “Alla>humma rabba al-na>s mudhhiba al-ba’s ishfi anta al-Sha>fi> la> sha>fiya illa> anta shifa>’an la> yugha>diru saqaman” (Ya Allah, Tuhan Pencipta Alam dan Pemelihara Manusia, hilangkanlah penyakit, sembuhkanlah dia. Engkaulah yang menyembuhkan. Tiada kesembuhan kecuali kesembuhan dari Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.” (HR. al-Bukha>ri> No. 5410)[11]
             Secara historis, budaya suwuk tidak lahir begitu saja di Indonesia. Ketika zaman Walisongo, salah seorang anggotanya, Maulana Ishaq yang berasal dari Samarkand, Rusia selatan ini adalah seorang ahli pengobatan. Salah satu metode pengobatan yang dilakukan Maulana Ishaq adalah dengan suwuk. Metode ini menjadi salah satu alternatif dakwah Maulana Ishaq dengan cara memberikan pengobatan secara gratis kepada warga di setiap daerah yang dilewatinya. Suatu saat Maulana Ishaq dipanggil oleh seorang raja di Blambangan-Jawa Timur yang anaknya sakit keras. Atas izin Allah, pengobatan yang dilakukan Maulana Ishaq ini berhasil menyembuhkan. Suwuk biasanya dilakukan oleh para kiai yang wira’i, zuhud atau mereka yang mendalami ilmu ketabiban. Hampir semua kiai tempo dulu membekali dirinya dengan ilmu suwuk ini. Biasanya para kiai yang memberikan pengobatan model ini menyertakan pesan:”Jangan lupa minta kesembuhan kepada Allah SWT, karena yang punya kesehatan dan sakit itu hanyalah Allah. Manusia hanya ikhtiar dan obat hanyalah perantara, sedangkan Allahlah yang menentukannya.[12] Dewasa ini, suwuk yang telah mendarah daging dan turun-temurun itu masih bertahan dan diamalkan oleh sebagian masyarakat kita khususnya di Jawa, namun di kalangan masyarakat muslim tertentu, istilah suwuk kini mulai populer dengan istilah ruqyah, terutama di kalangan ahl al-sunnah. Hal ini berkenaan dengan banyaknya literatur Islam dari Timur Tengah yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Sunnah yang membanjiri masyarakat muslim Indonesia.



[1] Makalah disampaikan pada Seminar Internasional yang diselenggarakan oleh ADIA (Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab) di Makasar, 31 Oktober sd 2 Nopember 2014.
[2] Dosen dan Ketua Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
[4] Eddy Sugianto,The Power of Suwuk dalam http://energikultivasi.wordpress.com /2011/09/03/ the-power-of-suwuk/.
[5] Mantra adalah perkataan atau ucapan yang terdiri dari kalimat yang tersusun dan berirama yang dianggap mengandung kekuatan gaib. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, jika dikaitkan dengan penawar maka mantra penawar berarti mantra pengobatan. Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), 558.
[6] Mas Say Laros, “Sejarah Budaya Suwuk di Indonesia” dalam http://kanal3.wordpress.com/ 2012/09/24.
[7] Sunan Ampel (lahir 1401 M di Champa) merupakan salah seorang anggota Walisanga yang sangat besar jasanya dalam perkembangan Islam di Pulau Jawa. Sunan Ampel adalah bapak para wali. Dari tangannya lahir para pendakwah Islam kelas satu di bumi tanah jawa. Nama asli Sunan Ampel adalah Raden Rahmat. Sedangkan sebutan sunan merupakan gelar kewaliannya, dan nama Ampel atau Ampel Denta itu dinisbatkan kepada tempat tinggalnya, sebuah tempat sekitar Surabaya. http://kolom-biografi.blogspot.com/2010/04/biografi-sunan-ampel.html.
[8] Mas Say Laros, “Sejarah Budaya Suwuk di Indonesia” dalam http://kanal3.wordpress.com.
[9] Golongan Abangan atau Islam Kejawen adalah orang Jawa yang meskipun ia penganut agama Islam, tidak begitu saleh dan alim, tidak begitu sungguh menjalankan agama, bahkan mereka tidak perlu sembahyang Jum’at, berpuasa, dan lain-lain. Kelompok ini terbagi menjadi dua kelompoka, wong cilik dan priyayi. Rosihan Anwar, Demi Dakwah, (Bandung: Al Ma’arif. 1976), 5.
[10] Kanjeng Pangeran Harya Tjakraningrat, Kitab Primbon Betaljemur Adammakna, (Yogyakarta: Soemodidjojo Mahadewa. 1980), 53.
[11] Al-Bukha>ri>, S{ah}i>h} al-Bukha>ri>, Vol. V, 2167.
[12] Mas Say Laros, “Sejarah Budaya Suwuk di Indonesia” dalam http://kanal3.wordpress.com.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar